4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Dipermainkan


__ADS_3

Kedua tangan Sandara gemetaran. Ia berkeringat hebat hingga dress setinggi lutut dan rambutnya basah kuyup seperti orang terguyur hujan.


Wajah Sandara pucat dan jaraknya dengan Afro-anj*ng jenis Golden Retriever-sudah semakin jauh.


BRUKK! SRAKK!


"GUK! GUK!"


Afro berlari mendekati Sandara yang jatuh tergolek lemas di atas tanah dengan mata sayup dan nafas lirih.


Afro mengitari Sandara yang tak bergerak selain dadanya yang membusung dan mengempis karena oksigen di paru-parunya terasa terhimpit.


Perlahan, Sandara memejamkan mata dan tak sadarkan diri. Afro terus menggonggong dan setia menemani Sandara. Persediaan bahan makanan di dalam gerobak jatuh berserakan di atas tanah.


Sinar matahari yang terik mulai pudar dan silaunya tertutupi oleh rimbunnya dedaunan pohon yang tumbuh di sekitar.


Hingga akhirnya, Sandara merasakan jika wajahnya basah oleh sebuah benda yang terasa kasar menyentuh kulitnya. Mata sipit dari gadis Asia itu mulai terbuka dan berkedip berulang.


GUK! GUK!


Afro kembali menggonggong setelah berhasil menyadarkan Sandara dengan menjilati wajahnya.


Sandara membuka matanya semakin lebar dan melihat jika ia masih tergeletak di jalan tempat ia roboh tadi. Sandara mengumpulkan tenaga dan perlahan bangun dengan tubuh yang kotor.


Ia mendongak ke atas langit dan melihat jika awan mulai berkumpul seperti akan turun hujan. Angin berhembus kencang hingga menghempaskan rambutnya yang panjang.


Sandara memejamkan mata karena angin kencang membuat debu-debu di sekitarnya mengenai tubuh rampingnya.


Suara gesekan daun-daun yang tumbuh di sekitarnya mulai memperdengarkan suara berisik, ditambah gemuruh tanda akan turun hujan.


Sandara mulai panik dan segera berdiri. Namun, kakinya terasa sakit. Luka lecet di kakinya mulai bernanah. Sandara terlihat begitu takut jika ia terkena infeksi dan membuat lukanya membusuk.


Sandara berusaha bangkit meski tertatih dan menahan sakit. Ia berjalan pincang mendekati gerobaknya yang sudah jatuh miring dan membuat makanan-makanan itu berserakan di jalanan. Sandara memungutnya satu persatu dengan tetesan air mata.


Tangisannya mendahului tetesan air hujan yang belum mengguyur wilayah itu. Sandara kembali memasukkannya ke dalam gerobak meski makanan-makannya itu sudah kotor terkena tanah. Sandara tahu konsekuensinya.


Ia melihat jam tangan dan waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang di mana ia seharusnya sudah tiba di tempat tujuan. Sandara berusaha sekuat tenaga dan kembali melangkah dengan mendorong gerobak itu.


Afro kembali berjalan di depan membimbing Sandara melewati jalan berliku untuk menuju ke tempat yang diperintahkan.


Hingga akhirnya, Sandara melihat atap rumah berwarna biru. Ia terlihat begitu lega dan energinya serasa kembali karena ia tahu, jika tempat tujuannya sudah di depan mata.


Namun tiba-tiba, angin berhembus kencang dan udara dingin mengusik tubuh rampingnya. Sandara cemas dan berusaha melangkah lebih cepat.


Hanya saja, alam menghendaki lain. Hujan mengguyur wilayah itu dengan cepat. Sandara hanya bisa pasrah ketika tubuhnya diguyur hujan.


Meski demikian, senyumnya terkembang. Ia tak sendirian karena ada Afro yang ikut basah kuyup bersamanya.


Sandara terus melangkah di jalanan yang mulai becek dan pada akhirnya, ia sampai di tempat tujuan.

__ADS_1


Namun seketika, mata Sandara melebar. Ia mengenali kawasan itu. Tempat tersebut adalah wilayah tempat ia tinggal.


Ia melihat para pria yang menugaskannya tadi sedang bermain bola dalam guyuran air hujan dengan wajah gembira.


Sandara sakit hati, ia merasa dipermainkan. Afro sudah berlari menjauh darinya dan malah ikut bermain bola.


Mata semua pria langsung tertuju pada Sandara yang berdiri dengan gerobak merah muda masih dalam genggamannya.


Mereka bicara bahasa Spanyol.


"Oh, lihatlah, siapa yang sudah kembali," ucap pria berkulit cokelat yang bertelanjang dada dan bertolak pinggang, tersenyum meledek dari kejauhan.


Sandara diam saja dan pada akhirnya kembali melangkah menuju ke tempat ia ditugaskan. Para pria itu diam menatap Sandara yang memasang wajah datar.


"Kau tepat waktu. Kau mengantarkan persediaan di tempat yang benar. Bawa masuk semua makanan-makanan itu. Ya, itu adalah persediaan makananmu, hehehe," kekeh seorang pria bertubuh besar mengejeknya.


Sandara marah. Ia mendatangi pria itu dan memukulinya, tapi pria itu malah tertawa kencang. Pukulan Sandara tak berdampak apapun pada dirinya. Sandara menangis dan terus memukulinya.


PLAK!!


"Agh!" rintih Sandara jatuh tersungkur di atas rumput saat sebuah tamparan kuat mengenai wajahnya.


Sandara kembali menangis dan memegangi pipinya yang sakit. Afro mendekatinya dan mengendusnya. Sandara menguatkan hatinya dan berusaha untuk tetap tegar.


Mr. White melihat dari kejauhan dan diam saja tak melakukan apapun di teras pondok tempat ia tinggal.


Sandara kembali bangkit. Ia berjalan pincang mendekati gerobak persediaannya. Makanan-makanan itu terendam air di dalam bak merah muda gerobak miliknya. Sandara mendorongnya sampai ke teras pondok.


Ia membuka pintu rumah dan membawa satu-satu bahan makanan itu ke dalam lalu ia letakkan di atas meja. Sandara menutup pintu dengan wajah datar usai melakukan tugasnya.


Ia berjalan dengan kaki pincang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekitar 15 menit di dalam sana, akhirnya Sandara keluar dengan piyama handuk menyelimuti tubuhnya.


Sandara menaiki tangga menuju ke kamar. Ia mendekati kotak obat dan mengambil beberapa di sana. Sandara duduk di pinggir ranjang dan mengobati lukanya yang mulai benyek karena terkena air.


Sandara yang pernah mempelajari ilmu medis dari Jeremy, terlihat tak mengalami kesulitan meski ia seperti akan menangis karena menahan sakit di kakinya.


Sandara membalut lukanya dengan wajah sedih masih tampak jelas di paras cantiknya. Sandara menarik nafas dalam dan kini beranjak dari dudukkan mendekati lemari untuk berpakaian.


Sandara mengenakan baju latihan yang telah dipersiapkan di mana semua isi almari adalah satu set baju berwarna putih.


Beberapa kaos lengan panjang begitupula celananya. Ia juga memakai sepatu kets berwarna putih yang telah di sediakan.


Sandara menuruni tangga dengan wajah tanpa ekspresi mendekati meja makan yang telah dipenuhi oleh bahan makanan yang kotor terkena tanah dan basah.


Gadis cantik itu membersihkan buah-buahan yang kotor terkena tanah dan membuang semua bungkus dari makanan kemasan karena sudah layu terendam air.


Sandara mengepel lantai dan meja yang basah. Anak perempuan Kai tersebut terlihat begitu lelah.


Ia memakan apapun yang bisa ia makan langsung tanpa harus memasaknya. Sandara terlihat seperti orang kelaparan, ia memakannya dengan rakus.

__ADS_1


"Papa ... mama ... Dara di sini ... kenapa kalian tidak bisa menemukanku? Aku berada di luar cukup lama, apakah GIGA tak bisa melihatku?" tanyanya sedih seraya meletakkan dahinya di atas punggung tangan yang ia lipat di atas meja.


Diliputi kesedihan, Sandara kembali tertidur di meja makan dalam posisi wajah telengkup di atas meja. Cukup lama ia dalam posisi itu hingga kembali terbangun.


TRINGGG!!


Mata Sandara langsung terbelalak lebar dan duduk tegap. Ia baru menyadari jika ia masih berada di meja makan dengan beberapa bekas makanan di hadapannya.


Sandara merasa kepalanya pusing dan badannya sakit di seluruh bagian. Ia juga merasa demam dan tubuhnya panas.


Sandara berjalan tertatih mendekati weker tersebut menaiki tangga. Ia lalu duduk di pinggir ranjang dan terlihat ragu untuk menekan alarm tersebut, tapi akhirnya ia melakukannya.


KLEK!


"Hai, good evening, Sandara. Kau sepertinya lelah. Namun, kau tak boleh patah semangat ya. Kenapa aku mengatakan demikian? Jika kau masih lemah seperti ini, akan sangat mudah bagiku untuk membunuhmu. Aku ingin pertarungan sengit denganmu, Dara. Bukan sekali pukul kau langsung jatuh dan pingsan. Aku tak suka gadis lemah, dan sayangnya, kaulah si lemah itu. Hehe," ucap Afro yang membuat keterpurukan Sandara makin menjadi.


Sandara menutup kedua telinga dengan mata terpejam dan kembali meneteskan air mata.


"Hiks, hentikan, Kak Afro. Jangan bicara lagi," pintanya sedih.


"Mr. White mengirimkan tugas padamu di laptop meja kerja. Bukalah dan kerjakan. Selesaikan sebelum pukul 9 malam. Sampai jumpa besok pagi dan ... i hate you."


Sandara terlihat begitu tertekan. Ia terus menangis sejak pagi tadi. Ia merasa Mr. White sengaja melakukannya untuk menjatuhkan mentalnya.


Sandara menghapus air matanya segera meski ia masih termakan oleh taktik Mr. White dengan alarm Afro tersebut.


Sandara masuk ke ruang kerja di lantai dua dekat kamarnya dan mendapati sebuah leptop yang telah terbuka di depannya. Sandara duduk dan menyalakan laptop berwarna merah muda tersebut.


Sandara melihat sebuah tulisan dengan sandi morse tertulis di sana cukup banyak hingga berapa page.


Sandara yang pernah mempelajari sandi tersebut, dengan cepat menerjemahkan dalam bahasa Spanyol seperti permintaan dalam lembar tugas.


Tepat pukul 20.30 waktu setempat, Sandara telah selesai dan mengirimkan pekerjaan itu ke sebuah folder yang tersedia di desktop laptop.


Sandara diam menunggu selama beberapa menit hingga akhirnya sebuah pesan muncul di layar laptop. Sandara membukanya.


"Kerja bagus. Kau bisa istirahat lebih cepat. Besok, jangan sampai terlambat. Mr. White."


Sandara diam saja membaca pesan itu dalam hatinya. Ia mencoba mengotak-atik laptop tersebut dan ternyata tak ada koneksi internet tersedia. Pesan yang ia kirimkan pada Mr. White juga melalui sebuah kabel.


Sandara menghela nafas. Ia beranjak dari dudukkan dan memilih untuk tidur. Ia membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar di mana suara hujan sudah tak lagi terdengar.


"Sampai kapan aku akan ditahan di sini? Aku mau pulang," ucapnya lirih dan kembali sedih.


***


maaf telat up. lele sibuk sumpah. mana ini ngetik menahan ngantuk luar biasa. semoga gak ada typo parah ya. makasih tipsnya. lele padamu😍


__ADS_1


__ADS_2