
Minggu pertama bulan Agustus.
Kabar Sandara ditemukan, tapi membawa serta orang-orang yang menyerangnya, membuat Kai tak habis pikir dengan maksud dan tujuan sang anak.
Biawak Hijau turut geram karena sahabatnya Biawak Putih kini harus menjadi budak dari Sandara Liu.
"Tuan Kai," panggil Afro seraya mendekat dengan kursi roda elektrik ditemani Sierra dan Venelope di sisinya.
"Sudah. Kalian tak perlu ikut campur. Kami memang sengaja melakukannya untuk melihat kemampuan dan jati diri dari anak-anak. Kejam memang, seolah kami tak ada di sana untuk mendukung atau menasehati mereka. Namun, saat kami ada, mereka juga mengabaikan keberadaan kami. Toh, mereka yang memilih jalan mafia. Jadi ... ini konsekuensinya," ucap Kai dengan ponsel dalam genggaman usai mendapat kabar dari Biawak Hijau di Peru.
"Ya, kami paham dengan hal itu," jawab Afro pelan. "Hanya saja, aku tak bisa lagi kembali pada Sandara, Tuan Kai. Dia ... berubah terlalu banyak. Saat ia kembali, aku minta maaf jika tak lagi bisa menerimanya atau pun melindunginya seperti janjiku padamu dan juga nyonya Vesper. Aku ... sungguh minta maaf," ucap Afro dengan pandangan tertunduk.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku memberikanmu beban terlalu berat hingga kau menjadi seperti ini. Sudah cukup pengorbanan dan kesetiaanmu pada puteriku, Afro. Ini pilihanmu untuk tetap mencintai dan bertahan, atau pergi dan menghindar," jawab Kai seraya menepuk pundak pemuda malang itu.
"Terima kasih, Tuan Kai. Terima kasih," jawab Afro dengan senyuman terukir di wajah.
Sedang Sierra, hanya bisa diam dengan Venelope berdiri di sampingnya. Tak lama, datang dua orang di mana sosok mereka dikenali oleh orang-orang di ruang tengah itu.
"Sierra? Lope? Kalian di sini? Tapi ... kata Jonathan ...," ucap Clack bingung.
"Aku sudah menduga pasti dia terkena hasutan Miles. Sungguh, aku tak menyangka jika Jonathan sebodoh itu. Sudahlah, biarkan saja. Biasanya ... penyesalan akan datang terlambat. Sebaiknya, kita urus diri kita masing-masing sampai badai ini reda," sahut Sierra dan diangguki oleh Clack serta Click.
Tiba-tiba ....
"Jadi ... kau juga hamil anak Jonathan?"
Praktis, kepala semua orang menoleh ke sosok wanita yang mereka kenali. Sierra tampak panik dengan kemunculan Cassie yang terlihat berbeda baik bertutur kata atau pun bersikap.
"Ca-Cassie. Hai," sapa Sierra gugup.
"Kenapa takut melihatku? Aku tak melakukan apa pun. Duduklah. Kita bicarakan hal ini sebagai sesama wanita dan Ibu," tegasnya lalu duduk di sofa seraya menyilangkan kaki.
Sierra dan lainnya menelan ludah. Sikap Cassie sungguh lain, tenang dan anggun, layaknya gadis beradab. Kai ikut duduk bersama Click and Clack di sofa panjang sisi kiri.
Sedang Sierra dan Venelope, duduk berdampingan di sofa panjang sisi kanan. Afro, duduk berhadapan dengan Cassie menggunakan kursi roda meski terhalang meja.
Tiba-tiba, Cassie meletakkan sebuah alat di atas meja. Orang-orang melihat alat itu saksama. Namun, Kai dan Afro mengetahui fungsi dari alat tersebut.
"Itu adalah detektor kebohongan. Jika sampai alarm nyaring berbunyi, aku tak segan mengumpankanmu pada ayahku, Miles. Jadi, jawablah dengan jujur meski itu menyakitkan. Kau paham, Nona Sierra?" tanya Cassie tegas.
Sierra mengangguk pelan meski terlihat tertekan. Suasana tegang seketika.
"Apa kau mencintai Jonathan?" Sierra terkejut, tapi mengangguk pelan. "Jawab!"
"Ya. Aku mencintainya."
Cassie mengunci pandangannya pada Sierra seorang. "Apa bayi yang kau kandung adalah calon keturunan Benedict? Jonathan ayahnya?"
"Ya. Itu benar."
Semua orang duduk dengan tegak menjadi saksi dari interogasi itu.
"Kau tahu jika aku juga mencintai Jonathan. Aku juga melahirkan anaknya. Jadi, apa yang akan kaulakukan dengan kita bertiga nantinya?"
__ADS_1
Sierra tampak gugup dalam menjawab, sedang Cassie masih diam dengan sorot mata tajam membidik gadis bermata biru itu.
"Kita tak mungkin saling bunuh untuk mendapatkan Jonathan seorang. Kita tak bisa mengasuh anak dari lain Ibu meski kita keturunan Flame. Aku ingin membesarkan anakku. Aku ingin mendidiknya dengan caraku. Aku ingin Jonathan ada disisiku dan anakku hingga ia bisa mandiri nantinya. Aku ingin mendampingi Jonathan selamanya meski ada kau di sana," jawab Sierra mantap melihat benda yang tergeletak di hadapannya tak membunyikan alarm.
"Kau tak masalah dengan keberadaanku?"
Sierra menggeleng. "Tak ada yang salah kita mencintai orang yang sama. Cara kita mencintai pun berbeda. Aku tak akan mengusik hubunganmu dengan Jonathan saat kalian bersama nanti, tapi kau juga jangan mengusik kehidupan kami saat kau tak ada. Kita harus membagi porsi untuk keluarga kita meski terasa tak adil dan menyakitkan. Tapi ... inilah konsekuensi," jawab Sierra yang perlahan menaikkan pandangan dan menatap Cassie lekat.
"Apa yang kau rencanakan?" tanya Cassie masih menyudutkan rivalnya itu. Entah kenapa, Kai merasa jika hubungan ini serumit kisah cintanya. Venelope dan lainnya diam menyimak.
"Rumahku di Paris sudah dibangun dan siap kutempati. Aku ingin tinggal di sana dengan anakku nanti. Sebelumnya, aku sudah membahas hal ini dengan Jonathan. Kau akan tinggal di Black Castle. Aku rasa, ini cukup adil. Tinggal pembagian kapan Jonathan bersamamu dan kapan bersamaku," jawab Sierra mengutarakan pemikirannya.
"Deal."
Semua orang tertegun karena Cassie dengan mudahnya menyetujui solusi dari Sierra. Bahkan, Mantan pemimpin The Circle itu ikut terkejut dengan jawaban Cassie.
"Satu bulan bersamaku, satu bulan bersamamu. Jika sampai melanggar, ada pinalti khusus yang akan kita diskusikan nanti saat Jonathan ada diantara kita. Bagaimana?"
"Oke," jawab Sierra menurut.
Tak lama, pintu ruang tengah terbuka. Muncul Eiji membawa dua lembar kertas lalu meletakkan di atas meja. Semua orang menatap kertas itu saksama.
"Semua ucapan kita telah direkam dan disalin dalam kertas perjanjian ini. Baca lagi dengan cermat lalu tanda tangani. Semua orang yang berada di sini akan menjadi saksi," ucap Cassie tegas.
"Kau sudah merencanakan ini?" tanya Click heran, dan Cassie mengangguk pelan.
Sierra mengambil selembar kertas tersebut dan membacanya perlahan. Gadis itu terkejut karena tak menyangka jika ucapan yang dikatakannya sama persis dengan yang tertuang dalam tulisan itu. Sierra menatap alat detektor di meja seperti memikirkan sesuatu.
Sierra tersenyum tipis lalu mengambil pulpen yang diletakkan Eiji samping kertas yang ia bawa.
"Oke. Satu masalah selesai. Kita tinggal menunggu kedatangan Jonathan meski yah, aku tak tahu kapan ia akan menyadari kebodohannya itu dan datang kemari," ucap Eiji seraya mengambil dua kertas yang telah resmi disepakati.
"Lalu ... apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Clack bingung.
"Menunggu," jawab Kai pelan lalu beranjak dari kursi duduknya. "Aku permisi," sambungnya lalu berjalan meninggalkan sekumpulan orang keturunan dari Flame.
"Nikmati waktu kalian di tempat ini. Cassie bisa mengajak kalian berkeliling," imbuh Eiji lalu pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sierra tampak tegang karena ditatap oleh Cassie tajam.
"Ayo, kukenalkan kalian pada puteraku. Dia tampan seperti Jonathan. Bagaimana denganmu, Saudari?" tanya Cassie seraya bangun dari tempat duduknya.
"Hem. Dia perempuan," jawab Sierra dan Cassie mengangguk pelan.
Sierra, Click and Clack mengikuti Cassie keluar ruangan untuk menemui buah hatinya. Sedang Venelope, berdiri di samping Afro menatap pria itu lekat.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya pelan.
"Hem, tak begitu baik," jawab Afro sayu.
Tiba-tiba, Venelope mendorong kursi roda Afro. Pemuda itu bingung, tapi diam saja. Afro menarik tangannya dari papan pengendali kursi roda elektrik dan memangkunya dipaha.
"Aku penasaran dengan tempat ini. Apakah seindah yang dikatakan Eiji?" tanya Venelope membuka obrolan.
"Entahlah. Selama ini, aku mengurung diri di kamar."
__ADS_1
"Bersedia menemaniku melihat sekitar?" tanya Venelope dan terus mendorong.
"Hem," jawab Afro terlihat canggung.
Di sisi lain, tempat Lysa berada.
Lysa meninggalkan Cuba dan kini berada di Jepang menjelang matahari terbit untuk mencari keberadaan pembunuh Tobias.
Kurang lebih 18 jam penerbangan dan harus transit di beberapa negara, tak membuat dendam Lysa menyurut malah makin menjadi.
Sikap Lysa berubah drastis. Tak ada lagi senyuman di wajahnya. Ia tampak garang dan hanya dendam yang menyelimuti hatinya.
Seolah, wanita cantik itu lupa jika dia seorang Ibu. Lysa tak pernah menghubungi siapapun sekedar bertegur sapa atau menanyakan kondisi dua buah hatinya.
Lysa mengenakan seragam tempur Black Armys lengkap dengan sepatu magnet yang disimpan pada lemari khusus di Cuba.
Ia menggendong sebuah tas ransel berisi perbekalan, surat-surat penting agar dirinya lolos pengecekan saat melintasi perbatasan, dan juga senjata yang tak terdeteksi oleh sistem keamanan.
Lysa tiba di Tokyo sebagai salah satu kota tujuan untuk mencari pelaku pembunuh Tobias. Selembar kertas dari petunjuk yang ditinggalkan padanya menjadi motivasi untuk tetap bertahan hidup dalam kesendirian.
Saat memasuki kawasan padat pertokoan, Lysa melihat banyak anak buah dari Yusuke Tendo berjaga di sekitar lokasi.
Lysa mengenali mereka dari gaya rambut khas yang dikuncir kuda.
Lysa menjauh dari wilayah kekuasaan Yusuke, tapi siapa sangka, ada seorang pria yang telah mengawasi pergerakan puteri pertama Vesper sejak ia menginjakkan kaki di Tokyo.
Pria itu diam-diam mengikuti Lysa dan sangat mahir berbaur dengan kerumunan, sehingga sosoknya tak dapat tertangkap mata telanjang begitu saja.
Lysa menghentikan langkah dan menoleh berulang kali saat ia merasakan seperti dibuntuti, tapi ia tak menemukan satu pun orang yang bisa ia curigai atau dia kenal.
Lysa merasa was-was dan memilih untuk menjauh dengan memasuki wilayah yang lebih sepi. Tiba-tiba, TANG!
Seorang pria dengan rambut kuncir kuda melompat dari atas atap bangunan di lorong sepi tempat Lysa melintas seraya menyabetkan pedang katana miliknya.
Lysa berhasil menghindar saat pria itu melakukan gerakan seperti ingin membelahnya.
Bilah pedang tajamnya menyentuh jalanan conblock saat Lysa dengan sigap melompat ke belakang.
"Ah ... Lysa Herlambang. Apa yang kaulakukan di tempat sepi wilayah kekuasan 13 Demon Heads, hem? Biar kutebak. Mencoba mengambil kekuasaan tuan Yusuke Tendo?" tanya pria itu seraya melangkah maju dengan mengayunkan pedangnya ke kanan dan ke kiri, terlihat siap untuk menyerang.
Lysa tak menjawab, dan itu berarti 'Ya' bagi anak buah Yusuke Tendo.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Kwkwkw mak ben nyogoknya gak tanggung-tanggung. Ini bukan minta crazy up kan ya? Ya? Ya?
__ADS_1