4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
SAH!


__ADS_3

Mata Lysa dan Pion Dakota terbelalak lebar.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Kau sudah dibutakan oleh kehamilanmu, Lysa. Kau lupa siapa dirimu bahkan agamamu," ucap Javier tajam sembari berjalan mendekati calon isterinya.


"Dan kau. Sudah dibutakan oleh ketakutanmu akan ancaman Tobias kala itu dengan berkhianat di belakangku, Sultan Javier," balas Lysa tetap berdiri tegak di teras rumah.


"Aku melakukan semua yang kau minta dengan membunuh isteri-isteriku. Bahkan aku kehilangan anak perempuanku," tegasnya yang semakin mendekati Lysa.


"Oh, kau menyesal? Aku hanya memintamu membunuh mereka dan kau sungguh melakukannya. Aku baru sadar, ternyata kau lelaki yang penuh perhitungan, Sultan. Kau berpikir jika pengorbanan yang kau lakukan tak sepadan dengan apa yang kau terima. Benar begitu, bukan?" tanya Lysa menatap Javier tajam yang kini berdiri tepat di depannya dengan wajah dingin.


"Yes," jawabnya dengan nafas menderu.


"Apa kau sadar? Kau mengkhianatiku dua kali. Pertama, saat di Oman dulu. Kau hampir menikahi salah satu pemimpin No Face, Cleopatra dan melupakan keberadaanku ... YANG MATI-MATIAN AGAR TETAP HIDUP DENGAN MEMPERTAHANKAN KING D DALAM KANDUNGANKU! " teriaknya lantang dengan mata melotot lebar. Javier dan semua orang terdiam.


"Kedua ... kau tak jujur padaku. Kau ... menikah, dengan lima wanita yang bahkan tak kukenal. Kau mengatasnamakan keselamatan keluarga dengan keegoisan dari pemikiranmu sendiri! Kau yang mengkhianatiku, Javier! Kau yang menghancurkan rumah tangga kita! Kau yang membuatku membencimu dengan segala keputusanmu!" teriak Lysa lantang dengan mata berlinang meluapkan seluruh amarahnya.


Javier langsung memeluk mantan isterinya, tapi Lysa mendorongnya kuat hingga Javier melangkah mundur dengan wajah penuh kekecewaan.


"Jangan menyentuhku, Baj*ngan. Aku bukan isterimu lagi. Aku sudah tak mencintaimu, Javier. Pergilah dan kau kuizinkan untuk tetap bertemu King D dalam waktu tertentu melalui ibuku," ucap Lysa menunjuknya dengan linangan air mata.


"Lysa ... kau, kau tak bisa menikah dengan Tobias! Kau tak ingat dia seperti apa? Dia bahkan tak seiman denganmu!" teriak Javier mengingatkan balas menunjuknya.


"Oh, Sultan. Salam. Sepertinya ucapanmu barusan harus kau ralat. Perkenalkan, aku Tobias Al-Saleh. Suami Lysa," ucap Tobias tiba-tiba muncul didampingi oleh Eko, Seif dan Pion Daido di belakangnya.


Mata Lysa dan semua orang yang bersitegang di teras mansion terbelalak seketika, mendengar ucapan Tobias yang tak mereka sangka.


"Pernikahanmu tidak sah," tegas Hakim.


"Tentu saja sah," jawabnya dengan senyum licik.


Tiba-tiba, muncul wajah Satria dari layar ponsel yang dipegang oleh Pion Daido di mana Seif menjabat tangan Tobias dan mengucapkan ijab qobul.


"Bagaimana?" tanya Seif melirik semua orang.


"SAH!" teriak Eko mantab termasuk Satria.


"Tidak! Itu tidak sah!" sahut Javier dari tempatnya berdiri.


"Kau terlambat. Aku sudah menjadi seorang muslim sebelum kau, memasuki gerbang itu, Sultan. Dan aku, secara agama sudah sah menjadi suami Lysa. Kau tak tahu, Seif adalah seorang pemuka agama di jajaran Vesper," jawabnya sembari membenarkan peci yang dipakainya lalu memeluk Lysa dari belakang.


Lysa terlihat bingung dalam bersikap. Seif tersenyum dan mengangguk pelan. Javier terlihat shock dengan hal yang mengejutkannya pagi itu.


Javier berjalan terhuyung, berpaling, pergi meninggalkan mansion Tobias begitu saja diikuti oleh Hakim dan Sauqi yang ikut bingung dengan sikap Sultan mereka.


Javier pergi begitu saja terlihat sedih dengan wajah tertunduk ketika Limousine membawanya pergi.


Pion Dakota segera berjalan mendekati gerbang dan menggemboknya rapat, agar tak ada pengunjung tak diundang datang ke kediaman majikannya.


"Apa pernikahan ini sah?" tanya Lysa memutar tubuhnya dan melepaskan pelukan Tobias di perutnya.

__ADS_1


"Tidak," jawab Tobias santai sembari melepaskan peci dan memakaikannya ke kepala Daido.


Lysa kebingungan.


"Kami sengaja membuat sandiwara untuk mengusir Sultan, Nona Lysa. Namun, jika kau berubah pikiran dan ingin kembali pada Javier, silakan saja," jawab Seif dengan senyuman.


"What? Kau ingin mati di tanganku saat ini juga, Seif?" ancam Tobias melotot dan memepet wajahnya ke pria berambut gimbal itu.


"Uwis to. Seneng banget loh bikin keributan. Udah masuk sana, Nak Tobias Al-Saleh. Eko loh yang kasih nama biar dirimu jadi pria yang soleh meski Eko yakin kalo hal itu gak mungkin terjadi sampai kiamat nanti," ucapnya sembari menarik bahu Tobias ke belakang agar menjauh dari Seif.


Nafas Tobias menderu. Ia melepaskan pegangan Eko di bahunya dan kembali masuk ke dalam.


Lysa dan lainnya tersenyum geli melihat Tobias mulai terbiasa memakai sarung dan baju koko di tubuhnya.


"Terima kasih," ucap Lysa dengan senyuman ke hadapan semua orang.


Satria yang terhubung dengan video call itu meminta waktu untuk bicara dengan anak perempuannya.


Semua orang meninggalkan Lysa dan Satria yang kini bicara di ruang tamu terlihat saling merindukan.


"Ayah minta maaf jika hidupmu menjadi sulit seperti ini, Sayang. Pulanglah dan kau bisa tinggal dengan nyaman bersama Ayah di Yogyakarta. Sudah cukup kau menjalani kehidupan mafia. Bahkan kau kini, hempf ... ingin menikah dengan Tobias? Dulu saja Javier aku sudah sangat sulit menerimanya dan kini? Entahlah Lysa, Ayah hanya sedih membayangkan rumitnya hidupmu," ucap Satria dengan wajah tertunduk mengusap wajahnya.


Lysa tersenyum. "Aku tak apa, Ayah. Aku baik-baik saja. Aku akan pulang saat waktunya tiba. Hanya saja untuk saat ini, Toby membutuhkanku. Jujur, Ayah. Menikah dengan Tobias tak pernah terlintas dipikiranku apalagi hidup dengannya. Namun, ada sebuah perasaan jika aku akan lebih bahagia bersamanya. Aku ingin kau merestuinya," ucap Lysa dengan pandangan sendu dan Satria mengangguk.


"Ini hidupmu, Nak. Ayah hanya bisa mendoakan kebahagiaanmu. Ayah akan ke Cuba untuk mengesahkan pernikahan kalian. Ibumu sudah meneleponku. Jemput Ayah ya. Ayah menyayangimu," ucap Satria dengan senyuman dan Lysa tersenyum lebar.


Satria memutus panggilan video call tersebut. Senyum Lysa terpancar. Ia terlihat bahagia akan sesuatu. Seif dan Eko mendatangi Lysa yang kini berdiri mendekati keduanya.


"Satu minggu lagi. Saya sudah mendaftarkan di masjid besar kota Havana berikut identitas baru kalian di negara ini. Namamu akan menjadi Alesha Zahra dan Toby menjadi Tobias Al-Saleh. King D juga sudah masuk ke dalam daftar keluarga dengan nama Khalil Dawud yang artinya sahabat yang tercinta. Bagaimana?" tanya Seif menatap Lysa lekat.


"Terima kasih, Seif. Kau sangat baik. Aku menyukai nama itu," jawab Lysa dengan senyum terkembang.


Lysa memeluk bodyguard ibunya yang sudah ia anggap seperti Paman baginya. Eko malah ikut memeluk Lysa. Seif berdiri mematung, bingung dalam bersikap.


Seminggu kemudian, di salah satu masjid di kota Havana, Cuba.


Pemuka agama yang akan menikahkan Lysa dengan Tobias terlihat gugup ketika lelaki bertato itu menatapnya tajam tanpa berkedip.


Semua pengurus di masjid terlihat ketakutan meski orang-orang dalam kubu Lysa sudah menebar senyum sejak kedatangan mereka.


"An-Anda siap, Saudara Tobias Al-Saleh?" tanya Ulama tersebut sembari membaca lebih detail nama lelaki yang akan ia nikahkan pada hari itu.


Tobias terlihat serius dengan Satria, Eko dan Seif di duduk di sekelilingnya.


"Dia grogi," ucap Satria memecah ketegangan.


Para pengurus masjid tersenyum meski tak dapat dibohongi, wajah ketakutan tampak jelas di raut mereka.


Tobias langsung memberikan tangannya, terlihat siap untuk mengucapkan Ijab Qobul. Lysa memejamkan mata terlihat berdoa dengan khusu.


King D dan Obama Otong ikut menghadiri prosesi akad hari itu dengan duduk manis di temani oleh Daido serta Dakota mengapitnya.

__ADS_1


Sedang yang lain, menyaksikan dari tayangan video teleconference yang disiarkan oleh Eko menggunakan ponselnya.


Ulama itu menyambut jabat tangan Tobias. Ulama tersebut terlihat lebih tegang ketimbang mempelai pria yang menatapnya tajam terlihat keheranan dengan gerak-gerik pria tua di depannya.


Hingga akhirnya, Tobias mengucapkan kalimat Ijab Qobul itu dengan mantap bahkan suaranya sampai menggelegar di dalam masjid.


Semua orang sampai terkejut bahkan Ulama tersebut hampir melepaskan jabat tangannya karena kaget.


"Bagaimana? Sah tidak? Ingin aku mengulangnya?" tanya Tobias menatap Ulama itu tajam.


"Am ... bagaimana?" tanya pria tua itu panik.


"Sah, sah," jawab semua orang dengan anggukan kepala.


Lysa terlihat lega di mana ia ketakutan setengah mati jika sampai gagal. Tobias tersenyum terlihat bangga akan dirinya.


Doa-doa dipanjatkan dan Tobias hanya diam dengan kedua tangan mengikuti orang-orang di sekitarnya seperti menengadah.


"Selamat untuk kalian berdua. Semoga hidup kalian bahagia dan dirahmati Allah," ucap Ulama itu dengan senyum terkembang.


Lysa berterima kasih berikut semua orang. Tobias diam saja. Dia terlihat santun hari itu meski tak banyak bicara karena Eko sudah memberikannya banyak ancaman agar tak membuat onar di hari penting tersebut.


Lysa dan rombongan pergi meninggalkan masjid menuju ke dermaga tempat mereka menyewa mobil untuk mengantarkan ke masjid.


Selanjutnya, mereka melanjutkan perjalanan dengan helikopter Tobias untuk kembali ke Cuba.


Tobias segera melucuti seluruh pakaian dan memberikannya kepada Dakota. Ia melapisi tubuhnya agar tatonya tak terlihat dengan baju berwarna serupa seperti kulitnya.


King D dipangku oleh Satria di mana mertua Tobias terlihat pasrah dengan tingkah laku menantu barunya itu.


Tobias langsung merebahkan kepalanya di pangkuan sang isteri dan menutup matanya dengan kacamata tidur.


Semua orang menghela nafas di mana mereka mulai terbiasa dengan sikap semena-mena pria bertato itu.


Pion Daido dan Dakota yang menerbangkan helikopter hanya bisa tersenyum selama penerbangan.


"Ayah akan tinggal sehari lagi lalu kembali ke Indonesia. Pulanglah saat kau luang, Lysa. Sudah lama sekali kau tak berkunjung," pinta Satria sembari mengelus kepala King D yang sudah tertidur pulas di pangkuannya.


"Pasti, Ayah. Aku akan sering menghubungimu. Titip salamku untuk semua orang ya," jawab Lysa dengan senyum terkembang dan Satria mengangguk.


Selama Satria menginap di mansion, ia melihat Tobias menunjukkan keseriusannya terhadap anak perempuannya itu. Pria itu juga menyayangi King D seperti anak kandungnya sendiri.


"Dia akan baik-baik saja, benar 'kan, Eko?" tanya Satria menoleh ke salah satu bodyguard mantan isterinya dan lelaki berkepala gundul itu mengangguk.


"Yoi, Kang. Lysa kuat kaya simboknya. Eko yakin kalo kali ini Lysa bakal bahagia, Kang, meski gak dapat dipungkiri kalo Tobias memang nyeleneh, tapi ... itu yang bikin hidup rumah tangga jadi warna-warni kaya pelangi. Kaya hidupmu, ya to?" lirik Eko dengan senyum terkembang.


Satria mengangguk sembari merangkul pundak pria gundul itu ikut tersenyum lebar.


***


oke udah cukup drama ikan lelenya sekarang kita senam jantung sehat lagi. baik kan eke ngasih tau. makasih ya tipsnya. lele padamu😘

__ADS_1



__ADS_2