
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
----- back to Story :
Pukul 12 malam waktu setempat. Italia.
Elios Group Pharmaceutical Company.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Keduapuluh pria yang telah mengenakan seragam tempur Black Armys, segera berpencar ke titik yang telah ditandai oleh dua BIAWAK sebelumnya.
Jonathan melihat pergerakan anak buahnya dari tablet yang selalu ia genggam kemanapun dirinya pergi.
Jonathan bersembunyi di dalam sebuah mobil Van bersama tim Bunga yang bertugas di bagian komunikasi dan penyelamatan nantinya.
Naomi segera memerintahkan keempat tim yang telah mengepung bangunan dari utara, selatan, timur dan barat, untuk mulai mendekati bangunan. Mereka akan mencari celah untuk menyusup ke dalam di balik gelapnya malam.
Namun, sudah 30 menit berlalu, kabar yang diterima oleh Jonathan tak membuatnya puas.
"Tinggi dinding pembatas di sisi utara setinggi 5 meter, Bos. Kami melihat dari alat pemindai senjata, ada ladang ranjau sepanjang 2 meter di luar dinding. Kalaupun kami berhasil melewati ladang ranjau itu, kami tak tahu perangkap di balik dinding," ucap Tongkol dari sambungan radio berfrekuensi khusus, di mana mereka menjaga jarak sejauh 200 meter dari dinding terluar utara gedung.
"Sisi barat bangunan juga serupa, Bos. Malah, pemindai senjata mendeteksi ada lima buah senapan mesin otomatis yang sepertinya bekerja dari sensor gerak. Hanya saja, kami tak menemukan letak sensor tersebut. Jika kita salah melangkah sedikit saja, peluru tajam itu bisa menewaskan kita," sahut Lintah dengan kabar mengejutkan.
Jonathan memijat dahinya yang mendadak terasa berat hingga membuat wajahnya tertunduk.
"Kabar buruk juga kami informasikan. Sisi timur bangunan dijaga oleh beberapa petugas berseragam hitam. Ya, ciri khas kelompok kami, The Circle. Hanya saja, pagar besi tersebut bukan jenis biasa. Ada aliran listrik yang menjalar dari hasil pemindai. Kami tak bisa melewatinya. Tinggi pagar 10 meter, Bos dan masih ada kawat berduri di atasnya," sambung Kecoa.
Baik Naomi, dua BIAWAK dan Jonathan terlihat pusing memikirkan hal ini. Mereka berempat menghembuskan nafas panjang.
"Selatan juga demikian, Bos. Dinding setinggi 5 meter dan pintu besi tertutup rapat menghalangi pemindai senjata kami. Sepertinya, ada penghalang sinyal di titik ini. Kami bahkan mundur sejauh 300 meter dan baru bisa menghubungi kalian," ucap Bawal menginformasikan.
"Tak ada celah sama sekali untuk masuk ke dalam. Kita pasti akan tertangkap," ucap Biawak Kuning terlihat frustasi dari balik teropong.
"Sial. Gimana, Jo? Semua jalan yang kita coba gak ada yang aman," tanya Biawak Cokelat yang ikut meneropong di balik semak belukar dengan baju tempur kamuflase.
"Baru kali ini Nathan ngalamin situasi sulit kaya gini. Mereka punya penghalang sinyal kaya pemancar fatamorgana seperti pantauan kita sebelumnya. Kita udah keliling cari pemancar itu, tapi gak ketemu. Apa The Circle punya alat baru yang lebih canggih dari kita?" tanya Jonathan balik bertanya sembari melihat dari tampilan CamCar yang ia kendalikan dengan remote control jarak jauh, berkeliling mengitari bangunan tersebut.
"Naomi, bagaimana di sana?" tanya Biawak Kuning yang kini menghubungi gadis Jepang tersebut, di mana mereka berada di titik terluar dari penghalang sinyal.
__ADS_1
"Ramai. Banyak aktifitas di seluruh tempat dari pantauan sensor panas tubuh. Orang-orang ini seperti tak memiliki libur. Perpindahan shift-pun hampir tak terlihat perbedaannya," jawabnya dengan earphone wireless di kedua telinga sembari meneropong, di mana Naomi mengintai dari atas pohon bagian tenggara gedung farmasi.
"Selain itu, katanya, Sierra gak pernah masuk ke sana. Jadi, doi gak tau denah bangunan itu termasuk sistem keamanannya. Afro juga gak ninggalin catetan tentang isi perusahaannya itu. Kalopun kita berhasil nyusup, tapi nyasar gimana? Tempatnya gede loh. Kita juga gak tau itu semua pekerjanya ada warga sipil atau orang-orang The Circle semua. Nanti kita bisa masuk gak bisa keluar malah gaswat," sahut Biawak Cokelat dari sambungan radio.
"Ini juga Click and Clack kenapa gak ada kabar sih?" gerutu Jonathan karena dua bodyguard-nya tak bisa dihubungi sejak ia menginjakkan kaki di Italia.
Saat semua orang dari kubu Jonathan terlihat frustasi dengan misi mereka, tiba-tiba ....
"Hei, hei! Gerbang utama," pekik Naomi dari balik teropongnya.
"I-itu Click and Clack! Mereka ngapain masuk ke kawasan gedung? Jangan-jangan, mereka berkhianat lagi? Kasih tau ke The Mask kalo kita di sini?" sahut Biawak Cokelat menduga.
Naomi diam sejenak terlihat berpikir.
"Nathan. Sinyal dari gelang pemenggal di kaki Click and Clack masih terdeteksi 'kan?" tanyanya terdengar serius yang kini wajahnya muncul di layar tablet Jonathan.
Anak ketiga Vesper mengangguk. Ia mengirimkan tampilan dari pantauan pelacak ke tablet Naomi, sehingga gadis Jepang itu bisa ikut melihat pergerakan Click and Clack dari layarnya. Terlihat, dua titik berkedip dari sinyal pelacak milik dua lelaki gundul tersebut.
"Kalian semua, lindungi aku. Aku memiliki satu cara untuk menyusup," ucap Naomi tegas.
"What? Ih, bahaya, Kak. Nanti kalau Kak Naomi kenapa-napa gimana? Nathan harus ngomong apa ke kak Juna?" tanya Jonathan panik.
"Sudah kukatakan padamu ratusan kali. Aku tak mencintainya! Ia calon suami Tessa. Jika kau menyangkut pautkan dirinya lagi denganku, aku akan marah padamu. Aku tak mau berkawan bahkan bicara padamu lagi, Jonathan. Kau mengerti?!" tegas Naomi melotot tajam padanya.
"Ya, iya, Nathan mengerti. Ya-ya udah, ati-ati. Tetap terhubung ya," jawab Jonathan gugup terlihat takut karena Naomi langsung emosi.
"Kapanpun kau siap, Naomi," ucap Biawak Kuning menyiagakan senapan laras panjang di mana ia bertugas menjadi sniper.
Naomi menyiapkan busur otomatisnya dengan anak panah seperti tombak pengait. Naomi masih berada di salah satu batang pohon dan mulai membidik sasarannya dari ketinggian.
Naomi mempertajam pandangannya dan SHOOT!! KLANG!!
Anak panah tersebut berhasil terkait pada besi menara komunikasi yang letaknya masih berada di luar kawasan gedung.
"Yes! Kami akan melindungimu, Naomi," ucap Biawak Cokelat ikut bersiap dengan senapan laras panjang menjadi sniper.
Jonathan meminta Kamboja untuk menerbangkan CD, memastikan jika Naomi akan meluncur dan selamat ketika mendarat di sisi tenggara bangunan.
Naomi mengaitkan busur otomatisnya ke batang pohon dan memastikan tali transparant yang akan menjadi tempat luncurannya kuat menahannya sampai ke ujung.
Naomi menarik nafas dalam dan WUSS!!
__ADS_1
Bidikan Biawak Cokelat mengikuti pergerakan Naomi yang meluncur dengan cepat menggunakan seragam Black Armys Ninja sebagai pakaian tempurnya.
DUKK!!
"Oh! Kak Naomi. Gak papa 'kan?" tanya Jonathan dari sambungan radio, tapi Naomi tak menjawab.
Padahal, Jonathan yakin dari pantauan drone jika Naomi menjawab panggilannya.
BRAK!!
Orang-orang di mobil Van terkejut saat Jonathan menggebrak meja .
"Sial! Kak Naomi kena penghalang sinyal. Gawat!" pekiknya kesal karena tak bisa berkomunikasi dengan mantan bodyguard kakaknya itu.
"Aku masih bisa melihat pergerakannya, Jo. Aku akan menjadi telingamu," sahut Biawak Kuning dan Jonathan berterima kasih padanya.
Suasana hening seketika, saat orang-orang dalam kubu Jonathan melihat dari tayangan kamera Drone yang Jonathan siarkan mengenai pergerakan Naomi yang terlihat mulai menuruni menara tersebut.
Jonathan terlihat gelisah. Ia mondar-mandir sembari menggigit ujung kukunya karena mencemaskan keadaan Naomi.
"Kita gak bisa buat kerusuhan. Kalau sampai terjadi, orang-orang itu pasti akan nekat meledakkan gedung seperti kata Sierra. "Lebih baik dihancurkan daripada diambil kembali oleh 13 Demon Heads". Haish," ucapnya mengulang kata-kata Sierra kala itu.
"Ya, Jo. Kali ini kita harus menahan diri. Kita harus mendapatkan kembali aset ini dalam keadaan utuh. Afro sudah mendapatkannya susah payah dengan penuh tipu daya. Bahkan, ia tak mau mengelolanya dan malah memberikannya pada Sandara. Jujur, dalam hati Kuning, dia itu anak yang baik," sahut Biawak Kuning terdengar serius dari sambungan radionya.
Orang-orang yang mengenal Afro mengangguk setujj.
"Eh, wait. Sinyal Click and Clack masih terbaca padahal mereka sudah memasuki gedung. Oh! Jangan-jangan, bagian Utara tak ada penghalang sinyal!" pekik Jonathan sembari menatap layar tablet-nya tajam.
"Ada ladang ranjau, Jo. Terus itu ada inspeksi ketika masuk gerbang utama. Ada pengecekan dari alat pemindai dan kartu khusus. Kita gak bisa lewat begitu saja apalagi mbobol. Inget, Mr. White merasa terancam, gedung meledak. Sia-sia, Jo usaha Afro nanti," sahut Biawak Cokelat mengingatkan.
Jonathan gemas bukan main. Kali ini ia sungguh harus bertahan. Pesan Sierra yang mengatakan jika Mr. White memasang peledak di pilar-pilar utama gedung tersebut, membuat Jonathan seakan tak berkutik untuk melakukan serangan seperti yang sudah-sudah.
"Sabar ... sabar ... kalem, Jo. Kalem. Coba dipikirin baik-baik caranya ambil alih tempat itu tanpa harus bikin huru-hara dan gedung meledak. Rileks, Jo ... rileks," ucapnya pada diri sendiri dengan mata terpejam, mencoba menenangkan diri.
Tim Bunga di dalam mobil Van hanya saling melirik, melihat tingkah aneh bos baru mereka dalam menyikapi suatu hal.
"Hening dan tak mencurigakan. Hem, ya ... itu yang kita butuhkan untuk menyusup ke dalam tanpa ketahuan. Semua itu hanya bisa dilakukan dengan ... eh! Iya! Bisa! Ya! Bisa dengan cara itu!" pekiknya lantang tiba-tiba, membuka mata dan terlihatlah rona wajah kegembiraan dalam diri Jonathan.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Tengkiyuw tipsnya. Lele padamu💋💋💋