
Albino dan Atit mengarungi Teluk Meksiko bersama seorang gadis remaja berwajah Asia. Terlihat, gadis itu menikmati pemandangan indah saat fajar telah menyingsing. Mereka singgah di dermaga yacht di Panama City Beach, Alabama, America.
Albino menemani si gadis Asia berambut hitam panjang di kapal seraya menikmati sarapan yang diantarkan ke yacht.
Atit menggunakan penyamaran untuk menutupi sosoknya di mana ia tak lagi mengenakan make-up dan kini terlihat seperti pria macho yang tampan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Hem, kalian datang tepat waktu," ucap seorang pria dengan rokok ia ketukkan di dalam asbak.
"Apakah tempat itu memiliki fasilitas medis?" tanya Atit menatap pria tua di hadapannya dengan serius.
"Tidak. Oleh karena itu, akan kita lakukan di lokasi lain. Bersiaplah," jawab lawan bicara yang mengenakan kacamata hitam menghindari silau matahari.
Atit melirik dan melihat banyak pria mengawasi pergerakannya termasuk yacht yang di datangi oleh lima pria berpakaian ala turis.
Atit menunggu di sebuah cafe dengan pandangan tertuju pada yacht yang sedang diperiksa oleh anak buah No Face.
Tak lama, salah seorang pria dari kelompok mafia tersebut keluar dengan anggukan kepala sebagai kode.
"Hem. Aku tak tahu bagaimana bisa Vesper melepaskan kalian begitu saja tanpa curiga," tanya pria tersebut yang juga mengenakan sebuah topi untuk menutupi rambutnya yang beruban.
"Vesper sibuk melakukan pencarian dua anaknya karena ulah kalian. Apa kau tak bosan, Smiley, melakukan penculikan hanya karena menginginkan aset mereka? Kalian sungguh kuno dan murahan," sindir Atit.
CRATTT!!
"Agh!" rintih Atit karena Smiley menyiramkan kopi panas dan mengenai dadanya yang hanya mengenakan kemeja tipis. "Kau gila! Awas saja, semua perbuatan buruk kalian akan kubalas! Aku datang kemari karena Sandara, jika bukan, aku tak sudi. Lebih baik aku mati," tegas Atit seraya menarik tisu dari sebuah kotak di meja tempat Smiley duduk.
"Kau ... bosan hidup?" tanya Smiley seraya melepaskan kacamata hitamnya.
"Jika hidupku selalu di usik kalian, rasanya semua yang kulakukan di dunia untuk mencari kesenangan sia-sia saja. Kalian selalu menghancurkannya," jawab Atit kesal dan melempar tisu kotor itu ke anak buah No Face yang berdiri berjejer melindungi Tuannya.
Smiley tersenyum tipis dan Atit mendengus kesal di mana dadanya terlihat merah karena kancing kemejanya ia buka.
Pria tua itu mengetukkan telunjuk ke meja dan empat pria di belakangnya mendatangi Atit lalu memeganginya kuat. Atit panik saat tubuhnya ditarik dan dibawa masuk ke yacht dengan paksa.
"Kami mengambil alih kapal ini. Kalian dalam pengawasan," ucap salah seorang anggota No Face berdiri di hadapan Albino, Atit dan si gadis Asia.
Kapal kembali berlayar meninggalkan lokasi. Atit melirik Smiley yang melambaikan tangan dengan senyum terkembang dan masih duduk di tempatnya.
"Mereka siapa?" tanya gadis Asia itu terlihat takut dengan bahasa Korea.
"Mereka orang jahat. Jadi sebaiknya kita menurut dan jangan melakukan hal yang menyinggung mereka. Kau mengerti, Sohee?" jawab Atit, dan gadis berkulit putih itu mengangguk terlihat takut.
Albino membawa Sohee ke dalam di mana terdapat sebuah kamar untuknya beristirahat. Albino dan Atit diberikan sebuah tablet dengan beberapa rekaman video tentang hasil rekam medis serta kondisi terbaru dari Sandara.
Di tempat Sandara berada.
Gadis itu semakin akrab dengan Yudhi. Senyum keduanya terpancar ketika mengobrol. Yudhi sering berkunjung ke ruang kerja Sandara. Keduanya sering bertukar ide untuk kostum buatan mereka seperti sebuah kolaborasi.
"Bagaimana, keren bukan?" tanya Yudhi yang bergaya dengan pakaian layaknya pesta kostum seperti Pangeran Kerajaan. Sandara mengangguk.
Ia yang dulunya hanya bisa merancang untuk pakaian wanita, kini bisa membuat kostum untuk pria, meski baginya hasil tersebut belum sempurna. Namun, Yudhi selalu menyanjung dan mengatakan hasilnya memuaskan.
__ADS_1
Saat keduanya sedang berdansa dengan pakaian hasil rancangan mereka, pintu ruang jahit itu terbuka dan muncul Sierra menggunakan otoped matic-nya. Praktis, mata Sandara melebar.
"Hallo, Sandara. Oh, aku teringat sedikit tentang kenangan kita. Jadi ... kau sepertinya menikmati masa tahananmu bersama Yudhi," ucap Sierra seraya mendekati sebuah rancangan di sebuah patung dan merabanya.
"Apa maumu?" tanya Sandara to the point dengan topeng menutup wajah buruknya.
"Aku suka rancanganmu. Aku akan mengambil semuanya, termasuk yang kau pakai itu," tegasnya seraya menjentikkan jari di hadapan sebuah patung.
Mata Sandara melebar. Dua orang pria mengangkat patung yang memakai gaun buatannya begitu saja.
Yudhi ikut terkejut, tapi dua lelaki yang ikut bersama Sierra langsung memegangi tubuhnya kuat.
SWING! DUAKK!
"Agh!" rintih Sierra yang mengejutkan semua orang ketika Sandara melemparkan sepatu berhaknya yang mengenai kepala pemimpin No Face tersebut.
Mata Sierra terbelalak seraya memegangi kepalanya yang sakit. Dua bodyguard Sierra yang mengangkat patung ikut melotot.
Mereka meletakkan patung tersebut dan mendekati Sandara yang berdiri dengan gaun warna merah layaknya seorang puteri Asia yang sedang mengikuti pesta dansa.
"Beri dia hukuman!" teriak Sierra marah menunjuk Sandara dari tempatnya berdiri.
Sandara berdiri tegak dengan tangan kosong. Yudhi mengedipkan mata dan Sandara balas berkedip.
Seketika, SREETT!! SWING! JLEB! JLEB!
"Agh!" rintih dua pria itu ketika Sandara tiba-tiba berjongkok dan kedua tangannya masuk ke dalam rok gaun yang menjuntai sampai ke lantai.
Dua buah pisau terlontar dan mengenai kedua kaki pria yang berjalan mendekatinya. Dua pria itu jatuh berlutut dengan mata terpejam menahan sakit.
CRATT!! JLEB!!
"Oh!" pekik Sierra terkejut saat Sandara mencabut pisau yang menancap di paha pria yang dinaikinya lalu menusukkan ujung benda tajam itu ke ubun-ubun pria tersebut.
Pria itu roboh tak bernyawa ke arah kawannya yang ikut terkejut karena pergerakan cepat Sandara.
Gadis itu segera menangkap kepala pria di sisi kanan saat tubuhnya ikut jatuh ke samping. Sandara mengangkat kaki kirinya ke atas dan terlihat sebuah pisau di paha kirinya yang terikat sebuah ikatan mirip sabuk.
JLEB! JLEB! JLEB!
BRUKK!!
"AAAAA!" teriak Sierra panik dan segera pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan otoped-nya.
Sandara menghabisi nyawa pria itu dengan menusuk leher samping tiga kali saat ia menekan kepala pria tersebut di lantai dengan tangan kanan.
"Hem. Yeah, that's my girl," ucap Yudhi dengan senyuman.
Dan seketika, SRING! JLEB!
"ARRGHHH!" rintih dua pria yang memegangi tubuh pemuda itu saat alas belakang sepatu boots Yudhi muncul sebuah pisau tajam seperti 'jalu' pada ayam.
Dua orang itu mengerang kesakitan dan memegangi kaki depan mereka yang berdarah.
Yudhi masih berdiri tegak memunggungi dua orang yang menangkap tubuhnya lagi seraya menahan sakit. Yudhi dengan segera menarik sebuah tali dalam jas dengan kuat.
__ADS_1
Seketika, CRING! JLEB! JLEB!
"Ohok!"
CRING! BRUK! BRUK!
Yudhi tersenyum miring seraya membalik tubuhnya di mana jarum-jarum besar dan tajam muncul menembus jasnya seperti seekor landak.
Tubuh dua pria malang itu berdarah hebat di bagian depan karena tak memakai pakaian pelindung.
"Bye," ucap Yudhi dengan seringai saat melakukan penyelesaian dengan menusuk bagian jakun leher dua pria malang itu dengan dua buah pisau yang tersembunyi di bagian dalam jasnya.
Sandara sudah bersiap dengan sebuah tas dengan bentuk indah sudah ia gendong di punggung.
Yudhi melepaskan jas luarnya yang telah berlubang dan terkena darah korban ke lantai begitu saja.
Jarum-jarum tajam itu kembali masuk di rompi dalam jasnya saat ia menarik lagi tali pengait itu. Yudhi mengganti jasnya dengan yang lain. Kostum Yudhi dan Sandra kembali tampak normal.
"Ayo," ajak Yudhi dan diangguki Sandara.
Yudhi menggandeng tangan Sandara saat keduanya mendekati sebuah jendela yang memiliki besi penghalang.
Ternyata, salah satu besi tersebut bisa terangkat seperti sebuah jendela normal pada umumnya.
Yudhi membuka jendela itu dan Sandara dengan sigap menaikinya lalu melompat keluar. Yudhi mengikuti dan kembali menutup jendela.
"Ayo!"
Sandara dengan sigap menggandeng tangan Yudhi di mana mereka melihat pergerakan di sekitar rumah saat tempat tersebut seperti di kepung oleh pasukan No Face.
"Di sana," ucap Yudhi berbisik ketika menunjuk sebuah pohon rimbun dan Sandara mengangguk pelan.
Yudhi membungkuk dan menarik sebuah besi pengait yang tertutupi dedaunan kering kamuflase.
Sandara segera masuk ke dalam dan diikuti oleh Yudhi. Tempat itu tertutupi sempurna dari luar, tak terlihat seperti memiliki sebuah ruang rahasia di bawahnya.
"Nyalakan lampu," perintah Yudhi saat ia mendekati sebuah meja dan menyalakan semua tombol hingga lampu merah menyala.
Sandara dengan cepat menarik sebuah tali lampu yang menggantung di atas. Sandara berdiri dan melihat sekeliling dalam ruangan yang terasa pengap karena tak ada sirkulasi udara.
"Kemarilah, Sayang. Kita lakukan bersama," ajak Yudhi dan Sandara segera mendekat.
Yudhi memberikan arahan dan Sandara mengangguk paham. "Kau siap?" tanya Yudhi melirik dan Sandara mengangguk mantap. "Satu, dua, tiga."
KLIK!
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Akhirnya tips notifikasi udah keluar tapi per tanggal 5 kemarin, tgl 1 sd 4 raib. Hadeh, iklasin aja deh ya kalo ss kalian gak bisa lele munculkan. Makasih tipsnya. Lele padamu⤠Dan lele ada info di eps 67. Semua eps spam yg pernah muncul isinya akan lele ganti dengan info aja biar gak ganggu naskah.
__ADS_1