4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Pemikiran Kai*


__ADS_3


Di hari Arjuna menyatakan perasaan terhadap Naomi. Filipina, Mansion Ramos.


Terlihat Vesper sedang duduk menyenderkan punggungnya ke sandaran spring bed-nya sembari mengelus lembut kepala suami termudanya, Kai, di kamar.


Wajah keduanya serius saat sebuah laptop di hadapan mereka menyala, memperdengarkan rekaman langsung dari mobil Naomi.


Kendaraan tersebut adalah salah satu hadiah pemberian Vesper untuknya saat Naomi lulus kuliah dengan hasil cumlaude.


"Minta Naomi datang kemari," pinta Vesper lirih dan Kai segera bangkit dari tempat berbaringnya.


Kai menatap Vesper seksama yang tersenyum tipis padanya. Kai mencium kening Vesper lembut dan segera berdiri mengambil ponselnya.


Vesper memejamkan mata. Ia sungguh tak menyangka dengan ucapan Arjuna yang menyakitkan hati.


Vesper teringat akan perlakuan Han padanya dan hinaan Arjuna semasa kecil kepada Kai yang kini menjadi suaminya.


"Kau sudah di Apartemen Theresia? Baguslah. Aku lega kau baik-baik saja, Naomi. Oia, Nyonya Vesper ingin membicarakan hal penting padamu. Datanglah ke Filipina secepatnya," ucap Kai pelan.


Vesper melirik suaminya sekilas di mana sampai sekarang, Kai masih memposisikan diri seperti asistennya, seakan sudah melekat dalam dirinya karena terlalu lama ikut dengan Vesper. Terlihat, Vesper ikut tertekan akan hal ini.


"Alasan ke Arjuna? Soal itu ... Nona Lily yang akan mengurusnya," jawab Kai melirik sang isteri dan Vesper menghela nafas pelan. Kai tersenyum. "Baiklah, hati-hati."


Kai mendatangi Vesper sembari memberikan ponsel milik isterinya yang diletakkan di samping ponselnya.


Vesper menerimanya dengan malas, ia terlihat seperti enggan menghubungi anak keduanya itu. Vesper hanya memandangi ponselnya.


"Kenapa, Sayang? Apa pembicaraan mereka mengganggumu? Aku tak apa. Itu masa lalu untukku, meski aku yakin jika sampai sekarang, Arjuna belum bisa menerima keberadaanku. Biarlah, dia memang seperti itu. Watak tak bisa diubah," ucap Kai dengan senyuman sembari mengelus wajah isterinya lembut.


"Harusnya kudengarkan nasehat agent M kala itu agar Sun saja yang dikirim bukan Naomi. Namun ... aku minta maaf, Kai. Ucapan Arjuna pasti menyakiti hatimu," ucap Vesper sedih, tapi Kai malah tersenyum.


Kai mendekatkan wajahnya dan mencium bibir isterinya lembut, melepasnya dan menciumnya lagi. Vesper memeluk suami termudanya erat. Kai kembali tersenyum.


"Aku memang tak memiliki hak untuk mengatur hidup Arjuna karena dia bukan anakku dan aku bukan Ayah kandungnya, tapi bagaimana jika ... kita lakukan sesuatu?" ucap Kai sembari melepaskan pelukannya dan menatap wajah isterinya lekat yang terlihat sedih.


"Apa itu?" tanya Vesper balas menatap suaminya seksama.

__ADS_1


"Memberikan pelajaran penting bagi Arjuna. Aku tak ingin Naomi berakhir sepertiku. Kita ... akali nasib Naomi dan Arjuna. Aku rasa, Tuhan tak akan masalah dengan hal itu," jawab Kai dengan wajah penuh maksud. Vesper tertawa pelan.


"Kau ingin melakukan apa?"


"Akan kuberi tahu saat Naomi sudah berada di sini. Aku ingin Naomi juga mengetahui hal itu. Arjuna anak nakal dan anak nakal harus dihukum. Hem, bagaimana?"


"Hahahaha, oke," jawab Vesper menyetujui dan terus tertawa meski tak bersuara.


Vesper merasa geli karena tak menyangka jika Kai bisa bersikap licik juga.


"Dan kau, apakah semua anak-anakmu kau intip seperti itu? Kau sungguh Ibu yang posesif," ucap Kai yang kembali bermanja-manja pada isterinya di tempat tidur sembari menyingkirkan laptop dan meletakkannya di lantai samping ranjang.


"Memang kenapa? Keempat anakku mulai susah diatur. Namun, jujur Kai. Aku sangat mencemaskan Lysa. Aku merasa Tobias mencuci otaknya. Aku sangat takut Lysa akan melakukan hal keji lainnya," jawab Vesper memeluk Kai erat dari samping saat keduanya sudah merebahkan diri.


Kai terdiam sembari menciumi kepala isterinya lembut.


"Sayang, boleh aku tahu? Kenapa kau membiarkan Tobias hidup? Padahal kau bisa membunuhnya kapan saja," tanya Kai terdengar serius.


"Menurutmu?" tanya Vesper yang terlihat nyaman di pelukan suami termudanya.


"Joel?"


Kai memeluk Vesper erat. Ia ingat bagaimana perlakuan mendiang Joel pada isterinya dulu. Kai merasa jika tekanan yang diterima Vesper begitu banyak.


Vesper memikirkan perasaan semua orang yang hidup di sekelilingnya padahal beberapa dari mereka adalah musuh, termasuk Sierra.


Kai tak habis pikir dengan tiap keputusan yang isterinya buat. Namun, ungkapan Liu yang tertulis dalam tiap surat yang dikirimkannya dulu, membuat Kai memahami satu hal.


"Liu benar tentangmu, Nona Lily. Kau sangat baik. Kau peduli pada semua orang. Kau tak ingin mereka terluka baik fisik ataupun mental. Kau ingin semua orang bahagia. Kau ... adalah malaikat yang hidup dalam gelapnya kehidupan. Seharusnya, kau tak terlahir di dunia mafia, Nona. Kau terlalu baik untuk tetap berada di dunia kejam ini. Aku ingin sekali membebaskanmu, tapi bagaimana caranya?" batin Kai yang ikut dirundung kesedihan.


Vesper tertidur lelap usai melakukan transfusi darah di kamarnya. Kai menatap isterinya seksama yang terlihat damai dalam tidurnya.


Kai mengambil ponselnya dan memberanikan diri menelepon Arjuna, menggantikan isterinya.


Kai menarik nafas dalam. "Hallo, Juna. Kudengar dari laporan Red Ribbon yang berhasil selamat dan pengakuan Naomi dalam penyelidikannya, kalian bertemu dengan Mr. White. Pria berambut putih panjang yang pernah bertarung dengan kalian di Klinik Gangnam, saat yah ... kau tahu 'kan, aku dan Ms. White?" ucap Kai canggung.


"Hem. Lalu?" jawab Arjuna terdengar sedikit ketus.

__ADS_1


Kai kembali menarik nafas dalam. "Aku dan ibumu sudah tahu tujuanmu datang ke Philadelphia."


"Lantas kenapa? Kau ingin ikut campur, Papa Kai?"


Kai berusaha untuk tetap tenang tak tersulut emosi. "Ibumu ingin kau segera bertindak. Kejar Tessa dan cari tahu keterlibatan Mr. White dengannya selama ini. Aku dan ibumu akan mulai menyelidiki Sierra untuk mencocokkan informasi darimu nantinya. Kau ... ingin menikahi Tessa 'kan? Nona Lily menyetujuinya."


"What? Mama setuju? Sungguh?"


"Hem, begitulah. Selain itu, melalui Tessa, kau bisa mencari tahu tentang Afro. Jika kau masih ingin bertemu kawan lamamu itu dan menyelamatkannya dari eksekusi Jordan di Pengadilan 13 Demon Heads, segeralah bertindak."


"Baiklah. Lalu ... bagaimana dengan Naomi?" tanya Arjuna terdengar gugup.


Kai tersenyum tipis. "Nona Lily memberikan misi padanya. Bukankah ... kau sudah memberhentikan Naomi? Nona Lily sudah menerima surat pengunduran dirinya. Kini, Sekretaris Perusahaan dan asistenmu adalah Sun."


"What? Tidak bisa! Naomi harus tetap bersamaku!" tegasnya.


"Tessa tidak akan menyukainya, Kim Arjuna. Dengan adanya Naomi di sisimu, Tessa akan cemburu. Kau tak akan mendapatkan apapun darinya. Aku dan ibumu sudah tahu tujuanmu kenapa menikahi salah satu pemimpin No Face itu. Jika kau ingin menguasai Tessa, kau harus mendapatkan kepercayaannya. Kau harus, menjauhkan Naomi, dari sisimu," balas Kai mempertegas ucapannya.


Arjuna terdiam. Kai tersenyum tipis. Ia sudah merencanakan hal ini.


"Baiklah, tapi ... Naomi harus tetap bisa kuhubungi. Siapa tahu ... ada hal penting yang ... yang bisa aku sampaikan padanya, atau sebaliknya," ucapnya gugup.


Kai tersenyum lebar sembari berjalan menuju jendela, Terlihat, cuaca mulai mendung seperti akan turun hujan lebat. Sebentar lagi musim dingin kering di Filipina akan tiba.


"Baiklah. Semoga sukses, Arjuna. Papa menyayangimu," ucapnya sembari menutup panggilan meski tak ada jawaban dari anak Han tersebut. Kai memakluminya.


"Oh ... jadi seperti itu rencanamu, Tuan Kai," lirik Vesper dengan senyum penuh maksud.


Kai terkekeh sembari mendatangi sang isteri yang sangat dicintainya. Kai merebahkan dirinya dan ikut tidur bersama Vesper.


***


ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST


Makasih tipsnya. Lele padamu. Nanti malam Lele Talk Show di Room abang CTL. Doain lele gak pingsan ya selama acara. Kwkwkwkw.

__ADS_1



__ADS_2