
Mobil Jonathan mengejar dua mobil dari kubu Miles yang berhasil menculik anak buahnya. Clack dengan sigap menekan penuh gas mobil sebelum mereka tiba di Canal.
"Nathan! Sekarang!" pekik Clack di mana jarak mobil tersebut sudah memasuki cakupan peledak dari Galundeng.
Saat Jonathan sudah menjulurkan lidah dengan mata melotot siap untuk menekan tombol merah dari papan pengendali, tiba-tiba ....
"STOP! Jangan dulu! Sisakan satu yang berhasil!" seru Sierra yang membuat Jonathan mematung.
"Kok dibiarin? Nanti ...."
"Kita ledakkan saat mereka sudah menaiki perahu. Namun, kau harus pastikan jarakmu untuk mengaktifkan peledak," sahut Sierra dari sambungan telepon.
"Oke, Yang!" jawab Jonathan mantap.
Clack menatap Jonathan yang lagi-lagi menjulurkan lidah entah apa maksudnya. Seketika, KLIK! BLUARR! BALANG! BALANG!
"Waduh! Jadi peyek dah tuh, apa dendeng manusia? Mobilnya gulung-gulung kaya ayam ditepungin. Tinggal goreng di sungai deh. Hehe," kekehnya yang menganggap mobil ringsek di depannya patut untuk ditertawakan.
CITT!
Clack segera turun. Jonathan dengan sigap pindah ke bangku kemudi menggantikan Clack. Ia melihat dari kamera Galundeng jika mobil pertama berhasil tiba ke sebuah dermaga kecil. Sebuah kapal telah siap untuk mengangkut orang-orangnya dengan tergesa.
"Tahan ... tahan ...," pinta Sierra saat ia memperbesar tampilan untuk melihat lebih dekat kapal dan orang-orang dari kubu Miles.
Sierra dengan sigap mencari tahu tentang nama perusahaan kapal yang disewa tersebut. Ternyata, armada itu mampu membawa sampai ke perbatasan negara.
"Nathan, now!" pekiknya lantang.
"Oke!"
BROOM!
"Jonathan!" panggil Clack berteriak karena Jonathan malah meninggalkannya termasuk anak buah yang berhasil diselamatkan.
CITT!
"Wah iya lupa! Buruan!" serunya langsung menekan penuh rem mobil.
Clack mendesis kesal. Ia hampir saja ditinggal di tempat antah berantah. Clack bersama 5 orang yang berhasil diselamatkan, berlari menuju ke mobil.
"Cepet! Cepet!" pinta Jonathan tak sabaran dan malah duduk bergoyang-goyang seperti menahan pipis.
"Jonathan! Kapal sudah berlayar meninggalkan tepian. Cepat kejar mereka!" seru Sierra.
BROOM!
"Kalian sih, lama. Jadi kabur 'kan," gerutu Jonathan menyalahkan anak buahnya.
Lima anggota The Circle miliknya yang terluka, memilih mengabaikan Bos mereka.
Namun, Jonathan sudah menyiapkan alat medis di bawah dudukkan tengah yang bisa dibuka termasuk persenjataan cadangan.
Segera, lima orang itu bersiap seraya mengobati luka meski harus menahan rasa perih obat.
"Itu mobilnya!" seru Clack menunjuk mobil yang diparkir di tepian kanal.
"Kita kejar kapalnya, bukan mobilnya!" jawab Jonathan langsung memutar kemudi ke kanan mengejar kapal.
Jonathan yang bermanuver, membuat lima orang yang terluka itu saling bertubrukan karena sedang mengobati luka. Clack memilih diam dan tetap fokus dengan sasaran mereka.
"Itu kapalnya!" seru Jonathan mantap yang mengejar di tepian.
Dengan sigap, Clack membuka dashboard mobil. Banyak papan tombol tersedia di sana. Clack menekan sebuah gambar dengan peluncur misil.
__ADS_1
KLIK! PIP!
Seketika, atap bagian dudukkan tengah terbuka. Dari celah antara dua dudukan, muncul sebuah peluncur misil yang terkamufase dengan karpet.
Lima anggota tim Jonathan tersenyum saat mereka tahu apa yang akan dilakukan oleh mobil tempur tersebut.
"Jangan sampai meleset, Clack!" pinta Jonathan yang melihat jika ada sebuah jembatan di depan.
"Oke!" jawabnya mantap seraya mengenakan sebuah kacamata khusus yang terhubung dengan bidikan teropong tersebut.
Papan pengendali yang dilengkapi joystick, digerakkan oleh Clack menggunakan ibu jarinya.
"Buruan!" pekik Jonathan gemas karena kapal mulai mendekati jembatan.
KLIK! SWOSH! BLUARR!
KRAKK! BLUSH!
"Eh? Kenapa jembatannya yang dihancurin? Ya ampun!" pekik Jonathan kaget.
"Jika aku mengarahkan ke kapal, sama saja misi kita gagal karena anak buahmu mati terpanggang!" jawab Clack menjelaskan.
Lima anggota tim The Circle Jonathan mengangguk setuju. Sedang pemuda itu, diam sejenak berpikir.
"Ah, kau benar. Ayo cepat, keburu polisi sama warga ngumpul ke TKP!" serunya cepat lalu menghentikan mobilnya di tepian sungai.
Kapal yang ditumpangi oleh anak buah Jonathan berhenti seketika karena jalanan mereka terblokir.
Namun, terlihat aksi saling serang di dalam kapal. Jonathan tersenyum, saat ia tahu jika rencananya berhasil. Tiba-tiba ....
BLUARR!
Praktis, mata Jonathan dan lainnya terbelalak. Mereka terkejut karena kapal tersebut tiba-tiba meledak.
"Oh! Orang-orang kita selamat! Mereka berhasil meninggalkan kapal sebelum benda itu meledak!" seru Clack senang.
"Wohooo!" teriak suka cita dari kubu Jonathan di tepian sungai.
"Hanya saja ... agh, sial! Jaraknya sangat jauh menuju ke sana," ucap Clack masih meneropong.
"Bos!" seru salah satu anak buah Jonathan seraya menenteng tombak JERA yang diambil dari dalam mobil.
"Hahaha! Kamu pinter! Oke, luncurkan!" seru Jonathan gembira.
Segera, pria itu berlutut untuk memasang penahan besi peluncur tombak JERA. Clack tetap meneropong dan memberikan arahan ke mana ujung tombak itu harus terkait.
"Luncurkan!" titah Clack.
KLIK! SHOOT! JLEB!
"Hem. Nice shoot," puji Clack dan pria itu tersenyum.
"Hei! Pakai tali itu untuk membawa kalian kemari. Cepat!" teriak Jonathan di kejauhan. Anak buah Jonathan yang tercebur di sungai mengangguk paham.
Orang-orang itu segera menggapai tali tersebut. Clack dan lainnya mempersiapkan penyelamatan. Namun, Jonathan melihat jika warga sipil mulai berdatangan.
"Cepat! Cepat!" pintanya panik.
Saat orang-orangnya hampir tiba di tepian, lagi-lagi ....
"Wow!" seru Jonathan ketika sebuah helikopter muncul ke arah sungai. Terpaan angin kencangnya membuat pemuda itu langsung menyipitkan mata.
DODODODOOR!
__ADS_1
"Arghhh!"
BYUR! BYUR!
"Berlindung!" seru Jonathan lantang saat pintu helikopter terbuka, dan muncul seorang pria memakai topeng menembaki anak buahnya yang bersusah payah menuju ke tepian sungai menggunakan tali tombak JERA.
Jonathan kembali masuk ke mobil karena kini mereka menjadi sasaran tembak. Clack dan anak buah Jonathan tetap melakukan perlawanan dari balik badan mobil anti peluru yang melindungi mereka.
"Dasar topeng monyet kurang ajar. Yakin Nathan kalau itu manusia buruk rupa. Pakai topeng terus, ngeselin!" serunya sebal seraya mengamati seluruh papan tombol dari mobil tempurnya. "Nah, ini dia. Rasain!" ucapnya kesal.
KLIK! NGEKK ....
"Wow! Minggir! Minggir!" titah Clack saat jendela di bagasi belakang terbuka dan muncul senapan unik yang bisa ditekuk seperti sudut segitiga siku ke arah helikopter.
Jonathan menggunakan kacamata milik Clack yang tadi dia gunakan lalu diletakkan ke bangku sebelum melakukan aksinya.
Jonathan membidik helikopter yang terus menembakinya dan mulai membuat mobil tersebut rusak.
"Jonathan!" teriak Clack masih berlindung di balik mobil karena tak ada tempat lain sebagai perlindungan dari hujan tembakan.
"Sabar ish," gerutunya. "Nah, babay," ucapnya meledek.
KLIK! SHOOT!
DUK! DUK! DUK!
PIPIPIPIPI! BLUARRR!
"Wow!" seru semua orang langsung merunduk karena ledakan hebat di atas langit. Jonathan tersenyum saat mini DOMINO melakukan tugasnya dengan baik.
Para warga sipil yang berada di sekitar tempat tersebut ikut terkejut karena aksi menegangkan malam itu.
Benar saja, sirine polisi terdengar mendekati sungai disertai lampu-lampu ciri khas dari kendaraan polisi dan ambulance.
"Cepat! Cepat!" pinta Jonathan siap untuk mengemudi dan memasukkan semua persenjataannya ke posisi semula.
Meskipun mobilnya sangat mencolok karena kaca retak dan tubuh mobil berlubang akibat lontaran peluru dari kubu musuh.
"Bos! Kami menemukan ini!" panggil dua anggota The Circle miliknya yang menemukan dua buah koper hitam dekat mayat kawan-kawan mereka.
"Oke! Amankan!" pinta Jonathan dengan mata membulat melihat dua koper yang membuatnya penasaran itu.
Segera, tim Jonathan pergi meninggalkan lokasi dengan tombak JERA ikut diamankan. Jonathan menyalakan pemancar fatamorgana portabel agar sosok dari mobilnya tak terlihat jelas meskipun masih tertangkap mata telanjang jika berada di dekatnya.
Di tempat Sierra berada. Black Castle. Inggris.
"Agh, sungguh. Aksinya menarik perhatian. Kini, seluruh mafia di dunia termasuk Miles, mengetahui kejadian menghebohkan ini," keluh Sierra.
"Hei," panggil Venelope mendekati kekasih Jonathan.
"Kita harus ke Ceko. Sepertinya, karena kau dan Jonathan fokus dengan aksi Miles di Perancis, sehingga kalian tak sadar jika anak buah di Ceko diambil olehnya," ucap Venelope yang membuat mata Sierra melebar.
"Sungguh?! Agh, sial! Miles kurang ajar!" pekik Sierra kesal menyadari keteledorannya.
"Black Castle dijaga oleh beberapa tim gabungan. Meskipun Jonathan tak mengetahui ini, tapi ... aku sudah meminta secara khusus kepada Silhoutte untuk menjaga atas nama mendiang William Chales sebagai pemilik kastil. Beruntung, mereka memahami kondisi kita meski aku sangat yakin, orang-orang itu masih membenci kita," imbuh Venelope.
"Hem. Aku mengerti. Oke, bersiap, kita pergi," jawab Sierra mantap. Venelope mengangguk cepat.
***
Uhuy, tengkiyuw tipsnya😍Lele padamu dan happy weekend🎉
__ADS_1