4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Bonggol Jagung


__ADS_3

Black Castle mulai ditinggalkan oleh para mafia yang kembali ke negara asal. Mereka yang awalnya khawatir akan serangan dari Venelope seperti yang pernah terjadi sebelumnya ketika pernikahan Zaid dan Yena, mulai bernafas lega.


Walau demikian, rasa was-was akan serangan tak terduga dari pihak No Face tetap membuat mereka bersiaga.


Jonathan mengintip dari balik jendela kamar ketika Arjuna memasuki mobil bersama Tessa, siap untuk pergi.


Terlihat pula Sun, Biawak Putih dan Hijau yang ikut dalam rombongan. Jonathan terlihat sedih. Ia mengurung diri di kamar dan tak mengantarkan para tamu. Jonathan kembali merebahkan dirinya di kasur.


"Nathan."


"Eh, Paman," sahutnya langsung duduk di atas ranjang ketika BinBin masuk ke kamar sudah berpakaian rapi seperti siap untuk pergi.


"Apa yang akan kaulakukan setelah ini?" tanyanya dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.


"Entahlah," jawabnya lesu dan kembali berbaring.


"Ikut denganku ke Jeju. Aku ingin kau melihat hasil pelatihanku kepada anak buah gagakmu itu."


"Oke," jawabnya dengan anggukan terlihat lesu.


"Cepat! Jangan banyak melamun! Aku sudah siapkan keberangkatan, dan kita tak boleh terlambat. Kita terbang sore ini," tegasnya garang.


Jonathan langsung beranjak dan segera bersiap meski wajah tampannya kini tertutup luka serta lebam karena perkelahiannya dengan Arjuna kemarin.


"Paman! Silent Blue Nathan ilang, termasuk sepatu magnet! Ada yang maling!" ucapnya panik dari ruang pakaian.


"Paling Cassie yang mengambilnya. Tak usah heboh begitu. Cepatlah," jawabnya santai seraya merebahkan diri di sofa panjang seperti akan tidur.


Jonathan yang awalnya panik, langsung tenang seketika. Ia kembali ke ruang penyimpanan koleksi pakaian dan persenjataannya untuk berkemas.


Ternyata, rencana kepergian Jonathan sudah diketahui oleh orang-orang terdekatnya atas saran dari BinBin. Jonathan pamit siang itu kepada Ibunya, dan Vesper memeluknya erat.


"Hati-hati. Mama tahu kau sedang sedih, tapi terkadang, rasa penyesalan itu memang harus kaurasakan. Belajarlah bersikap dewasa. Kau bukan anak kecil lagi. Sebentar lagi kau akan duduk di kursi Dewan. Jika sikapmu masih seperti ini, Mama tak bisa membayangkan, akan seperti apa 13 Demon Heads dalam kepemimpinanmu. Kau mengerti, yang Mama katakan?" tanya Vesper menatap wajah anak lelakinya lekat seraya memegang dagunya.


"Ngerti, dikit," jawabnya lugu. Vesper tersenyum lalu mengecup kening anaknya lembut.


Jonathan masuk ke mobil dengan BinBin dan dua asisten wanitanya. Click and Clack ikut bersamanya ke Jeju.


Jonathan melambaikan tangan terlihat sedih kepada orang-orang yang mengantarkan kepergiannya. Mobil melaju meninggalkan kastil megah peninggalan mendiang Charles.


"Jadi ... sekarang apa?" tanya Kai melirik isterinya dengan dua tangan di dalam saku celana.


"Ritual," jawabnya berbisik.


Kai terkekeh dengan wajah merona. Ia tak bisa berkata-kata saat sang isteri merangkul lengannya dengan senyum terkembang.


Han melirik dengan wajah dingin saat Kai tersenyum penuh maksud ketika melewatinya. Orang-orang yang paham dengan pembagian jatah itu terkekeh di belakang Han.


"Aku masih bisa mematahkan leher dengan satu tangan," ucapnya garang melirik ke orang-orang yang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Kita gak ngapa-ngapain. Gak usah baper," sahut Eko seraya merangkul lengan Biawak Cokelat dan Kuning lalu mengajak mereka pergi.


Han mendengus keras. Alex mendekati Han dan berbisik padanya. "Oke. Kita juga harus bersiap," jawab Han pelan. Alex mengangguk lalu pergi untuk menyiapkan penerbangan.


Malam itu, Black Castle kembali sepi karena telah ditinggalkan para mafia yang hadir dalam acara pernikahan Arjuna-Tessa beberapa hari lalu.


Sedang Vesper, masih berada di sana bersama Kai, para bodyguard, dan orang-orang kepercayaannya.


"Kalian bersiaplah. Eiji menemukan sinyal sepatu magnet Jonathan. Sepertinya, Cassie tak menggunakannya dalam waktu lama. Pergerakannya cukup cepat. Jangan sampai kehilangan jejak, dan pastikan ia tak mengetahui jika kita mengawasinya," ucap Vesper memasang wajah dingin.


"Yes, Mam!" jawab para anggota Red Ribbon serempak.


Di sisi lain, tempat Sandra berada.


"Reflekmu masih lambat, Sandara. Kau menirukan gerakan itu dengan benar, tapi tak ada kekuatan dalam setiap serangannya. Sekali tendang, kau akan langsung roboh. Percaya padaku," ucap Neon seraya menikmati jagung bakar di pinggir pantai dengan setengah topeng menutup wajahnya.


Keringat Sandara bercucuran. Ia terlihat begitu lelah dengan latihan menggunakan tongkat untuk mempelajari ilmu pedang malam hari itu.


"Besok lagi," ucapnya terengah.


"Jagungku saja belum habis. Lagi," jawab Neon menolak seraya mengambil sebuah jagung terakhir di piring samping ia duduk di sebuah kursi dan meja plastik yang sengaja dipersiapkan malam itu.


Sandara terlihat pucat. Ia seperti tak bertenaga. Bibirnya kering dan rambutnya basah karena keringat.


Sandara menggenggam tongkat panjang itu di depan tubuhnya. Saat ia akan mengayunkan ke depan, tiba-tiba ....


DUAKK!


"Apa kataku. Refekmu lambat. Kau tidak peka terhadap serangan. Bayangkan jika ini peluru atau granat, kau sudah tewas," ucapnya lalu menggigit biji jagung dan mengunyahnya dengan santai.


Neon mengayunkan tangannya, meminta Sandara mendekat untuk minum. Gadis itu berjalan dengan lunglai. Namun lagi-lagi, SWINGG ... DUKK!


"Agh!" rintihnya karena Neon lagi-lagi melemparnya dengan bonggol jagung lainnya dan mengenai wajahnya lagi.


"Hahaha! Oh, ini menyenangkan. Aku masih punya dua bonggol lagi. Jika wajahmu lecet, itu bukan salahku ya," ledeknya dengan bonggol jagung sudah ada dalam genggaman tangan kirinya.


Sandara terlihat siap kali ini. Ia tetap diminta mendatangi Neon untuk mengambil botol air minum di atas meja samping ia duduk.


SWINGG! SWINGG!


Neon terkejut, karena Sandara berhasil mengelak dengan menggeser langkahnya ketika bonggol jagung itu akan mengenai tubuhnya.


"Hah?"


"Hem, kau bisa mengelak dari lemparan jagungku, tapi ... kau tak bisa mengambil air minum ini. Reflekmu lambat," ucapnya meledek yang dengan cepat mengambil botol lalu mengangkatnya tinggi saat Sandara hampir meraihnya.


Sandara menatap Neon jengkel. Ia begitu kehausan dan letih. Tapi, Neon malah mempermainkannya.


Sandara memalingkan wajah dan hanya bisa berdiri dengan perasaan kesal menyelimuti hatinya.

__ADS_1


Neon tersenyum melihat Sandara tak bisa berbuat apapun ketika air dalam botol itu ia minum, bahkan tak menyisakan untuk gadis cantik itu.


"Hah, segarnya. Kau bisa mengisi botol ini dengan air laut. Jangan menyia-nyiakan karunia Tuhan," ucapnya seraya menyerahkan botol kosong itu kepada Sandara.


Sandara melirik Neon tajam. Ia merebut botol itu dan melemparkannya jauh dengan nafas menderu. Neon terkekeh dan terlihat begitu senang karena Sandara kesal akan sikapnya.


"Kau sungguh menggemaskan. Kau marah, tapi malah terlihat begitu manis untukku. Pantas saja Mr. White menyukaimu, kau imut," jawabnya seraya mendekatkan wajahnya yang tertutup topeng dengan kedua tangan ia masukkan dalam saku depan jaket. Sandara menatap Neon tajam. "Ayo pulang. Kau bau," sambungnya seraya mendorong punggung Sandara agar segera jalan.


Gadis itu hanya bisa menurut. Tongkat kayu yang ia genggam direbut oleh Neon dan digunakan oleh pria itu untuk mendorong tubuh bagian belakang Sandara.


Puteri tunggal Kai kesal, dan berulang kali menoleh saat punggungnya di dorong dengan ujung tongkat, tapi Neon malah tersenyum lebar melihat tawanannya memasang wajah cemberut.


"Selamat malam, Dara. Sampai ketemu besok pagi," ucapnya seraya menutup pintu kamar gadis manis itu dan menguncinya dari luar.


"Menyebalkan," gerutunya masih berdiri di balik pintu yang tertutup.


Sandara berjalan lunglai ke kamar mandi. Ia nekat minum dari keran karena tak diberikan minum oleh Neon ataupun anak buahnya di kamar.


Sandara merendam dirinya dalam bath up air hangat agar tubuhnya yang letih kembali rileks. Sandara memejamkan mata. Ia yang kelelahan, sampai tak sadar dan malah tertidur dalam bath up.


CEKLEK!


"Hahhh ...," desah Neon saat mendapati Sandara memejamkan mata dalam bath up dan luapan air merendam tubuhnya.


Neon menguras air dalam bath up dan membiarkan air itu surut dengan sendirinya.


Neon duduk di bingkai bak tersebut dan menatap tubuh Sandara yang mulai berubah menjadi gadis remaja, tak terlihat seperti anak-anak lagi.


"Hem, mulus, bersih. Sayangnya, lembek, kurang padat," ucapnya menilai seraya menekan perut Sandara dengan telunjuknya.


Seketika, "Aaaaa!" teriak Sandara histeris saat mendapati Neon duduk di pinggir bath up dan memandanginya.


BRUK!!


"Tak usah berteriak. Aku tak melakukan apapun. Jangan membuat kebiasaan buruk dengan tidur seperti ini. Kau bisa mati, dan itu bahaya untukku. Hargai nyawamu, kau itu cantik dan pintar. Kau disayangi semua orang," ucap Neon seraya beranjak, terlihat cuek dengan apa yang ia lihat barusan.


Sandara mentutup tubuhnya dengan handuk yang dilemparkan oleh Neon. Gadis itu terlihat ketakutan meski Neon sudah keluar kamar mandi dan terdengar suara pintu kamar di tutup.


"Oh. Dia lebih mengerikan dari Mr. White. Apa yang dia lakukan padaku?" tanya Sandara gemetaran.


Ia segera keluar dari bath up dan melihat tubuhnya di kaca dengan perasaan cemas, tapi tak menemukan apapun di sana. Ia juga memegang daerah vital miliknya, tapi tak merasakan perubahan di sana.


"Aku tak apa. Aku baik-baik saja. Kenapa aku bisa ketiduran? Bodoh," ucapnya menyalahkan dirinya sendiri.


Sandara segera mengeringkan tubuhnya dan berpakaian. Ia merebahkan dirinya dan menyelimuti tubuh dengan selimut putih yang disediakan.


"Kenapa ... mereka belum menemukanku? Aku ada di permukaan, bukan di dasar laut atau di angkasa. Apakah benar, mereka masih menyayangiku? Aku ... hampir melupakan kenangan indah bersama keluargaku. Apakah ... semua kenangan itu akan terhapus?" tanya Sandara sedih melihat ke balik jendela kamar, di mana bulan bercahaya terang malam itu.


***

__ADS_1


tengkiyuw tipsnya. lele padamu. hari ini masih 1 eps dulu ya. lele migren uyy😵



__ADS_2