4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Dia Datang*


__ADS_3

ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



--------- back to Story :


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Semua orang yang mendengar terkejut karena pekikan Jonathan dengan wajah gembira. Namun ....


"Jo! Naomi nekat nerobos masuk ke dalam!" lapor Biawak Cokelat yang praktis, membuat mata Jonathan kembali ke layar tampilan pantauan drone.


"Dia ... berhasil masuk? Tanpa menyalakan alarm dan ketahuan petugas? Wah, kak Naomi sungguh hebat. Nathan yakin, kak Juna pasti akan nyesel seumur idup karena pilih Tessa ketimbang Naomi. Semoga, kak Naomi segera ketemu jodohnya," gumannya sembari melihat dari pantauan kamera drone yang diperbesar karena jarak terbang yang cukup jauh, menghindari gelombang pemblokir sinyal.


"Jo! Kita ikuti jalur Naomi saja. Dia meninggalkan tali luncurannya," sahut Biawak Kuning memecah kekaguman Jonathan saat melihat Naomi kembali meluncur dengan busur otomatisnya yang lain, menggunakan cara yang sama untuk mendarat di sisi belakang bangunan di bawahnya, dalam kawasan gedung.


"Oke. Nathan setuju. Tim Tawar di sisi selatan, segera ikuti Naomi untuk menyusup ke dalam. Hati-hati, jangan sampai ketahuan," perintah Jonathan terlihat tegang.


"Yes, Boss!" jawab kelima anggota dengan nama ikan tersebut mulai berpindah posisi ke arah tenggara.


Drone melihat tim Tawar mulai memanjat pohon satu persatu, tempat Naomi mengintai. Jonathan sampai menahan nafas ketika anggota timnya mulai meluncur secara bergantian dengan jeda, agar tak mencurigakan.


"Om, aman?" tanya Jonathan ke dua Biawak yang mengamankan jalur luncuran itu.


"Aman, Jo. Petugas di sisi selatan bangunan tak melihat pergerakan kita. Namun, aku tetap khawatir jika ada kamera tersembunyi yang tak kita ketahui. Sejauh ini, CCTV yang berhasil kita temukan mengarah ke halaman, tidak ke langit. Semoga mereka baik-baik saja," sahut Biawak Kuning melaporkan dari tempat bidikannya.


"Ya ampun, Nathan deg-degan sumpah. Pengen banget Nathan luncurin misil buat bobol itu pagar. Coba ada meriam peleleh logam. Pasti langsung selesai," gumannya lagi.


"Jo! Kau bilang tadi menemukan cara menyusup tanpa ketahuan. Apa itu? Mungkin bisa diterapkan oleh tim lain," sahut Biawak Kuning mengingatkan.


Jonathan menepuk jidat. "Iya, ish ... hampir aja lupa. Cara yang pernah diajarin om Tora. Namun, kita harus menunggu ada kendaraan masuk ke kawasan gedung seperti ketika kedatangan Click and Clack," jawabnya semangat.


"Kau ... mau pakai si kecil?" tanya Biawak Cokelat menebak.


"Hem. Bagaimana? Bisa dicoba 'kan?" tanya Jonathan dengan mata membulat penuh terlihat jelas di tablet para tim yang bertugas.


"Oke. Kau bisa kirimkan tim di utara untuk bersiap," sahut Kuning.


Jonathan segera menugaskan tim Laut untuk menyiapkan senjata dan peluru khusus mereka.


Kelima orang tersebut segera berpencar. Mereka menunggu kendaraan yang akan melintas lalu masuk ke kawasan gedung.


Mata Jonathan kembali pada sosok Naomi yang sudah tak terlihat di mana keberadaannya, termasuk sinyal dari pelacak pada jam tangan yang ia kenakan.


Jonathan panik setengah mati karena khawatir jika Naomi akan terluka di mana ia tak bisa memantau pergerakannya.


Tim Tawar berhasil meluncur ke seberang dan kini menuruni tower komunikasi untuk kembali meluncur ke kawasan gedung, mengikuti jalur yang Naomi buat.


"Hati-hati, Guys," ucap Jonathan terlihat gugup sembari menggigiti ujung jarinya.


Kelima pria tersebut meluncur secara bergantian dan berhasil mendarat dengan mulus seperti pergerakan Naomi tanpa menyalakan alarm.


Mata Jonathan kini terfokus pada tim Laut yang berada di sisi utara gedung, satu-satunya kawasan yang tak memiliki penghalang sinyal.

__ADS_1


Tak lama, iring-iringan mobil berwarna hitam muncul sebanyak lima buah melewati satu-satunya jalan menuju ke Perusahaan Farmasi tersebut. Mata Jonathan dan lainnya melebar seketika.


"Tim Laut, bersiaplah," ucap Jonathan menginstruksikan.


"Yes, Boss."


Kini, mata semua orang tertuju pada tampilan kamera mini yang tertempel di atas bahu tiap anggota tim.


Lima orang dalam Tim Laut tiarap di atas tanah, bersembunyi di balik semak di sisi kiri dan kanan jalan aspal menuju utara bangunan.


Seketika, SHOOT! CLEB!


GLUNDUNG ....


Dua orang penembak di sisi kiri dan kanan, menandai mobil dengan peluru khusus sebesar kelingking, menempel pada badan mobil yang melintas dengan kecepatan sedang.


Lima buah bola berwarna hitam sebesar bola pingpong, digelindingkan oleh Kakap dan Teri ke aspal saat mobil-mobil tersebut telah melintas.


Bola-bola itu bergerak cepat seperti magnet, mengejar mobil-mobil tersebut dan menempel pada bagian bawah mobil yang telah di beri tanda dengan peluru khusus, melekat tanpa melubangi mobil.


Jonathan langsung menghampiri petugas yang duduk di samping kirinya, di mana pria tersebut bertugas untuk melihat pergerakan dari salah satu inovasi terbaru Vesper Industries yang terinspirasi dari ide Tora saat menggunakan makhluk hidup untuk menyusup ke sebuah tempat.


"Bos, "Galundeng" telah aktif," ucap Melati menginformasikan. Jonathan mengangguk mantab.


"Siarkan tampilan Galundeng ke seluruh tim," perintah Jonathan dan Melati segera melaksanakan.


Kini, semua tim yang terhubung dengan pusat komunikasi Jonathan, bisa melihat dari kamera Galundeng yang merekam semua pergerakan dalam gedung di sisi utara.


Jonathan mulai duduk dan kini mengamati keadaan dengan serius di dalam mobil Van.


Ada perasaan lega dalam dirinya karena akhirnya menemukan ide setelah ia merasa terpepet dan nyaris tumpul dalam menyelesaikan misi yang sebenarnya adalah tugas untuk Naomi.


Jonathan meminta kepada Tim Laut untuk mulai bersiap ketika keadaan dalam gedung di rasa aman untuk ditelusuri.


"Hiu dan Paus. Ikuti orang-orang itu. Lalu, Tongkol. Kau cari keberadaan Click and Clack sesuai komandoku. Teri, cari keberadaan Naomi dan Kakap, kau cari posisi tim Tawar di dalam gedung. Kerjakan," perintah Jonathan dari sambungan earphone-nya.


"Yes, Boss!" jawab kelima anggota Tim Laut.


Suasana hening dan tegang begitu terasa di tiap tim yang bertugas pada dini hari.


Galundeng berjatuhan dari bawah mobil dan berpencar. Mereka dikendalikan dengan pengendali jarak jauh yang bisa menjangkau hingga radius 1 km.


"Teri dan Kakap, hati-hati. Bagian selatan bangunan memiliki pemblokir sinyal," ucap Jonathan pelan mengingatkan.


"Roger that," jawab dua pria itu terdengar siap.


Lima buah kamera Galundeng kini menjadi fokus semua anggota tim. Sebuah drone masih diterbangkan untuk melihat pergerakan dari atas langit karena satelit GIGA ataupun Theresia, tak bisa menembus pertahanan Gedung tersebut.


Jonathan dipaksa untuk memikirkan ide gila, di mana biasanya ia sangat menyukai kerusuhan ketika harus bertempur dengan senjata-senjata dari mobil modifikasinya ataupun senjata buatan Vesper Industries.


"Jaga jarak, jangan terlalu dekat. Nathan pengen liat itu kaki siapa aja," ucap Jonathan melihat dua tampilan dari kamera Galundeng yang dikendalikan oleh Hiu dan Paus.


"Bos. Saya mengenali gaya berjalan dari wanita berpakaian putih meski dia memunggungi kita. Dia Venelope," ucap Hiu yang mengejutkan Jonathan, Kuning dan Cokelat.


"Itu Venelope?" tanya Kuning menyahut seketika dari sambungan radio.

__ADS_1


"Ya. Saya sangat yakin. Dia selalu menggunakan penutup wajah. Saya dulu sering ditugaskan olehnya, jadi cukup mengenal tabiatnya," imbuh Hiu.


"Wah, kakinya Venelope bagus. Mulus," celetuk Jonathan begitu saja.


"Aku mendengarmu, Sayang," sahut seorang wanita tiba-tiba yang mengejutkan semua orang.


"He? Siapa yang bicara?" tanya Jonathan bingung.


"Oh! Nona Sierra!" pekik salah satu anggota Tim Bunga, saat Sierra muncul di pintu mobil dengan wajah dingin dan menatap Jonathan tajam dari tempatnya berdiri.


"Hahahaha, ha-hai, Sayang. Kau kemari? Bagaimana jika kau terluka?" tanya Jonathan meringis terlihat pucat.


"Kau sebenarnya mengintai pergerakan musuh, atau menikmati kaki indah dari Venelope? Ya, aku minta maaf jika kakiku tak seindah Venelope, bahkan sekarang terbungkus besi," jawab Sierra menyindir.


Jonathan menelan ludah begitupula semua orang yang mendengar. Mereka ikut panik karena terlihat wajah Sierra seperti menahan marah dari tangkapan kamera di bahu para tim Bunga.


"Apa sih, Yang? Cemburu ya?" ledek Jonathan, tapi Sierra tak menjawab dan masuk ke mobil meski masih terlihat kaku dalam berjalan.


Jonathan dengan sigap memegangi tangan Sierra, tapi gadis cantik itu menampiknya. Jonathan menggaruk pelipisnya terlihat bingung dalam bersikap karena sang kekasih marah padanya.


Jonathan melongok keluar dan tak mendapati siapapun yang ikut bersama Sierra. Jonathan melihat sebuah mobil terparkir di balik pohon hampir tak terlihat dalam gelapnya malam dan rimbunnya semak belukar.


Jonathan segera menutup pintu mobil Van dan mendekati kekasihnya yang sedang mengawasi kinerja timnya.


"Kau ke sini sendirian? Di mana bodyguard-mu yang lain? Ini misi berbahaya, Yang," tanya Jonathan terlihat cemas.


Namun, Sierra menunjukkan wajah dingin.


"Kenapa? Kau meremehkanku? Bahkan aku yang kini sudah bisa berjalan meski dengan bantuan kaki robot seolah tak terlihat olehmu? Kau masih menganggapku cacat? Kau lebih senang aku duduk di kursi roda dan menunggu kepulanganmu. Begitu?" tanya Sierra menatap Jonathan tajam.


Semua orang yang mendengar terdiam. Jonathan terlihat terkejut akan ucapan sang kekasih yang tak disangkanya.


"Apa ... kau selalu bersikap seperti ini? Dingin dan mengintimidasi? Kau bahkan menghakimi," tanya Jonathan balas menatap Sierra lekat.


Gadis cantik bermata biru tersebut terdiam seketika. Ia memalingkan wajah dengan pandangan tak menentu.


Ia duduk perlahan di kursi yang Jonathan tempati tadi. Jonathan masih menatap Sierra lekat dari tempatnya berdiri.


"Pulanglah. Di sini tidak aman. Sebaiknya kau tunggu di kediaman nyonya Manda. Mawar akan menemanimu pulang," ucap Jonathan sembari berjalan mendekati Mawar dan memintanya beranjak dari dudukan.


Mawar terlihat bingung, tapi menurut. Ia melepaskan headphone di kepalanya dan meletakkannya di atas meja.


Jonathan kini duduk di sana mengambil alih pekerjaan Mawar. Sierra memejamkan mata terlihat menenangkan diri.


"Aku tak mau pulang. Aku mau di sini. Aku mencemaskanmu. Oleh karena itu, aku nekat datang kemari," jawab Sierra saat Mawar telah berdiri di sampingnya, siap untuk mengantarkan pulang.


Jonathan terdiam di mana mereka saling duduk memunggungi. Suasana canggung seketika.


"Mm, maaf, Bos, menyela. Tapi ... kita ketahuan. Mr. White kini muncul di layar," ucap Paus yang mengejutkan semua orang.


Fokus mereka teralih karena pembicaraan Jonathan dan Sierra yang terdengar ke seluruh sambungan radio.


Mata Jonathan dan Sierra terbelalak. Keduanya berdiri dan kini menatap layar monitor di mana wajah Mr. White muncul dengan seringai iblis.


****

__ADS_1


Uhuy. Makasih tipsnya. Para reader LAP jaga kesehatan ya. Wabah Covid makin mengganas. Ortu lele aja kena dan sekarang Isoman di rumah. Sedih gak bisa pulkam karena gak dibolehin. Semoga temen-temen juga baik-baik saja. Amin^^



__ADS_2