
"Hei, good morning," sapa Afro yang membuat wajah Sandara langsung bersemu merah begitu ia membuka mata.
"Morning," jawabnya tersipu malu. "Emph!" Gadis itu terkejut saat mendapatkan morning kiss dari suaminya. Afro tersenyum lebar seraya mengelus wajah cantik Sandara saat sinar matahari menyelinap dan kini menyinari parasnya. "Cantik sekali," ucapnya.
Sandara terdiam dan hanya tertunduk masih belum terbiasa dengan sikap manis Afro yang tak disangka.
"Masih sakit?" tanya Afro seraya mengelus perut sang isteri yang kulitnya terasa halus di tangannya. Sandara menggeleng. "Kalau begitu, ronde kedua," bisiknya penuh maksud.
Sandara terkejut saat tubuhnya tiba-tiba diterkam dan membuatnya spontan memeluk Afro yang sudah berada di atasnya.
TOK! TOK! TOK!
"Afro yuhu! Kuda-kudaannya dilanjut nanti aja. Ini kita udah pada kumpul semua kok pengantennya masih wow-wow loh. Ini kita laper ini. Jangan lupa pidato. Cepetan!" teriak Eko yang suaranya terdengar dari balik pintu.
Spontan, Afro dan Sandara langsung menoleh ke arah jam dinding di mana waktu telah menunjukkan pukul 8 pagi.
Dengan sigap, Afro bangun dan menyibakkan selimut. Sandara terkejut saat Afro menarik tangannya dan membawanya ke kamar mandi.
"Ya, Om Eko! Lagi siap-siap!" jawab Afro berteriak seraya berlari kecil ke kamar mandi.
"Oke! Gayamu siap-siap. Baru bangun juga. Orang tua dikibulin. Ora sopan," jawab Eko menggerutu.
Afro hanya meringis dan menyusul isterinya yang sudah tiba lebih dahulu ke kamar mandi. Keduanya membersihkan diri dengan kilat bahkan keduanya seperti berlomba.
Sandara mandi terlebih dahulu di bawah guyuran shower air hangat. Sedang Afro, mencuci wajah dan menggosok giginya terlebih dahulu.
Begitu keduanya selesai, mereka bertukar tempat. Gairah untuk kembali bercinta lenyap karena alarm dari Eko yang lebih menegangkan ketimbang Terminator.
Sandara dan Afro terkekeh geli saat keduanya berpakaian dari hasil rancangan Beny yang membuat pasangan pengantin muda itu selalu tampak serasi. Afro memberikan ciuman di bibir sang isteri sebelum mereka keluar kamar.
Afro menggandeng tangan Sandara ketika mereka menyusuri koridor hingga menuju ke halaman belakang di mana pesta diselenggarakan sebelum para tamu pulang ke negara masing-masing.
Siapa sangka, kolam renang sudah penuh dengan anak-anak karena acara pada pagi itu bertema 'Pool Party'.
Anak-anak yang sudah tak sabar, telah menguasai seluruh kolam yang telah dihias dengan dekorasi apik khusus untuk memanjakan mereka.
Afro terkekeh karena rumahnya terasa sumpek seketika. Anak-anak mengantri untuk mendapatkan balon gratis yang sedang dipompa oleh para Black Armys yang bertugas di pesta kolam renang.
Kedatangan Afro dan Sandara sudah disambut hangat oleh para tamu undangan. Afro dan Sandara memberikan sambutan yang disaksikan oleh para tamu.
Afro sangat berterima kasih atas dukungan dan kedatangan para mafia di rumahnya untuk meramaikan pesta pernikahan, meski sahabat karibnya sejak di Camp Militer—Kim Arjuna—tak hadir bahkan tak meneleponnya untuk mengucapkan selamat.
Afro terlihat kecewa dan memilih untuk tak memikirkan hal itu lebih jauh.
"Terima kasih, terima kasih," tutup Afro seraya mengangkat gelas moktail dalam genggaman. Semua orang ikut bersulang dan kembali menikmati jamuan.
Dekorasi di halaman belakang untuk pesta penutupan bernuansa putih dengan tenda meneduhkan di pagi yang cerah hari itu.
Zaid dan Yena mendatangi Kai yang sedang menunggu kedatangan pasangan pengantin karena akan bergabung di mejanya menikmati sarapan bersama Han serta Vesper.
Namun seketika, senyum ramah Kai sirna, saat pasangan itu menyodorkan tagihan biaya pelunasan pernikahan padanya.
Mata Kai melebar karena tagihan itu ditujukan padanya. Ternyata, Vesper hanya memberikan 1 miliar dan sisanya ditanggung oleh Kai selaku ayah dari mempelai wanita.
"Awalnya aku ingin membiayai keseluruhan acara, tapi setelah kupikir-pikir, kau 'kan ayah dari Sandara. Kenapa harus aku semua? Jadi, aku memutuskan untuk berbagi denganmu, Sayang," ucap Vesper dengan senyum terkembang.
__ADS_1
Zaid dan Yena menahan senyum saat ayah dari Sandara menuliskan cek pelunasan biaya pernikahan anaknya dengan wajah masam karena cukup fantastis senilai 1 miliar.
Han yang sudah hapal dengan watak sang isteri, memilih untuk meneguk secangkir kopi hitam dan tak ikut berkomentar.
"Terima kasih, Tuan Kai. Sehat selalu," ucap Yena sungkan seraya membawa selembar cek pemberian dari ayah Sandara.
"Aku yang seharusnya berterima kasih," sahut Vesper dengan senyum terkembang kepada Zaid dan Yena.
Zaid dan Yena pamit karena harus mengawasi jalannya pesta pernikahan. Tak lama, Sandara dan Afro tiba bergandengan tangan. Pasangan itu bergabung dalam satu meja bersama Vesper, Kai dan Han.
Terlihat, beberapa anak berlari ke sana kemari hanya untuk mendatangi Vesper dan mencium pipinya. Sang Ratu terlihat begitu bahagia karena merasa disayangi.
Tak lama, sajian yang dipesan oleh Vesper dan semua orang di meja itu pun datang. Senyum Vesper terkembang saat sarapannya dihidangkan oleh salah satu Black Armys level M yang bekerja untuk usaha legal Wedding Organizer Zaid-Jonathan.
"Jadi, kalian akan berbulan madu selama 1 minggu?" tanya Kai seraya mengiris pancake untuk menyuapi isterinya yang sedang ingin dimanja tak ingin merusak kuteknya karena masih baru.
"Ya. Namun sebenarnya, lebih seperti perjalanan bisnis. Kami akan mengunjungi beberapa aset peninggalan ayahku dan juga Sandara untuk melihat perkembangannya," jawab Afro cemberut dengan wajah tertunduk.
Han, Vesper dan Kai melirik Sandara yang terlihat santai menikmati waffle di piring. Tiga orang tua itu tak ingin mencampuri urusan pribadi sang anak, mengingat mereka kini hanya sebagai pendukung dan penasehat.
"Selama kalian selalu bersama, apa pun kegiatannya akan terasa menyenangkan. Jangan lupa, ke mana pun kalian pergi, Red Ribbon harus tetap mengawal. Miles, masih menjadi ancaman," tegas Vesper dan Afro mengangguk paham.
"Bukankah kau juga akan pergi berkunjung ke rumah saudara dan rekanan? Kenapa kita tak pergi bersama?" tanya Sandara menatap Vesper lekat. Sang Ibu terdiam mengedipkan mata.
"Kau ini bagaimana? Kalian sedang berbulan madu. Jika kami ikut, itu akan menjadi perjalanan keluarga. Honeymoon adalah kegiatan privasi pasangan pengantin untuk saling mengenal lebih jauh sebelum menjalani kehidupan berkeluarga nantinya. Jadi, kami tak ingin menganggu acara kalian," jawab Han menatap pasangan pengantin yang duduk di hadapannya lekat.
"Namun, pintu rumah kami akan selalu terbuka lebar untuk menyambut kalian. Kami sadar jika kalian akan sangat sibuk nantinya, tapi sempatkanlah untuk datang berkunjung," pinta Vesper. Sandara dan Afro mengangguk bersamaan.
Hari itu, senyum Vesper, Han, Kai, Sandara dan Afro merekah dengan obrolan kecil selama di meja makan.
Akhirnya, satu per satu, para tamu undangan pergi meninggalkan kediaman Elios. Para Black Armys yang telah ditugaskan mengatur perjalanan pulang para tamu sampai ke bandara.
"Jadi ... kau akan pergi besok pagi, Ma?" tanya Sandara saat Vesper mengajaknya berjalan bersama di malam hari di mana semua tamu telah meninggalkan kediaman Elios.
"Ya. Kau akan belajar ilmu bisnis dari Doug. Kau akan membantu Afro mengurus perusahaannya. Meskipun Red Ribbon kini menjadi karyawan Afro, tapi kau sebagai isteri harus ikut terlibat. Selain itu, kau persiapkan diri untuk perusahaan farmasi Elios yang kini dikelola oleh Naomi," tegas Vesper.
"Hem. Perusahaan itu menjadi salah satu perjalanan bulan maduku bersama kak Afro, Ma," jawab Sandara. Vesper mengangguk pelan dengan wajah datar.
"Kau akan ke Turki?" tanya Vesper dengan pandangan lurus ke depan.
"Ya. Semua aset milik Ahmed akan menjadi milikku."
Praktis, Vesper langsung menghentikan langkah seketika. Ia menatap wajah anak gadisnya tajam yang balas memandanginya dengan datar.
"Kata siapa aset Ahmed akan menjadi milikmu?"
"Valentina. Yudhi memberikan semua aset milik Ahmed yang sudah menjadi miliknya untukku saat aku diculik dalam kapal. Meskipun Yudhi kejam padaku, tapi ia menuliskan wasiat yang disaksikan oleh para HURI kala itu. Sekarang, aku sedang memburu Valentina karena ia tiba-tiba saja menghilang dan tak bisa kuhubungi. Aku sepertinya harus menemui Sudan lagi. Jadi ... ya, Turki dan kediaman Sudan akan menjadi salah satu tujuan honeymoon bisnisku," tegasnya.
Vesper menarik napas dalam dan kembali melangkah.
"Apa Eko tahu hal ini?" tanya Vesper berwajah serius meski tak melihat anaknya.
"Tidak. Om Eko tak perlu tahu. Dia ditugaskan untuk menjaga peninggalan Ahmed di Turki. Sayangnya, Yudhi sudah mati. Jadi, semuanya akan menjadi milikku. Om Eko tak perlu lagi berada di rumah itu. Aku sudah memilih orang yang tepat untuk mengurus tempat itu nanti," jawabnya serius.
Wajah Vesper tampak tegang seperti memikirkan sesuatu usai mendengar ucapan dari anak gadisnya. Sandara melirik sang Ibu yang tak lagi berbicara.
__ADS_1
"Aku tahu kau pasti kesal, Ma. Namun, bukankah kau juga memerlukan banyak orang untuk mengurus bisnismu yang berada di seluruh dunia? Sebaiknya, kau juga fokus dengan usahamu. Selain itu, om James dan tante Zurna tak perlu lagi berada di Seoul. Bukankah ... rumah itu milikku?"
Vesper melepaskan gandengannya. Ia berdiri dengan wajah dingin. Sandara ikut menghentikan langkah dan kini menatap sang Ibu lekat.
"Kau, ingin menyingkirkan orang-orangku?" tanya Vesper dengan pandangan tertunduk.
"Aku tak ingin merepotkanmu. Seperti katamu, aku sudah dewasa. Aku telah menikah dan tanggungjawabmu padaku sudah tak penuh seperti dulu. Kini, Afro yang bertanggungjawab atas hidupku. Terima kasih atas perhatianmu selama ini, Ma. Aku akan menemui papa setelah ini," jawabnya tenang, tapi membuat senyum miris muncul di wajah sang Ratu.
"Hem, aku mengerti. Baiklah. Aku akan bicara pada Eko dan James untuk hal ini. Semoga ... kau bahagia dengan keputusanmu, Sandara. Dan ... selamat menikmati kehidupan barumu. Ingat, ini baru awal. Kau akan menghadapi kesulitan sesungguhnya dalam hidup usai pernikahan," tegas Vesper seraya menoleh dan menatap anak gadisnya lekat.
"Ya, terima kasih sudah mengingatkan. Aku tahu yang kulakukan. Selamat malam dan selamat tidur, Ma. Aku menyayangimu," ucapnya seraya memeluk Vesper lalu melepaskannya.
Vesper bahkan belum sempat membalas pelukan itu. Sandara melangkah pergi meninggalkan ibunya untuk mengatakan hal serupa kepada sang ayah.
Vesper terdiam dengan wajah sendu melihat anak gadisnya yang kini berjalan semakin menjauh darinya.
"Dia ... sama saja dengan yang lain. Hem, ini salahku. Aku mendidik mereka untuk menjadi seorang mafia yang kuat, tapi ... mereka melupakan satu hal penting dalam hidup. Keluarga. Apakah sudah terlambat untuk memperbaikinya?" tanya Vesper menatap langit seperti mengadu kepada Tuhan meski ia tak beragama.
Siapa sangka, ucapan Sandara ikut mengejutkan Kai. Namun bedanya, Kai berani menegur sikap anaknya yang dirasa tak pantas untuk dilakukan.
"Apa kau sadar yang kaulakukan, ha? Kau mengusir Jordan dan Naomi serta semua orang yang bekerja di perusahaan farmasi selama ini. Mereka, bekerja dengan keras untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan. Hal itu, bukan perkara mudah, Sandara. Kau tidak akan mampu untuk mengurusnya sendiri tanpa mereka," tegas Kai menunjuk anaknya.
"Kau meragukan kemampuanku?" tanya Sandara menyipitkan mata.
"Yes, tentu saja. Kau tak sekolah bisnis dan manajemen. Bahkan, usaha butikmu di Paris selama ini, Lucy dan Yohanes yang mengelolanya. Tanpa mereka, usahamu itu sudah gulung tikar. Beny terlibat di sana untuk rancangan-rancanganmu. Bahkan ia rela jika namanya tak dipandang dan diganti dengan namamu agar Sandara Liu selalu hidup dalam dunia fashion meski kau bukan artis lagi. Baginikah caramu berterima kasih?" tegas Kai marah.
"Aku tak pernah meminta mereka menjalankan usahaku," sahutnya.
Napas Kai memburu, ia terlihat kaget dengan jawaban anak gadisnya.
"Jika tempat-tempat itu tak dikelola, maka akan menjadi bangunan terbengkalai. Namamu akan dilupakan dan untuk membangun dari awal membutuhkan kerja keras. Jika tak ada orang-orang terlatih yang ditunjuk oleh ibumu, kau akan jadi apa, ha? Penyelamatanmu, biaya operasi plastikmu, perjanjianmu, semua dikendalikan oleh Vesper. Aku saja tak memiliki kekuasaan seperti itu. Kau beruntung karena ibumu mau terlibat dan sengaja tak memamerkannya ke hadapan orang-orang agar mereka berpikir jika semua adalah hasil kerja kerasmu!" tegas Kai tersulut emosi.
Sandara terlihat tegang usai mendengar ucapan sang ayah.
"Oleh karena, sudah cukup bagi mama untuk ikut campur di kehidupanku. Seperti yang dikatakan oleh ayah Han sebelumnya, aku kini sudah berkeluarga, hidupku tak seperti dulu lagi. Aku bisa mengurus dan mengatasinya. Kau tak perlu khawatir. Jadi sebaiknya, tarik semua orang-orang mama, Papa. Mereka akan digantikan oleh orang-orangku," jawabnya datar.
"Orang-orangmu?" tanya Kai berkerut kening.
Sandara mengangguk pelan. "Mirror. Seperti julukanku. Mirror akan menjadi pasukanku seperti Black Armys mama," tegasnya.
Kai mengusap mulutnya yang tak mampu lagi berkata-kata. Ia akhirnya hanya bisa mengangguk meski terlihat kecewa. Berulang kali Kai seperti tertawa meski gak bersuara karena geli dengan sikap anak perempuannya.
"Selamat malam, Dara. Semoga, kau selalu bahagia," ucap Kai tersenyum di pinggir ranjang tempat ia duduk sedari tadi.
Sandara membungkuk hormat lalu pamit keluar dari kamar sang ayah. Kai memejamkan mata terlihat tertekan usai mendengar perkataan anaknya.
Tak lama, Vesper datang dan langsung memeluk Kai erat. Sang Ratu ikut duduk di sampingnya. Kai balas memeluk seraya menghembuskan napas panjang.
Terlihat, dua orang itu bersedih hati karena anak gadis mereka telah berubah tak seperti yang diharapkan.
"Kita pergi saja, Kai. Aku sudah tak sanggup lagi," ucap Vesper seperti akan menangis.
"Ya. Kita akan pergi. Sudah cukup, Sayang," jawab Kai semakin memeluk Vesper erat seraya mencium keningnya lekat hingga matanya terpejam.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Tengkiyuw tipsnya. Lele padamu. Panjang nih epsnya😍