4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Yuki-Torin*


__ADS_3


Akhirnya, hari yang dinantikan tiba. Pernikahan Yuki-Torin dihadiri oleh seluruh mafia dalam jajaran 13 Demon Heads.


Pernikahan yang cukup mewah dari pasangan muda yang sudah saling mengenal cukup lama selama hidup dalam jajaran.


Torin terlihat tampan malam itu dengan tuksedo pernikahan warna putih. Anak dari mendiang Bardi masih mempertahankan rambut gondrong bergelombangnya yang membuat sosoknya terlihat makin dewasa sejak kejadian tragis beberapa tahun silam di Islandia di mana seluruh keluarganya tewas karena pembantaian yang dilakukan oleh Tobias. Namun siapa sangka, dendam itu masih menyelimuti hati Torin.


Ruang rias kamar Torin.


Kediaman Giamoco kini ditinggali oleh Torin sementara waktu untuk mempertahankan wasiat dari mendiang Axton yang sudah menjadikan pemuda berambut cokelat itu sebagai anak angkat.


"Aku tak pernah menyukainya. Aku hanya berpura-pura mengingat Lysa kini menjadi isteri dari bajiingan keparat itu. Aku sama sepertimu, Sultan. Aku menaruh dendam padanya. Kau tahu, betapa lelahnya aku harus berpura-pura menunjukkan senyum 'Joker'-ku ini di hadapan orang-orang jika aku menerima keberadaannya? Hem?" tanya Torin menunjukkan senyum palsu terkembangnya di hadapan mantan suami Lysa.


"Ya, sama, Torin. Hanya saja, aku tak bisa berpura-pura sepertimu. Wajahku tetap sama ketika aku sudah memutuskan membenci Tobias," jawabnya duduk di sebuah sofa panjang dengan kaki kiri memangku kaki kanan yang menopang.


"Aku mendukungmu, Sultan," sambung Torin seraya merapikan jasnya di depan cermin rias.


Javier tersenyum miring seraya beranjak dari kursinya. Sultan keluar dari kamar rias di mana Sauqi dan anak buah Jihad berjaga di depan kamar dari calon mempelai pria itu.


Torin menatap wajah tampannya yang menunjukkan kebencian mendalam pada sosok Tobias di mana ia ingat betul pembantaian yang dilakukan psikopat itu di rumahnya.


Torin memejamkan matanya sejenak dengan tarikan napas dalam lalu mengembuskannya panjang.


Javier berjalan menyusuri koridor seraya melihat dari balkon lantai atas ketika anak-anak berkumpul untuk bermain bersama di halaman belakang.


Senyum tipis muncul di raut wajah sang Sultan ketika melihat King D yang mulai tumbuh seperti anak tangguh dan memiliki tingkah laku layaknya pangeran, sedang duduk bersama sang ibu—Lysa—yang memangku bayi Fara.


"Kau semakin tampan, D. Mimi sangat merindukanmu. Apakah ... kau mau tinggal bersama Mimi untuk sementara waktu? Satu minggu di Jerman?" tanya Lysa dan King D mengangguk pelan.


"Tentu saja, Mimi. Menghabiskan waktu dengan Mimi adalah hal yang sangat D harapkan," ujar D bertutur sopan layaknya hidup di kasta kerajaan.


Senyum Lysa terkembang. Ia memegang pipi kanan King D dengan satu tangannya. Terlihat, kebanggan dalam diri Lysa kepada anak lelakinya itu.


"Hei! Apa kabar, D? Wah, kau sudah tak gendut lagi," sapa Tobias dengan senyum tengilnya.


King D yang duduk dengan manis di bangku, menatap Tobias saksama dalam diam. Lysa mengamati gerak-gerik King D yang terlihat lain ketika bertemu ayah tirinya itu.


"Salam, Tuan Tobias Al-Saleh," ucapnya memberikan salam dengan badan sedikit membungkuk seraya menelengkupkan kedua tangan di depan dada.


Kening Tobias berkerut. "Apa-apaan kau ini? Kau aneh," tanya Tobias memicingkan mata.


Tiba-tiba, King D langsung berdiri dengan wajah datar yang cukup mengejutkan pria bertato dan sang Ibu.


"Maaf, Mimi, dan Tuan Al-Saleh. D harus pergi dulu. Sepertinya, Baba sedang membutuhkan D saat ini. Salam," ucapnya sopan seraya membungkuk sedikit memberikan salam perpisahan.


Tobias terkejut. Sikap King D telah berubah sepenuhnya tak seperti kenangan terakhirnya ketika mereka berdua dulu sering melakukan hal konyol bersama.


"D! Kenapa kau memanggilku seperti itu? Aku Pipimu!" seru Tobias lantang yang membuat semua tamu di sekitar tempat itu langsung menoleh ke arah Tobias dan King D karena menarik perhatian.


Anak lelaki itu menghentikan langkah seketika lalu membalik tubuhnya. Ia berdiri dengan dua tangan saling menggenggam di depan tubuhnya terlihat tenang.


"Kau diberikan sebuah nama yang sangat mulia, Tuan Tobias Al-Saleh. Walaupun benar kau adalah Ayah tiriku, tapi maaf, aku kini lebih nyaman menyebutmu sebagai ... Tuan. Itu saja dariku, terima kasih," jawab King D sopan lalu membalik tubuhnya dan kembali berjalan dengan santai.


Javier datang dengan Habib dan Otong di sisinya. Tiba-tiba saja, raut wajah King D yang tadinya datar berubah menjadi senyum terkembang.


King D berlari mendatangi ayahnya dan memeluknya erat. Tobias terdiam saat Javier berbincang dengan anak lelakinya lalu menggandeng tangannya.


"Apa yang kaulakukan kepada anakku, Sultan keparatt!"


"Jaga ucapanmu, Tobias! Kau menghina Ayahku! Kau menghina Sultan!" tegasnya balas berteriak menunjuk Tobias di kejauhan. Suasana tegang seketika. Lysa kaget dengan perubahan sikap anak lelakinya kepada suaminya itu. "Inilah sebabnya, aku tak mau lagi menjalin hubungan apapun lagi denganmu, Tobias Al-Saleh. Kau mempermalukan gelar Al-Saleh dengan sikapmu. Harusnya, kau tetap bernama Tobias Flame. Ya, Flame ...," ucapnya di akhir kalimat seperti sebuah sindiran dengan memandangi beberapa orang keturunan Flame yang ada di sekitar tempat itu.


"Maaf. Kami akan ke ballroom saja. Lanjutkan pestanya," ucap Habib sungkan.


Javier terlihat tetap tenang seraya menunjukkan senyum menawan kepada semua tamu undangan saat menggandeng King D meninggalkan taman.


Tobias terlihat begitu marah karena King D seperti tak menyukainya. Lysa mendatangi Tobias mencoba menenangkan suaminya yang tempramental itu.


"Sudahlah, Toby. Jangan terlalu dipikirkan. Kau bisa dekat dengan King D lagi saat di Jerman nanti," ucap Lysa seraya mengelus punggung suaminya lembut.


"Sultan itu pasti mencuci otak dan menghasut King D hingga sikapnya jadi jelek begitu. Awas saja kau, Javier," geram Tobias menatap sosok Sultan yang semakin lama menjauh dari pandangannya.


Semua tamu memilih diam tak ingin ikut terlibat. Vesper dan para anggota dewan berkumpul di ballroom sehingga tak mengetahui perseteruan di taman.


Sandara Liu dikerubungi oleh para mafia senior seraya mengucapkan selamat padanya karena kembali dengan selamat, meski harus melakukan operasi wajah.


"Kau memang sangat hebat, Atid," puji Bojan kepada Dokter bedah tersebut.

__ADS_1


"Ohohoho, tentu saja. Itu juga berkat Albino," sambungnya.


"Lalu ... dia siapa?" tanya Martin menunjuk seorang gadis Asia yang berdiri terlihat sungkan di belakang dua Dokter itu.


"Oh, dia Sohee. Awalnya, dia adalah donor untuk Sandara. Namun, Dara berbaik hati. Dia membiarkan Sohee hidup. Sandara sengaja membiarkan luka di bahunya tetap terlihat sebagai pengingat akan kekejaman dari No Face," jawab Atid penuh sindiran seraya melirik Venelope dan Sierra yang datang mendampingi Jonathan.


Dua wanita cantik itu lalu berpaling dan memilih menjauh dari para mafia yang kini menatap mereka tajam.


Sandara dan orang-orang yang mengetahui kehamilannya, sengaja menyembunyikan hal itu dari para mafia demi keselamatannya, termasuk kesepakatan dengan Kolektor.


"Ceritakan pada kami, Dara. Kekejaman seperti apa yang mereka lakukan padamu hingga kau sampai harus berganti wajah seperti ibumu?" tanya Jamal penasaran.


"Sangat menyakitkan. Mereka bahkan melibatkan Lion dan Liu bahkan Afro," jawabnya menatap Jonathan dingin dari tempatnya berdiri. Pemuda itu tahu dirinya sedang disorot. Jonathan memalingkan wajah.


"Aku?" tanya Afro heran.


"Oh, maaf, Sayang. Maksudku ... Afro si anjiing. Mr. White menamai hewan itu untuk menjatuhkan mentalku. Sayangnya, tidak berhasil," jawab Sandara.


"Ah, ya. Aku ingat saat Arjuna mencarimu di tempat kau disekap kala itu. Tempat itu menjadi heboh karena polisi ikut terlibat. Sayangnya, tim Arjuna datang terlambat, sangat disayangkan," ucap Afro teringat kejadian silam.


Kening Sandara berkerut. "Kak Juna datang untuk menyelamatkanku?" tanya Sandara penasaran.


"Ya. Dia berperan cukup banyak. Dia awalnya juga disalahkan karena berpihak pada No Face. Namun akhirnya, dia mengaku jika itu semua adalah strateginya untuk mengetahui apa yang direncanakan oleh musuh. Dia mengorbankan dirinya," jawab Rohan.


"Ia juga melakukan banyak penebusan. Ia berurusan dengan para manusia topeng di beberapa tempat seraya mencari keberadaanmu. Dia menggunakan anak buahnya Bala Kurawa untuk mengamankan semua kediaman anak-anak pak Sutejo yang disinyalir tempat kau disekap. Namun, jejakmu tak ada. Ia malah mendapati Tessa dan pada akhirnya menikah dengannya. Hem, wanita No Face itu cukup memberikan banyak kontribusi untuk kita semua," tutup Yusuke menjelaskan.


Sandara terdiam seperti memikirkan sesuatu. Afro melirik calon isterinya sekilas lalu melanjutkan minum.


"Oke! Pengantin sudah siap. Silakan duduk di kursi yang telah disediakan. Terima kasih," ucap Zaid di hadapan para tamu yang mulai berkumpul di ballroom pagi itu. Orang-orang segera mengambil posisi.



Terlihat, Yuki memasuki ruangan dengan gaun putih indah dan kelambu menutupi wajah cantiknya.


Eiji terlihat begitu terharu karena pada akhirnya sang adik akan menikah dengan pria yang kali ini mendapatkan restunya.


Torin nampak gugup menunggu calon pengantin yang nantinya akan berdiri di sampingnya. Yuki berjalan perlahan dan membiarkan ekor dari gaun panjangnya menjuntai menutupi jejak langkahnya.


Semua orang tersenyum saat pengantin itu melewati mereka. Lysa terlihat begitu bahagia karena sahabat karibnya akan menjalani kehidupan seperti dirinya, meski Lysa berharap jika rumah tangga Yuki lebih baik darinya.


Akhirnya, dua mempelai itu telah berdiri di hadapan pengesah pernikahan. Semua orang terlihat hikmat dan menunjukkan senyum saat janji dari dua insan yang saling mencintai terucap.


Rohan yang duduk di sebelah Nandra menatap Ibu muda itu lekat. Terlihat, Ryan seperti tak merasa kehilangan karena sosok ayah tak pernah hidup di sisinya.


"Hei, aku Rohan," ucap pria asal India tersebut mengajak Ryan Giamoco bersalaman.


"Ryan," jawabnya sopan seraya menyambut jabat tangan tersebut.


Tiba-tiba saja, Rohan merangkul Ryan lalu pandangannya kembali ke dua pasangan yang kini sedang berciuman dan mendapatkan tepuk tangan meriah dari para tamu undangan.



Acara dilanjutkan dengan jamuan di kolam renang. Dekorasi apik dari Wedding Organizer Zaid-Jonathan, dipercaya oleh Torin dan Yuki sebagai penyelenggara acara pernikahan mereka.


Acara begitu meriah di mana para tamu akan menginap di kediaman Giamoco karena pesta akan berlangsung hingga malam sebagai jamuan terakhir sebelum esok hari para tamu kembali ke negara masing-masing.


Di acara itu, Vesper juga mengungkapkan tentang acara pernikahan Sandara dan Afro di mana mereka sudah bertunangan cukup lama.


Tentu saja, hal baik ini disambut meriah oleh para mafia. Terlihat gadis cantik yang telah berganti rupa menunjukkan senyum manisnya.


Namun, ada satu wajah masam yang nampak diantara kebahagiaan seluruh orang. Mata Jonathan mengunci sang Ibu di kejauhan yang sedang berdansa dengan Han, sedang Sandara berdansa dengan sang ayah di tepi kolam.


Jonathan beranjak dari tempat duduknya mendatangi Eko yang sedang asyik bermain ular tangga bersama seluruh komplotannya dengan gembira di mana jika ada satu orang yang kalah, dia harus menceburkan diri ke kolam renang lengkap dengan pakaian yang sedang dikenakan.


"Om Eko," panggil Jonathan berdiri di belakang para kerumunan orang-orang yang menunggu giliran bermain ular tangga. Bahkan, Obama Otong ikut serta. Namun, keriuhan di sekitar Eko, membuat pria gundul itu tak mendengar panggilannya. Jonathan mulai tersulut emosi. "OM EKO!"


Praktis, semua tamu langsung menoleh ke arah Jonathan karena teriakannya.


"Apa sih, Jon, teriak-teriak?" tanya Eko terlihat jengkel.


"Lagian dipanggil baik-baik gak denger," jawabnya ketus.


"Wong rame ya mana denger. Ada apa?"


"Di mana Cassie?"


"Mana Om Eko tau. Tanya yang tinggal di Kastil Borka sono. Om Eko 'kan sekarang tugasnya keliling. Rumah Om sekarang di Turki."

__ADS_1


Jonathan tak bicara lagi dan langsung berpaling. Eko dan komplotannya menatap Jonathan tajam.


Eko melirik Eiji di kejauhan. Suami dari Monica tersebut memalingkan wajah. Suasana kembali tenang, meski Jonathan tetap menjadi sorotan beberapa orang di pesta.


"Om Eiji," panggil Jonathan seraya mendekat.


"Ada apa?" tanyanya terlihat asyik menyuapi anak lelakinya dengan potongan buah segar dalam mangkok.


"Di mana Cassie?"


Eiji mengangkat kedua bahunya. "Saat aku kembali bersama ibumu untuk mencari keberadaan Sandara, dia sudah tak ada. Orang-orang di Kastil Borka tak sadarkan diri. Cassie tak ditemukan di kamarnya berikut seluruh perlengkapannya. Sepertinya, Miles menculiknya," jawab Eiji dengan wajah datar, tapi membuat mata Jonathan melotot seketika.


"Gak dicari gitu?"


Eiji menatap Jonathan saksama. "Sudah, tapi tak ketemu."


"Cari yang bener dong!"


"Kenapa harus aku yang mencarinya?! Dia tanggungjawabmu! Masih beruntung Cassie ditemukan saat dia dikurung oleh Miles! Jangan hanya bisa menghamili anak orang, tapi kau cuci tangan begitu saja! Jika kau mencintainya, cari dia!" jawab Eiji garang hingga anak lelakinya terkejut karena sang ayah tiba-tiba menunjukkan sisi lain darinya.


Napas Jonathan memburu. Click and Clack segera mendekat dan meminta Jonathan untuk menyingkir dari hadapan Eiji yang melotot tajam padanya.


Monica datang mendekat seraya membawa dua gelas coctail ke arah suaminya.


"Dia berubah, Sayang. Bersabarlah," ucap Monica pelan seraya meletakkan gelas untuk Eiji di meja.


"Hah! Aku kesal. Sungguh, dia tak mau repot dan bisanya hanya menyuruh. Bahkan dia berani membentakku. Tak tahu sopan santun," gerutu Eiji masih tersulut emosi.


Anak lelaki Eiji langsung turun dari tempat duduk lalu memeluk ayahnya yang dilanda amarah.


Seketika, hati Eiji yang panas langsung dingin ketika sang anak menepuk punggungnya dengan tangan kecilnya. Monica tersenyum dan Eiji terharu.


"Jadi ... Anda mempercayakan kami untuk mempersiapkan pesta pernikahan Sandara-Afro bulan depan?" tanya Yena gugup.


"Ya. Buat yang sederhana, tak perlu mencolok, tak usah mewah. Lima miliar saja, tak usah banyak-banyak. Samakan, pesta untuk sehari semalam. Jumlah tamu sama seperti hari ini. Aku tak mau calon pengantin terlalu lelah," jawab Vesper santai seraya menyuapi bayi Fara yang ia pangku sedang menikmati buah pisang dengan lahap.


"Lima milyar? Sederhana? Hem, oke," jawab Zaid yang merasa 5 miliar bukanlah angka yang sedikit meski Vesper mengkategorikannya dalam rupiah.


Pasangan muda itu mengembuskan napas panjang karena bingung dalam mengkonsep acara sederhana dengan uang sebanyak itu.


Zaid dan Yena mohon diri untuk menemui calon pengantin yang kini sedang menikmati makan siang di tenda.


"Hai," sapa keduanya.


"Oh, halo. Duduklah," jawab Afro santun.


Yena dan Zaid duduk di hadapan keduanya pada sebuah meja bundar hasil dekorasi mereka.


"Oke. Jadi ... nyonya Vesper sudah memberikan amanat pada kami untuk pernikahan kalian," ucap Yena memulai pembahasan pesta pernikahan.


"Baiklah. Berapa semuanya?" tanya Afro terlihat gugup menunggu angka yang akan disebutkan.


"Lima miliyar," jawab Zaid dan Yena bersamaan.


"What?! Li-lima ... what?!" pekiknya terkejut. Sandara diam tak berkomentar. Yena dan Zaid meringis. "Pesta seperti apa hingga menghabiskan lima miliar? Oh, aku seperti terkena serangan jantung mendadak," ucapnya seraya memegangi dadanya.


"Oleh karena itu, kami tak tahu seperti apa konsepnya. Hanya saja, kau tak perlu khawatir, nyonya Vesper yang akan membiayainya," jawab Zaid. Spontan, Afro bernapas lega.


"Lima miliar terlalu banyak. Kita bisa menghematnya menjadi ... 2 miliar saja," sahut Sandara.


"Ya, aku setuju. Jujur, aku juga merasa sedikit beban dengan lima miliar, tapi pestanya sederhana. Aku tak bisa mendiskripsikan sederhana dalam kategori nyonya Vesper seperti apa," jawab Yena terlihat pusing.


Sandara tersenyum. "Aku tahu. Akan kuberikan detailnya esok pagi. Masih ada waktu 'kan?"


"Ya, tentu saja. Oh, aku senang masalah ini selesai. Aku khawatir tak bisa tidur nanti malam karena memikirkan pesta pernikahan kalian. Baiklah, kami pergi dulu dan ... selamat ya. Semoga pernikahan kalian berdua nanti lancar," ucap Yena dengan senyum terkembang seraya berdiri.


Zaid mohon pamit bersama sang isteri karena ingin ikut menikmati pesta. Sandara melihat sekeliling di mana para petugas yang disertakan untuk mengurusi pernikahan adalah para anggota The Circle milik Jonathan karena diketahui dari gelang pemenggal yang dipakai oleh mereka.


Afro seperti menyadari pergerakan mata calon isterinya itu. Namun lagi-lagi, Afro memilih diam dan hanya mengamati.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


Okeh tengkiyuw tipsnya. Lele padamu❤️ Maap upnya kesiangan karena kerjaan menggila. Jangan lupa makan siang dan epsnya puanjang bgt nihhh~ uhuy 300 eps🎉


__ADS_2