
Italia, Perusahaan Farmasi Elios.
Terlihat Naomi dan Jordan disambut baik oleh para pekerja di Perusahaan itu. Laboratorium yang dijadikan satu dalam gedung, membuat semua pekerjaan terpantau dengan cermat oleh Naomi dan Jordan yang bekerja dalam satu ruangan tempat Elios dulu berada.
Yu Jie, ditunjuk sebagai pengawas Laboratorium oleh Vesper. Meski keterlibatannya masih disembunyikan dari Lysa karena Yu Jie merasa malu jika harus bertemu kawan lamanya. Vesper pun tak mempermasalahkan.
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia campuran.
"Jordan, urusan kita dengan polisi sudah selesai. Perusahaan sudah bisa kembali beroperasi minggu depan awal tahun. Semua tempat yang mengalami kerusakan telah direnovasi. Semoga, ini menjadi pertanda baik saat kita yang bertanggungjawab untuk mengurusnya," ucap Naomi di depan kekasihnya.
"Hem, aku setuju. Kau sendiri, bagaimana Yu Jie?" tanya Jordan meliriknya dengan wajah datar.
"Well. Aku sebenarnya sangat senang karena Tuan Jeremy ikut andil dalam penempatanku di sini. Ia memujiku. Ia bahkan mengatakan ingin tahu lebih banyak tentang kemampuanku. Oh, jujur, aku sudah tak sabar. Selama ini aku mengagumi karya-karyanya," jawabnya antusias.
"Aku tak menanyakan hal itu. Jawabanmu melenceng dari topik," tegas Jordan dan senyum Yu Jie sirna seketika. Naomi menahan senyum.
"Baiklah, intinya Yu Jie ditugaskan sebagai pengawas semua hasil produksi obat-obatan dari Perusahaan Farmasi Elios. Semua obat akan diuji coba dan Yu Jie yang bertanggungjawab untuk memastikan kelayakan dan kelulusan dari obat-obatan itu nantinya. Kau mengerti, Yu Jie?" tegas Naomi dan Yu Jie mengangguk paham dari sofa tempatnya duduk.
"Aku sebenarnya tak begitu menyukai kerja dalam ruangan, aku pekerja lapangan. Bisakah kita bertukar tempat, Jordan? Sepertinya nyonya Vesper salah menempatkan posisi kita," ucap Naomi cemberut. Jordan tersenyum tipis.
"Aku Sekretarismu, Nona Naomi. Aku bahkan tak kembali ke Camp karena memutuskan untuk membantumu. Tenang saja, Mix and Match juga akan berada di sini untuk menolong kita," jawab Jordan santai, tapi membuat Naomi gugup seketika.
"Dua algojo Ibumu itu? Mm, boleh kutahu? Apa pekerjaan mereka di sini nanti?" tanya Naomi cemas membayangkan dua bodyguard Jordan tersebut.
"Pusat kendali. Mereka sangat hebat dalam memastikan keadaan tetap aman terkendali. Kau tak usah memikirkan penyusup, penyelundup atau orang-orang yang berniat meledakkan tempat ini. Mereka bertanggungjawab untuk memastikan semua kinerja di Perusahaan berjalan semestinya," jawabnya tenang.
"Oke," jawab Naomi menghembuskan nafas panjang.
"Jadi, Nona Direktur. Apakah ... aku sudah boleh pergi untuk kembali ke Lab? Aku ingin memastikan para pekerjaku bekerja sesuai jadwal sebelum waktunya pengiriman," tanya Yu Jie dan Naomi mengangguk mempersilakan.
Yu Jie pamit mohon diri dan menutup pintu. Naomi terlihat tertekan dengan pekerjaan barunya di mana ia menjabat sebagai Direktur Perusahaan Farmasi Elios.
"Oke, Nona Naomi. Jadwal selanjutnya adalah meeting dengan para manager karena banyak dari karyawan yang sebentar lagi pensiun dan sisanya tewas saat serangan yang terjadi beberapa waktu lalu. Tepat pukul 2 usai makan siang," ucap Jordan dari tablet yang ia genggam.
Naomi menghembuskan nafas panjang terlihat pusing. Jordan melirik Naomi yang memijat kepalanya seperti tertekan akan pekerjaan barunya ini.
"Kau kenapa? Bukankah kau sudah terbiasa dengan ritme pekerjaan seperti ini?" tanya Jordan heran dari tempatnya duduk di sofa.
"Entahlah, Jordan. Yang membuatku mengganjal karena ... ini perusahaan yang seharusnya milik Afro. Seharusnya, Afro yang duduk di sini. Namun, kenapa dia bisa memberikannya pada Sandara? Selain itu, Sandara masih belum cukup umur untuk mengelolanya. Aku khawatir akan terjadi salah paham atas jabatanku ini meski aku memang bukan Presiden Direkturnya," jawab Naomi sembari memegangi name plate di depan meja yang bertuliskan "President".
Jordan mendekati Naomi yang terlihat murung memikirkan posisinya sampai tak menyadari kehadirannya.
CUP!
Naomi tertegun dan matanya langsung terkunci pada wajah Jordan seorang yang mencium keningnya dengan senyum tipis.
__ADS_1
"Ada aku di sini untuk memastikan kau tetap menjalankan amanat dengan baik. Aku akan melindungi dan mendukung keputusanmu, Naomi. Jangan takut dan jangan merasa bersalah. Aku tahu kau orang yang baik dan tak mencari keuntungan atas suatu pekerjaan yang sedang kau lakukan. Oleh karena itu, nyonya Vesper dan Kai mempercayakan padamu untuk mengelola perusahaan ini," ucap Jordan lembut dan Naomi tersenyum manis mendengarnya.
"Kau tahu, Jordan. Aku tak pernah menganggapmu seperti seorang remaja berusia 14 tahun. Meskipun kau membohongi semua orang di Perusahaan ini dengan mengaku berumur 25 tahun. Bagiku, kau seorang pria yang sudah berumur 30 tahun," ucapnya tersenyum, tapi membuat wajah Jordan serius seketika.
"Kau mengatakan aku tua?"
Naomi terkejut akan penuturan Jordan yang tak ia sangka. "Bukan begitu. Ma-maksudku ... aku suka cara berpikirmu yang dewasa, Jordan. Aku sangat tertolong dengan kau berada di sini," ucap Naomi menjelaskan sembari menyentuh punggung tangan Jordan meski terlihat gugup.
Jordan menatap wajah Naomi dalam, tapi hal itu malah membuat Naomi tertunduk malu. Ia melepaskan pegangan tangannya dengan wajah merona. Jordan tersenyum tipis.
TOK! TOK! TOK!
CEKLEK!
"Maaf, Bos. Ada tamu yang sangat sulit untuk kami tolak kedatangannya," ucap Oz, anggota Silhouette yang kini ditugaskan Amanda di bagian HRD.
"Siapa?" tanya Naomi heran.
"Jordan!" panggil Sandara langsung masuk begitu saja dan memeluk kekasih Naomi tersebut.
Jordan terkejut karena Sandara langsung menangis tersedu, terlebih Naomi yang terlihat canggung akan sikap Sandara kepada kekasihnya. Jordan diam tak membalas pelukan anak Kai tersebut.
"Kenapa kau kemari? Apa Management memberikanmu libur?" tanya Jordan masih berdiri tegap dengan wajah datar.
"Ada hal penting yang harus kubicarakan, tapi ... jangan di sini. Ini tentang Pengadilan 13 Demon Heads," jawabnya masih memeluk Jordan meski wajahnya kini telah terlihat.
"Jordan, kita bicara di tempat lain saja. Bagaimana jika makan siang di luar? Aku lapar dan belum sempat sarapan saat perjalanan," ajaknya merengek.
"Kenapa kau menjadi cengeng, manja dan cerewet seperti ini? Apa Seoul mengubahmu? Dan apa yang terjadi dengan wajahmu? Kau ingin bermain Opera? Jika ya, pergilah ke San Carlo Theatre," tanyanya berkesan menyindir.
Sandara melepaskan pelukannya dan menatap Jordan tajam. Naomi masih duduk diam memilih tak ikut campur.
"Kau ingin mengajakku ke Opera?" tanya Sandara tersenyum sembari menarik selembar tisu di samping meja kerja Naomi dan melirik name plate bertuliskan "President" di depannya.
"Maaf. Ada banyak kegiatan yang harus kami lakukan. Kau juga sebaiknya segera kembali ke Seoul. Kau artis dan sibuk. Ingat reputasimu," jawab Jordan tegas.
Senyum dan sikap manja Sandara sirna. Ia melipat tisu dalam genggamannya dan menyelipkan di dalam rongga name plete milik Naomi.
Gadis Jepang itu berkerut kening dan melirik Sandara menunjukkan wajahnya yang tersinggung atas perilaku tamunya.
"Bagaimana dengan makan malam?" tanya Sandara dengan senyum manis menatap Jordan.
"Maaf. Malam tahun baru sudah kujadwalkan dengan Naomi."
Sandara mengangguk pelan dengan pandangan tak menentu.
__ADS_1
"Namun, aku bisa menyempatkan waktu selama lima belas menit untuk bicara denganmu mengenai Pengadilan. Kita ke ruang meeting. Sebaiknya kau langsung ke intinya karena setelah itu, jadwalku adalah menemani Naomi makan siang," ucap Jordan seraya melangkah menuju ruang meeting yang bersebelahan dengan ruang Naomi yang memiliki dinding kaca.
Sandara mengangguk dan meninggalkan Naomi tanpa berpamitan dengannya. Naomi menghembuskan nafas panjang. Kekhawatirannya muncul akan Sandara yang pasti tersinggung akan jabatannya dalam Perusahaan.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Jordan duduk di salah satu kursi, memunggungi Naomi di mana sosoknya terlihat dari dinding kaca tersebut meski pembicaraan mereka tak terdengar dari luar.
"Afro. Aku menemukannya," jawab Sandara merapatkan dudukkan sembari meraih tangan Jordan lalu menggenggamnya erat.
"Afro? Sungguh? Di mana?"
"Terakhir kami melihatnya di Pagny Sur Meuse, Perancis," jawabnya mantap.
Sosoknya terlihat jelas oleh Naomi dari balik dinding kaca karena Sandara menghadapkan tubuhnya tepat ke arahnya. Naomi memalingkan wajah.
"Kami? Ada siapa selain kau?"
Sandara terkejut. Ia baru menyadari jika salah berucap. Jordan menatapnya tajam dalam diam.
"Aku, kak Juna, Tessa. Kami berencana untuk menangkap kak Afro untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tapi ... ia malah meledakkan rumahnya dan hampir menewaskan kami," jawab Sandara terlihat takut dan kembali mendekap Jordan.
Anak dari Boleslav tersebut berkerut kening. Ia diam saja saat Sandara memeluknya. Sandara melihat di atas bahu Jordan ketika Naomi menutup laptop dan terlihat seperti akan pergi dari kursinya. Sandara tersenyum tipis.
"Kita harus menangkapnya, Jordan. Kita bergabung, Silhouette dan Red Ribbon," ucap Sandara melepaskan pelukan saat melihat Naomi sudah beranjak dari dudukan dan siap pergi.
Jordan diam menatap wajah Sandara lekat. Ia lalu melihat jam tangannya dan langsung berdiri.
Sandara terkejut saat Jordan membalik tubuhnya dan melihat Naomi sudah melangkah meninggalkan meja kerjanya.
"Maaf, kau datang di saat jam kerja. Waktu bicara kita sudah habis. Akan kupikirkan tawaranmu. Jangan lupa makan siang, sampai jumpa," ucap Jordan tegas dan bergegas menuju pintu lalu membukanya.
Ternyata, Naomi menunggu Jordan di dekat pintu ruang kerjanya sembari menenteng tas dalam genggaman.
Jordan menghampiri dan membuka pintu untuk kekasihnya. Naomi membungkuk mohon pamit pada Sandara, tapi gadis cantik itu diam saja tak membalas salam hormatnya.
Jordan dan Naomi pergi meninggalkan Sandara di ruang kerja. Sandara keluar dari ruang meeting mendekati meja yang di duduki oleh Naomi.
Sandara duduk di sana sembari melihat segala jenis barang yang diletakkan di atas meja itu dengan wajah datar.
"Kau merebutnya, kak Naomi. Hem, artis? Baiklah, kubiarkan kau mengelola tempat ini sampai ke titik yang kuinginkan, setelah itu, ambilah cuti untuk selama-lamanya tanpa Jordan di sisimu," ucapnya sembari melirik sebuah bingkai foto di mana terdapat foto Naomi bersama Jordan saat datang ke pesta pernikahan Lysa-Tobias beberapa waktu lalu di Melun.
Sandara meninggalkan ruang kerja Naomi-Jordan dan menginap di kediaman Amanda untuk sementara waktu sembari menunggu penelusuran anggota Red Ribbon yang ia tugaskan untuk melihat aktivitas Perusahaan milik mendiang Elios tersebut.
***
maap telat upnya. aduh kerjaan banyak dan deadline semua😵 ampe pedes mataku. trims tipsnya. lele padamu💋💋💋
__ADS_1