4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Genggaman Darah*


__ADS_3

Ternyata, usaha Tobias untuk kembali dekat dengan King D membuahkan hasil. D sudah mau berbincang dengan pria bertato itu, meskipun Tobias sangat menjaga tutur katanya karena anak tirinya tak menyukai segala jenis ucapan kasar.


Tentu saja, hal ini menimbulkan kekaguman dalam diri Lysa dan juga para Pion karena Tobias lebih beradab serta santun.


"Salam," ucap Tobias saat memasuki ruang makan bersama bayi Fara dalam gendongannya untuk menikmati makan malam bersama keluarganya.


Lysa dan para Pion melongo. D membalas sapa itu dengan menelengkupkan kedua tangan di depan dada seraya membalas salamnya.


"Kenapa kau melihatku seperti itu? Aku lelah seharian ini. Kau yang suapi Fara," ucap Tobias terlihat letih. Lysa tersenyum tipis dengan anggukan.


"Jangan lupa kita belajar mengaji setelah makan malam," sahut King D dan Tobias mengangguk pelan dengan senyum kaku.


"Mengaji?" tanya Lysa terkejut dan Tobias melirik malas enggan berkomentar. "Terima kasih, D sayang. Kau sungguh guru yang hebat," ucap Lysa memuji.


"Apakah ... D akan mendapatkan hadiah jika berhasil mengajari Toby mengaji?" tanyanya menatap sang Ibu penuh harap. Bagaimanapun, King D tetap seorang anak kecil yang suka hadiah.


"Pertama, kau mendapatkan pahala. Kedua, bagaimana jika menonton Opera? Kaupernah menonton teater sebelumnya?" tanya Tobias. King D menggeleng. "Oke. Hadiahmu, menonton teater, lalu kita pergi ke taman bermain," sambung Tobias.


Senyum King D merekah. Ia terlihat begitu senang dan mengangguk cepat. Semua orang ikut bahagia mendengarnya.


Lysa akan meluangkan waktu sebelum King D dijemput oleh neneknya untuk dibawa ke Oman, ke rumah Javier.


King D yang mengharapkan hadiah itu, bersungguh-sungguh dalam mengajari Tobias mengaji meski pria bertato tersebut terlihat malas melakukannya, tapi D terus memaksanya.


"Kenapa huruf-huruf ini sangat mirip? Bukan salahku jika aku tak bisa membedakannya!" gerutu Tobias saat menghafalkan huruf Hijaiyah.


King D menarik napas dalam. "Mudah saja membedakannya. Jika ada cekungannya, anggap saja seperti mangkuk. Jika rata, ibarat piring," terang King D dan Tobias mengangguk pelan meski terlihat ragu.


"Oke, kita ulangi. Ingat, sabar," tegas Tobias menunjuk anak lelakinya dan King D mengangguk pelan.


Cukup lama King D mengajari Tobias menghafalkan huruf Hijaiyah hampir setengah hari sendiri. Tobias masih kesulitan ketika huruf-huruf itu diberikan tambahan tanda baca di atas, di bawah dan lainnya.


Tobias juga diminta untuk menulis ulang huruf-huruf itu di sebuah buku tulis. King D sampai menghabiskan dua gelas susu dingin hanya untuk mengajari pengenalan huruf Al-Quran pada ayah tirinya.


"Bagaimana belajarnya? Sudah juz berapa?" tanya Lysa berkesan menyindir.


Namun, wajah masam malah ditunjukkan oleh dua lelaki di ruang kerja itu. Lysa menahan senyum lalu kembali menutup pintu tak ingin mengganggu guru kecil dan murid besar yang sedang fokus belajar.


Usaha King D tak sia-sia. Meskipun membutuhkan waktu hingga seharian, tapi Tobias sudah memahami cara membaca dan menuliskan huruf-huruf Al-Qur'an.


Bahkan pria bertato itu dengan bangga memamerkan keahlian barunya saat makan malam kepada penghuni rumah.


"Lihat! Lihat! Aku bahkan sudah bisa menuliskan namaku dengan tulisan Arab. Tobias Al-Saleh!" serunya bangga seraya menunjukkan buku tulis yang ia gunakan untuk belajar.


"Wah ...," seru para Pion, tapi terlihat tak tertarik.


"Aku tak suka wajah itu. Mana tepuk tangannya?!" pintanya garang.


Praktis, suara tepuk tangan meriah langsung terdengar. Lysa tak bisa menahan tawanya.


"Buatkan tulisan Arab untuk Fara, Sayang. Lalu nama kami semua," pinta Lysa, tapi senyum Tobias langsung sirna dan berubah pucat.


Tobias melirik King D dan anak lelakinya itu hanya menunjukkan wajah datar.


"Ya, ya, aku bisa. Aku 'kan sudah belajar, dan aku pintar. Lusa, saat makan malam," jawabnya gugup.


Semua orang menunjukkan senyum. Mereka tak sabar untuk menunggu hasil dari tulisan Arab buatan Tobias.


Tobias menyetel alarm agar tak terlambat saat menjalankan sholat, tapi tetap King D yang menjadi imamnya.


Lysa sungguh terharu melihat fenomena langka itu. Ia tak menyangka jika Tobias bisa berubah hingga 180 derajat hanya karena King D.


Diam-diam, Lysa mengabadikan momen Tobias bersama King D dengan kamera ponselnya. Ternyata, hal itu juga dilakukan oleh para Pion karena bagi mereka Tobias sungguh unik.


Tobias menghabiskan waktunya seharian untuk menuliskan nama seluruh penghuni rumahnya dalam bahasa Arab. Tentu saja, King D yang akan mengoreksinya.


Ternyata, masih banyak tulisan Tobias yang salah. Namun, lelaki itu tak marah, malah makin berusaha agar tulisan tersebut bagus dan benar saat ia presentasikan lusa malam.


Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu tiba untuk pergi ke tempat bermain. Mereka sengaja tak pergi saat akhir pekan menghindari keramaian. King D memilih untuk pergi ke Erlebnispark Tripsdrill, Cleebronn, Jerman.



Perjalanan dengan mobil menempuh sekitar 3 jam lebih, tak membuat King D jenuh. Namun, hanya 3 Pion yang ikut serta untuk menjaga keluarga Tobias, sisanya tetap bekerja di kantor.


Dua mobil MPV melaju dari kota Cologne menuju ke Cleebronn. Empat anggota The Eyes remaja diikutsertakan sebagai penjaga tambahan.


Bagaimanapun, mereka keluarga mafia dan Miles serta kelompoknya masih dianggap ancaman karena keberadaan mereka belum terdeteksi hingga saat ini.


King D terlihat puas bermain, senyumnya tak memudar begitu memasuki gerbang utama wahana bermain. Tobias selalu menggandengnya ke mana pun King D melangkah.


Tobias menuruti semua wahana yang ingin dinaiki King D meskipun ia tak menyukainya. Lysa memilih menunggu karena bayi Fara masih belum bisa memainkan permainan ekstream seperti roller coaster, dan sejenisnya.


Para Pion seperti mendapatkan masa kecilnya kembali. Mereka ikut bermain dengan gembira seperti yang King D mainkan. Lysa tak menyangka, jika acara keluarga hari itu sungguh menyenangkan baginya.


Tak terasa, matahari mulai meredup. King D juga nampak lelah setelah puas mencoba seluruh wahana yang ada di taman bermain.

__ADS_1


Usai menikmati makan malam di sebuah restoran dekat wahana bermain, keluarga bahagia itu kembali ke Apartemen.


King D tertidur lelap di bangku belakang dengan paha Tobias sebagai bantalannya. Lysa duduk di tengah dengan bayi Fara ia dudukkan pada baby seater di sebelahnya. Pion Dakota sebagai sopir dan Pion Damian sebagai navigator.


Mobil di belakangnya berisi Pion Dexter dan Darwin serta empat anggota The Eyes. Dua mobil melaju dengan kecepatan sedang menembus malam di hari yang mulai larut karena perjalanan yang cukup melelahkan.


Tobias membangunkan King D begitu mereka tiba di rumah. Tobias bahkan mengingatkan King D jika mereka berdua belum melakukan sholat Isya. Entah apa yang menggerakkan hati Tobias, pria itu ingin mencoba menjadi imam.


Tentu saja, King D yang awalnya sudah mengantuk berat sampai membuka matanya lebar karena permintaan ayah tirinya itu.


King D tak bisa berkonsenterasi dalam menjalankan sholat karena ucapan Tobias banyak yang salah, tapi ia tetap menghargai jerih payahnya.


Walaupun pada akhirnya, sholat itu diulang karena putera Javier tersebut takut jika sholatnya tidak sah. Tobias pun memakluminya.


Malam itu, King D mengizinkan Tobias tidur bersamanya. Tobias yang begitu lelah karena tak pernah bermain hampir seharian, langsung tertidur pulas. King D menatap wajah ayah tirinya saksama yang tidur menghadap ke arahnya.


Perlahan, tangan King D bergerak seperti ragu saat akan menyentuh tangan Tobias yang tergeletak di dekat tangannya.


King D seperti ingin meraihnya, tapi mengurungkan niat dan memilih untuk memeluk guling.


Akhirnya, King D memutuskan untuk segera memejamkan mata dan tidur dengan tubuh ikut menghadap ke arah pria bertato itu.


Keesokan harinya, Tobias mulai bisa mengikuti ritme keseharian King D selama tinggal di rumahnya.


Tobias mulai menjalankan sholat lima waktu, bahkan belajar mengaji. Namun, perasaan sedih kembali muncul di hati pria bertato itu saat menyadari jika King D akan segera kembali ke Oman.


Akan tetapi, malam itu. Damian yang baru saja pulang dari kantor, memberikan kabar jika mereka mendapatkan tiket Opera ekslusif setelah penyelenggara mengetahui jika Lysa Herlambang mengajak seluruh keluarganya untuk menyaksikan.


Nama Lysa yang cukup terkenal sebagai pebisnis muda di Jerman, membuatnya mendapatkan fasilitas khusus dan semua orang tak ingin melewatkan kesempatan itu.


"Aku akan mempresentasikan tulisan Arabku setelah kita menonton Opera saja. Masih banyak waktu," ucap Tobias sembari merapikan jas hitamnya di depan cermin.


Lysa mengangguk setuju sembari memakaikan sepatu warna merah muda untuk anak perempuannya.


"Aku akan menjemput King D. Kita bertemu di bawah," sambung Tobias lalu meninggalkan ciuman manis di bibir isterinya yang belum terpoles lipstik.


Senyum Lysa makin terkembang, saat Tobias mencium kepala bayi Fara penuh kasih sayang hingga matanya terpejam.


Tobias keluar dari kamar mendatangi ruangan King D. Ternyata, anak lelaki itu telah siap dan terlihat tampan dengan rambut ia sisir ke samping, persis seperti Tobias.


"Wah, kita seperti kembar!" seru Tobias dengan senyum merekah saat berjalan memasuki kamar King D dan berdiri di sampingnya.


King D ikut tersenyum. Tobias merangkul pundak King D yang berdiri di sebelahnya.


Damian yang baru saja lewat diminta untuk memotret keduanya dengan kamera ponsel Tobias dan juga milik King D. Kini, keduanya memiliki foto yang sama.


Malam itu. Tiga buah mobil MPV melaju menuju ke gedung Opera yang telah ramai oleh pengunjung.


Gedung yang sama, saat Vesper pernah menonton opera bersama keluarganya beberapa tahun silam. Hanya saja, gedung tersebut kini telah dipercantik.



Kali ini, Lysa dan keluarganya hampir mendapatkan kejadian yang serupa. Mereka mendapatkan tiket ekslusif dan duduk di bangku khsusus yang berada di balkon tersendiri.


King D terlihat kagum karena tempat itu begitu luas dan megah. Ia bisa melihat jelas dari atas tempat ia duduk bersama seluruh keluarganya yang mengeblok satu kawasan.



"Pakailah earphone translator ini. Mimi khawatir kau tidak akan paham dengan yang mereka ucapkan nantinya," ucap Lysa seraya memberikan dua buah earphone portabel kepada anaknya.


King D menerimanya dan segera memakainya. Tobias duduk di sebelah King D di mana semua orang dalam kelompok Lysa mengenakan earphone tersebut kecuali anak pertama Vesper karena ia sudah menguasai bahasa Jerman.


Lysa duduk memangku bayi Fara karena khawatir jika anaknya nanti takut saat teater dimulai.


Tak lama, lampu mulai dipadamkan. Ketegangan terlihat jelas di wajah King D, tapi Tobias menenangkan anak lelakinya itu dengan merangkul pundaknya.


"Seperti menonton di bioskop. Hanya saja ... ini lebih berkesan karena kemampuan mereka ditunjukkan secara langsung. Kehebatan vokal, acting dan juga penguasaan panggung. Kau akan belajar banyak dari tontonan mahalmu kali ini, D," ujar Tobias dan King D mengangguk paham.


Mata King D terfokus di panggung saat pentas teater berlangsung. Sebuah kisah dipentaskan dengan alunan musik pengiring yang menguatkan aksi para aktis dan aktor di malam itu, memberikan kesan tersendiri bagi anak lelaki Javier.


Namun, Tobias menyadari gerak-gerik King D yang mulai tak nyaman dengan posisi duduknya padahal pertunjukan masih berlangsung.


"Ada apa? Kau ingin kencing?" tanya Tobias dan King D mengangguk.


Tobias menemani King D untuk ke toilet. Pion Dexter mengikuti untuk menjaga keduanya. Mereka melewati koridor yang sepi karena tak sembarang orang bisa memasuki wilayah itu.


"Aku akan berjaga di luar," ucap Dexter dan Tobias mengangguk.


Pria bertato itu ikut masuk ke kamar mandi saat King D masuk ke bilik toilet. Saat Tobias sedang membasuh tangannya, tiba-tiba saja, ia melihat pintu bilik di paling ujung terbuka. Praktis, mata Tobias melebar saat sosok itu dianggap ancaman untuknya.


"Dexter!" panggil Tobias lantang, saat pria berpakaian serba hitam dengan setelan ekslusif, menutup wajah dan kepalanya, hanya nampak matanya saja, mulai menyerang pria bertato itu dengan katana dalam genggaman.


Namun, Dexter tak memberikan jawaban. King D yang mendengar ada kerusuhan di luar bilik kamar mandi terlihat gugup saat ia mengintip dari celah pintu usai ia buang air kecil.


Seketika, mata King D melebar saat melihat ayah tirinya bertarung menghindari sabetan pedang tajam yang bisa membunuhnya.

__ADS_1


King D mematung ketakutan dan hanya bisa berdiri di balik pintu menyaksikan Tobias yang tak bersenjata berusaha untuk melumpuhkan pria tersebut.


PRANG!!


"Agh!" rintih Tobias saat pedang yang dihunuskan ke arahnya berhasil ia hindari, tapi tangan kiri pria itu dengan sigap menangkap kerah belakang jas Tobias dan membenturkan tubuhnya ke kaca wastafel.


Wajah Tobias menghantam kaca hingga pecah. Darah langsung mengucur di robekan lukanya. King D gemetaran dan tanpa ia sadari, pintu bilik toiletnya terbuka karena shock melihat adegan kekerasan itu.


Tobias merintih, tapi ia melihat wajah King D di kaca lain saat anak lelakinya itu ketakutan hingga tubuhnya gemetaran.


Dengan sigap, Tobias melepaskan jas yang dicengkeram kuat oleh pria tersebut dan melilitkan ke tangan musuhnya.


Pria itu terkejut saat Tobias memegangi buntalan kain itu kuat dengan kedua tangannya. Tobias menendang kaki kiri pria itu dengan kaki kanannya hingga lawannya ambruk.


BUAKK!! BRUKK!!


Pria itu jatuh tersungkur di lantai bawah wastafel. Tobias dengan cepat mendatangi King D untuk membawanya pergi dari tempat itu. Saat Tobias mengulurkan tangannya, tiba-tiba ....


"Oh!" kejut King D saat langkah Tobias terhenti dan darah merembes di balik kemeja putihnya.


Spontan, mata anak lelaki itu berkaca ketika Tobias berdiri mematung dengan wajah pucat saat ujung pedang itu menembus dadanya dari belakang.


CRATTT!! BRUKK!!


"Hah ... Hah ...."


Napas King D tersengal dengan mata terbelalak lebar. Pria itu langsung pergi begitu saja usai menyelesaikan tugasnya. King D melihat Tobias ambruk memegangi dadanya dengan pandangan tak menentu.


"Hiks ... Toby ...," panggil King D lirih karena Tobias masih membuka mata, tapi tubuhnya seperti mengejang.


Perlahan, King D roboh dan berlutut di samping ayah tirinya. Tobias mengerahkan seluruh tenaga terakhirnya untuk meraih tangan anaknya yang terjuntai lunglai di atas dua pahanya dengan air mata menetes begitu saja.


"Ka-kau ... baik-baik saja? Hah, hah, a-apa ... ka-kau terluka?" tanya Tobias lirih dengan wajah pucat.


King D menggeleng dan menangis, meski isak tangisnya tak ia suarakan, seperti tertahan dalam hatinya.


Tobias memegang kedua tangan King D dan membuat dua tangan anak lelaki itu berlumuran darah.


"Pipi menyayangimu," ucapnya lirih.


King D semakin tak kuasa menahan air matanya. Namun, ia menyadari sesuatu saat keadaan kritis itu.


"Ucapkan, Pipi. Ucapkan," pinta King D berusaha untuk tetap tegar meski air mata sudah menggenangi wajahnya.


Tobias mulai menutup matanya perlahan. Napasnya mulai terengah. Sedang darah, terus mengalir di balik luka tusukan itu.


"Ikuti yang D katakan, Pipi! Ikuti D!" serunya lantang dengan air mata semakin mengalir deras.


Tobias membuka matanya perlahan dan melihat King D menggerakkan bibirnya yang bergetar karena tak kuasa menahan tangis. Suara King D seperti orang berbisik, padahal anak itu menyuarakan dengan lantang.


Tobias masih tak bersuara. King D semakin mendekat dan berteriak di telinga sang ayah yang merebahkan dirinya miring.


"La ilaha illallah! Pipi! Ucapkan, Pipi!" teriak King D menggenggam tangan Tobias erat yang terasa dingin seperti lantai di kamar mandi tersebut.


Tobias membuka mulutnya meski napasnya mulai menipis. King D terus berusaha mengulang kalimat itu berulang kali seperti mengejar waktu.


"La! La!" teriak King D seperti marah pada ayahnya.


Tobias akhirnya mengeluarkan suaranya meski terdengar lirih. "La ...."


King D terisak. Ia sampai menghapus ingus dan air matanya dengan lengan jas yang ia kenakan. "Ilaha ...."


"Ilaha ...."


King D memejamkan matanya rapat. Entah kenapa bibirnya serasa membeku seperti tak bisa digerakkan. Namun, anak itu tak berhenti mencoba untuk menyelesaikannya.


"Illallah! Illallah! Illallah!" ucapnya berulang kali tepat di telinga sang ayah yang tangannya mulai lemas, tapi King D semakin menggenggam kuat tak ingin dilepaskan.


"Illa ... llah ...."


"Hiks, Pipi ... Pipi?" panggil King D karena Tobias tak lagi bergerak.


Mata pria bertato itu terbuka dengan pandangan sayu terarah ke benda yang masuk dalam jangkauan penglihatannya.


King D menangis terisak. Ia duduk bersimpuh di samping mayat ayah tirinya yang sudah tak bernyawa lagi. Hingga akhirnya, suara derap langkah kaki terdengar memasuki kamar mandi.


Praktis, mata semua orang terbelalak lebar melihat seorang anak lelaki menangis di samping seorang pria yang telah bersimbah darah seraya menggenggam tangan kecilnya.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


hiks. lele sedih. aku nangis pas ngetik. huwaaaa. ini ketiga kalinya seperti pas ngetik eps bang erik. bang boleslav dan kini bang ded. lele mau semedi dulu. makasih tipsnya tapi lele sertain di eps berikutnya aja. eps ini sengaja lele bablasin gak lele pangkas demi bang dad yang akhirnya dead. maap bang dad but i lop u❤️

__ADS_1


__ADS_2