4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Demi Dirimu, Aku Rela Berubah


__ADS_3

Sudah 3 hari King D tinggal di kediaman Marlena, Jerman. Namun, usaha Tobias untuk kembali dekat dengan anak tirinya gagal.


King D seperti membuat benteng penghalang dengan pria bertato itu agar tak terpengaruh olehnya. Hal itu, membuat semua orang yang melihat usaha Tobias iba.


Tak pernah selama hidupnya, para Pion dan Lysa, mendapati Tobias menunjukkan sikap lain agar King D bisa menerimanya lagi.


Malam itu, Tobias menyelinap ke kamar King D hanya untuk tidur di sisinya, tapi tak berani menyentuhnya.


Tobias memandangi sang anak yang memiliki kenangan indah bersamanya, tapi hal itu, membuat dirinya merasa sedih karena King D telah melupakannya.


Saat Tobias memberanikan diri untuk mengelus kepala King D, ia melihat sebuah lipatan buku di balik bantal sang anak. Pria itu curiga, dan perlahan menarik kertas berwarna itu hingga mendapati seluruh lembarannya.


Tobias beranjak dari ranjang dan duduk di lantai, samping tempat tidur dengan menyenderkan punggung.


Meski tulisan dalam buku dongeng itu menggunakan bahasa Arab dan pria bertato itu tak paham isi kalimatnya, tapi Tobias seakan mengerti pesan yang terkandung dalam tiap lembar kertas itu.


Napas Tobias memburu, matanya terbelalak lebar. Bola matanya bergerak mengamati setiap gambar yang terlukis, mengisahkan sebuah kejadian.


Ingin rasanya pria itu merobek buku tersebut, tapi entah apa yang terjadi, hati kecil pria itu seperti membuatnya menahan diri untuk tak melakukannya.


Tobias meletakkan buku itu di samping kakinya. Ia melipat kedua tangannya di atas dua lutut yang saling melekat. Pria itu menenggelamkan wajahnya agar tak ada yang tahu jika jiwanya sedang berperang di dalam sana.


"Javier keparatt, ternyata ini semua ulahmu. King D membenciku karena ...," Tobias terdiam dalam amarahnya. Perlahan, ia menaikkan pandangan seperti menyadari sesuatu. "Karena ... perbuatan kejiku dulu?"


Seketika, pandangan keturunan Flame tersebut seakan kabur. Tobias teringat akan semua perbuatannya di masa lalu di mana semua yang dilukiskan itu benar adanya.


Pria itu segera berdiri seraya membawa buku King D keluar dari kamar dengan tergesa. Tobias melangkah cepat menuju ke ruang kerja Lysa dan duduk di kursi itu.


Tobias termenung untuk beberapa saat dengan mata terkunci pada buku dongeng di hadapannya. Dengan sigap, Tobias mengambil kertas HVS yang tersimpan di laci meja dan melipatnya menjadi dua bagian.


Ia mengisolasi kertas kosong itu di tengah halaman buku dongeng sehingga sisi kiri dan kanannya tertutup. Hal itu Tobias lakukan hingga di buku lembar terakhir.


Pria berwajah bengis itu lalu mengambil sebuah pulpen lalu menggambar di tiap lembaran kosong tersebut seperti membuat sebuah kisah meski tulisan dan gambar yang ia buat tak seindah dalam buku tersebut.


Tobias melakukan dengan sungguh-sungguh hingga berjam-jam lamanya sampai di halaman terakhir.


Tobias membuka ponselnya dan mencetak sebuah gambar dengan mesin printer di mana itu adalah satu-satunya foto yang ia miliki bersama King D saat mereka tinggal di Kediaman Darwin, Paris.


Tobias menempelkan foto itu di halaman terakhir. Terlihat jelas, kesedihan di wajah pria itu saat mengelus lembut foto dirinya ketika bersama King D kecil saat bermain bersama Pony.


"Kau boleh melupakan semua kenangan masa kecilmu bersamaku, D. Namun, namamu adalah pemberian dariku. Aku juga memiliki doa dalam nama besarmu itu. King yang berarti raja. D bermakna, kau adalah penguasa dari semua D keturunan Flame meski namaku diawali huruf T. Aku berharap, kau akan menjadi penguasa tunggal seperti seorang raja di mana para D selalu menyertaimu dengan dukunganku." Tulis Tobias di bawah foto tersebut.


Tobias menutup buku tersebut dan segera kembali ke kamar anak lelakinya dengan mengendap agar tak membangunkannya.


Tobias menyelipkan buku tersebut ke balik bantal King D dengan hati-hati agar anaknya tak terbangun.


Tobias mengamati jadwal King D selama tinggal bersamanya di mana anak itu selalu bangun pukul 5.30 pagi untuk melakukan sholat subuh.


Tobias segera keluar dari kamar sebelum anaknya bangun. Setelah membuat kisah dongeng tentang dirinya di buku milik King D, akhirnya pria itu bisa tidur dengan lelap di samping bayi Fara yang dipeluk ibunya.


Lysa terbangun ketika merasakan punggung tangannya disentuh. Wanita cantik itu tersenyum saat mendapati sang suami yang melakukannya meski matanya telah terpejam. Lysa kembali melanjutkan tidur dengan senyuman.


Pagi itu, Tobias mulai membuka matanya perlahan saat ia merasakan tubuhnya seperti diraba oleh dua tangan mungil.


Tobias tersenyum tipis ketika mendapati bayi Fara telah bangun lebih dulu darinya dan terlihat asyik menelusuri gambar tato di dadanya karena pria itu bertelanjang dada saat tidur.


"Selamat pagi, Gendut," sapa Tobias malas, sembari bangun perlahan lalu menciumi anaknya dengan rakus hingga Fara tertawa cekikikan karena geli.


Tobias merobohkan bayi lucu itu dan memakan perut buncitnya dengan gemas. Suara tawa sang anak membuat Lysa ikut tertawa meski tak bersuara ketika keluar dari kamar mandi.


"Selamat pagi," sapa Lysa seraya mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.


Tobias mengentikan aksinya dan menatap sang isteri yang terlihat cantik tanpa make up sedang duduk di meja rias untuk meng-hair dryer rambut panjangnya.


Tobias bangun dengan Fara dalam gendongan dan membawanya ke kamar mandi untuk mandi bersama.


Kembali, suara tawa kegembiraan terdengar seru di kamar mandi. Lysa bersiap untuk ke kantor hari itu karena ada meeting dengan para Pion serta jajaran Direksi di perusahaannya.


Lysa segera ke ruang makan. Terlihat, King D sudah duduk di sana, tapi belum memulai sarapan karena menunggu kedatangan Ibunya.


"Selamat pagi, D," sapa Lysa dengan senyum terkembang.


"Salam, Mimi," jawab D sopan.


Lysa lalu menyiapkan sarapan untuk buah hatinya yang telah terhidang di atas meja makan. Namun, D belum menyuapi mulutnya karena masih menunggu Tobias dan Fara yang belum datang.


Lysa tersenyum tipis karena King D tetap bersikap sopan meski ia tak menyukai Tobias. Tak lama, Tobias dan Fara datang terlihat sudah rapi dengan pakaian senada yakni merah menyala.


"Wow! Sepertinya, ada yang sangat bersemangat hari ini," ungkap Lysa yang dibalas dengan ciuman ganas di bibir hingga lipstik wanita cantik itu sedikit terhapus.


Kening D berkerut terlihat tak menyukai sikap ayah tirinya tersebut, tapi ia juga seperti heran karena ibunya tak marah meski awalnya berteriak dan sempat memukul lengan pria bertato itu.


"Salam, D," ucap Tobias sopan yang membuat kaget para Pion yang mulai berdatangan untuk sarapan bersama.


Meja besar itu akhirnya penuh orang dan sarapan pun dimulai setelah King D dan Lysa membaca doa meski hanya memejamkan mata, tapi terlihat khusyu.

__ADS_1


Tobias yang sudah menyuapi mulutnya, melirik King D yang terlihat tenang saat makan bahkan tak bicara.


Tobias yang biasanya mengajak semua orang bicara ketika acara makan berlangsung dengan menanyakan apapun, hari itu seperti menahan diri untuk tak berucap. Ternyata, hal itu disadari orang-orang yang mengenalnya.


"Kau baik-baik saja, Toby?" tanya Dakota dan pria bertato itu mengangguk dengan cuek seraya menyuapi Fara dengan buah pisang yang ia genggam sendiri.


Setelah beberapa menit berlalu, satu persatu orang-orang yang duduk di ruang makan itu berdiri meninggalkan tempat untuk segera bersiap ke kantor.


"Mimi ada urusan di kantor. Mimi akan usahakan pulang sebelum makan malam. Maaf, hari ini Mimi harus pergi meninggalkanmu karena ini penting demi kelangsungan perusahaan dan orang-orang yang bernaung di bawah jajaran Mimi. Kau mengerti 'kan?" tanya Lysa penuh perhatian seraya mengelus kepala anaknya lembut.


"Hem. D mengerti. Hati-hati, Mimi," jawabnya dengan anggukan.


Senyum Lysa terkembang. Ia mencium kening puteranya lembut penuh kasih lalu mencium bibir Tobias sebelum pergi.


Lysa menyempatkan menggendong Fara seraya mencium pipinya yang menggemaskan dengan hidungnya, meski setelah itu ia lap dengan tisu yang sudah direndam air hangat karena tak ingin kulit bayinya iritasi akibat make up yang dipakainya.


"Sampai jumpa semua. Assalamualaikum," sapa Lysa dan King D menjawab salam tersebut.


King D segera beranjak dari kursi setelah memastikan ibunya menutup pintu menuju lift utama. Fara masih asyik menikmati pisangnya yang telah kehilangan kulitnya.


Ternyata, Tobias tak ingin sisa harinya bersama anak lelakinya terbuang sia-sia tanpa kenangan yang tersimpan dalam dirinya.


"King D!" panggil Tobias saat putra Javier tersebut sudah mendekati pintu. King D menghentikan langkah meski tetap memunggungi ayah tirinya.


"Mau sampai kapan kau mengacuhkanku? Aku bukan patung. Kau melihatku dan mendengarku berbicara, tapi kenapa kau tak menganggap keberadaanku? Kau tahu, yang kaulakukan itu membuatku terluka," tegasnya tanpa basa-basi.


Entah angin apa yang menggerakkan anak lelaki itu, King D membalik tubuhnya.


"Ya. D melihatmu. D juga mendengarmu bicara. Namun, D tak tertarik untuk terlibat di dalamnya. Maaf, D harus belajar," jawabnya sopan meski wajahnya datar.


Tobias terlihat tak bisa bersabar lagi kali ini. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan mendatangi King D yang kembali melangkah pergi.


"Agh!" rintihnya saat lengan kecilnya dicengkeram kuat oleh pria bertato yang menatapnya tajam.


"Berani kau menyakitiku, Baba tak segan—"


King D terkejut dan langsung terdiam saat Tobias memeluknya erat. Anak itu terlihat bingung saat ia merasakan getaran aneh di hatinya.


"Apa yang harus kulakukan agar kaumau menganggap keberadaanku?" tanya Tobias masih memeluknya.


"Kau petaka, Tobias. Kau membuat ayah ibuku berpisah. Kau membuat Baba melakukan hal jahat untuk menuruti permintaanmu," tegasnya masih dipeluk pria bertato itu.


"Aku tahu aku jahat. Aku tahu aku licik. Aku tahu jika aku seorang pembunuh dan hal-hal buruk lainnya. Namun, bisakah kau katakan? Kenapa aku tak marah saat kau mengatakan hal buruk padaku, tapi sebuah perasaan sedih yang malah kurasakan?"


King D terdiam. Ia seperti tak memiliki jawaban dari pertanyaan pria bertato itu. Perlahan, Tobias melepaskan pelukannya. Keduanya saling bertatapan dalam diam.


Lagi, King D terdiam. Ia terlihat bingung. Seakan pertanyaan sulit itu tak pernah ia dapatkan dalam ajaran yang diberikan oleh sang ayah atau siapapun yang pernah menjadi gurunya.


Fara terlihat asyik dengan pisangnya yang kini menjadi sebuah mahakarya di meja baby chair-nya. King D masih diam dan tak tahu harus menjawab apa.


"Apa kau akan senang, jika aku melakukan hal-hal yang biasa kaulakukan?"


"D tak pernah melihatmu sholat," jawab King D tegas. Tobias diam sejenak.


"Kauingin aku melakukannya? Baik. Ajari aku. Kurasa, kau guru yang tepat untuk mengajariku. Kau lebih pintar ketimbang ibumu. Hem, kaumau 'kan?" pinta Tobias.


King D diam sejenak seperti berpikir hingga akhirnya, sebuah anggukan muncul meski wajah datar ditunjukkan olehnya.


Mata Tobias berbinar, ia terlihat senang. Pria bertato itu segera bangun dan meminta King D untuk menunggu sebentar karena ia harus membereskan kekacauan yang dibuat oleh Fara.


King D pun menunggu seraya melihat tingkah laku Tobias yang baginya aneh karena pria itu melucuti semua pakaian adik perempuannya lalu menggendongnya keluar dari dapur sembari mengajak dirinya.


"Kita akan sholat, tapi ... aku harus memandikan si gendut ini dulu. Kau siapkan saja apa yang kuperlukan untuk melakukan sholat itu," ucapnya sambil menggendong Fara dengan satu tangannya.


King D mengangguk dan berjalan ke kamarnya mengambil barang-barang yang dibutuhkan. Saat D kembali, ia melihat Tobias dengan telaten memberikan bedak ke tubuh adiknya meski belepotan.


Tobias juga memakaikan baju yang tak senada di tubuh sang adik, tapi D memilih diam. Tobias meletakkan Fara di lantai matras tempat biasanya ia bermain.


King D menggelar sajadah di ruangan itu. Ia memberikan sarung dan peci. Tobias menerima dua benda itu dan memakainya meski terlihat malas.


"Kau tak bersungguh-sungguh," ucap King D melihat Tobias yang memakai sarung dengan asal.


"Aku tak tahu cara memakainya," jawabnya santai dan membiarkan kain itu melorot.


King D terlihat sabar menghadapi ayah tirinya. Ia lalu memakaikan sarung dengan telaten, dan Tobias terlihat senang dengan momen itu.


"Kau sudah berwudhu?"


"Apa itu?"


Kening King D berkerut.


"Kau benar-benar tak tahu apapun tentang syarat sah shalat. Biar kutebak. Kau tak bisa mengaji. Benar 'kan?" tanyanya penuh selidik. Tobias dengan santai menggeleng.


"Aku hanya tahu ucapan saat diminta untuk masuk Islam. Sya ... lalaladad? Ah, intinya ... hanya itu saja," jawabnya yakin.

__ADS_1


King D menatap ayah tirinya saksama yang terlihat seperti masa bodoh.


"D tak tertarik mengajarimu. Kaucari guru lain saja," ucapnya seraya berpaling.


Namun dengan sigap, Tobias kembali menangkap tangannya. King D menatap Tobias tajam.


"Setahuku, ada yang disebut pahala jika kau melakukan kebaikan. Kau, akan mendapatkan banyak pahala karena mengajari penjahat sepertiku. Kaupasti akan mendapatkan surga. Hem, aku jamin itu," ucapnya mantap.


King D kembali terdiam. Entah kenapa, setiap ucapan Tobias terasa sulit baginya untuk ditolak. Tobias menatap King D lekat dan sesekali tersenyum meski terlihat kaku.


"Baik."


"Good. Jadi ... apa tadi katamu. Ber— apa?"


"Berwudhu. Ikuti D," jawabnya seraya mengajak ke kamar mandi.


Tobias mengikuti semua yang King D ajarkan. Meski bibir Tobias sangat kaku dalam mengucapkan kalimat-kalimat tersebut dalam bahasa Arab saat berdoa.


D terlihat tak sabaran, tapi Tobias meyakinkannya jika ia akan menjadi murid yang baik.


Bayi Fara terlihat senang seperti mendapatkan kebebasan dari kelakukan gila sang ayah di mana biasanya ia diajak bermain dengan cara yang aneh. Kali ini, Fara bebas berekspresi tanpa ada gangguan di ruangannya.


Usai berwudhu setelah setengah jam lamanya, dan membuat tubuh pria bertato itu malah basah kuyup karena cara yang salah saat memperaktekkan, Tobias siap melakukan sholat.


Lagi-lagi, King D seperti patah harapan. Tobias terlihat seperti orang melakukan senam. Cara bacanya pun salah hingga King D harus mengucapkannya berulang-ulang.


Anak itu seperti ingin merobek dirinya. Baginya, Tobias adalah orang dewasa yang paling sulit untuk diajari.


"D lelah, D lapar," ucapnya lemas.


"Oke. Aku akan memasak," sahut Tobias yang membuat King D langsung menolak karena ia tak yakin dengan hasil masakan Tobias, tapi pria itu memaksanya.


King D mengikuti Tobias ke dapur dengan bayi Fara yang ia dudukkan di baby stroller. King D duduk gelisah saat matanya sibuk mengawasi Fara yang bergerak ke sana kemari menabrak dinding, perkakas dan beberapa benda lainnya.


Perhatian King D kini teralih ke adik perempuannya yang terlihat mengkhawatirkan jika ditinggal sendirian saat Tobias asyik memasak.


Setelah 30 menit berlalu, masakan itupun jadi. King D terlihat ragu saat akan memakannya.


"Ini ... halal 'kan?" tanya King D saat diberikan sebuah sosis.


"Halal? Apa itu? Itu daging babii lezat," jawab Tobias santai.


Praktis mata King D melebar. Ia langsung menggeser piringnya dan meneguk air putih, sedang Tobias sudah asyik memakan sosisnya.


"Benar kata Baba. Kau tak pantas menjadi seorang muslim. Agama yang kausandang hanya sebagai formalitas. Jangan memaksakan diri, Tobias Flame. Islam tak cocok untukmu," ucap King D yang membuat Tobias menghentikan kunyahannya lalu meletakkan garpu tersebut dengan sorot mata tajam ke arah King D.


"Apalagi kesalahan yang kubuat? Makan sosis tak boleh? Ada yang lain?" tanya Tobias mulai marah.


King D menatap ayah tirinya tajam.


"D mau pulang lebih awal. D tak tahan berada di sini lebih lama lagi. Kau memberikan pengaruh buruk padaku. Bagaimana bisa Mimi bertahan hidup denganmu?"


BRAKK!


King D terkejut saat Tobias menggebrak meja hingga benda-benda pecah belah itu mengeluarkan suara miris.


Tobias menatap King D tajam seraya menunjuk dengan napas menderu. Anak lelaki itu terlihat takut, tapi tetap duduk di kursinya.


"Aku bilang ... kauharus bersabar saat mengajariku. Aku baru dalam semua hal konyol ini. Aku bersedia melakukannya jika kau yang jadi guruku. Bukan ibumu, bukan yang lain, tapi kau, hanya kau, D. Karena, aku percaya padamu dan aku menyayangimu," tegasnya penuh penekanan.


King D terdiam. Ia menundukkan wajah dan Tobias terlihat seperti mencoba untuk menenangkan diri dengan meneguk beer dingin yang ia ambil dari lemari es.


"Kau tak boleh meminum itu. Kau akan mabuk dan itu dilarang," ucapnya menunjuk botol beralkohol tersebut. Tobias terdiam di depan lemari es. "Daging sosis ini juga tak boleh kaumakan. Babi, bagi umat Islam haram. Kau bisa makan daging lainnya seperti ayam, sapi, unta, domba dan beberapa hewan lainnya," sambung King D menjelaskan.


"Bagaimana dengan daging manusia?"


Mata King D langsung melotot, tapi Tobias malah terkekeh.


"Baik-baik, akan kuikuti perintahmu, Guru King D. Jadi ... sebaiknya ... apa yang harus kuminum?" tanyanya penasaran seraya menutup pintu almari es dan membuang botol beer-nya ke tempat sampah.


"Susu."


"Ha?"


"Hem. Susu baik untuk pertumbuhan. D suka minum susu," jawabnya polos.


Kening Tobias berkerut. "Maksudnya ... seperti susu ibumu?" D terdiam seperti berpikir. "Hei, Fara! Jatahmu akan Pipi ambil. Kau minum saja susu dari botol dotmu!" seru Tobias lantang.


Fara yang sedang menikmati susu dalam botol dari ASI perahan Lysa, terlihat tak peduli dengan ucapan sang ayah. D terlihat bingung memikirkan ucapan pria bertato itu.


***



Uhuy tengkiyuw tipsnya❤️ Lele gak pangkas sama sekali ya dan rela bablasin 2600 kata plus demi kalian.

__ADS_1


Baiklah, sebentar lagi menuju Desember. Siapkan hati, siapkan mental, jangan lupa ambil napas, dan pastikan makan sebelum baca biar gak gemeteran. Met weekend. Lele padamu😍


__ADS_2