
Kabar dari Banu yang menginformasikan jika ibunya disekap oleh Miles di Mauritania, membuat Jordan yakin bila pelaku yang membuatnya menjadi monster berada di tempat tersebut.
"Kenapa?" tanya Jordan melirik Sandara yang terlihat gelisah akan sesuatu.
"Aku tak suka tempat ini, Jordan. Pengalaman pahit dan menyakitkan membuatku sulit bernapas," jawab Sandara pucat.
Jordan menatap Sandara lekat yang bersembunyi di balik batuan. Mereka mengintai reruntuhan dari rumah milik salah satu anak pak Sutejo.
"Kau tunggulah di sini. Jadilah tim penyelamat. Biar aku, Mix and Match yang masuk," pintanya.
Sandara mengangguk cepat. Gadis cantik itu seperti mengalami trauma hebat. Tubuhnya bergetar dan berkeringat dingin.
Jordan terlihat cemas, tapi mengingat dua algojo ibunya mengatakan ada pergerakan dalam rumah itu, membuat Jordan harus masuk untuk memastikannya.
"Beri kami tanda jika terjadi sesuatu di luar sini. Kau mengerti?" tanyanya masih menatap Sandara lekat seperti orang sesak napas.
Sandara mengangguk cepat. Jordan mengelus kepala saudara sepersusuannya lembut lalu pergi dengan mengendap di balik reruntuhan.
Sandara menyenderkan punggungnya di balik dinding. Terlihat, gadis itu berusaha untuk mengatasi kepanikannya.
"Semua itu sudah berakhir, Sandara. Tak ada lagi yang akan menyakitimu, tidak ada," ucap Sandara menenangkan hatinya yang dilanda kepanikan.
Di tempat Jordan berada. Pemuda itu berhasil mengendap setelah Match memberikan kode padanya berupa sinar laser warna merah dari senter yang digunakan oleh orang-orang Vesper.
"Bagaimana? Ada berapa orang?" tanya Jordan menatap dua algojo itu lekat.
"Sensor panas mendeteksi ada satu orang dalam ruangan paling ujung dari bangunan ini, Jordan. Mix baru saja mengeceknya. Anehnya, pergerakan yang kami lihat sebelumnya, mendadak tak terdeteksi dari sensor panas. Orang-orang itu seperti tiba-tiba saja menghilang. Bisa jadi, ini jebakan," jawab Match melaporkan.
"Apakah jalan menuju ke sana mudah diakses?" tanyanya berkerut kening. Mix mengangguk pelan. "Hem, kau benar, Match. Terlalu mudah. Sudah pasti jebakan. Kita pancing agar jebakan itu menunjukkan diri. Hal ini mengingatkanku saat bersama para Pion ketika kami terjebak dalam ruang bawah tanah perusahaan farmasi Elios. Waspada," tegasnya serius.
Dua pria bertubuh besar itu mengangguk. Mix and Match segera membuka tas ransel khusus perlengkapan mereka.
Jordan menoleh ke arah tempat ia meninggalkan Sandara. Tampak pemuda itu mencemaskan saudarinya yang dilanda kepanikan karena trauma masa lalunya.
"Kita berpencar. Sudah kuberi tanda pada bangunan di mana kutemukan keberadaan seseorang di sana. Hati-hati," tegas Mix dan diangguki oleh Jordan serta Match.
Jordan menyiagakan pedang Silent Red di pinggul sebelah kiri. Putera Boleslav tersebut juga menggendong tas ransel khusus berisi perlengkapan bertempurnya.
Jordan telah bersiap di posisinya dengan masker gas dan kacamata khusus. Ia menggunakan sinar laser yang sama, tapi ia arahkan ke tanah.
Mix and Match masih bisa melihat tanda itu karena bangunan di wilayah tersebut sudah nyaris runtuh sepenuhnya. Hanya beberapa yang terlihat kokoh berdiri.
Dua algojo Theresia membalas kode itu dengan dua kedipan sinar laser, pertanda mereka telah bersiap untuk beraksi.
Jordan menajamkan pandangannya. Dengan sigap, SWING!! DUK! DUK! DUK!
Jordan melemparkan Galundeng ke arah wilayah luar dari bangunan yang ditandai oleh Mix. Benar saja, saat bola-bola besi itu menggelinding di atas tanah, tiba-tiba saja, DODODODOOR!
Baik Jordan, Mix atau Match serta Sandara terkejut karena suara tembakan beruntun terdengar.
Sebuah senapan otomatis dengan sensor gerak muncul dari empat sisi wilayah itu menembaki Galundeng.
Jordan bergegas melemparkan granat berwarna abu-abu ke area tersebut. Gas itu menyeruak dan menutupi sekitar meski tembakan masih terdengar.
Sandara mengintip dari tempatnya bersembunyi dan melihat cara kerja Jordan serta dua tukang jagalnya.
Mata Sandara menyipit saat ia melihat Jordan menembakkan sebuah pistol berbentuk segitiga ke arah kepulan gas itu.
Seketika, percikan api terlihat dari empat senapan yang memberondong bola-bola Galundeng.
Praktis, sengatan listrik tersebut merusak komponen persenjataan dan membuat empat benda itu menghentikan aksi terornya.
"Senjata baru. Pasti buatan Boleslav Industries," guman Sandara pelan saat melihat Jordan mulai bergerak setelah ia merasa jika keadaan aman.
Sandara melihat sekitar dan mendapati sebuah pohon di dekatnya. Ia lalu memanjat untuk melihat pergerakan kubu Jordan dari atas.
Namun, saat ia menggapai sebuah dahan, "Oh! Apa ini?" Praktis, mata Sandara terbelalak lebar. Sebuah CamGun terpasang di balik rimbunnya pepohonan seperti sengaja disembunyikan.
"Jordan!" teriak Sandara lantang saat ia melihat CamGun tersebut mulai bergerak ke arah Jordan melangkah.
Pemuda itu langsung menoleh ke asal suara dan melihat Sandara panik di atas pohon. Mata Jordan melebar ketika ia melihat jenis senjata yang ia kenal.
"Oh, shitt," ucapnya pelan terlihat tegang.
DODODODODOR!
"Agh!" teriak Sandara lantang saat ia mengeluarkan belati Silent Blue yang ia sembunyikan di samping sepatu boots yang memiliki kantong.
__ADS_1
JLEB! CESS!!
Sandara menusukkan belati yang sudah dialiri laser ke kabel besar dari senjata pembunuh itu. Percikan api terlihat dan Sandara terus menggerakkan belatinya hingga leher dari CamGun terpenggal.
KRASS! BRANGG!!
CamGun tersebut jatuh dengan keras dari atas pohon seperti sebuah sarang lebah. Sandara bernapas lega karena berhasil melumpuhkan satu senjata yang hampir menewaskan saudaranya. Mata Sandara kembali tertuju pada Jordan yang berada di halaman.
Jordan yang dengan sigap berlari menghindar, berhasil meloloskan diri dari kejaran peluru CamGun yang nyaris membunuhnya.
Namun, saat ia bergulung ke samping dan kaki kanannya menginjak sebuah conblock, seketika ....
PIPIPIPIPI!
Suara nyaring seperti sebuah alarm peringatan akan ledakan terdengar. Mata Jordan dan Sandara melebar karena suara itu berada di sekitar mereka.
Benar saja, PIPIPIPI ... BOOM! BOOM! BOOM!
"AAAAA!" teriak Sandara lantang yang langsung jatuh dari pohon karena bangunan di dekatnya tiba-tiba saja meledak.
Beruntung, Sandara jatuh pada permukaan yang cukup landai sehingga tak terluka parah. Gadis itu berusaha untuk bangun dan menghindari ledakan yang ternyata seperti sebuah domino karena berurutan.
Saat Sandara berhasil bangkit seraya melindungi kepalanya dari lontaran puing, ia melihat Jordan terlempar karena bangunan di sebelahnya meledak hebat dan puing-puing tersebut mengenai tubuhnya.
Sandara berlari kencang mencoba menyelamatkan Jordan yang meringkuk di atas tanah melindungi tubuhnya.
Jordan seakan tak bisa berkutik karena ledakan-ledakan itu terus terjadi, seperti sengaja dibuat untuk meruntuhkan tempat itu atau mungkin bermaksud untuk menjebloskannya dalam tanah.
"Jordan! Get up!" teriak Sandara lantang terus berlari dan melindungi kepalanya menggunakan punggung dari tas ransel yang ikut ia bawa.
Jordan memejamkan matanya rapat. Ia seperti tak mendengar panggilan Sandara. Gadis itu terlihat berusaha keras menolong teman semasa kecilnya di mana keduanya dianggap aneh dan menakutkan oleh kebanyakan orang.
GRAB!
"Jordan!" panggil Sandara lantang yang berhasil menggapai tas ransel pemuda itu.
Jordan akhirnya membuka matanya dan melihat Sandara menarik tubuhnya paksa. Jordan mulai memahami kondisinya.
Pemuda itu berusaha menggerakkan kakinya untuk membawanya pergi dari tempat pembantaian tersebut.
Keduanya berlari kencang ke arah ledakan yang sudah terjadi sebelumnya dan menyisakan debu, asap, serta kobaran api yang terlihat seperti mengurung mereka di tempat itu.
"Terobos api itu!" seru Sandara lantang berlari kencang ke tempat yang ia tuju.
Saat keduanya berlari, tiba-tiba saja, KRAKK!! BRUSSH!!
"AAAAA!" teriak keduanya ketika tanah yang mereka pijak tiba-tiba saja ambles.
Jordan dan Sandara terperosok dengan cepat pada sebuah fondasi seperti seluncuran.
"Gapai sesuatu, Dara!" seru Jordan lantang di mana ia melihat jika di bagian dasar dari lubang itu terdapat besi-besi tajam seperti telah disediakan untuk memastikan korbannya tewas.
Mata Sandara melotot. Ia melihat besi-besi runcing tersebut siap untuk menusuk mereka. Sayangnya, keduanya tak mendapati apa pun untuk digapai.
Jordan menggunakan pedang Silent Red miliknya untuk menusuk fondasi itu dengan bantuan laser.
"AAAAA! JORDAN!" teriak Sandara lantang di mana ia jatuh lebih cepat ketimbang putera Boleslav tersebut.
GRAB!
"Agh!" erang Sandara karena Jordan menjambak rambut yang ia kuncir kuda.
"Agh! Maaf, aku hanya bisa meraih ini!" ucap Jordan yang menggunakan tangan kirinya untuk menahan pergerakan Sandara agar tak meluncur lebih jauh lagi.
Sandara memejamkan matanya rapat. Ia menahan sakit di kepala karena Jordan menarik kuat rambutnya seakan kulit kepalanya dirobek. Sandara menggapai kaki Jordan dan memeganginya erat dengan susah payah.
"Agh!" erang Sandara seraya memindahkan posisi tasnya ke depan dada.
Sandara mengambil sebuah benda dengan tergesa karena tubuh mereka berdua perlahan menurun karena beban yang berat.
"Dara!" teriak Jordan hingga seluruh tubuhnya memerah karena tak sanggup lagi bertahan dengan posisinya.
DOR! DOR! CESSS!!
"AAAAAA!" teriak Sandara lantang saat cengkeraman Jordan di rambutnya terlepas karena ikat rambut itu ditarik olehnya.
Sandara jatuh terperosot ke bawah dengan cepat. Mata Sandara melebar saat ia melihat besi di bawahnya mulai meleleh dan ujungnya sudah tak tajam lagi, tapi tidak demikian dengan besi yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
Dengan sigap, Sandara meletakkan tas ranselnya ke bawah kakinya seperti menjadikannya alas.
Sandara yang masih menggenggam senapan peleleh logam, menembaki besi-besi di sekitarnya dengan tergesa hingga tubuhnya gemetaran.
KRAKK!!
"AAAAA!" teriak Jordan yang pada akhirnya menyusul Sandara yang terperosot karena tangannya berkeringat dan ia tergelincir. Genggaman Jordan pada Silent Red terlepas dan membuatnya jatuh.
BRUKK!
"Hah, oh, aku selamat! Aku tak tertusuk!" ucap Sandara yang berdiri dengan posisi miring di mana punggungnya masih menyender pada papan coran dari fondasi bangunan tersebut.
Tas yang dijadikan pijakan, berhasil menyelamatkan kakinya dari lelehan logam. Namun, ia melihat titik jatuh Jordan tidak menguntungkan. Masih ada beberapa besi tajam yang tak berhasil ia lelehkan karena peluru habis.
"Jordan!" teriak Sandara lantang dengan mata melotot.
Jordan mencakar-cakar papan beton itu dengan dua tangannya. Sandara berusaha untuk menjangkau lokasi Jordan dengan memijak besi yang tak runcing lagi seraya menggendong tasnya.
Sayangnya, CRATT!!
"ARGHH!" erang Jordan saat kaki kanannya tertusuk dan menembus telapak kakinya.
Sandara dengan sigap menggenggam belati Silent Blue miliknya dan CESS! KLANG!! BRUKK!
"Agh! Aggg," erang Jordan saat ia roboh ke samping dan berhasil ditangkap Sandara.
Puteri Kai berhasil memotong besi tersebut. Sayangnya, ujung besi itu sudah menembus sepatu yang dikenakan oleh putera dari Amanda.
Napas Sandara tersengal. Ia melihat Jordan kesakitan. Ia melihat besi itu mencuat di punggung kaki sepatu boots saudaranya.
CRATT!
"ARGGHHH!" erang Jordan hingga ia mengeluarkan air mata saat besi itu dicabut paksa oleh Sandara.
Darah mengucur deras hingga membuat tubuh Jordan gemetaran menahan sakit.
Sandara membuka tasnya lagi dan mengambil sebuah suntikan. Jordan melirik Sandara seraya memegangi kakinya yang sakit luar biasa.
Sandara melepaskan sepatu boots Jordan dengan cepat dan melihat luka tusukan besar itu di kakinya.
CLEB!
"Emph," erang Jordan dengan rintihan tertahan saat ujung jarum itu menusuk kakinya dekat lubang luka. Sandara menatap Jordan lekat yang memejamkan matanya rapat.
"Itu akan mengurangi nyeri. Aku akan menyuntikkan serum untuk menghentikan pendarahan dan infeksi," ucap Sandara seraya membuang suntikan pertama yang telah ia gunakan.
Jordan mengangguk cepat dan terlihat percaya pada pengobatan yang Sandara lakukan. Darah itu dibiarkan menetes di mana posisi mereka berdua masih berdiri dan Jordan menopang tubuhnya dengan satu kaki.
Jordan membalik tubuhnya. Keduanya menyenderkan punggung pada papan fondasi miring tersebut.
CLEB!
"Hempf ... hempf ...," engah Jordan yang wajahnya sudah pucat dan tubuh gemetaran.
"JORDAN! SANDARA!" panggil Mix yang wajahnya terlihat dari atas.
"Oh, syukurlah mereka selamat. Tunggu, kami akan menolong kalian!" seru Match dan diangguki keduanya.
Sandara lalu melepaskan tas ransel Jordan dan meletakkan di atas besi yang sudah terpenggal kehilangan ketajamannya.
Sandara meminta Jordan duduk di sana karena tubuh pemuda itu lunglai. Sandara tak ingin Jordan roboh dan malah tertusuk oleh besi yang lain.
Sandara melepaskan jas anti pelurunya. Ia melepaskan kaos pelapis dan membiarkan dirinya hanya mengenakan bra saja. Kening Jordan berkerut saat Sandara menggunakan kaos itu untuk membalut kakinya.
"Aku sudah pernah telanjang sebelumnya dan dilihat oleh banyak orang. Tak perlu kaget begitu," ucap Sandara karena Jordan terbengong melihat gadis di depannya cuek saat menunjukkan tubuhnya yang padat.
Jordan diam dan tertunduk. Sandara mengenakan kembali jas anti pelurunya dan ikut duduk di samping Jordan dengan tas ransel sebagai alasnya.
"Kau berubah menjadi gadis yang kuat, Sandara," ucap Jordan lesu.
"Itu karena semua karena hal buruk selalu menimpaku, Jordan. Bahkan sampai hari ini. Petaka masih mendatangiku," jawabnya terlihat sedih.
Jordan diam menatap Sandara lekat yang pandangannya tertunduk melihat belati Silent Blue dalam genggamannya.
***
panjang nih epsnya krn tips dr mak ben yg koinnya kebangetan 😆 wah lele mau di swap hari ini. cuma kok rasa2nya positif ya karena berasa radangnya nih😩 doain lele selalu sehat walaupun terpapar covid. amin🙏
__ADS_1