
Oia yg masih pada bingung kenapa kalian vote gak masuk ke notifikasi Author, itu karena yg masuk ke akun Lele hanya pemberi vote KOIN, like dan komen pada karya baik novel atau audio book.
Jadi yg vote POIN dan vocer, memang gak masuk notifikasi tapi ada di riwayat beranda.
Oia, lele ada sisipin gambar di eps sebelumnya dan beberapa revisi typo. Heran, tiap eps tipo mulu.
Kuy, segera vote MARCO-POLO dengan batu games dan jadilah rank 1. Selamat hari Kemerdekaan!
------ back to Story :
Arjuna dan Sun terlihat kagum akan cara penanaman ganja dengan metode yang lebih modern karena mereka belum pernah melihat hal ini sebelumnya.
"Wah, sepertinya hasil dari penjualan ganja dan narkoba cukup menjanjikan melihat suburnya tanaman-tanaman ini, Sun," bisik Arjuna tergiur.
"Ya. Kita harus lenyapkan dulu pemiliknya sekarang sebelum kita ambil alih, Tuan Muda," jawab Sun yang ternyata satu pemikiran. Arjuna mengangguk.
"Bagaimana?" tanya Arjuna sembari melihat sekitar di mana tak terlihat pegawai di dalam tempat pembibitan itu.
"Negative. Aku akan melindungimu, Tuan Muda," jawab Sun saat memindai sekitar dengan teropong panas.
Arjuna segera memakai masker gas, begitupula Sun. Putera Han tersebut meluncur ke bawah menggunakan tali dari pengait yang ia sangkutkan pada bingkai jendela.
Pemuda itu turun dengan cepat dan segera menyiagakan senapan laras panjang yang sudah ia beri peredam pada moncong senjata untuk meminimalisir suara tembakan agar tak santer terdengar-inovasi terbaru dari Vesper Industries, berbeda dengan peredam militer yang suara tembakan masih santer terdengar.
Arjuna kembali mengarahkan senter dari sinar laser ke arah Sun sebagai penanda jika Asistennya itu sudah bisa turun dengan cara yang sama.
Sun segera turun dan menggulung kembali tali serta pengait agar jejaknya tak diketahui musuh.
Arjuna dan Sun mengendap di samping rak tanaman ganja yang di pot dengan rapi. Sun membidik kamera pengawas untuk membutakan penglihatan alat tersebut, agar pergerakan mereka tak diketahui.
Arjuna terus melangkah hingga mendapati pintu keluar dari tempat pembibitan itu. Arjuna berjalan di depan dengan Sun di belakang mengikuti dan melindunginya.
"Apa 'Galundeng' bisa bekerja? Mobil camera?" tanya Arjuna dan Sun segera membuka tas lalu mencoba mengaktifkan bola pengendali tersebut.
"Oh, bisa. Hem, sepertinya, mereka memiliki 'Bekel' sehingga sinyal di dalam sini bisa tetap terhubung. Eh, tapi ... ini aneh. Jika frekuensinya sama, produk tersebut pasti dari Vesper Industries," jawab Sun menilai dan Arjuna mengangguk membenarkan.
"Sial. Pencuri lagi. Aku benar-benar kesal. Habisi mereka semua dan tangkap induknya," tegas Arjuna dan Sun mengangguk paham.
Sun meletakkan Galundeng di beberapa tempat yang dilewati oleh mereka berdua sebagai kamera pengintai dalam gedung.
Arjuna kini memiliki dua tugas untuk menjatuhkan musuh dan membutakan kamera pengawas yang ditemui oleh mereka sepanjang menyusuri dalam bangunan.
Hingga mereka mendengar suara mesin dari sebuah pintu dan Sun membukanya perlahan.
Dua pemuda itu melihat teknik pengemasan ganja dengan mesin otomatis. Terlihat beberapa orang yang bertugas di sana seperti pekerja sipil bukan golongan mafia.
Arjuna memberikan instruksi dengan jari tangan seperti sebuah kode dan Sun mengangguk paham.
Sun dan Arjuna merayap di atas lantai mendekati pinggir pagar di mana mereka kini berada di lantai atas dari ruangan tersebut.
KLEK! GLUNDUNG .... BUZZZ!!
__ADS_1
SHOOT! JLEB! JLEB!!
Orang-orang yang berada di tempat itu terkejut. Mereka tak sempat berteriak karena beberapa dari mereka terkena peluru bius dan langsung roboh.
Gas halusinasi menyeruak dan membuat orang-orang yang hanya memakai masker wajah biasa tetap terkena dampak.
Arjuna melihat dari jam tangan di pergelangan kirinya untuk memastikan jika gas tersebut sudah melakukan tugasnya dengan baik dan terhirup sempurna oleh para pekerja.
"Oke, clear," ucap Arjuna dan Sun mengangguk pelan.
Sun berlari mendekati jendela dari ruangan itu dan mengintip keluar. Ia melihat jika posisinya sekarang berada di sisi sebelah Timur.
Sun mengarahkan lampu laser dari senter kecil miliknya ke atas langit selama satu detik dengan cahaya berwarna hijau.
Sun melihat di sisi Timur luar tembok, sinar serupa di arahkan ke atas dengan kedipan dua kali.
Sun kembali masuk ke dalam dan mendekati Arjuna yang memulai interogasi dengan masker gas sudah ia lepas. Sun menodongkan pistol ke arah sandera yang linglung terkena dampak dari gas Halusinasi.
Mereka bicara dalam bahasa Spanyol.
"Siapa penguasa di tempat ini?"
"Ganja dan Sabu," jawabnya lesu.
"Siapa mereka?" Orang itu menggeleng. "Apakah mereka orang Indonesia?" tanya Arjuna yang mempersempit pertanyaannya. Orang itu mengangguk. "Di mana ruang kerja mereka?"
"Dari sini lurus saja. Ada pintu berwarna biru dengan hiasan daun ganja berwarna perak. Mereka ada di dalam sana, para petinggi Perusahaan," ucap wanita itu lesu.
"Tuan Muda," tunjuk Sun saat melihat sebuah pintu dari balik pertigaan koridor di depannya. Arjuna mengangguk paham.
Arjuna kembali memakai masker gas dan berjalan mengendap lebih dulu ke pintu tersebut.
Arjuna kembali memberikan instruksi pada Sun dan pemuda itu mengeluarkan sebuah alat pipih berbentuk persegi panjang seukuran telunjuk orang dewasa berwarna hitam yang bisa menyelinap di bawah pintu.
Sun memasang earphone di telinga kiri dan terlihat fokus mendengarkan dari balik pintu. Arjuna berjaga dan matanya sibuk mengawasi sekitar di malam yang mulai larut.
"Aman," ucap Sun disertai anggukan.
Sun membuka pintu perlahan dengan berjongkok. Ia melongok dan melihat ruangan tersebut gelap dan tak ada orang di dalam. Ia mengambil alatnya lagi dan menyimpannya dalam saku.
Arjuna berjalan mundur dengan posisi berjongkok saat memasuki ruangan dan menutup pintu perlahan. Dua orang itu berjongkok di samping pintu dan melihat sekitar.
Arjuna melemparkan gas Halusinasi ke lantai. Kini, gas Halusinasi memiliki dua jenis, dengan bom dan tanpa bom.
Gas Halusinasi Bom berbentuk granat dan Tanpa Bom berbentuk pipa besi. Yang Arjuna lemparkan dalam misi ini adalah jenis tanpa bom agar tak menimbulkan keributan.
Dua pemuda itu membiarkan ruang kerja tersebut dipenuhi oleh kepulan asap putih. Arjuna kembali melirik jam tangan untuk melihat reaksi jika ada seseorang di tempat tersebut agar tak melakukan perlawanan.
Namun tiba-tiba, pistol di tangan Sun dan senapan laras panjang di tangan Arjuna langsung membidik sosok yang muncul dari balik kepulan asap putih dengan sebuah topeng dan pistol dalam genggaman.
Pria itu duduk di sebuah kursi yang di balik. Arjuna dan Sun terlihat tegang seketika.
__ADS_1
Kepulan asap putih menghilang dan tersedot ke atas dari sebuah kipas seperti penyaring udara. Ruangan kembali bersih dan terlihat sosok tak dikenal tersebut.
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia campuran.
"Kim Arjuna. Namamu seperti tokoh dalam cerita Mahabaratha. Lepaskan maskermu, percuma saja, aku sudah mengenalimu," ucapnya dengan logat seperti orang Jawa meski suaranya di samarkan mirip robot Transformers.
Arjuna terlihat ragu pada awalnya, tapi pada akhirnya, ia melepaskan masker wajah dengan senapan laras panjang masih ia genggam dengan satu tangan di arahkan ke tubuh pria di depannya yang terlihat tak terintimidasi dengan gerakannya.
"Kau siapa?" tanya Arjuna kembali membidik dengan kedua tangan menggenggam senjata.
"Tak mengenaliku? Baguslah. Aku hanya mengatakan satu kali dan sebaiknya, kau turuti. Vesper meninggalkan tempat ini, dia tak membutuhkannya. Ia sudah kaya. Jadi, pergilah dan jangan pernah kembali lagi. Aku tak mengusik jajaran 13 Demon Heads atas tempat ini," ucap pria itu tenang.
"Namun, kau tak meminta izin kepada ibuku. Tanah dan bangunan yang masih berdiri, termasuk Mansion, adalah miliknya. Kau tak memiliki hak untuk mengklaimnya. Kau, tidak tahu sopan santun," jawab Arjuna tegas menatap mata dari topeng itu tajam.
"Apa Vesper mengirimmu kemari dan menugaskan kalian semua untuk merebut tempat ini lagi?"
"Yes. Kau pintar rupanya," jawab Arjuna yang masih bertahan dengan posisi bersimpuh sama seperti Sun.
Pria itu mengangguk pelan dari tempatnya duduk.
"Dasar rakus! Dia datang setelah melihat tempat ini menjanjikan! Aku yang mengembalikan kejayaan tempat ini dari keterpurukan dan bisa-bisanya ia datang saat aku sudah berada di puncaknya! Aku tak akan menyerahkannya!" teriaknya lantang dan langsung berdiri.
Mata Arjuna dan Sun melotot seketika saat kursi yang diduduki pria bertopeng dilemparkan ke arah mereka berdua hingga dua pemuda itu bergulung ke dua sisi untuk menghindari serangan.
DOR! DOR! DOR!
Arjuna dan Sun dihujani tembakan dari pria bertopeng misterius yang berdiri tegak meluncurkan peluru pembunuhnya ke arah dua pemuda itu tanpa jeda.
"SUN!" teriak Arjuna yang bersembunyi di balik meja kerja dan Sun berada di balik lemari besi arsip.
Sun mengganti pistolnya dengan sebuah senapan laras cukup besar dari dalam tas ransel. Sun membidik tembok bangunan dan seketika, SHOOT! DUK! BLUARRR!!
Pria bertopeng langsung jatuh tengkurap setelah dinding di sebelah kirinya meledak hebat dari senapan Mini Domino. Pria itu segera berdiri dan menekan tombol di balik vas bunga di meja kerjanya.
Seketika, TET! TET! TET!
Suara alarm nyaring terdengar dan membuat lampu di seluruh ruangan berkedip merah tanda bahaya. Pria bertopeng itu berlari keluar sembari menembaki Sun dan Arjuna yang masih berlindung di balik benda.
"Sun, dia kabur! Sial!" teriak Arjuna berjongkok melindungi diri dari peluru-peluru tajam yang akan membunuhnya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST, FreePic dan GOOGLE
www.cannabisautomationandpackaging.com
Horeee brankas terisi lagi. Tengkiyuw lele padamu😍
__ADS_1