
Tobias kembali memberontak. Namun, karena ia menggunakan sarung dan belum terbiasa, pria bertato itu malah jatuh tersungkur karena sempitnya sarung yang ia gunakan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Iki bocah angel tenan ya. Ngalahin ribetnya nyembeleh sapi. Seif! Seret si Tobil!" teriak Eko garang memegangi kedua kaki Tobias dalam apitan ketiaknya.
Lysa tak bisa berkutik apalagi menolong suami barunya. Ia malah tertawa terbahak bahkan sampai menangis. Ia tak menyangka, jika awal kehidupannya dengan Tobias akan seheboh ini.
"Lepaskan aku, Keparat! Singkirkan tangan kotormu dari tubuhku!" teriaknya mengamuk, tapi Eko dan Seif tidak peduli.
Lysa mengikuti Tobias di belakang dua bodyguard ibunya itu. Saat mereka keluar kamar, Tobias dibuat malu setengah mati saat rumahnya telah ramai orang dari jajaran Vesper yang tersenyum melihatnya.
"Apa-apaan ini? Kenapa mereka semua bisa ada di sini?!" pekik Tobias marah besar.
"Sudahlah, Sayang. Tak ada gunanya kau melawan. Kini, mama yang mengendalikan semuanya. Ikuti saja alurnya dan jangan menyakiti dirimu sendiri. Cinta itu memang butuh perjuangan. Aku akan menemanimu, jangan takut," ucap Lysa dengan senyum terkembang.
Nafas Tobias menderu. Pecinya sampai terlepas, tapi Lysa memasangkannya lagi. Eko yang gemas malah mencabuti bulu kaki Tobias hingga pria itu semakin meraung-raung.
Ternyata, Sierra dan Jeremy ikut datang ke rumah itu. Mata Tobias terbelalak saat melihat anak perempuannya berjalan mendekatinya.
"Hay, Dad. Aku senang akhirnya kau mendapatkan hati wanita yang kau cintai. Aku doakan semoga kau bahagia. Sebaiknya, kau fokus pada hidup baru kalian berdua. Biarkan aku yang kini mengurusnya bersama Jonathan. Lebih baik, kau temani Mimi Lysa yang sedang hamil calon adikku. Aku ingin adik perempuan. Semoga, aku tetap lebih cantik darinya," ucap Sierra dengan senyum terkembang.
Tobias terdiam tak memberontak lagi setelah mendengar ucapan Sierra. Tubuhnya dibopong oleh Seif dan Eko seperti sebuah batang kayu basar.
Tobias kini sungguh pasrah, ketika dirinya dibawa ke ruangan lain di mana Jeremy ternyata sudah siap untuk melakukan sunat padanya.
Tobias terlihat panik meski Lysa menemani sang suami di sampingnya.
"Tak apa. Ini memang harus dilakukan," ucap Lysa mengelus lembut kepala lelaki bertato yang ketakutan karena pergelangan kaki dan pergelangan tangannya diikat kuat termasuk dadanya oleh Eko serta Seif.
"Aku pasti ditipu. Kalian akan memotong habis pen*sku 'kan? Mengaku saja!" teriak Tobias kesal.
Eko dan Seif mendesah malas. Tiba-tiba, Eko menurunkan celananya termasuk semvaknya.
"AAAA!" Lysa menjerit histeris dan langsung memalingkan wajah menutup kedua matanya dengan tangan.
Seif dan semua orang di dalam ruang operasi terkejut saat Eko dengan cuek menunjukkan kejantanannya pada Tobias yang kini menatap junior-nya tajam.
"Cuma begini doang. Lebih enak itu kalo juniormu pesek. Itu punyamu masih tajem, tau gak! Bahaya! Lebih aman juga buat Lysa nanti. Kalo gak disunat, itu nunukmu bawa penyakit. Ngeyel lagi, tak jejelin mulutmu pake punya Eko lho ampe keselek. Diem gak? Ha? Ha?" ucapnya malah menampar pipi Tobias dengan junior-nya.
Seif dan semua pria di sana berteriak histeris. Mereka menjauh dari Eko yang malah memukul-mukul pipi Tobias dengan kejantanannya.
"Singkirkan tongkat jelekmu itu! Kau menjijikkan!" teriak Tobias murka.
__ADS_1
Eko tersenyum miring sembari memakai celananya lagi dengan cuek. Jeremy lemas dan langsung duduk di sofa terlihat pucat.
Seif langsung menjaga jarak dengan Eko. Semua orang terlihat ngeri dengan sikap salah satu bodyguard Vesper tersebut.
Lysa masih menutup wajahnya dengan tubuh gemetaran tak berani menoleh karena khawatir jika Eko masih berdiri di sana padahal sudah keluar dari ruang operasi.
Tobias terdiam. Ia ikut shock karena perlakuan tak lazim dari bodyguard ibu angkatnya itu. Seif memberikan Jeremy minum dan terlihat, Profesor itu mulai tenang dan siap mengoperasi Tobias.
"Aku akan memberikan bius lokal. Ini tak sakit, sungguh. Kau tatap saja wajah cantik isterimu dan bayangkan hidup bahagia bersamanya," ucap Jeremy terlihat siap untuk menyunat Tobias.
Tobias memejamkan mata. Ia seperti berusaha menenangkan diri. Lysa mulai membuka mata dan kini menatap wajah Tobias seksama.
"Setelah ini apa?" tanya Tobias saat Lysa duduk di sebelahnya sembari mengelus kepalanya lembut ketika Jeremy sedang memulai proses operasi kecil itu.
"Yah, persyaratan yang harus kau jalani untuk bisa masuk ke agamaku, Toby. Terima kasih, kau mau berkorban banyak untukku. Aku tahu, hal ini sangat sulit untukmu. Meski aku tahu ini terlihat seperti paksaan, tapi aku yakin kau akan terbiasa nantinya," jawab Lysa sembari mengecup kening Tobias lembut.
Tobias terdiam. Ia merasa lelah dengan dirinya sendiri, tapi lebih tepatnya stress karena banyak hal mengejutkan begitu ia membuka mata pagi tadi.
"Aku masih menyimpan kitabmu dulu saat kau kusekap, Lysa. Aku suka mendengar ketika kau membaca buku itu, seperti orang bernyanyi meski aku tak mengerti apa yang kau katakan," ucapnya dengan wajah sendu.
"Aku akan membacakannya lagi tiap malam sebelum kau tidur. Anggaplah seperti sebuah dongeng pengantar tidur. Kau sama seperti King D. Dia juga terlihat nyaman ketika aku membacakan Al-Quran untuknya," jawab Lysa dengan senyum terkembang.
Tobias mengangguk pelan terlihat lesu. Lysa tersenyum dan membelai lembut wajah suaminya. Semua orang yang mendengar terdiam dengan senyum tipis.
"Oke, sudah selesai. Selama luka ini belum kering, Seif yang akan memandumu. Atau kau ingin Eko yang mendampingimu?" tanya Jeremy sembari melepaskan sarung karetnya.
Semua orang tersenyum geli dan mengangguk. Tobias dipindahkan ke kamarnya lagi yang telah dirapikan oleh pion Dakota dan Daido.
Seif dan Daido yang kini menemani Tobias sampai luka pada kejantanannya mengering. Setelah itu, Tobias akan di-Islamkan oleh Seif di kediamannya berikut mengajarkan secara kilat apa saja yang harus ia ketahui sebagai seorang muslim.
Tiga hari Vesper dan jajarannya tinggal di kediaman Tobias. Pagi itu, Vesper dan rombongan siap untuk pergi meninggalkan mansion Tobias di Cuba.
Lysa terlihat sedih saat Ibunya akan kembali ke Rusia bersama orang-orang dalam jajarannya kecuali Eko dan Seif.
"Aku akan sangat merindukanmu, Mah," ucap Lysa sedih.
Vesper tersenyum sembari mengusap lembut pipi anak perempuannya. Tiba-tiba, "Mimi!" teriak King D yang turun dari mobil ditemani Obama Otong dan Han.
Senyum Lysa makin terkembang. Ia memeluk anak lelaki yang sangat disayanginya itu. Lysa menciumi pipinya dengan mata berlinang. Terlihat, senyum King D merekah dan memeluk Ibunya erat dalam gendongan.
"Oh, kau melengkapi kebahagiaanku, Mah," ucap Lysa terharu.
"Tentu saja, Sayang. Kau pantas bahagia. Baiklah. Jaga diri kalian baik-baik. Kita akan bertemu lagi," ucap Vesper dengan senyum terkembang, ikut memeluk anak dan cucunya.
__ADS_1
King D melambaikan tangan saat Vesper dan lainnya masuk ke mobil. Lysa meneteskan air mata karena harus berpisah lagi dengan sang ibu karena ia tahu jika Vesper masih memiliki banyak kesibukan di usianya yang mulai senja.
"Where is Pipi?" tanya King D.
"Oh, you miss Pipi? Come on," ajak Lysa menggendong anak lelakinya yang terlihat makin menggemaskan dan tampan dari hari ke hari.
"Pipi!" panggil King D yang diturunkan dari gendongan Lysa dan kini berlari mendatangi ayah tirinya.
Namun, Tobias langsung berdiri seperti menghindar. King D terlihat bingung dan menatap Tobias seksama.
"Jangan minta gendong atau mengajak Pipi bermain dulu. Pipi sedang sakit," tunjuknya sembari mentutupi kejantanannya yang tertutupi sarung dengan kedua tangan.
"Sick?" tanya King D lugu. Tobias mengangguk.
Namun, King D malah semakin agresif. Ia naik ke atas ranjang ingin memeluk Ayahnya. Tobias panik dan melompat dari atas ranjang untuk menghindari serangan King D yang mematikan.
"Hahaha! Hahahaha!" tawa King D riang karena mengira Tobias mengajaknya main.
Lysa bahkan ikut tertawa terbahak ketika Tobias menyelamatkan diri dengan mengunci dirinya di kamar mandi.
"Pipi! Pipi!" panggil King D sembari menggedor-gedor pintu mulai terlihat sedih karena diabaikan.
Lysa mendekati anak lelakinya dan menggendongnya.
"Hei. Kita cari kamar untuk King D. D akan tinggal di sini dengan Mimi dan Pipi. Oke?" ajak Lysa dan King D bertepuk tangan terlihat senang.
"Terus iki pie? Kuda pony-nya ngikut majikannya loh," pekik Eko yang malah membawa kuda pony sungguhan pemberian Javier ke dalam rumah.
"Pony!" teriak King D riang dan minta diturunkan.
"Nanti buat kandang aja di halaman belakang, Om Eko. Bawa keluar dulu aja," pinta Lysa karena Eko malah membawa binatang itu masuk ke kamar.
Eko mengangguk dan menggiring hewan berkaki empat itu termasuk King D dan Otong ke halaman belakang diikuti Daido serta Seif.
Namun, Lysa tersentak seketika.
"Eh, bagaimana bisa kuda pony King D ada di sini? Siapa yang mengantarkannya?" tanya Lysa curiga menatap Dakota tajam.
Mata salah satu Pion D tersebut melebar seketika. Lysa dan Dakota langsung berlari keluar rumah untuk melihat siapa pengantar hewan tersebut.
Mata Lysa terbelalak ketika mendapati Javier berdiri di pintu gerbang rumah Tobias yang terbuka lebar dengan Hakim dan Sauqi di kanan kirinya berwajah dingin.
***
__ADS_1
tengkiyuw tipsnya. lele padamu❤️