
Kebangun dari jam 2 pagi. Gulung2 gak bisa bobo ya wes ngetik aja. Mana lupa hp di mana. Lele setor naskah jam 4 up jam brp ya? Kwkwkw itung2 belajar bangun buat bsk siapin saur. Yup, kita mau ketemu puasa lagi gaes. Semoga yg menjalankan puasa sukses sampai lebaran tiba ya. Amin🙏
------- back to Story :
Di tempat Lysa berada.
Anak pertama Vesper sampai didatangkan psikiater agar kondisi mentalnya membaik. Banyaknya guncangan yang terjadi pada jiwanya, membuat Lysa seperti kehilangan jati diri. Beruntung, ia masih dikelilingi oleh orang-orang yang peduli padanya.
Mereka bicara dalam bahasa Jerman. Terjemahan.
"Aku mengerti. Terima kasih," ucap Javier saat seorang psikiater pamit pergi usai melaporkan perkembangan mental Lysa.
CEKLEK!
"Javier?" panggil Lysa saat membuka pintu kamar. Sang Sultan yang berdiri memunggunginya hanya menoleh sedikit. "Kautinggal di sini selama ini? Kukira ... aku sedang berhalusinasi," ucap Lysa lirih saat ia sudah berani untuk membuka pintu kamar setelah sekian lama mengurung diri usai kejadian yang merenggut nyawa Tora. Javier diam dan tetap berdiri di tempatnya. "Javier?" panggilnya lirih.
"Hem, aku di sini. Kau tak berhalusinasi," jawabnya pelan.
Tiba-tiba saja Lysa berlari kecil mendekati mantan suaminya dan memeluknya erat. Javier terkejut. Ia mematung saat Lysa terlihat seperti merindukannya.
Lysa seperti tak menyadari jika masih ada orang lain di ruangan itu yang tak lain adalah orang-orang dalam jajaran direksi perusahaan yang ingin melakukan rapat khusus di apartemen Marlena.
Javier melirik ke kumpulan orang-orang itu, dan para petinggi perusahaan tersebut memahami situasinya. Mereka menyingkir dan menunggu di ruang rapat tak ingin menganggu hubungan pribadi tersebut.
Javier melepaskan pelukan Lysa perlahan dan menatap mantan isterinya lekat. Lysa balas menatap Javier dengan senyuman.
"Apa yang kaurasakan?" tanya Javier dengan wajah datar memegangi kedua lengan Lysa erat.
"Entahlah. Agak sedikit membingungkan, tapi ... aku merasa beban di pikiran dan hatiku mulai memudar. Kenapa?" tanya Lysa terlihat bingung. Javier mengangguk pelan.
"Apa kauingat tentang Tobias?"
Praktis, wajah Lysa langsung berubah seketika. Senyum ramahnya sirna. Ia mulai tampak serius.
"Ya," jawabnya dengan pandangan tertunduk.
"Apa kauingat tentang Tora?" Lysa kembali mengangguk. "King D dan Fara?" Lysa mengangguk lagi. "Apa kau merindukan mereka?" Lysa menaikkan pandangan.
"Aku belum siap bertemu King D dan Fara," jawabnya lirih.
Javier mengangguk pelan masih menatap ekspresi wanita cantik di depannya yang kini sudah mau ber-makeup.
"Lalu apa yang akan kaulakukan sekarang?" tanya Javier serius.
"Kaunyata, Javier. Aku selama ini mendengar suaramu. Hanya saja, aku ragu apakah itu benar kau atau bukan," jawabnya yang sesekali menatap wajah pria Arab di depannya.
"Lalu?"
"Aku menyadari beberapa hal. Aku ingat beberapa kejadian, dan aku ... ingin kembali padamu," ucap Lysa yang membuat pria itu terkejut.
__ADS_1
"Apa kausadar dengan yang kaukatakan?" Lysa mengangguk cepat.
"Kau selama ini mencintaiku, Javier. Kau berkorban banyak untukku," jawabnya dengan wajah berbinar. Javier melepaskan kedua tangannya di lengan Lysa.
"Apa kauingat apa yang sudah kulakukan padamu? Hingga kau menceraikanku? Meninggalkanku dan malah menikahi Tobias sedang aku mati-matian berusaha mempertahankan pernikahan kita?" tanya Javier mulai terdengar serius. Lysa mengangguk pelan dengan pandangan tertunduk. "Lantas?"
"Aku ingin kita bersama lagi, demi King D dan Fara. Mereka membutuhkan kita untuk membimbing agar kehidupan anak-anak lebih baik," jawab Lysa dengan senyum terkembang.
"Kenapa kaubaru menyadarinya sekarang? Apakah dendam karena tewasnya Tobias membuatmu tak bisa memikirkan hal itu? Kau yang memperburuk keadaan Lysa. Kau membuatku ... berhenti mencintaimu, seperti yang kauinginkan," tegasnya.
Praktis, Lysa terkejut. "Kau sangat mencintaiku. Tak mungkin kaubisa berhenti mencintaiku. Terlebih, kita sudah memiliki anak," jawab Lysa bersikeras, bahkan tersenyum sinis.
"Kaupikir begitu? Namun kupastikan ya," tegasnya.
Javier lalu berpaling begitu saja. Lysa bingung dan berlari mengejar, tapi sang Sultan tetap melangkah dengan mantap.
"Kau mengabaikanku?" tanya Lysa terlihat sedih. Javier menghentikan langkah.
"Apakah perusahaan yang kaukelola ini nantinya untuk Fara?" tanya Javier langsung membalik tubuh. Lysa mengangguk. "Segera persiapkan surat warisanmu. Tentukan kapan Fara bisa melanjutkan untuk mengelola perusahaan ini. Lebih baik, kaufokus untuk hal itu. Aku akan menelepon pengacaramu untuk membantu mengurus hal ini. Tunggulah di kamar, aku masih ada pekerjaan. Selama ini aku di sini karena Fara. Hem, nama yang kuberikan pada anakmu dan Tobias atas permintaanku kala itu agar Tobias menyesal sudah membunuh darah dagingku," tegas Javier yang membuat mata Lysa melebar.
Javier pergi meninggalkan ruangan dan bergegas menuju ke ruang meeting di mana para petinggi perusahaan sudah menunggunya.
Lysa terpaku dan tampak shock mendengarnya. Hingga tiba-tiba, bel pintu rumahnya berbunyi.
Lysa mendatangi pintu dan melihat dari lubang kaca jika ada seorang wanita Arab cantik berhijab sedang berdiri dijaga oleh dua pria seperti bodyguard.
Mereka bicara dalam bahasa Arab. Terjemahan.
"Salam," ucapnya ramah dan Lysa mengangguk seraya menelengkupkan kedua tangan di depan dada. "Apakah Sultan Javier ada?" tanyanya sopan. Lysa mengangguk. "Bisa kubertemu dengannya, Nyonya Lysa?"
"Oh, kau mengenalku?" tanya Lysa heran.
"Ya. Anda mantan isteri Sultan Javier. Ibu dari Fara dan King D. Benar bukan?" tanyanya ramah dengan senyum manisnya. Lysa mengangguk membenarkan.
"Kausiapa?" tanya Lysa curiga. Wanita itu tersenyum, tapi tampak ragu untuk menjawab.
"Mungkin ini sudah takdir Allah. Perkenalkan, aku Fatimah," jawabnya seraya mengajak berjabat tangan. Lysa menerima ajakan itu meski terlihat ragu. "Aku calon isteri Sultan Javier, dan aku siap merawat dua anakmu nanti."
Praktis, Lysa langsung melepaskan genggamannya. Fatimah terkejut akan respon Lysa. Tiba-tiba saja, Lysa menutup pintu rapat tak mengizinkan calon pendamping Javier masuk.
TOK! TOK! TOK!
"Nyonya Lysa! Nyonya Lysa! Saya tahu jika hal ini mengejutkan Anda. Namun, memang inilah kenyataannya. Anda sudah tak mencintai Sultan lagi. Itu juga sudah dibuktikan oleh orang-orang yang mengenal Anda. Cinta Anda pada mendiang suami Anda, Tobias, bisa kupahami. Hanya saja, saya mencintai Sultan dan menyayangi dua anak Anda. Saya tahu Anda—"
CEKLEK!
"Oh! Ya Allah!" pekik Fatimah terkejut saat pintu yang menghalanginya untuk bertemu Lysa terbuka.
Dua bodyguard Fatimah langsung melindungi majikannya.
__ADS_1
"Pergi. Jangan pernah muncul kembali dalam kehidupan Javier dan dua anakku. Kau tak akan pernah bisa menggantikanku. Pergi, sebelum kisah hidupmu berakhir di sini bersama dua pengawalmu," ucap Lysa bengis dengan pisau dalam genggaman di arahkan ke tubuh Fatimah. Wanita cantik itu tampak terguncang hingga ia tak bisa berkata-kata. "PERGI!" teriak Lysa marah hingga tiga tamu di depannya terperanjat.
Segara, Fatimah dan dua pengawalnya meninggalkan kediaman anak pertama Vesper. Napas Lysa memburu. Ia kembali menutup pintu dengan kasar lalu mencari keberadaan Javier.
Lysa mendatangi seluruh ruangan dengan pisau masih dalam genggaman. Hingga akhirnya, Lysa melihat dari luar dinding kaca, sosok pria yang dicarinya sedang berkumpul dengan beberapa orang yang ia kenal. Lysa bergegas mendatangi ruangan itu dengan langkah gusar.
DOK! DOK! DOK!
"Oh my God!" pekik salah satu peserta rapat terkejut ketika mendapati sosok bos mereka sedang menggedor pintu kaca seraya memegang pisau. Praktis, semua orang langsung ketakutan.
Javier mendatangi pintu kaca, tapi tak membiarkan pintu itu terbuka. Napas Lysa memburu. Ia menatap Javier tajam yang hanya memandanginya dengan wajah datar.
Javier menekan tombol di samping pintu dan memalingkan wajahnya dari Lysa.
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.
"Kami sedang rapat. Apa yang kauinginkan?"
"Kau akan menikahi wanita bernama Fatimah? Dan menggantikan sosokku sebagai Ibu untuk King D dan Fara?" tanya Lysa dengan mata berkaca. Javier terdiam lalu mengembuskan napas panjang.
"Aku tak menggantikanmu. Aku kasihan pada keduanya. Mereka kehilangan sosok Ibu dan aku telah menemukan wanita yang tepat untuk—"
"Tidak bisa! King D dan Fara adalah anakku! Aku adalah Ibunya! Tak ada yang bisa menggantikanku!"
"Kenapa kaubaru peduli sekarang, ha?! Kau mengabaikan mereka selama ini! Yuki saja bersedia mengasuh anak-anakmu! Namun, karena kami menghormati Vesper sebagai ibumu, kami memilih Vesper yang merawat mereka berdua, bukan orang lain! Hanya saja, ibunda ratu sakit keras! Ia tak bisa lagi menjaga cucu-cucunya! Dan kau, melalaikan tugasmu sebagai seorang Ibu! Kau, melupakan ibumu dan kewajibanmu sebagai seorang anak untuk berbakti padanya! Kau bahkan lupa siapa dirimu karena dendam bodohmu!" teriak Javier meluapkan amarahnya hingga kaca serasa bergetar.
Lysa shock mendengarnya. Ia teringat akan semuanya di mana selama ini isi pikirannya hanya dendam untuk mencari pelaku pembunuh Tobias.
"Javier! Kau mau ke mana?!" tanya Lysa panik karena Javier berpaling, termasuk para peserta rapat yang beranjak dari kursi menuju ke pintu rahasia di balik dinding.
"Kau mantan isteriku, Lysa. Kita sudah bercerai. Aku tak akan pernah menggantikanmu sebagai Ibu bagi Fara dan King D. Hanya saja, hak asuhmu sudah kaulepaskan saat kau memutuskan membalas dendam. Kini, King D dan Fara dalam pengawasanku. Aku akan menemui ibunda ratu untuk meminta restu darinya menikahi Fatimah. Aku tak butuh restumu seperti saat kau menikahi Tobias. Perbaiki dirimu, dan ... tata ulang hidupmu. Selamat tinggal. Salam," ucap Javier lalu melangkah pergi.
"Javier! Javier!" teriak Lysa hingga wajahnya merah padam dan seluruh ototnya menegang. Lysa menggebrak kaca berulang kali hingga dinding tembus pandang itu bergetar. Sayangnya, Sultan yang sudah dirundung kekecewaan, terus melangkah meninggalkannya dan menghilang di balik pintu yang kini menjadi dinding kembali. "Arrrghhh!! Javier!"
Napas Lysa terengah. Ia semakin kuat menggenggam pisaunya. Ia tahu jika tak bisa membuka pintu karena kaca tersebut anti peluru dan cukup tebal untuk dihancurkan. Mata wanita cantik itu berlinang dengan pandangan tak menentu memikirkan suatu hal.
"Oh! Vesper! Javier menemui Vesper!"
Lysa berlari meninggalkan ruang kaca menuju ke kamarnya. Ia meletakkan pisau yang sedari tadi dalam genggamannya ke atas kasur.
Lysa memasukkan semua barang-barang yang dibutuhkannya ke dalam koper khusus termasuk beberapa persenjataan.
"Tak akan kubiarkan kau merestui pernikahan Javier, Mom. Tak akan," ucapnya bengis dan sudah memantapkan misinya.
***
uhuy tengkiyuw tipsnya😍lele padamu❤ditunggu tips yg lain ya😆
__ADS_1