4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Pindah Lagi


__ADS_3

Cuma mau bilang. Kalo nemu typo di novel lele di manapun, tulis aja di kolom komentar ya. Kwkwkw. Kadang otak dan jari itu suka gak sinkron gitu, harap maklum aja.


Oia, lele intip udah ada satu reader LAP yg dapet medali GOLD nih. Mana lainnya? Lele lagi baik jadi mau bagi banyak gift tahun ini. Biar novelnya berkah gitu.


Vesper, ADW, 4YMS1, Secret Mission kan udah. Tinggal Marco-Polo, Casanova dan Simulation belom padahal belom dikontrak loh Simulation tapi diincer sama *******. Apa iya kudu diboyong ke sana juga? Kwkwkw jajahan lele makin banyak dan kalian makin pusing download apknya😆


------ back to Story :


Di sisi lain tempat Sandara berada. Ruang kerja rumah pondok.


Mereka bicara dalam bahasa Spanyol.


"Mereka berbicara dengan bahasa Spanyol, tapi mereka orang-orang berkulit gelap," ucap Sandara dalam hati seraya menulis sandi rumput, di mana ia kini sudah bisa membaca, menerjemahkan dan menuliskannya.


Sandara mendapatkan kamus khusus dari sandi tersebut setelah ia gagal pada tugas sebelumnya.


Sandara merasa jika Mr. White sengaja mengetesnya untuk mengetahui dirinya bisa sandi tersebut atau tidak.


CEKLEK!


Sandara langsung beranjak dari dudukan dan keluar dari ruang kerja. Ia melihat dari atas tangga ketika dua penjaga berkulit cokelat memasuki rumahnya.


"Ketuk pintu, kalian tidak sopan," tegasnya menatap tajam.


"Tidak perlu," jawab seorang pria yang mengenakan kaos berwarna putih.


"Ingat kesepakatanku dengan Mr. White? Ini adalah wilayah privasiku. Ada aturan di rumah ini. Pertama, ketuk pintu sebanyak tiga kali. Jika aku tak menjawab atau membuka, kalian boleh membukanya."


"Bertele-tele."


Nafas Sandara menderu. Matanya menyorot tajam ke wajah dua pria berkulit cokelat yang berdiri di ruang tengahnya.


Gadis cantik itu terlihat kesal, meski tak ada makian keluar dari bibir tipisnya. Sandara menuruni tangga dengan cepat dan berjalan melewati dua orang itu berwajah datar, keluar dari pondok. Dua pria itu terlihat bingung.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau tak baca catatanku pada lembar tugasmu di komputer?" tanya Mr. White saat Sandara mendatanginya dengan cepat ketika ia sedang memakai sepatu boots khusus.


"Mereka menganggu privasiku. Aku sedang mengerjakan tugas. Jika pekerjaanku terlambat, itu salah mereka dan sesuai kesepakatan, kau harus menghukumnya," jawab Sandara ketus.

__ADS_1


Mr. White melirik dua anak buahnya yang terlihat gelisah. Matanya kembali pada Sandara yang masih mengunci pandangan pada mata birunya.


"Baiklah. Kau ingin mereka di hukum apa?"


"Kurungan hiu." Dua pria bertubuh besar tersebut panik seketika.


"Hem, oke. Balas dendam ya? Menarik," jawabnya dengan senyum tipis.


Sandara kembali ke ruang kerja dan duduk untuk menyelesaikan tugasnya. Hembusan nafas panjang dengan mata terpejam, menandakan dirinya berusaha untuk tetap tegar menghadapi petakanya sendirian.


"Sampai mana tadi," ucapnya dalam hati sembari mengambil pulpen untuk meneruskan menulis sandi rumput. "Oh, berkulit cokelat dan bahasa Spanyol. Hem, aku cukup yakin jika mereka orang Amerika Latin," imbuhnya dalam hati. "Pulau ini cukup besar dan bukan pulau pribadi," sambungnya lagi yang mulai serius berpikir.


Sandara diam sejenak sembari memegang lembar kertas HVS putih yang tertulis sandi rumput dibuat dengan indah olehnya.


Sandara lalu menekan tombol F12 pada keyboard komputer cukup lama hingga terdengar ketukan pintu di rumahnya. Sandara segera turun sembari membawa kertas tersebut dalam genggaman.


Dua pria yang tadi menerobos masuk ke pondoknya menunjukkan wajah datar saat Sandara memberikan kertas miliknya dan terlihat, Mr. White sedang menaiki seekor kuda berwarna cokelat yang ia bawa ketika kembali setelah mengangkut sepeda.


"Siapa namanya?" tanya Sandara dari pintu ia berdiri.


Mr. White menoleh dan mengarahkan kudanya mendekati rumah pondok Sandara. Dua penjaga berkulit cokelat itu menyingkir untuk memberikan jalan bagi Tuannya.


"Oh, kemarin aku lihat ada kecoa melintas di kamar mandi. Kau tahu kuberi nama siapa?" tanya Sandara dengan wajah datar. Pria berambut putih panjang itu diam menatapnya di atas kuda. "Mr. White. Padahal kecoa itu hitam dan tak memiliki uban sepertimu." Nafas Mr. White menderu, ia terlihat marah pada gadis Asia di hadapannya. "Oh, satu lagi. Berhentilah bicara manis padaku dengan suara kak Afro. Kau tak ada mirip-miripnya sama sekali dengan dia," imbuhnya yang praktis, membuat mata Mr. White melebar.


Sandara membalik tubuhnya dan menutup pintu.


"Jadi, dia sudah tahu ya, jika yang bicara di alarm jam weker adalah aku? Hem, pintar. Dia mengenali cara bicaraku sepertinya. Wah, aku harus lebih banyak berlatih," ucap Mr. White dengan hembusan nafas pelan sembari mengarahkan tali kudanya untuk pergi menjauh dari rumah Sandara.


Gadis Asia itu masih berada di balik pintu dan mendengar apa yang Mr. White ucapkan. Sandara berpura-pura dengan melepaskan sepatu serta kaos kakinya lalu meletakkan di rak samping pintu.


"Dugaanku benar. Mr. White yang selama ini bicara padaku. Kurang ajar, dia mempermainkanku sejauh ini," ucap Sandara dalam hati dan kembali menaiki tangga.


Saat Sandara akan mengambil kaos kaki baru untuk menyelimuti kedua kakinya, ia melihat sebuah lensa dari balik ukiran kayu pada almari.


Sandara langsung menundukkan wajah dan baru menyadari letak kamera lainnya di rumah itu.


Sandara pura-pura tak melihatnya. Ia mengambil kaos kaki dari dalam lemari lalu memakainya. Ia kembali berpikir untuk mencari tahu di mana ia berada saat ini.

__ADS_1


"Aku pasti berada di salah satu deretan kepulauan. Hem, kepulauan yang dihuni oleh penduduk Amerika Latin. Seandainya ada peta dunia, pasti akan sangat membantu. Dunia ini luas dan tak mungkin aku mengingatnya satu persatu," ucapnya lagi dalam hati dengan hembusan nafas panjang dan mata terpejam terlihat letih.


Sandara memutuskan untuk mengistirahatkan pikirannya. Sandara tidur malam itu dengan lelap dan terlihat nyenyak seolah penderitaan yang dihadapinya selama dalam tekanan Mr. White, tak berdampak buruk baginya.


Keesokan harinya. Sebelum alarm dari weker berbunyi, Sandara telah bangun. Ia mulai merasa terkurung karena tak bisa bergerak bebas. Kamera-kamera pengawas berada di sekitarnya baik di pondok ataupun di luar.


Sandara segera turun untuk menyiapkan sarapan. Ia makan dengan cepat sebelum alarm berbunyi. Usai makan, Sandara kembali ke kamar dan sudah siap duduk di pinggir ranjang.


"Aku sudah mendatangi bangunan yang kusebut A. Tempat itu gudang sepeda dan sekarang ruangan tersebut kosong. Hem, aku penasaran, akan diisi apa lagi sekarang?" ucap Sandara yang selalu bicara dalam hati karena ia merasa setiap gerak-gerik dan ucapannya akan di dengar dari kamera pengawas.


TRINGGG!!


Sandara tertegun dan langsung menoleh. Ia menatap weker itu tajam seakan ingin tahu, apa yang akan Mr. White ucapkan setelah ia kepergok jika selama ini dirinya yang bicara.


"Hei, Dara. Selamat pagi," sapa Mr. White yang kini menggunakan suara aslinya. Sandara tersenyum miring dan kini wajahnya menghadap ke lemari. "Kulihat kau mulai bosan di tempat ini. Jadi, bersiaplah, kita akan pergi ke tempat lain."


Sontak, mata Sandara melebar. Baru ia akan menyelidiki di mana ia berada, tapi sudah pindah lagi.


Sandara memejamkan mata rapat dengan kedua tangan mencengkeram kuat pinggiran kasur menahan marah.


Sandara segera berdiri dan membuka koper yang tersedia di dalam kamar. Ia memasukkan semua pakaian latihannya berikut sepatu, kaos kaki, alat tulis dan laptop.


Sandara memegang lembar perjanjiannya dengan Mr. White saat pria itu kembali usai ia menerima hukuman dua hari setelahnya.


"Kau memintaku mengerjakan suatu hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya, sandi rumput! Kau bahkan tak memberikan kamus khusus untuk menerjemahkannya. Kau pikir aku cenayang? Sayang sekali bukan. Jadi, pakailah logika dan realistislah dalam memberiku pekerjaan. Aku tak mau menerima tugas dengan referensi tidak lengkap," tegas Sandara saat itu ketika Mr. White berkunjung ke rumah pondoknya.


Mr. White akhirnya mengabulkan permintaan Sandara. Gadis cantik itu juga meminta agar tak sembarang orang boleh memasuki rumahnya dan Mr. White pun mengabulkan dan bebas memberikan hukuman bagi pelanggar kesepakatan.


Itulah bayaran dari upah pekerjaannya selama di pulau tersebut meski bagi Sandara, hal itu lebih mirip perbudakan.


Sandara menunggu di ruang tengah untuk jemput. Ketukan pintu kembali terdengar dan ia mendapati dua orang dari pria penjaga siap membawanya.


Sandara menaiki helikopter dan duduk di sebelah Mr. White dengan wajah datar. Namun, kali ini, Sandara lebih sigap.


Ia memanfaatkan kesempatan emas ini untuk mengetahui, di mana ia berada selama ini.


***

__ADS_1


uhuy tengkiyuw tipsnya. btw brankas koin mulai kosong loh. kwkw edisi ngelunjak. lele padamu❤️ oia, The Red Lips Season Final kayaknya akan lele boyong ke sini dalam rangka ikut lomba. Doakan aja naskahnya diterima sama pihak MT ya💋💋💋



__ADS_2