
Malam itu, Sandara demam. Badannya menggigil dan berkeringat. Ia kelelahan, pola makannya tak teratur dan terluka secara fisik.
Ternyata jam tangan yang dikenakan olehnya memiliki fungsi untuk mengecek kondisi kesehatan pengguna.
Tengah malam, Mr. White mengunjungi rumah pondok Sandara sendirian. Ia duduk di pinggir ranjang dan memandangi wajah pucat gadis remaja itu seksama dalam diam.
Mr. White menempelkan telapak tangannya ke dahi gadis berwajah Asia itu dengan kening berkerut.
Mr. White mengeluarkan sebuah botol yang memiliki tutup seperti corong dengan ujung mengerucut berisi cairan berwarna bening.
Pria berambut putih panjang itu meminumkan cairan tersebut ke mulut Sandara yang terbuka sedikit dengan suara dengkuran lirih.
Mr. White meminumkannya perlahan hingga akhirnya nafas Sandara mulai tenang dan tak mendengkur lagi.
Pria berwajah pucat itu duduk cukup lama seperti menunggu sesuatu. Telapak tangan pria tampan itu kembali ditempelkan ke dahi Sandara dan senyum tipisnya terpancar.
Mereka bicara dalam bahasa Spanyol.
"Aku hanya menolongmu saat ini saja, Sandara, tidak ada lain hari. Semoga mimpi indah," ucapnya seraya pergi.
Suara pintu tertutup terdengar dalam suasana sunyi di rumah kayu Sandara. Gadis kecil itu membuka mata dengan wajah datar ciri khasnya. Namun, ia kembali memejamkan mata dan tertidur.
TRINGG!!
Sandara langsung membuka mata dan menoleh ke arah jam weker. Ia bangun perlahan lalu menekan tombol. Suara Afro kembali terdengar.
"Good morning, Sandara. Bersiaplah dan jangan lupa sarapan. Hari ini ada pelatihan khusus untukmu dari para penjaga sampai pukul 11 siang. Good luck dan ... aku membencimu," ucap Afro dan kali ini, tak ada tangisan dari Sandara.
Gadis cantik itu segera bangun dan mengambil beberapa obat. Ia membersihkan lukanya dan membalutnya lagi agar tak kotor saat beraktivitas.
Sandara yang sudah siap dengan pakaian latihannya segera turun ke lantai dasar dan menyiapkan sarapan.
Ia memotong sebuah apel menjadi beberapa bagian, roti gandum yang dipanggang dan sayuran rebus sebagai sarapannya. Ditambah segelas susu cokelat sebagai pelengkap.
Pukul 7 kurang 5 menit, Sandara keluar rumah pondok dan mendapati dua orang pria berkulit cokelat sudah menunggunya.
"Ikut kami," ucap seorang pria memakai kaos berwarna merah.
Sandara mengikuti dua orang tersebut dan Afro si anj*ng ikut serta. Entah kenapa, kehadiran hewan berkaki empat itu membuat hatinya gembira.
GREKKK!
Sandara terpaku saat melihat banyak sepeda model klasik di dalam garasi tersebut. Dua pria itu mengajak Sandara masuk ke dalam. Terlihat banyak perlengkapan bengkel dan suku cadang berserakan di lantai.
"Kau lihat rak itu?" tanya seorang pria berambut hitam menunjuk tiga buah rak kosong dan Sandara mengangguk. "Susun semua barang-barang ini ke dalam rak sesuai jenisnya. Saat kami kembali, semua harus sudah beres."
"Pukul berapa tepatnya kalian kembali kemari?" tanya Sandara berwajah datar.
"Sebelas kurang lima menit. Jangan banyak bertanya dan cepat selesaikan," jawabnya tegas seraya pergi dan menutup pintu bengkel dari luar.
__ADS_1
Sandara di kunci dengan Afro menemaninya di dalam. Sandara mengela nafas panjang. Pekerjaan fisik ia lakukan sejak kemarin. Bahkan ia tak tahu apakah ada hari libur atau tidak selama berada di tempat itu.
Kali ini, Sandara terlihat lebih sigap. Ia mengambil ban-ban bekas dan menumpuknya di sebuah rak. Ia juga memisahkan antara obeng, skrup dan beberapa jenis kunci dari alat bengkel.
"Kali ini aku menganggap tugas ini seperti latihan fisik di Camp Militer, Afro," ucap Sandara sembari mengajak hewan berbulu itu mengobrol untuk menghilangkan sepi.
Afro terlihat energik dengan mengendus semua benda-benda yang tergeletak di lantai. Ia tak ikut membantu, tapi kehadirannya membuat Sandara tak kesepian.
Kediaman Darwin, Melun, Perancis.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Jadi ... kau ingin kami membiarkan perusahaan-perusahaan itu tetap berjalan seperti seharusnya? Begitu maksudmu, Sierra?" tanya Lysa duduk dengan kaki menyilang sembari menyeruput teh hangat di depan gadis bermanik biru tersebut.
"Ya, Mimi. Semua kekayaanku dan daddy Toby berasal dari sana. Venelope, Mr. White dan Smiley mengelola tempat itu, meski aku yakin jika mereka tak akan menampakkan diri di perusahaan karena kalian memburunya," jawab Sierra gugup dengan Jonathan duduk menemaninya.
"Perusahaan itu, mempekerjakan sipil atau The Circle?" tanya Lysa seraya meletakkan cangkir teh di atas meja.
"Keduanya. The Circle ditugaskan sebagai satpam, petugas di ruang kendali, sopir, cleaning servis dan sebagainya. Hampir semua jabatan di pegang oleh The Circle. Tentu saja mereka menyamar agar para pegawai sipil tak tahu hal itu. Kedudukan di Perusahaan dikendalikan oleh para petinggi The Circle dan beberapa orang yang memiliki pengaruh dalam perekonomian bisnis di kota tersebut. Jika perusahaan itu sampai jatuh, banyak sipil akan kehilangan pekerjaan mereka," jawab Sierra sedih.
"Wah, mirip kaya kita, Kak Lysa," sahut Jonathan dan Lysa mengangguk setuju.
"Kudengar butik dan salon mulai mengalami kesulitan sejak hilangnya Sandara. Para pelanggan meminta koleksi terbaru dan semua hal itu butuh ide dari Sandara. Mm ... bagaimana jika aku saja yang mengelolanya? Aku sedang luang. Aku bisa men-design dan memberikan rancangan baru kepada mereka," tanya Sierra menunjukkan itikad baik.
"Entahlah, Sierra. Sandara sangat sensitif jika semua hal yang menyangkut pribadinya terusik. Aku takut kejadian seperti beberapa waktu lalu terulang. Nanti kau yang malah sakit hati karenanya," jawab Lysa mengutarakan pemikiran.
"Iya, Yang. Kamu sih paling bilang gak papa, tapi Nathan yang malah kesel. Tar Nathan brantem lagi sama Dara," sahut Jonathan langsung menyilangkan kedua tangan di depan dada-gaya andalan.
Jonathan dan Lysa saling berpandangan. Mereka terlihat bingung dengan hal ini.
"Konsultasiin ke mama dulu aja deh, Kak Lysa. Nathan takut salah langkah lagi," ucap Jonathan menyarankan dan Lysa mengangguk setuju.
Lysa segera menghubungi Vesper, hanya saja, ibunya tak menerima panggilan. Lysa berasumsi jika Vesper sedang fokus menemani Han di rumah sakit. Lysa beralih kepada Kai, ayah Sandara.
"Bagaimana, Papa?" tanya Lysa yang menelepon di depan Jonathan dan Sierra dengan men-speaker.
"Aku setuju dengan saran Sierra. Ucapkan terima kasih padanya. Aku izinkan Sierra mengelolanya, tapi ... dia harus menutupi dirinya dari keterlibatan ini. Biarkan orang-orang tahu jika semua rancangan terbaru adalah buatan Sandara. Namun, saat fashion show, biarkan Sierra yang tampil. Buatlah alasan kenapa Sandara tak bisa hadir. Aku yakin, Sierra bisa melakukannya," jawab Kai tenang dan tiga orang itu mengangguk paham.
"Terima kasih sudah mempercayaiku, Papa Kai. Semoga kau selalu sehat," sahut Sierra sopan.
Lysa menutup panggilan teleponnya. Jonathan terlihat senang termasuk Lysa dan Sierra.
"Aku berharap, Sandara cepat kembali. Aku sungguh tak tahu ia berada di mana. Aku selama ini seperti katak dalam tempurung. Maaf, aku tak bisa membantu," ucap Sierra sedih.
"Gak papa, Yank. Mama udah kirimkan orang-orang terbaiknya buat cari Dara kok. Jadi ... kapan kita ke Paris?" tanya Jonathan menatap wajah cantik kekasihnya. "Di sini gak bebas, ada Kak Lysa yang ngawasin kita," sambungnya berbisik.
Sierra tersipu malu. Lysa yang asyik mengobrol dengan King D dan Otong karena menghampirinya, tak menyadari jika dua orang di depannya sedang merencanakan sesuatu.
"Mimi ... D mau telpon Pipi," ucapnya imut di mana King D sudah mulai fasih berbahasa Indonesia karena ajaran Otong.
__ADS_1
"Oh, telpon Pipi? Boleh. Video call?" tanya Lysa dan King D mengangguk lugu.
Lysa yang merindukan Tobias ikut penasaran dengan apa yang sedang dilakukan suaminya itu.
DOR! DOR!
Lysa dan semua orang di ruang keluarga terperanjat. Mata mereka melebar seketika. Senyum manis sirna ketika melihat dari tampilan video call, layar ponsel yang dipegang oleh Tobias menunjukkan para Pion sedang menembaki serigala buas yang menyerang mereka.
"To-Toby," panggil Lysa gugup.
"Oh, hay, Darling. Kenapa kau menelepon saat aku sedang sibuk? Hah, hah ...."
DOR! DOR!
King D menutup kupingnya. Semua orang yang melihat tayangan di layar secara live itu dibuat tegang seketika.
"Kau di mana?" tanya Lysa panik.
"Oh, aku ada di ... masih di Belize, rumah Tessa. Venelope sialan itu mengirimkan anak buah berkaki empatnya untuk membunuh kami. Benar-benar kurang--"
DOR! DOR!
"SUN! HABISI MEREKA! TELEPONKU JADI TERPUTUS! BENAR-BENAR MENGGANGGU!" teriaknya marah dan terlihat Sun mengangguk di kejauhan.
Mata Lysa dan lainnya melotot, melihat Sun menebas kepala para serigala buas itu dengan pedang Silent Gold. Nafas para penonton tercekat seketika.
"Oh, D. Hai. Pasti kau merindukan Pipi. Benar 'kan?" tanya Tobias mengarahkan kamera ponsel ke dirinya.
Pria bertato itu membuka bajunya. Ia bertelanjang dada, seraya berjalan menjauh dari peperangan.
"Pipi ndud," jawab King D menunjuk tubuh Tobias dan ketegangan karena penyerangan para serigala, sirna seketika.
"Oh ya? Pipi hamil. Ada bayi di dalam perut Pipi, hehehe," kekehnya santai dan ponsel Lysa direbut oleh King D begitu saja.
King D mengajak ayah tirinya mengobrol bersama Otong menemaninya. Sedang Lysa, panik setengah mati termasuk Sierra dan Jonathan.
"Tobias dan lainnya diserang! Jenis serigala itu sama seperti yang nyerang Nathan waktu di Greenland!" tegas Jonathan.
"Bisa jadi, Venelope mengirim mereka untuk merebut kediaman Tessa yang diambil oleh daddy," jawab Sierra menebak. Jonathan dan Lysa mengangguk setuju. "Agh! Venelope benar-benar sudah keterlaluan! Aku tak akan tinggal diam!" pekik Sierra marah.
"Sabar, Yank. Itu juga bang dad kenapa gak minta tolong ya? Yakin banget bisa menang lawan serigala-serigala buas itu," sahut Jonathan terheran-heran, tapi membuat Lysa dan Sierra malah tersenyum. Jonathan bingung.
"Kau belum mengenal Tobias, Jonathan. Minta tolong tidak ada dalam kamusnya. Baginya, hal itu hanya dilakukan oleh para pengecut," sahut Lysa sembari menoleh ke arah King D yang terlihat betah mengobrol dengan ayahnya yang sedang sibuk bertempur.
"Ah, gitu ya? Nathan pengecut dong. Sial, berasa cemen," sahutnya berwajah sebal seketika. Sierra dan Lysa terkekeh.
***
uhuy! tengkiyuw tipsnya😍 met liburan ya walopun dijadwal lele tgl merah tetep aja kerja. jangan lupa tips koin yg banyak. brankas kosong lagi uyy~
__ADS_1