
Di tempat Jonathan berada.
Orang-orang yang menjadi tahanan dari orang-orang berseragam militer itu di masukkan dalam sebuah sel dengan ruangan saling berhadapan. Tubuh mereka dijadikan kepompong, kecuali Sierra.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Di mana kau menyimpan senjata-senjata Vesper dan Boleslav, Sierra Flame?" tanya seorang pria berpakaian militer bercorak loreng dengan tubuh membungkuk ke hadapan gadis cantik yang di dudukkan pada sebuah kursi besi dengan perut dibelenggu oleh sebuah besi sehingga ia tak bisa bergerak leluasa.
"Cari saja sendiri. Kenapa kautanya padaku? Tak bisa berpikir, ha? Otak dangkal," sindirnya tajam.
PLAK!
Sierra tak merintih atau berteriak, ia bisa menahan tamparan kuat itu meski wajahnya berpaling. Kedua kaki dan tangannya diikat dengan sebuah tali tambang.
"Lemah."
PLAK!
Orang-orang yang dijadikan kepompong dan melihat perlakuan pria tua, tapi tetap terlihat garang kepada Sierra, tak bisa berteriak apalagi menolong karena mulut mereka dilakban.
"Sepatu dan sarung tanganmu bagus, Nona Sierra. Akan kuambil dari tubuhmu," ucap pria itu menatapnya tajam.
"Hah. Kaupikir kau bisa melakukannya? Benda ini akan meledak, jika dilepaskan paksa. Sidik jariku, terekam pada alat ini. Benda-benda ini, akan terkubur bersamaku," tegasnya.
"Oh. Seperti Erik Benedict?"
Praktis, mata Jonathan melebar saat nama ayahnya disebut. Sierra melirik Jonathan sekilas dan kembali menatap pria beruban itu.
"Bedanya, model milik Erik itu kuno. Milikku, sebuah inovasi. Butuh seumur hidup bagimu untuk mencuri teknologinya. Otak udang sepertimu, tak akan bisa menggunakan kemampuannya."
PLAK!
"Mulutmu sungguh berbisa, Sierra! Jika tak mengingat Madam, kau sudah kami bunuh beserta seluruh anak buahmu!" teriak pria itu marah.
Namun, Sierra malah terkekeh padahal dua pipi mulusnya sudah merah padam dan sudut bibirnya berdarah.
"Sudah kuduga. Kalian pasti para orang militer bayaran. Hem, kurang uang, ha? Gaji kalian tak bisa menutup kebutuhan hidup? Ck, ck, ck, kasian. Orang miskin, selamanya akan miskin, meski kau sudah mengabdi pada negara hingga jasadmu terkubur di makam pahlawan," sindirnya tajam.
"Harrghhh!"
DUAKKK! BRAKKK!
"Emph," erang Sierra yang masih bertahan dengan tak menunjukkan sisi lemahnya. Kursi tempat ia duduk di tendang hingga ia tersungkur di lantai dengan keras.
"Orang bodoh, berpikiran sempit, pasti tempramental. Cuh!" sindirnya disertai meludah. "Orang sepertimu, tak akan pernah bisa menjadi pemimpin apalagi penguasa. Nikmatilah kekuasaanmu selagi sempat, sampai saatnya nanti, kau akan mati menjadi bangkai. Hehehehe," kekeh Sierra dengan tawa iblisnya.
Pria itu mengepalkan kedua tangan terlihat begitu marah. Ia menendangi tubuh Sierra hingga akhirnya, gadis itu merintih kesakitan.
Tak ada satupun orang yang menolongnya. Jantung Jonathan berdebar kencang tak karuan melihat Sierra disiksa hingga babak belur. Tubuh gadis cantik itu lebam dan wajahnya berdarah hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.
"Kalian akan menjadi sasaran amukanku berikutnya jika bermulut pedas seperti gadis itu," geram pria itu menunjuk para tahanan yang melihat kebiadapannya.
Pria itu pergi meninggalkan sel Sierra. Click and Clack berusaha untuk melepaskan bungkaman yang menutup mulut mereka, tapi tidak bisa.
Dua orang itu juga berusaha untuk membebaskan diri dari kepompong, tapi benda itu sungguh menghimpit kuat.
Jonathan memejamkan mata terlihat seperti berusaha untuk menenangkan diri entah apa yang dipikirkannya.
__ADS_1
Sedang di Jerman. Ucapan dari Tora terbukti. Lysa tertunduk saat Han mengatakan jika Vesper tak bisa datang, tapi menitipkan pesan jika ia menyayangi kedua anaknya.
Arjuna yang tak diberitahukan pesan dari Tora percaya dengan ucapan sang Ayah.
Arjuna akan diterbangkan untuk pulang ke Hong Kong setelah ia dinyatakan membaik, meski masih berjalan dengan pincang karena dua kakinya terluka. Tessa terus meneleponnya setiap hari karena mencemaskan keadaan suaminya.
"Terima kasih atas bantuanmu, Lysa," ucap Han dengan senyuman seraya memangku Fara yang terlihat menggemaskan karena wajahnya kebulean, meski lebih mirip seperti Tobias karena sulit tersenyum dan sering berkerut kening.
Lysa tersenyum dengan anggukan. Ia duduk berseberangan dengan Arjuna dan Han yang bersebelahan di sofa panjang.
"Hei, hei, mana senyummu?" tanya Arjuna malah menusuk-nusuk pipi bayi menggemaskan itu. Fara yang telah berumur kurang lebih 6 bulan, menangkap telunjuk Arjuna dan malah memakannya. "Agh!" erang Arjuna berpura-pura kesakitan, tapi ekspresi kesakitannya malah membuat Fara tertawa.
Semua orang terkekeh karena bayi lucu itu jarang tertawa. Lysa ikut tersenyum, tapi perlahan senyumnya memudar karena teringat akan ucapan Tora.
"Apakah ... mama sudah selesai menginterogasi Dakota?" tanya Lysa membuka obrolan, yang praktis, pertanyaannya membuat semua wajah tertuju padanya.
"Ya. Interogasi dilakukan oleh Eiji dan Dominic. Ucapan Dakota saat diinterogasi M dan setelah terkena gas halusinasi bertolak belakang. Yudhi sekarang menjadi tersangka. Kai semakin yakin, jika sosok yang dilihatnya bersama Yudhi adalah Sandara," jawab Han yang membuat mata Lysa dan Arjuna melebar.
"Benarkah? Dara selamat? Maksudku ... dia lolos dari cengkeraman No Face yang membelot?" tanya Arjuna kaget dan tak sadar jika telunjuknya telah basah terkena lumuran liur dari mulut Fara.
"Hem. Hanya saja Dakota dan lainnya memang tak tahu keberadaan Miles termasuk Cassie yang sengaja didekati oleh ibu kalian untuk mencari tahu tentang ayahnya tersebut," sambung Han.
"Benarkah? Sepertinya ... mama sangat peduli pada Cassie. Ia terlihat sangat menyayanginya. Ia bahkan mendandani dan mendekorasi kamar untuknya," sahut Lysa dengan wajah dingin, tapi ekspresinya membuat mata orang-orang di ruangan menyipit.
"Kau cemburu?" tanya Arjuna yang membuat Lysa tersenyum kecut.
"Tidak. Hanya saja ... entahlah. Mama tak pernah muncul. Ia bahkan sepertinya cuek saja menanggapi insiden yang terjadi akhir-akhir ini. Mama sibuk dengan calon cucu barunya, padahal Cassie bukan isteri sah Jonathan. Ia orang lain di kehidupan kita," jawabnya ketus.
"Apa karena ini, kau berwajah masam akhir-akhir ini, Lysa?" tanya Yuki menyahut dengan Torin duduk di sampingnya.
"Kau, marah pada mama?" tanya Arjuna menyipitkan mata.
"Jangan munafik, Arjuna. Kau saja sering kesal padanya. Tak usah ditutupi, apalagi membelanya. Aku tahu," jawab Lysa melirik saudaranya sekilas dan membuat Han langsung menajamkan mata.
"Kau yang memutuskan keluar dari anggota dewan, Lysa. Kenapa? Kau menyesal? Ingin kembali ke jajaran?" tanya Han kini mengunci pandangannya pada wanita muda yang telah berambut panjang.
"Tidak. Untuk apa. 13 Demon Heads sudah tak sekuat dulu. Kembalinya mama, tak memberikan dampak apapun. Ada atau tidaknya aku dalam kursi dewan, tak memberikan dampak apapun. Coba saja kalian berdua mengikuti jejakku, tak akan membuat perubahan. 13 Demon Heads kini hanya sebuah nama saja, tak ada kharisma terpancar lagi di dalamnya," jawab Lysa seraya melihat kukunya yang berlapis kutek.
"Ucapanmu secara tak langsung merendahkan posisiku dan ayah Han, Kak Lysa. Sepertinya ... pengaruh Tobias mulai membuatmu sedikit bodoh," ucap Arjuna frontal, dan praktis, mata Lysa melebar seketika.
Kakak beradik itu saling melotot tajam dari tempat mereka duduk.
"Tuan Han. Pesawat sudah siap. Kita bisa terbang meninggalkan Jerman malam nanti," ucap Alex datang di saat yang tepat saat perseteruan sedang terjadi.
"Terima kasih, Alex," jawab Han dengan wajah datar dan anggukan di mana ia kini menutupi sebagian wajah cacatnya dengan topeng dari logam yang warnanya disamakan dengan kulit agar tak terlalu mencolok.
Lysa langsung berdiri dan mendekati Han. Ia mengambil bayi Fara dan menggendongnya. Arjuna langsung merasa jijik karena jarinya berlumuran liur Fara. Ia segera mengelapnya dengan tisu di kotak atas meja depan ia duduk.
Awalnya, Arjuna gemas dengan bayi itu. Namun, setelah mendengar pernyataan dari ibu bayi tersebut, rasa bencinya muncul seketika.
"Aku tak bisa mengantar. Aku ada janji makan malam bersama Tobias. Hati-hati di jalan," jawab Lysa melirik para tamunya sekilas lalu pergi meninggalkan mereka.
Arjuna terlihat kesal, tapi Han menenangkannya dengan menepuk pundak anak semata wayangnya dengan senyum tipis.
"Pastikan bayimu lebih lucu dari Fara. Jujur, Fara sangat menggemaskan. Semoga, saat besar nanti, Fara tak memiliki tato seperti ayahnya," ucap Han terdengar iba membayangkan masa depan bayi lucu itu.
"Tentu saja. Cucumu akan sangat tampan. Kau tak lihat, jika wajahku seperti malaikat?" tanya Arjuna dengan senyum terkembang.
__ADS_1
Kening Han berkerut. Ia merasa anaknya mulai gila karena memuji dirinya sendiri. Torin, Yuki dan Alex hanya tersenyum karena jarang sekali Arjuna membanggakan dirinya meski ucapannya benar.
"Apakah cucuku laki-laki?" tanya Han penuh selidik.
"Entahlah. Namun, aku berharap laki-laki. Jika perempuan, ya ... tidak masalah, tapi aku ingin laki-laki," tegasnya. Han hanya mengangguk pelan. Yuki dan lainnya memilih diam, meski saling melirik.
Malam itu, Han, Alex dan Arjuna kembali ke Hong Kong. Tessa tak bisa tidur nyenyak sejak suaminya dikabarkan mengalami luka serius karena serangan di Ceko.
Setibanya di Mansion Han, keesokan harinya.
"Oh! Bagaimana? Apa masih terasa sakit?" tanya Tessa saat menyambut suaminya yang datang dengan kursi roda diikuti Han dan Alex.
"Hem, sedikit, tapi aku akan segera pulih. Aku ... mencemaskan keadaan Sun. Dia belum ada kabar sampai sekarang," jawab Arjuna terlihat sedih.
Tessa memeluk kepala suaminya erat hingga matanya terpejam. Arjuna tersenyum tipis karena merasa jika wanita yang kini berdiri di sampingnya sungguh merindukannya.
"Bagaimana? Dia baik-baik saja 'kan?" tanya Arjuna seraya mengelus perut Tessa yang mulai membuncit.
"Ya. Dia pasti sangat senang karena Ayahnya kembali dengan selamat," jawab Tessa dengan senyum terkembang.
Tessa lalu mempersilakan ayah mertua dan Alex untuk segera masuk ke dalam. Han terlihat menyukai Tessa karena dari semua keturunan No Face, Tessa yang terlihat paling normal di banding lainnya yang memiliki sifat menyimpang.
Di tempat Kai dan timnya berada.
"Bagaimana?" tanya Kai yang melakukan komando di dalam mobil.
"Mas Kai. Aliran sungai yang disinyalir dilewati oleh Yudhi dan timnya dengan speed boad berakhir di sebuah dermaga. Namun, kapal yang ditangkap oleh Eiji, tak ditemukan di sini. Hanya saja, kami melihat sebuah bangunan besar seperti mansion di dekat sungai. Kami sedang menyelidiki kediaman itu karena tempat itu memiliki dermaga pribadi," ucap Biawak Kuning melaporkan dari hasil penyelidikannya.
"Oke. Cari tahu tentang rumah itu. Hati-hati," perintah Kai berwajah serius.
"Siap," jawab Biawak Kuning memutus panggilan.
Kai terlihat sedikit lega karena setidaknya, timnya di lapangan mendapatkan petunjuk. Kai mengambil ponselnya dan melihat layarnya saksama saat wajahnya bersama sang anak menjadi salah satu wallpaper. Dengan sigap, Kai mengaktifkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Ya, Tuan Kai?" jawab seorang pria di seberang.
"Aku tak peduli kau sedang sibuk atau tidak. Kirim Red Ribbon untuk menjaga perbatasan Italia dengan Austria. Firasatku mengatakan, Sandara akan menyeberang ke wilayahmu. Bersiaplah."
"What?! Maksud Anda ... Dara ... Dara ditemukan? Dia akan ke sini?" tanya Afro langsung memekik.
"Kau tuli ya? Aku bilang fi-ra-sat. Siapkan yang kuminta tadi. Aku akan menghubungimu kembali," jawab Kai ketus dan langsung menutup panggilan telepon.
Para Black Armys yang satu mobil dengan Kai memilih diam. Namun terlihat jelas, jika Kai masih tak menyukai Afro, tapi ayah dari Sandara itu sering menghubunginya dan meminta bantuannya entah apa maksudnya.
Dengan sigap, Afro segera mengirim anak buahnya untuk berjaga di tiap titik yang telah ia tandai dan dikomandoi oleh para Red Ribbon sebagai pemimpin tim.
Afro terlihat tak sabar di mana ia juga yakin jika Yudhi sebenarnya mengetahui keberadaan Sandara.
"Awas saja jika sampai ketahuan kau menyembunyikan kekasihku, Yudhi. Akan kukurung dirimu di penjara bawah tanah sampai membusuk," tegasnya geram.
***
Bagaimana? Apakah bukunya sudah mendarat dengan selamat? Yang udah, jangan lupa kirim foto kalian dengan buku dan pakai maskernya ya. Abis baca kirim komen di DM IG atau japri WA lele.
Yang mau masuk GC WA Family Mafia tinggalkan nomor di kolom komentar tar dimasukin. Sekarang udh terbuka untuk para Reader LAP. Tengkiyuw tipsnya diborong mbak Carmen😆 Maap telat up kwkwk zoom dulu. Lele padamu😘
__ADS_1