4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Sang Puteri Kembali*


__ADS_3

ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST



----- back to Story :


Setibanya di Colmar setelah kurang lebih 5 jam perjalanan, akhirnya Sierra tiba di kediamannya. Semua orang terlihat sibuk, menyambut kembalinya majikan mereka yang sudah berubah watak tak manis seperti sebelumnya.


"Ada apa denganku? Kenapa rumahku menjadi menjijikkan begini? Pink? Lalu ... agh!" ucapnya marah saat mendapati rumahnya lebih mirip seperti istana negeri dongeng dengan beberapa perabotan di kamarnya mendominasi warna pastel yang lembut. "Pindahkan aku ke kamar lainnya! Mataku sakit melihat semua pemandangan mengerikan ini," perintahnya kesal yang kini duduk di kursi roda elektrik.


"Namun, kamar yang layak hanya tinggal ruangan tuan Tobias, Nona," jawab salah seorang penjaga.


Kening Sierra berkerut. "Tobias? Maksudmu ... Tobias si pria jalangg itu tinggal di rumahku? Dan kalian mengizinkannya?!" pekiknya melotot.


"Sierra. Apa ini sungguh kau?" tanya Smiley masih terlihat ragu.


Sierra mendengus keras, ia terlihat kesal.


"Katakan padaku yang sejujurnya. Jangan berbohong, aku akan tahu. Jawab, kenapa Tobias bisa tinggal di rumahku?" tunjuknya ke wajah Smiley yang berdiri di depannya.


"Tobias ayahmu."


Mata Sierra melotot lebar. "He, what?!" pekiknya makin marah.


Smiley dan semua orang yang berdiri di sekitar Sierra terlihat bingung dengan keadaan ini. Smiley akhirnya menceritakan semua hal yang ia tahu.


Pandangan Sierra tak menentu saat mendengar penjelasan dari pria tua di depannya, tapi kemudian, gadis cantik itu terkekeh terlihat geli.


"Hahaha. Oh, menggelikan. Sungguh. Aku iba pada diriku sendiri. Tapi, ya, terima kasih atas penjelasanmu, Smiley. Aku yakin kau mengatakan yang sejujurnya. Jadi, begitu ya. Baiklah. Aku ... tetap berada di kamar ini saja untuk sementara waktu," ucapnya seraya menghembuskan nafas panjang melihat sekitar dengan malas.


"Besok pagi, semua datang dan berkumpul," sambung Smiley sopan. Sierra mengangguk lalu mengibaskan salah satu tangannya meminta semua orang keluar dari kamar.


Orang-orang itu pamit undur diri. Sierra mengarahkan kursi roda elektriknya ke kamar mandi. Ia terlihat bersusah payah agar bisa berdiri tegak meski masih merasakan ngilu di kedua kakinya.


Ia melihat dirinya di cermin dengan sorot mata tajam, terutama pada kalung besi yang membelenggu lehernya. Sierra terlihat tak nyaman dengan benda itu di sana.


"Aku sampai seperti ini. Benar-benar tak bisa dimaafkan," ucapnya marah.

__ADS_1


Sierra melucuti pakaiannya dan berjalan perlahan menuju bath up untuk membersihkan diri. Sierra merendam tubuhnya di busa mewah air hangat dengan mata terpejam.


Namun, tiba-tiba ....


"Apa itu tadi?" tanyanya terlihat kaget dan langsung duduk melihat sekitar.


Sierra mengusap wajahnya hingga basah. Ia mencoba menenangkan diri karena jantungnya berdebar kencang. Ia terdiam sejenak seperti teringat akan sesuatu.


"Apakah ... itu kenangan? Terasa sungguh nyata," ucapnya seraya melihat kedua tangannya yang menengadah. Hingga matanya menyipit, saat mendapati sebuah cincin dengan kilau indah pada bagian manik warna merah dengan batu Ruby. Sierra melepaskan cincin itu, dan melihat sebuah ukiran tulisan di dalamnya. "Jonathan."


Sierra diam sejenak, tapi pada akhirnya tersenyum miring. Ia meletakkan cincin itu di samping bath up dan kembali merendam tubuhnya dengan mata terpejam.


"Ia pasti sangat mencintaiku. Hem, pria malang. Sierra bukan milik siapapun, bahkan kau Tobias. Sungguh memalukan, ternyata pria jalaang itu adalah ayahku selama ini. Oh, tapi aku penasaran. Jika aku memintanya kembali, apakah ... dia bersedia?" tanyanya dengan senyum licik.


Keesokan harinya. Semua orang dari pecahan The Circle berkumpul di ruang tengah menunggu kedatangan Sierra yang belum muncul padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


Smiley, Venelope, Pemimpin The Mask, Ungu, dan para pria bertopeng dengan nama narkotika terlihat sibuk berbincang entah apa yang dikatakan.


"Beri hormat! Puteri Sierra datang!" ucap seorang pria lantang, yang mengejutkan orang-orang di ruang tengah.


Sierra duduk di sebuah kursi roda terlihat begitu serius dan lincah, saat menggerakkan pengendali kursi rodanya. Orang-orang itu terdiam ketika Sierra menatap mereka tajam satu persatu.


CLEB!! CREETTT!!


Semua orang terkejut, saat Sierra menembakkan sebuah pistol setrum dan mengenai dada Venelope, hingga gadis cantik itu menggelepar di lantai terlihat begitu kesakitan.


"Hukuman kecil atas perbuatan licikmu yang melukai kakiku, menurunkan fungsi syaraf, motorik, dan ingatanku, Venelope. Menurutlah akan semua perintah yang akan kuberikan, maka ... akan aku pikirkan untuk tak membunuhmu sekarang," ucap Sierra seraya menarik kabel yang mencengkeram baju di dada Venelope dengan tombol otomatis dari pistol setrumnya.


"Hah, hah, lupakan saja!"


DOR!


"AGHHH!" erang Venelope saat Sierra menembak salah satu kaki wanita itu hingga ia kembali menggelepar di lantai terlihat begitu kesakitan.


Semua orang terlihat tegang seketika. Sierra menatap Venelope tajam.


"Aku tahu jika kau menginginkan posisiku. Kau telah kuberikan kesempatan, saat aku menjadi Sierra yang lain," ucapnya dengan wajah dingin melihat wajah Venelope sampai memerah memegangi kakinya yang sakit. "Sayangnya, kalian lihat sendiri 'kan? Dia tak becus, dia tak mampu, dan dia ... tak pantas menjadi seorang pemimpin," sambungnya melirik orang-orang yang terlihat iba pada kondisi Venelope. Para pria itu terdiam. "Kau bodoh, ceroboh, dan dangkal, Venelope. Sampai kapanpun, kau tak akan bisa menggantikan posisiku. Lihatlah yang terjadi pada The Circle atas ambisimu. Kau malah membuat kita terpuruk dan jatuh. Kita terpecah dan anggota kita berkurang drastis! Kau memalukan!" teriak Sierra marah dengan mata melotot lebar melihat wajah gadis itu sampai merah padam.


Ungu genit tersenyum tipis.

__ADS_1


"Maaf menyela, Puteri Sierra. Aku akan mengenalkan diri padamu. Aku Ungu, dan empat orang ini adalah pengikut setiamu. Aku melihat sebuah titik terang dari perjuangan kita untuk kembali berkuasa," ucap Ungu dengan senyum penuh maksud.


"Kita? Tak ada kita. Hanya aku. Sierra. Aku akan kembali memimpin, dan kalian semua, ada dalam kendaliku. Membangkang, aku tak segan mengirimkan wajah kalian semua ke kepolisian yang ada di seluruh dunia." Ungu dan lainnya terlihat kaget. Sierra tersenyum licik. "Kalian pikir, sedari tadi aku tak muncul karena masih tidur? Hehe, no, no. Aku memantau gerak-gerik kalian dari kamera pengawas di kamarku. Aku merekam semuanya. Jadi ... tunduk?" tanyanya seraya mengarahkan dua moncong pistol ke arah para pria di hadapannya dengan tatapan keji.


Ungu dan lainnya terkejut, saat semua penjaga di rumah Sierra yang berdiri di tiap sudut ruangan ikut mengarahkan pistol ke tubuh mereka.


Ungu dan lainnya menurunkan pandangan seraya membungkuk hormat, tanda mereka patuh.


"Oke. Jelaskan semua misi kalian. Awas saja jika berbohong, atau ada yang terlewat. Aku hadiahkan satu peluru di kaki kalian," ucapnya tegas. Orang-orang itu mengangguk paham.


Venelope tetap dibiarkan duduk di lantai dengan darah merembes di balik celananya. Orang-orang itu diminta datang tanpa menggunakan topeng. Wajah mereka terekspose kamera saat Sierra mengawasi selama satu jam penuh.


Senjata yang dibawa pun disita saat memasuki rumah, dan dikumpulkan di ruang tamu atas permintaan Sierra sebagai bukti, mereka bukan ancaman.


Namun kini, kondisinya telah berubah, hidup mereka terancam karena sudah dalam kendali Sierra.


"Hehehe, jadi begitu. Baiklah. Kita segera laksanakan dari rencana yang sudah kalian susun. Hanya saja, aku akan merombaknya. Cara kalian kuno dan sangat mudah ditebak. Aku yakin, jika kalian menggunakan cara tersebut, kalian semua akan pulang dalam kantong mayat," ucapnya tersenyum tengil.


"Lalu ... apa saran Anda, Puteri?" tanya pemimpin The Mask. Sierra tersenyum miring yang kemudian menjelaskan strateginya.


Orang-orang itu terlihat serius menyimak, termasuk Venelope yang sudah pucat pasi karena kehilangan banyak darah.


"Hem. Selamat datang kembali, Puteri Sierra. Kau sungguh pemimpin sejati. Baiklah, aku setuju dengan ide brilian Anda. Akan segera kami kerjakan," ucap Ganja dengan anggukan.


Sierra meminta agar Venelope dibawa ke ruang medis untuk segera diobati. Mantan pemimpin No Face tersebut dibuat tak berkutik atas kembalinya Sierra.


"Kau, kemari," panggil Sierra ke arah Ungu genit. Pria gemuk itu mendekatkan telinganya saat Sierra berbisik seperti memberikan sebuah misi.


"Okie dokie. Itu urusan mudah. Tunggu aja hadiahmu," ucap Ungu dengan centil.


Pandangan Sierra kembali ke para pria yang terlihat sibuk dengan ponsel, tablet dan laptop mereka untuk menyampaikan misi baru kepada anak buah mereka.


'Eh. Kenapa aku paham yang dikatakan si Ungu? Dia ... menggunakan bahasa apa? Apa aku mempelajari bahasa baru tanpa sepengetahuanku?' tanyanya dalam hati tak menyadari ketika Ungu berbicara bahasa Indonesia campuran padanya.


Sierra memegangi jantungnya yang berdebar. Ia kembali merasakan hal aneh ketika hatinya menyebut Jonathan.


'Sial. Bocah itu membuatku terus teringat padanya. Sepertinya Sierra si lemah jatuh dalam pelukannya. Apa ... aku pernah melakukan dengan si Jonathan itu? Jika ya, aku penasaran seperti apa kenanganku ketika bercinta dengannya,' ucapnya dalam hati yang tanpa disadari, senyum tipis muncul di wajahnya.


Smiley dan lainnya yang menyadari hal tersebut memilih diam, daripada terkena amukan pemimpin baru mereka.

__ADS_1


***


tengkiyuw tipsnya❤️ lele nitip koin krn kayanya cuti dubbing dl lagi sariwawan😩


__ADS_2