
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
-------- back to Story :
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku Indonesia campuran.
"Weladalah eling Mbak eling. Iki pie, Tora?" ucap Eko panik karena Vesper malah menggila akibat terlalu banyak minum wine.
Sierra dibuat bingung dengan sikap ayah dan calon mertuanya yang malah mabuk bersama di meja bar. Para Pion D yang kuat minum ikut menemani dua orang gila itu.
"Kita harus tetap sadar dan jangan ikut minum, Eko-san. Kita harus tetap waspada," bisik Tora terlihat serius dengan kimono hitam yang ia pakai.
Eko mengangguk mantab.
"Oh, hahaha! Jadi diantara semua pion D, hanya kau yang tak dicuci otak? Wow!" tanya Vesper dengan gelas wine dalam genggaman.
"Yah, menyedihkan bukan? Aku bahkan tak tahu kapan ulang tahunku, Nyonya Vesper," sahut pion Damian sembari meneguk Martini-nya.
"Toby! Kau tahu semua tentang mereka. Kenapa tak kau ceritakan?" tanya Vesper sembari menggoyang gelas wine lalu meneguknya sampai habis.
"Oh, Damian. Uhuk, mm ... dia datang dalam keadaan kritis. Dulu dia pecandu narkoba. Dia ditemukan Smiley di dalam tong sampah dan sudah babak belur. Smiley membawanya lalu merehabilitasinya. Setelah itu, Madam mencuci otaknya dan inilah, Damian si ahli senjata. Hidup Damian!" teriak Tobias sembari mengangkat gelas Vodka tinggi penuh kegembiraan.
"Damian!" teriak semua orang di meja bar.
Sierra, Eko dan Tora terlihat menyimak pembicaraan tersebut dengan serius.
"Lalu kau, bagaimana?" tanya Vesper menunjuk lelaki di depannya.
"Oh, dia Dakota. Kalau tidak salah namanya ... mm, Benjamin Lanzo. Dia ditemukan oleh Smiley di Italia. Dia ini pencuri ulung. Merampok rumah-rumah yang ditinggalkan oleh penghuninya ketika mereka pergi keluar kota atau semacamnya. Saat itu, Dakota mencuri di tempat yang salah. Smiley menyewa sebuah rumah mewah untuk kepentingan bisnis dan Dakota tertangkap olehnya. Lalu ... lagi-lagi Madam yang menuntaskan dengan mencuci otaknya. Oleh karena itu, Dakota menjadi orang andalanku sebagai mata-mata dan penyusup. Hidup Dakota!" teriak Tobias lagi dan semua orang bersorak meneriakkan nama pria itu.
Eko dan Tora saling melirik dalam diam. Eko merekam pembicaraan itu melalui jam tangan khusus buatan Eiji yang tersambung langsung dengan satelit Theresia.
Kai yang berada di Kastil Borka menyimpan seluruh rekaman langsung pada malam itu. Sedang Sierra dibuat tak bisa berkutik karena sikap para orang dewasa di hadapannya.
"Wait, wait, Toby. Emph ... ada yang ingin kutanyakan. Ini soal Sierra," ucap Vesper dengan mata sayu terlihat begitu mabuk.
Jantung Sierra berdebar. Ia penasaran dengan pembicaraan yang menyangkutkan namanya ini. Eko dan Tora berwajah serius seketika.
"Siapa ibu Sierra? Lalu ... di mana dia?" tanya Vesper seperti mencoba untuk tetap sadar.
"She is died. Dia lahir dari anak perempuan Darwin. Hmm, kau lihat bekas luka ini?" ucap Tobias menunjuk lengannya yang ditutupi tato.
Vesper melebarkan mata dan mengangguk meski tubuhnya bergoyang ke sana kemari karena mabuk.
"Ada bekas luka bertuliskan R6. Rochelle, anak dari Mens keenam. Darwin, satu-satunya Flame yang jujur tentang anakku, sisanya bungkam. Para Flame itu benar-benar keparat. Mereka menyembunyikan anak-anakku. Lihatlah akibatnya, mereka kini mati. Jika saja mereka mengatakannya, aku bisa melindunginya seperti Sierra," jawab Tobias dengan mata terbuka tertutup menunjuk Sierra di kejauhan.
Vesper malah tersenyum dan melambaikan tangan pada gadis cantik itu. Sierra balas melambai meski ia merasa canggung akan hal ini.
"Jadi ... kau Ayah dari anak-anak Flame? Hmm, harusnya kau disebut Big Daddy. Jadi ... one ... two ...," ucap Vesper sembari menghitung dengan jemarinya. "Delapan? Kau punya anak delapan? Wow banyak sekali!" lengking Vesper dengan mata melotot.
"No! 12. Seharusnya anakku 12. Aku menghamili 12 wanita dari anak perempuan Flame. Kakak beradik, semua kutiduri. Jadi ... kau percaya 'kan jika aku ini sungguh hebat dalam memberikan keturunan, Mom? Seperti ayahku, Joel Ramos. Hehe ... Hidup Joel Ramos!" teriak Tobias mengangkat gelasnya lagi dan semua orang melakukan hal yang sama dengan menyuarakan nama Joel lantang.
"Ahh, Joel. Sikapmu benar-benar mirip dengannya, Toby. Gila, tapi penyayang. Di balik sikap menyimpangnya, aku bisa merasakan betapa ia sangat mencintaiku. Dia sungguh tahu bagaimana memanjakanku. Hanya saja ...," ucap Vesper terlihat sedih sembari menatap gelas wine-nya yang kembali terisi setengah.
Semua orang diam menatap Vesper seksama.
"Jika kau menikahi Lysa dengan sikapmu yang sekarang, kau hanya menyakitinya. Jangan samakan Lysa denganku, Toby. Dia tak akan sanggup. Dia tak terlahir sepertimu. Bukan kebahagiaan yang akan kau berikan padanya, tapi petaka. Kau hanya akan semakin menambah penderitaannya. Kau hanya ...."
GRAB!!
__ADS_1
Mata orang-orang yang masih sadar terbelalak seketika. Tobias memegang kedua lengan Vesper kuat dan menatapnya tajam. Vesper menatap Tobias dengan sendu.
"Aku sangat mencintainya. Akan aku tunjukkan jika aku pantas dicintai olehnya. Dia akan merasakan kasih sayang dariku yang tak pernah kuberikan pada wanita manapun di dunia bahkan Sierra, padamu apalagi ibuku. Lysa akan mendapatkan seluruh cinta dariku, Mom. Semuanya!" ucapnya lantang.
Vesper yang sudah mabuk berat terlihat tak sanggup menahan kepalanya lagi. Vesper meletakkan kepalanya di atas meja dengan gelas wine yang kini telah kosong karena isinya tumpah, tergeletak miring dalam genggaman.
"Dia kalah," ucap pion Daido menunjuk Vesper yang mulai tertidur.
Para pion D tertawa melihat Vesper sudah tak sanggup untuk minum lagi dan melanjutkan obrolan malam itu.
Tora dengan sigap membopong Vesper dan membawanya ke kamar.
"Bye, Mrs. Vesper," ucap pion Dexter melambaikan tangan di mana para lelaki itu masih berada di meja bar dengan minumannya.
Tobias bangkit dari kursinya dan berjalan terhuyung kembali ke kamar dengan botol Vodka dalam genggaman. Para pion mulai bubar dan kembali ke kamar masing-masing.
Sierra menjentikkan jari dan para pelayan segera membereskan tempat itu. Sierra menarik nafas dalam.
Ia membawa kursi rodanya kembali ke kamar. Gadis cantik itu menatap dirinya di cermin dan terlihat sedih.
"Apa yang harus kulakukan untuk membawa Jonathan kembali? Aku tak mau kehilangannya lagi. Aku harus mengejarnya. Kini giliranku untuk mencarinya," ucap Sierra kembali menaikkan wajah dan terlihat serius dengan ucapannya.
Keesokan harinya, Tunisia. Kediaman Javier.
Lysa terlihat cemas melihat Javier terluka akibat peluru tajam pemberian Tobias.
Javier terbaring lemah usai diobati oleh tim medis.
Lysa menemani mantan suaminya yang memintanya agar tetap ditemani dengan alasan, ia ingin memastikan Tobias tak datang untuk merebutnya kembali.
Entah kenapa, Lysa mau menemani Javier yang terlihat begitu lemah dan pucat. Ia juga kehilangan banyak darah dan harus transfusi.
Sedang Jonathan, terlihat murung di halaman belakang menatap lautan sendirian, duduk di sebuah kursi taman.
"Hei. Ya, King D. Kenapa?" tanya Jonathan kembali tersenyum.
"Ugly pony," tunjuknya ke seekor keledai berwarna abu-abu.
Jonathan terkekeh. "Donkey," jawabnya menunjuk keledai itu.
"Donkey?" tanya King D mengulang terlihat bingung.
Jonathan mengangguk. Ia sependapat dengan King D yang merasa jika keledai itu jelek, berbeda dengan keledai pemberian Eko.
"Baba! D wants pony!" rengeknya melihat sang ayah berbaring di balik pintu kaca dan mendekati pintu tersebut.
Javier tersenyum. Sauqi yang berada di ruangan itu mengangguk paham. Tak lama, Sauqi muncul dengan sebuah kuda pony sungguhan yang terlihat begitu mengagumkan.
"This is real pony, King D," ucap Sauqi mantap.
King D melongo melihat sosok kuda yang ukurannya lebih besar darinya, tapi ia terlihat senang. King D mendatangi kuda itu dan mengelus kepalanya sambil tersenyum. King D menyukainya.
Otong dan Lucy, dengan sigap mendandani King D yang ingin menunggangi kuda itu. Yohanes menemani Sauqi menyiapkan kuda baru untuk King D dengan pelana dan tali pengikat.
Hari itu, King D yang awalanya sedih karena kehilangan kuda pony-nya terlihat begitu senang karena mendapatkan pengganti yang lebih bagus.
King D menunggangi kuda barunya berkeliling pekarangan rumah Javier didampingi oleh belasan bodyguard dari pasukan Jihad bak pangeran.
"Kau dan King D tak perlu kembali lagi pada Tobias, Lysa. Jangan turuti kemauannya. Kali ini, takkan kubiarkan dia semena-mena pada keluarga kita," ucap Javier menatap Lysa lekat yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Jujur, aku sangat sedih dengan perceraian kita, tapi aku sadar jika ini semua memang salahku. Aku merenung selama beberapa hari ini setelah Habib menghadirkan banyak ulama untukku. Kini, aku paham. Jika aku sudah menyakiti hatimu begitu dalam. Aku egois dan dibutakan karena ancaman Tobias. Namun, yang harus kau ketahui. Aku sangat mencintaimu. Aku tahu kau akan sangat sulit memaafkanku, tapi ... demi King D, anak kita. Tunjukkan jika kau bahagia bersamaku. Aku tak ingin anak kita bersedih karena kedua orang tuanya harus berpisah," ucap Javier terlihat begitu sedih.
Lysa hanya bisa tertunduk dan diam saja tak menjawab. Javier meraih tangan mantan isterinya, tapi dengan sigap, Lysa langsung berdiri dan pergi meninggalkannya.
Javier berlinang air mata. Ia tak menyangka jika Lysa sungguh tak bisa memaafkannya. Javier hanya bisa melihat dari balik pintu kaca saat anaknya terlihat begitu gembira dan tak tahu jika kedua orang tuanya saling bersedih.
"Ya Allah. Tolong, kembalikan Lysa padaku," ucap Javier dengan mata terpejam dalam doa.
Di sisi lain, Italia.
"Mam. Mr. Smiley di sini," ucap seorang lelaki kepada seorang wanita yang sosoknya tak terlihat.
"Biarkan dia masuk," jawab wanita itu lalu meletakkan alat tulis dan dokumen yang sedang ia kerjakan.
"Venelope!" panggilnya lantang memasuki ruang kerja diikuti oleh anak buahnya.
"Bisnis atau personal?" tanya Venelope pelan dengan kedua tangan di atas meja, tapi wajahnya tak terlihat.
"Personal. Jonathan Benedict. Aku tak mau namaku tercoreng dari The Circle. Aku tak mau berurusan dengan Sierra, Tobias dan para D," ucapnya geram berdiri di depan wanita itu.
DOK! DOK!
Wanita yang memiliki kuku berwarna emas itu mengetukkan palu emas di matras ujung meja kerjanya.
Smiley menoleh saat melihat orang-orang bertopeng burung gagak dan berstelan rapi memasuki ruangan.
"Aakkk! Akkk!" ucap wanita itu menirukan suara burung gagak.
Kesepuluh orang itu mengangkat topi di atas kepala dan keluar dari ruangan dengan teratur.
Pandangan Smiley kembali ke wanita di hadapannya yang terlihat tetap tenang sembari menuliskan sesuatu dengan tinta emas di atas selembar kertas.
"Kau menginginkan ini?" tanya Smiley saat kertas itu disodorkan padanya.
"Yes. Itu bayaran yang setimpal untuk usahaku, Mr. Smiley. Targetmu adalah Jonathan. Dia salah satu calon anggota dewan 13 Demon Heads. Anak dari Vesper dan Erik Benedict. Ahli waris tunggal dari kekayaan William Charles dan Erik Benedict. Bawa orang itu padaku dalam keadaan hidup," jawab wanita itu tegas.
Smiley mengangguk dan memberikan kertas itu pada anak buahnya. Orang-orang Smiley segera pergi dari ruang kerja, tapi Smiley masih di sana.
"Kapan kau akan bertindak, Venelope?" tanya Smiley menatapnya tajam.
"Sebentar lagi. Tinggal sedikit lagi dan semua persiapanku selesai," jawabnya dengan setengah wajah yang mulai terlihat.
Smiley mengangguk pelan.
"Istirahatlah dan nikmati pelayanan The Mask," ucapnya.
Smiley diantar oleh para lelaki bertopeng keluar ruangan. Wanita itu mengetuk-ngetukkan telunjuknya di atas meja seperti memikirkan sesuatu.
"Siapkan Gagak kedua jika yang pertama gagal. Aku ada pesta malam ini dan tak ingin melewatkannya. Jangan usik malamku," ucap wanita itu seraya berdiri sembari meraih mantel bulu dan topi hitam besar di meja kecil samping kursinya.
"Yes, Sister," jawab seorang lelaki berambut putih panjang sembari berjalan mendekati kursi yang tadi diduduki Venelope, meneruskan pekerjaannya.
Venelope berjalan melenggang meninggalkan ruang kerja dengan topi besar menutupi wajahnya.
***
Semalem lele terkapar gaes dan alhamdulilah. Novel 4YMS2 lolos kontrak dg level 7. kwkwkwkw. Sama kaya SM😆 Setidaknya karya ini sudah aman lah ya.
Aduh jadi utang 2 eps ini.
__ADS_1
Makasih ya tipsnya. Lele padamu💋💋💋