4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Amplop Hitam


__ADS_3

Di kamar tempat Arjuna dirawat.


Han menemani puteranya yang mulai sadarkan diri, tapi masih tak bisa bergerak. Arjuna terkejut ketika mendapati Sun ikut dirawat satu kamar dengannya.


Arjuna menatap Sun lekat di mana putera dari agent M tersebut juga balas memandanginya tajam.


"Jangan terlalu lama saling memandang. Ayah khawatir akan muncul getaran cinta diantara kalian berdua," ucap Han santai yang membuat Souta menahan senyum saat ia berdiri di samping Han.


Arjuna dan Sun bersamaan memalingkan wajah dengan kesal. Souta mengenakan alat translator di salah satu telinganya karena ia belum bisa berbahasa Indonesia.


Cucu dari mendiang Takeshi kini bekerja sebagai asisten Han untuk membantu bisnisnya karena sang Ratu belum siuman.


"Kutinggalkan kalian berdua. Pastikan saat aku datang kembali, tak ada aksi saling cekik-mencekik atau saling bunuh. Oke?" tegas Han seraya menyerahkan sebuah map kepada Souta.


Arjuna dan Sun saling diam. Han beranjak dan pergi dari kamar diikuti oleh pemuda asal Jepang tersebut. Souta menutup pintunya rapat dan membiarkan dua pria itu untuk menyelesaikan masalah.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Arjuna membuka percakapan meski ia masih berbaring di ranjang. Sayangnya, Sun tak menjawab. Ia memalingkan wajah dan berpura-pura tidur. "Kau ... masih membenciku? Dendam padaku?" tanya Arjuna menoleh ke arah asistennya, tapi lagi-lagi, Sun membungkam mulutnya rapat.


Arjuna mengembuskan napas panjang. Ia memandangi langit-langit kamar di kediaman Yusuke Tendo.


"Sepertinya ... istilah penyesalan selalu datang terlambat benar adanya, Sun. Hal itu terjadi padaku. Ucapan ayahmu, ibuku, dan orang-orang yang pernah menasehatiku selalu datang dalam mimpi atau saat kumerenung. Mungkin hal itu terjadi karena ... dendam di hatiku sudah sirna. Hatiku yang kosong, membuat ingatan-ingatan itu kembali. Kejadian-kejadian di masa lalu mendatangiku lagi," ucap Arjuna dengan tatapan sendu.


Perlahan, Sun membuka matanya. Ia masih memalingkan wajah, tapi mendengarkan ucapan mantan bosnya itu saksama.


"Aku tak bisa berjanji apa pun lagi padamu atau pada siapapun. Aku tak punya apa-apa lagi untuk ditawarkan. Semua yang kumiliki, semua dari orang tuaku. Jika mereka tak mengizinkannya, tak berbaik hati padaku, tak mungkin kubisa hidup dengan seluruh fasilitas kemewahan selama ini. Terlambat kumenyadarinya, tapi ... hal itu kini terasa penting dan berharga untukku. Terlebih, setelah Loria hadir di hidupku," ucapnya kemudian.


Sun menoleh dan mendapati tuan mudanya masih menatap langit-langit kamar.


"Akan kubesarkan anakku dengan cara yang benar. Aku tak ingin dia sepertiku atau Tessa ketika ia menjadi anggota No Face. Jika saja ... seluruh anak-anak keturunan mafia bisa melupakan kejadian buruk ini, pastinya hidup mereka akan damai nantinya. Mereka tak perlu tahu apa itu 13 Demon Heads dan The Circle. Aku tak mau mereka ketakutan karena khawatir diserang atau orang yang mereka sayangi dibunuh. Aku ingin mereka hidup layaknya warga sipil. Bergaul dengan orang-orang dari golongan yang sama, tak terlibat kehidupan mafia. Menurutmu ... apakah hal itu bisa terjadi?" tanya Arjuna yang membuat mata Sun melebar seketika.


"Kau ... bermaksud untuk menghapus kenangan anak-anak itu?" tanya Sun memperjelas ucapan dari pria yang berbaring di sampingnya.


"Ya. Seperti William. Pria itu berhasil hidup dengan baik, meski tak dapat dipungkiri jika masih ada sisi dari jiwa polisinya yang melekat. Mungkin itu karena banyaknya pengalaman dan latihan yang dia jalani selama ini. Namun, anak-anak. Mereka tak memiliki pengalaman dan kemampuan khusus seperti William. Seharusnya, hal itu bisa dilakukan tanpa dampak negatif," jawab Arjuna lalu menoleh dan menatap Sun lekat.


Kening Sun berkerut. Ia terlihat serius memikirkan ide dari tuan mudanya untuk menghapus ingatan anak-anak tentang dunia mafia yang membuat mereka terlibat dalam masa-masa sulit.


Di kamar Sandara.


Gadis itu masih berbaring di kamar sendirian tanpa ada yang menunggunya. Ia berusaha untuk bangun berulang kali, tapi tubuhnya terasa sakit tak seperti biasanya di mana masih mampu ia tahan.


Akhirnya, Sandara memilih pasrah dan merenung mengingat masa-masa kecilnya dulu saat bersama orang-orang yang dikasihinya.


Perlahan, matanya berlinang. Air matanya menetes saat ia merasa kecewa akan beberapa hal karena keegoisannya yang melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan atau persetujuan dari orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


CEKLEK!


Kepala Sandara menoleh ke arah pintu. Ia diam saja, tapi tampak terkejut saat Afro datang dengan kursi roda listrik mendatanginya.


Sandara menundukkan pandangan tak sanggup melihat pria yang pernah menjadi kekasih hatinya itu.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Afro menatap Sandara lekat di samping ranjang.


"Aku ... belum bisa pergi dari tempat ini," jawabnya lesu.


Keduanya saling diam dan membuat suasana hening sejenak.


"Dara. Apa kau menyesal atas semua yang terjadi padamu, pada kita, pada semuanya?" tanya Afro yang membuat ekspresi Sandara berubah. Ia terlihat sedih. Gadis cantik itu mengangguk.


"Aku ... sangat egois. Aku lupa jika ... tak ada yang bisa memahamiku tanpa harus bicara," jawab Sandara terlihat sedih.


Afro menarik napas dalam. Ia juga baru sadar, jika Sandara memang berbeda dari orang-orang kebanyakan. Perilakunya penuh misteri.


"Aku tak menyalahkanmu," ucapnya menenangkan.


"Aku menyalahkan diriku sendiri," jawab Sandara dengan mata berlinang. Terlihat, ia berusaha tegar agar tak menangis. "Aku ... yang membuat penderitaan pada diriku sendiri. Kukira ... apa yang kulakukan adalah benar. Mungkin ya untuk diriku, tapi ternyata tidak untuk orang lain. Yang kudapat, mereka kecewa, marah, dan membenciku. Sepertimu contohnya, yang pada akhirnya memutuskan untuk tak mencintaiku lagi," imbuhnya kemudian.


Afro merasa tertohok pada ucapan terakhir mantan isterinya. Ia menyentuh tangan Sandara, tapi gadis itu menarik tangannya dan menyembunyikan di balik selimut.


"Jika kau memang mencintai Venelope, hiduplah bersamanya. Jangan paksakan dirimu, Kak Afro. Aku sadar, saat kau tahu jika aku menyukaimu, kau tertekan dengan perjodohan itu. Malah kumerasa, kau mencintaiku karena merasa balas budi dengan ibuku. Cintamu padaku tak tulus, tak murni, dan aku bisa merasakannya. Mungkin karena hal itu, aku ... berani membangkang padamu," ucapnya yang membuat Afro terkejut.


"Sudahlah, aku tak apa. Aku mulai terbiasa hidup sendiri. Aku ... ingin menata hidupku lagi. Aku ... ingin memperbaiki diri. Aku tak masalah meskipun itu akan menyita banyak waktu. Aku siap menjalaninya sebagai penebusan dosa," ucapnya sendu.


Afro menatap Sandara lekat di mana ia bisa merasakan kesedihan dan sepinya hati gadis cantik itu.


Afro mendekatkan kursi rodanya dan mencium pipi Sandara lembut. Gadis itu terkejut dan menatap Afro lekat.


"Terima kasih, Dara. Kuyakin, kehidupanmu selanjutnya akan lebih baik. Kau akan menemukan pria yang tulus mencintai dan menerimamu tanpa harus membuatmu berubah terlalu banyak. Maaf, jika aku tak pernah bisa menjadi sosok yang kaucintai seutuhnya. Maaf, jika cintamu padaku harus kubalas dengan perceraian. Namun, ketauhilah satu hal. Kau adalah cinta pertamaku, meski bukan cinta terakhirku. Pintu rumahku selalu terbuka untuk menyambut kedatanganmu, Dara. Semoga ... kau bahagia," ucap Afro yang membuat Sandara kembali berlinang air mata.


Afro tersenyum dan pergi meninggalkan kamar mantan isterinya. Sandara meneteskan air mata setelah kepergian Afro. Namun, hatinya lega.


Kebenciannya pada lelaki itu seakan sirna begitu saja usai mendengar isi hati dari lelaki yang pernah dicintainya. Padahal sebelumnya, ia sakit hati dan kecewa.


Ia juga membenci Venelope karena merasa jika wanita itu merenggut kekasihnya. Namun, melihat Venelope berusaha keras untuk menolong sang ibu, kebencian itu memudar dengan sendirinya.


"Kenapa baru kusadari sekarang? Sebegitu bodohnya kah diriku? Sedang orang-orang mengatakan aku jenius? Aku rasa ... jenius bukan kata yang tepat. Aku terlalu bodoh untuk dipuji," ucap Sandara menahan tangisan penyesalan.


Satu per satu, para pasien yang dirawat di kediaman Tendo berangsur pulih. Ada sebagian dari mereka yang memutuskan untuk pulang dan memasrahkan hasil rapat melalui pesan, salah satunya Naomi dan agent S.

__ADS_1


Arjuna, Lysa, Jonathan dan Sandara mulai bisa beraktivitas meski harus menggunakan kursi roda elektrik.


Tak terasa, satu minggu telah berlalu. Hingga bulan berganti dan tahun baru di bulan Desember tak dirayakan oleh orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads karena hati mereka berduka.


Vesper masih tak sadarkan diri. Namun, kabar baik terjadi pada Kai. Suami termuda Vesper mulai bisa diajak berkomunikasi meski lagi-lagi kepalanya tersentak seperti dulu. Kai terlihat kurus dan pucat hampir seperti Vesper, tapi kondisinya lebih baik.


"Kenapa tempat ini malah menjadi seperti ajang kursi roda elektrik ya?" tanya James karena tiap ia berjalan entah di koridor, halaman atau memasuki ruangan, ada saja mafia yang menggunakan kursi roda itu.


Drake dan lainnya terkekeh karena merasa ucapan James ada benarnya.


"Kaupikir aku suka? Aku ingin segera berlari," sahut Kai dengan wajah sebal, tapi membuat para pendengar di sekitarnya terkekeh karena Kai menjadi sedikit tempramen semenjak sadar. Malah sikapnya seperti Han.


Tiba-tiba, Souta memasuki ruangan ditemani oleh Eko. Praktis, mata semua orang di ruangan tersebut tertuju pada mereka. Jarang terjadi, Eko menunjukkan wajah serius.


"Ini ... udah Januari. Ada hal penting yang Souta ingin sampaikan. Kita kumpul di Dojo," ucap Eko dengan wajah lesu.


Semua orang saling memandang dalam diam, tapi mengangguk menyanggupi.


Siang itu, Dojo penuh oleh para mafia. Orang-orang dibuat bingung termasuk dua suami Vesper yang merasa tak diberikan pesan apapun oleh sang isteri. Jeremy, Victor dan Yu Jie tetap berada di kamar Vesper dirawat.


Pertemuan itu direkam dan ditayangkan secara langsung ke seluruh jajaran 13 Demon Heads yang tak bisa datang berkumpul di lokasi.


"Ada apa? Kenapa serius sekali?" tanya Han cemas.


Eko menatap Souta saksama lalu mengangguk. Pria itu melangkah maju seraya menunjukkan sebuah amplop berwarna hitam kepada semua orang.


Kening orang-orang itu berkerut, tapi mereka mengenali stempel itu. Logo khusus Vesper dengan gambar kepala ular.


Mereka berbicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Vesper-sama mengajariku banyak hal selama tinggal di rumah kakek Takeshi. Termasuk surat ini. Beliau mengatakan padaku saat pertama kali muntah darah dan tak ada yang mengetahuinya, selain kami berdua," ucap Souta yang membuat orang-orang terkejut, termasuk Eko. Mereka seperti tak mengetahui hal itu.


"Apa isi amplop itu?" tanya Kai terlihat cemas.


"Aku belum membukanya. Vesper-sama mengatakan, "Ketika aku mulai memejamkan mata dan lama tak kembali, buka surat itu. Bacakan ke semua mafia dalam jajaran 13 Demon Heads. Pastikan mereka mendengarkan yang kauucapkan, Souta." Begitulah pesannya," ucapnya masih menunjukkan amplop hitam itu ke semua orang.


"Ya Tuhan. Perasaanku tak enak akan hal ini," sahut Buffalo dan diangguki orang-orang yang setuju dengannya.


"Buka," pinta Drake, dan Souta dengan sigap membuka stempel itu dengan hati-hati sebagai penutup amplop.


Jantung semua orang berdebar ketika Souta menarik isi kertas dalam amplop itu yang ternyata memiliki beberapa lipatan seperti ada banyak pesan di sana. Souta menarik napas dalam siap membacakan.


***

__ADS_1



uhuy tengkiyuw tipsnya😍 selamat menunggu waktu berbuka puasa. lele padamu❤️


__ADS_2