4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
After Life-Dayana Lubava*


__ADS_3

Jeremy akan melakukan pelatihan kepada para Black Armys yang terpilih untuk menggantikan Souta saat terbangun nanti. Orang-orang itu tampak antusias karena merasa tertantang.


Saat ballroom sedang ramai oleh para mantan mafia yang membahas pemesanan, tiba-tiba ....


"Oh! Air apa ini?" tanya Monica saat mendapati genangan di dekat sepatu berhaknya.


"Dara!" pekik Renata isteri dari Q yang mengejutkan gadis cantik itu.


Praktis, mata semua orang tertuju pada Sandara di mana genangan air itu berasal dari bawah gaun panjangnya.


"Pasti air ketubanmu! Kau akan melahirkan!" seru Amanda yang membuat gadis itu malah panik, tapi bingung harus melakukan apa.


Jordan dengan sigap membopong Sandara yang gemetaran karena ia mengaku tak merasakan apapun.


Kai bahkan langsung meninggalkan kerumunan dan mengikuti Jordan di belakangnya menuju ke mobil.


"Nathan anter! Nathan anter!" seru Jonathan sigap, tapi ....


"Tidak! Kau seperti pembalap ugal-ugalan. Biar aku saja," sahut Arthur langsung menyerobot remote kunci mobil putera mendiang Erik tersebut.


Wajah Jonathan masam seketika. Niat baiknya ditolak mentah-mentah.


"Sudahlah, Sayang. Biarkan saja. Kenapa kau sangat antusias?" tanya Sierra seraya mendekat.


"Soalnya, saat Sierra melahirkan dulu, Nathan gak ada di sana. Jadi, Nathan penasaran, eh malah diusir. Ini lebih kejam ketimbang orang yang mati di dor tadi," keluh Jonathan berwajah masam.


"Tar kalo Eko mau lahiran di toilet, Eko kasih tau. Tapi, nunggu mules dulu ya," sahut Eko dengan potongan buah semangka masuk ke mulutnya.


"Hiss! Jorok!" teriak Jonathan langsung mendesis, tapi Eko tertawa terbahak.


"Jangan panik. Sandara hanya akan melahirkan. Sebaiknya yang menyusul ke rumah sakit cukup ibu-ibu saja," ucap Eiji yang masih memiliki trauma sendiri saat sang isteri akan melahirkan dan ia hampir pingsan.


Monica akhirnya mengajak Amanda, Renata dan Lopez untuk menyusul. Sisanya, terlihat mempersiapkan kamar yang akan Sandara gunakan nanti bersama bayinya dipimpin oleh Naomi.


"Wah, pas lima tahun nanti kita kumpul lagi, buakal rame kaya taman kanak-kanak ini. Banyak tuyul berkumpul!" seru Hadi sumringah karena sang isteri juga tengah mengandung.


"Padahal Nathan udah siapin monopoli buat ngajak mereka main bareng, eh ternyata bocah-bocahnya gak diajak," sahut Jonathan sebal.


"Main monopoli pakai uang beneran mau gak?" sahut Bayu dengan berbisik.


"Caranya?" tanya Jonathan penasaran.


Bayu lalu mengajak teman-teman The Kamvret untuk berkumpul termasuk para Biawak. Mereka bermain dengan empat orang terlebih dahulu untuk sesi pertama.


Siapa sangka, para lelaki mantan mafia itu tampak antusias saat mereka menggelontorkan uang sungguhan dalam permainan tersebut.


"Buset! Indonesia murah amat cuma 6000 doang. Siapa sih yang bikin harga ini?!" gerutu Biawak Cokelat yang merasa tanah airnya dihargai murah dalam permainan tersebut.


"Beli, Om, beli! Bangun hotel sekalian!" seru Jonathan memprovokatori.


"Cokelat beli lunas berikut tanah dan empat rumah. Habis ini Cokelat mau bangun hotel 1000 tingkat!" serunya semangat sudah membayangkan.


Semua orang terkekeh. Deposit yang harus mereka gelontorkan per orang sebagai uang bank senilai 1 juta rupiah. Eko menjadi petugas bank dan wasit permainan.


Siapa sangka, permainan sederhana itu mampu membuat ballroom yang tadinya terasa tegang menjadi ramai seketika layaknya di pasar.


Begitu sesi pertama berakhir, dilanjutkan sesi kedua dengan orang yang berbeda. Sayangnya, bagi yang sudah menang dan mendapatkan sisa uang deposit bank tak boleh ikut lagi.


Sesi pertama dimenangkan Jonathan. Ia tampak gembira di mana sebelumnya cemberut karena tak boleh ikut mengantar Sandara ke rumah sakit.


"Yang kaya makin kaya, yang miskin makin nyungsep! Nasib, nasib. Hoki si Jojon gak kandas-kandas to ya," keluh Biawak Hijau karena rugi dalam permainan sesi pertamanya.


Jonathan bergaya dengan menyelipkan uang-uang itu di atas karet celana da*amnya. Semua orang terkekeh karena pemuda itu selalu penuh percaya diri di mana pun dan kapanpun.


Di rumah sakit tempat Sandara melahirkan. Rusia.


Tak membutuhkan waktu lama. Sandara berhasil melahirkan secara normal saat malam hari.


Kai menangis ketika ia menggendong cucu pertamanya yang telah dibersihkan dan tampak cantik seperti anak perempuannya.


"Kau sepertinya sangat bahagia, Papa," ucap Jordan saat Kai berusaha untuk membendung air matanya.


Jordan dengan penuh perhatian menghapus air mata penuh kasih itu dengan tisu perlahan. Kai mencium kening cucunya dan menatapnya lekat.


"Boleh kumemberikan nama?" tanya Kai yang membuat semua orang di ruang perawatan itu terkejut.


"Ya, tentu saja, Papa," sahut Sandara yang terbaring lemah di ranjang pasien.


"Dayana Lubava. Sebenarnya, itu nama yang dulu ingin kuberikan padamu, Sandara. Namun, begitulah. Aku masih menyesal jika teringat akan perlakuan burukku dulu saat berusaha menculikmu dari pelukan ibumu," ucap Kai yang membuat semua orang terdiam. "Nama itu berarti, gadis yang kuat dan penuh kasih sayang. Bagaimana?" sambung Kai menatap semua orang yang menatapnya lekat.


"Indah sekali. Lalu, bagaimana kami memanggilnya?" tanya Amanda seraya mendekat dan mengelus kening bayi mungil itu.


"Diana saja," sahut Sandara, dan Kai mengangguk setuju.


"Halo, Diana," panggil Jordan yang ikut mengecup lembut pipi anak perempuannya, meski bukan darah dagingnya.


Kabar gembira ini tentu saja disambut baik oleh semua orang. Jordan bahkan merasa tersaingi oleh Kai karena ayah dari Sandara tersebut begitu lengket dengan cucu pertamanya.


Jordan tak ingin merusak kebahagiaan Kai dan membiarkan ayah mertuanya menunjukkan cinta kasihnya kepada sang cucu.

__ADS_1


"Kai! Jangan lupa pesanan tabung yang sudah kaujanjikan!" seru Han mengingatkan.


"Akan kukerjakan begitu Diana tidur," sahutnya seraya menimang-nimang cucunya dalam pangkuan di kursi goyang.


Han tersenyum lebar karena akhirnya ia melihat Kai bahagia semenjak kematian Vesper. Setidaknya, kehadiran sang cucu membuat Kai tak terpuruk dalam kesedihan.


...***...


Hari berganti dengan begitu cepat yang kemudian berubah menjadi bulan dan tahun. Anak-anak para mantan mafia tumbuh menjadi remaja ceria dan cerdas dengan keahlian masing-masing atas didikan kedua orang tuanya.


Bahkan, Sandara sudah mengandung lagi usai kelahiran anak pertamanya hasil donor spermaa Sun.


Hal ini diketahui dari hasil USG jika calon anak keduanya adalah laki-laki. Puteri pertamanya lebih mirip dengan Sandara di mana orang-orang yakin jika gen Sandara lebih dominan ketimbang Sun.


Tentu saja, Sun merasa bahagia karena secara tak langsung, ia telah memiliki dua orang anak. Satu dari rahim Sandara selaku puteri Vesper, dan satunya dari rahim sang isteri—Sisca.



Jordan terlihat begitu menyayangi puteri kecilnya meski bukan darah dagingnya. Gadis manis itu kini telah berusia 5 tahun di mana bulan lahirnya sama dengan sang kakek—Kai—meski beda tanggal.


Diana juga terlihat lengket dengan sang kakek bahkan suka membantu di bengkel untuk membuat tabung pesanan para mantan mafia.


"Kau apakan Diana, Kai? Lihat! Dia berkamuflase dengan angus mesin," ledek Dominic saat mendapati Diana berjongkok di samping Kai yang sedang memasang silinder untuk menempatkan serum-serum dalam tabung.


"Haha! Aku sudah memintanya bermain dengan yang lain, tapi sepertinya ... dia tertarik dengan mesin. Mau bagaimana lagi?" jawab Kai yang kemudian sosoknya muncul dari balik tabung.


"Opa," panggil Diana seraya memberikan lap.


"Oh! Kau sangat pengertian sekali. Terima kasih, Sayang," ucap Kai seraya menerima lap dari tangan mungil sang cucu lalu mengecup kepalanya dengan senyum terkembang.


"Pudding?" pinta Diana dengan mata berbinar.


"Hehehe, dia minta imbalan," kekeh Dominic, dan Kai mengangguk mengiyakan.


Kai menggandeng Diana keluar dari bengkel di mana selanjutnya, Dominic serta lainnya melakukan tahap akhir dari tabung tersebut sebelum dioperasikan nantinya.


Tawa Diana yang menggemaskan serta tingkah polahnya selama berkunjung di tempat kakeknya tinggal, membuat kastil Borka terasa bagaikan taman bermain.


Tak terasa, hari yang dinantikan tiba. Bertepatan dengan bulan Desember seperti lima tahun sebelumnya.


Hari itu, pertemuan penting untuk mengetahui perkembangan tabung, siap diadakan di Kastil Borka, Rusia.


Sayangnya, para anak mantan mafia itu tak ikut serta dalam perkumpulan rahasia tersebut. Mereka tetap berada di rumah didampingi oleh para pengasuh dari rekrutan Black Armys selama kedua orang tuanya berkumpul di Kastil Borka.


Hanya Obama Otong, King D dan Diana yang diikutsertakan. Kai menganggap, cucu perempuannya masih belum paham dengan hal tersebut dan bukan dianggap sebagai ancaman.


Hanya segelintir yang berteman akrab seperti Nicolas putera dari James dan Zurna, dengan anak dari Seif dan Durriyah.


Pasangan asal Arab itu memutuskan untuk bertukar hunian dengan Agent X karena Han membutuhkan bantuan keduanya untuk mengurus usahanya di Korea Selatan.


X tak keberatan dan malah ingin menjajal kehidupan baru di Kenya, Nairobi bersama keluarganya yang ternyata gemar berpetualang di alam liar.


Begitupula dengan Alexander Rex, putera dari Eiji dan Monica yang berteman akrab dengan Jubaedah atau nama panggilan gaulnya Juby. Sedang orang-orang dewasa tetap memanggilnya Endah.


Puteri dari Eko dan Dewi itu bahkan sudah dijodohkan meski pria gundul tersebut tak setuju.


Baginya, perjodohan mirip seperti zaman Siti Nurbaya. Kuno dan mengekang, tapi Dewi, Monica dan Eiji tetap bersikukuh menjodohkan mereka karena Rex memang menyukai gadis manis itu. Eko pasrah dan hanya bisa mengelus dada meski hatinya miris.


Hal serupa juga terjadi antara Bara dan Rangga. Bara anak dari Biawak Putih berteman akrab bahkan satu sekolah dengan Rangga selaku putera dari Buffalo dan Drake.


Siapa sangka, mantan anak-anak mafia itu bisa hidup dengan damai tanpa terusik kehidupan masa lalu orang tua mereka.


Kastil Borka, 5 tahun kemudian.


"Apa kabar?" sapa Jeremy seraya menyambut tangan Yusuke Tendo yang hadir bersama sang isteri—Lucy.


"Baik, Paman Jeremy. Apakah ... tabung pesanan kami sudah siap?" tanya Yusuke penasaran.


"Ya, tentu saja. Semua tabung pesanan telah selesai dibuat dengan pengawasan ketat dan pengecekan berulang. Mari berharap, tak ada kesalahan mengingat sampai detik ini, baik Souta atau Vesper, mereka baik-baik saja," jawabnya dengan senyuman.


"Aku percaya pada kalian. Aku masuk dulu," ucap Yusuke dan diangguki Jeremy.


Ballroom akhirnya penuh dengan para mantan mafia dari dua jajaran. Dua layar besar kembali ditampilkan di samping kanan kiri dinding kaca tempat tabung Souta dan Vesper berada.


"Selamat sore semuanya. Hari yang kita tunggu telah tiba. Kita akan menyaksikan kebangkitan Souta di mana waktu dari pengesetan menunjukkan, jika cucu dari Takeshi tersebut seharusnya bangun 30 menit dari sekarang. Doakan ia tetap dalam keadaan baik karena kini, kita semua menaruh harapan besar padanya," tegas Jeremy di luar dinding kaca.


Wajah orang-orang yang duduk di kursi itu tampak tegang karena tak sabar menunggu hasilnya.


Jeremy menunjukkan kondisi jasad Vesper yang masih terbaring dan terlihat bagus tanpa terjadi pembusukan pada raganya. Semua orang bernapas lega.


"Oma sleeping," ucap Diana imut dan Kai mengangguk dengan senyuman.


Kai sudah mengenalkan Vesper pada cucunya agar Diana tahu, jika Vesper adalah neneknya. Sembari menunggu kebangkitan Souta, tabung-tabung yang telah diciptakan oleh Kai untuk para mantan mafia dalam jajaran 13 Demon Heads dan The Circle disejajarkan.


Orang-orang itu tampak kagum. Jeremy mengizinkan orang-orang itu mendekat di mana sudah diberikan nama pada bagian kaca.


Tabung kapsul itu masih aman disentuh karena belum terkoneksi dengan sistem keamanan. Eiji dan tim teknis belum mendapatkan sidik jari langsung dari para pemesan dan baru diterapkan usai presentasi.


PIP! PIP! PIP!

__ADS_1


Praktis, suara alarm dari tabung Souta membuat kepala semua tamu undangan menoleh ke arah dinding kaca. Mereka tampak tegang.


Jeremy meminta semua tamunya untuk kembali duduk karena momen yang dinantikan akan segera terjadi.


"Paman Souta akan segera bangun. Opa penasaran, bagaimana kondisi mental dan raganya setelah tidur 5 tahun lamanya. Pasti pegal," ucap Kai lirih pada sang cucu.


Diana terpaku menatap tabung yang bersinar dengan warna lampu biru di bagian tutup. Balita cantik dengan rambut panjang tergerai dan bermata bulat itu tampak serius kali ini.


KLEK! CESS!


"Oh!" kejut beberapa orang saat melihat bagian penutup atas tabung terbuka secara otomatis.


Kepulan asap tipis muncul dari dalam tabung tempat Souta berbaring. Rayya dan Roxxane segera mendekat dengan pakaian khusus mereka kenakan. Semua orang tampak tegang menanti kemunculan pria Jepang tersebut.


"Oh!" kejut Rayya sampai terperanjat saat sebuah tangan keluar dari dalam tabung dan langsung mencengkeram kuat tepian penutup.


Mata semua orang melebar saat Souta duduk dan melepaskan masker gas yang selama ini memberikan asupan oksigen di tubuhnya.


"Souta?" panggil Roxxane terlihat gugup.


Pemuda Jepang itu tampak tak menua meski wajahnya terlihat pucat karena tak terkena sinar matahari selama dalam tabung.


Souta tampak tegang dan berulang kali mengedipkan matanya seperti ingin memastikan sesuatu.


Souta melihat kedua tangannya dan menggerakkan jari-jarinya. Semua orang serius menyaksikan di mana pemuda itu masih tak mengatakan apapun.


"Souta?" panggil Rayya ikut mendekat.


"Aku ... masih hidup," jawabnya serak.


"Yeah!" seru Eiji dan Q bersamaan.


Sambutan tepuk tangan meriah langsung terdengar. Souta dibantu bangun oleh Click and Clack dari tabung.


Rayya dan Roxxane memberikan selamat. Meski demikian, Souta tampak linglung dan harus dipegangi.


"Katakan, apa yang kaurasakan," tanya Jeremy dari luar dinding kaca di mana sambungan komunikasi dengan orang-orang di dalam masih terhubung.


"Aku mual dan lapar," jawabnya lugu, tapi membuat orang-orang terkekeh.


"Hem, keluhan lainnya? Nyeri? Pusing? Sakit persendian atau apapun?" tanya Jeremy menganalisis.


"Entahlah, tapi ... aku merasa sedikit kesemutan," jawabnya seraya melihat jari-jari di telapak kakinya bergerak-gerak.


Orang-orang kembali terkekeh karena baginya kejujuran Souta terdengar seperti candaan.


"Jangan khawatir. Kami sudah siapkan jamuan besar untukmu. Makanlah sekenyangnya, tapi ... kau tetap dalam pantauan selama satu minggu penuh. Ingat prosedur kebangkitan?" tanya Jeremy, dan Souta mengangguk paham.


Para tamu berdiri dan bertepuk tangan. Mereka memuji kehebatan Kai dan timnya dalam inovasi terhebat yang pernah diciptakan melebihi senjata.


Souta tetap dipantau dan ia masih belum bisa ditemui kecuali oleh petugas medis sampai dinyatakan kondisinya normal seperti sebelum ditidurkan.


Kai membiarkan Diana melihatnya di luar dinding kaca saat ia mengganti serum tabung Vesper.


Souta diminta untuk memulihkan fisik oleh Kai dan tak perlu melakukan prosedur bagi jasad sang Ratu. Souta menaati perintah tersebut dan pergi bersama tim medis.


"Kau berhasil, Kai," ucap Jeremy dari balik dinding kaca saat semua orang kini berkumpul di meja jamuan menikmati hidangan.


Kai tersenyum dan terlihat begitu bahagia. Senyumnya terkembang karena mimpi terakhirnya terwujud.


"Jangan lupa tugasmu, Jeremy," tegas Kai mengingatkan, dan sang profesor mengangguk paham. "Akhirnya, sudah tak ada lagi beban yang harus kupikul, Nona Lily. Lihatlah, cucu perempuanmu. Dia sangat cantik dan pintar. Aku yakin, ia akan sepertimu saat dewasa nanti. Menjadi wanita yang cerdas, tangguh, dan dihormati banyak orang. Namun, aku mendoakan agar tak perlu ada skandal dalam hidupnya seperti hidupmu," ucap Kai menatap wajah sang isteri lekat, tapi membuat orang yang berada di luar dinding kaca tersenyum tipis.


"Opa! Opa!" panggil Diana seraya mengetuk-ngetuk dinding kaca seperti meminta sesuatu.


Kai tersenyum dengan anggukan. Kai segera menutup papan tempat ia memasukkan botol-botol serum baru untuk mengawetkan mayat Vesper.


Saat Kai melangkah, DUAKK!


"KAI!" teriak Jeremy lantang dan membuat semua orang terkejut seketika.


Kai tergelincir saat tak menyadari jika botol serum kosong yang masih berada di lantai belum ia singkirkan.


Kai jatuh dengan sangat keras dan kepalanya yang tak berlapis helm pelindung menghantam lantai ruangan. Kai tergeletak begitu saja tak sadarkan diri.


"PAPA!" panggil Sandara dengan tangan gemetaran dan mata berlinang.


Diana mematung melihat kakeknya terbaring di lantai dengan mata masih terbuka dan terarah padanya, seperti terkejut akan hal yang menimpanya secara tiba-tiba.


"Opa?" panggil Diana karena sang kakek diam saja tak merespon panggilannya.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Jdi ya to. Satu eps lagi 4YMS2 end ya. Eps terakhir akan lele up malam. Selanjutnya lele akan up Monster Hunter. Red Lips nyempil2 pas luang bebarengan dengan King D yang Insya Allah release pada hari Senin atau Selasa biar lele libur dulu gitu. Doakan aja semua lancar. Amin🙏 Makasih tipsnya💋 Lele padamu❤️

__ADS_1


__ADS_2