
---- back to Story :
Begitu Sisca membuka mata, betapa terkejutnya saat ia mendapati pria Asia itu tersenyum manis padanya.
Sisca masih teringat akan kebuasan Sun yang malah membuatnya sedikit gugup karena tak pernah menyangka hal tersebut.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Hei, bagaimana keadaanmu? Apakah sudah lebih baik? Aku ... minta maaf," ucap Sun tampak bersalah menatap kekasihnya lekat.
Sisca mencengkeram kuat selimut yang masih menutup tubuh polosnya. Ia melihat Sun mengambilkan air mineral untuk diteguk.
Sisca bangun perlahan dan duduk menyender di sandaran kasur seraya meminumnya sedikit demi sedikit.
Namun, gadis cantik itu kembali kaget saat Sun merapikan rambutnya yang berantakan karena keagresifannya tadi ketika mengajaknya bercinta.
Sun tersenyum tipis lalu mengambil gelas itu kembali dan meletakkannya di atas meja. Ia lalu mengambilkan semangkuk buah segar untuk disuapi, tapi Sisca tampak canggung dan seperti menolak perhatian dari calon suaminya.
"Kenapa?" tanya Sun heran.
Sisca menggeleng pelan. Sun memangku mangkok buah tersebut dan menatap potongan-potongan dalam bentuk dadu dengan pandangan sendu.
"Aku belum pernah melakukan hal itu sebelumnya. Kau ... pasti terkejut atau mungkin kecewa. Aku, benar-benar minta maaf," ucap Sun terlihat murung. Sisca diam, tapi pandangannya mulai terangkat. "Aku akan pergi menyusul ayahmu ke Bulgaria. Setelahnya, aku akan menemaninya ke beberapa tempat untuk menyelesaikan bisnis legal serta ilegalnya dan baru kembali untuk menjemputmu menghadiri pernikahan Arjuna-Naomi." Sisca masih membisu dan sesekali menatap Sun yang terus memandangi warna dari potongan buah di mangkuk. "Selama ini, hanya perintah dari nyonya Vesper dan ayahku yang kutaati, meski banyak orang juga menugaskanku, tapi hanya dua orang itu yang kuhormati. Namun, aku melihat ayahmu sangat baik padaku. Dia bahkan tak memandangku rendah atau meremehkanku. Aku suka caranya memperlakukanku bahkan memintaku memanggilnya 'ayah'. Bagiku ... itu sebuah kehormatan besar," imbuhnya yang membuat Sisca kini menatap pria tampan itu lekat.
Sun meletakkan mangkuk di atas meja bersamaan dengan sajian lainnya. Sun berdiri dan menatap Sisca dengan wajah sendu seperti merasa bersalah atas perbuatannya tadi.
"Aku ... akan pergi lebih awal agar tak mengganggu istirahatmu. Sekali lagi, aku minta maaf. Sampai bertemu bulan depan. Selamat sore," ucap Sun seraya membungkuk lalu berpaling.
Sisca melebarkan matanya. Ia terkejut karena tak menyangka jika Sun sangat sopan bahkan mengucapkan maaf berulang kali.
Gadis itu segera turun dari kasur dengan selimut masih membungkus tubuhnya.
"Sun, tunggu!" panggilnya tak peduli dengan penampilannya yang terbilang apa adanya itu.
Sun menghentikan langkah dan membalik tubuhnya. Ia terkejut saat Sisca tiba-tiba saja memeluknya. Sun diam saja, tapi membalas pelukan itu meski terlihat ragu.
"Kau berjanji padaku baru pergi esok pagi. Malam baru akan datang. Kau tak boleh ingkar untuk menemaniku," ucapnya yang membuat Sun tertegun untuk sesaat.
"Kau ... tak marah padaku?" tanya Sun memastikan, dan Sisca menggeleng pelan.
Sisca melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar menatap kekasihnya lekat. Sun makin bingung saat Sisca malah dengan sengaja melepaskan selimut yang menutup tubuhnya dan membiarkan mata sipit pemuda itu melebar melihat kemolekan tubuh gadis di depannya.
Sisca menarik tangan Sun dan mengajaknya kembali ke ranjang. Sun menurut meski masih bingung dengan keadaan ini.
Sisca duduk di pangkuannya dan menghadapkan tubuh hingga keduanya bertatapan lekat.
"Aku tak menyangka jika kau baru melakukannya pertama kali. Jadi ... aku gadis pertama yang bercinta denganmu?" tanya Sisca dengan senyuman. Sun mengangguk dengan gugup. Praktis, senyum Sisca terkembang. "Seingatku ... kau belum keluar. Itu ... harus dikeluarkan atau kau akan gelisah, tapi ... pelan-pelan saja. Aku tak sanggup mengimbangimu," ucapnya cemberut.
Wajah Sun berbinar. Ia mengangguk mantap.
"Ayahmu juga mengatakan demikian saat kujelaskan padanya. Ternyata, tuan Bojan sangat bijak."
Kini, giliran Sisca yang shock mendengar penuturan pria di hadapannya. "What?! Kau bilang apa pada ayah?!" tanyanya memekik, tapi hal itu membuat Sun terkejut.
"Ya, aku jujur saja padanya jika kita telah melakukannya. Makanan itu, ayahmu yang menyarankan berikut memintaku agar jangan terlalu agresif padamu."
Mulut Sisca menganga lebar. Ia kaget karena Sun mengatakannya dengan lugu. Gadis cantik itu membisu dan mematung untuk sepersekian detik mencoba untuk memastikan pendengarannya.
"Jadi ... ayo lakukan lagi. Aku suka saat kau terus-menerus menyebut namaku. Aku juga suka aroma tubuhmu yang wangi serta kulitmu yang halus," ucap Sun jujur, tapi membuat Sisca terdiam.
Sun dengan sigap melepaskan kaosnya dan membiarkan bertelanjang dada. Sisca menelan ludah karena kini ia sudah sadar sepenuhnya. Ia bisa melihat jika tubuh Sun begitu padat karena sering berlatih keras setiap hari.
__ADS_1
"Agh!" rintih Sisca yang terkejut saat Sun merobohkannya hingga ia tertimpa tubuh kekar kekasihnya.
"Kali ini, bertahanlah. Aku ingin sekali memiliki anak darimu. Apakah kau bersedia mengandung anakku nanti, dan menjadi isteriku?" tanya Sun menatap Sisca lekat.
Gadis itu tersenyum penuh rasa haru di hatinya. Ia mengangguk dan memeluk Sun erat. Sun balas tersenyum lebar dan memeluk Sisca enggan dilepaskan.
Kali ini, Sun melakukannya dengan perlahan, tapi pasti. Sisca mampu bertahan dan mengimbangi gaya bercinta Sun yang kini terasa pas untuknya.
Hingga akhirnya, benih itu pun berhasil disemburkan dan bersemayam di rahim calon isteri dari putera M tersebut.
"Haha! Benar begitu, Sun! Hah, anak ini. Sampai harus diajari segala. Hem, semoga aku segera mendapatkan cucu yang tangguh seperti menantuku itu," ucap Bojan senang dengan laptop di hadapannya.
"Maaf, Tuan. Hanya saja, tak perlu mengawasi mereka sampai sejauh ini," ucap Goran yang membuat Bojan langsung bertampang datar.
"Ya Tuhan!" pekiknya kaget dan langsung menutup layar laptop-nya.
Goran dan anak buah Bojan terkekeh geli karena bos besar mereka malah mengintip adegan ranjang puteri tunggalnya dengan calon menantunya. Bojan tetap menjaga wibawa dan berpura-pura tidur untuk menutupi rasa malu.
Siapa sangka, kemampuan Sun dalam mengelola bisnis di luar ekspektasi Bojan. Sun benar-benar mampu bekerja dan bertarung meski dengan setelan ekslusif yang Bojan berikan padanya.
Hingga akhirnya, acara pernikahan Arjuna dan Naomi dilangsungkan di Kastil Hashirama-Jepang.
Sun, Sisca dan Bojan tampak begitu menawan dengan warna senada yakni biru tua untuk pakaian mereka.
"Wow! Sun!" seru Arjuna kaget sampai wine dalam gelas crystal-nya hampir tumpah.
Sun datang didampingi Sisca yang tampak anggun dengan berjalan melenggang di sebelahnya. Arjuna dan Sun saling bersalaman lalu berpelukan.
"Kau terlihat berbeda dan ... keren!" ucap Arjuna memuji dengan kimono pernikahan warna hitam, sedang Naomi berwarna putih yang membuat keduanya tampak berwibawa.
"Kau akan menyesal, Kim Arjuna. Sun akan menjadi penerusku. Keduanya akan segera menikah begitu puteriku dinyatakan hamil anaknya," sahut Bojan yang membuat semua orang di ruangan besar itu menoleh ke arahnya.
"Maaf?" tanya Sun menatap calon ayah mertuanya dengan wajah lugu.
"So-soal itu ... aku tak tahu, Ayah," jawab Sun gugup.
"Ayah?" sahut Arjuna kembali kaget karena perubahan drastis mantan asistennya dulu.
"Ya. Sun akan menjadi penerus menggantikan posisiku kelak. Namun, syarat utamanya adalah. Ia harus menghamili puteriku dulu. Hem, aku rasa penjelasanku sudah sangat detail. Sekali lagi, selamat untuk kalian berdua. Semoga kalian selalu bahagia," ucap Bojan seraya menyalami Arjuna dan Naomi bergantian lalu berpaling pergi untuk menikmati hidangan.
Sun dan Sisca mematung usai mendengar penuturan Bojan yang tak mereka sangka.
"Hehehe. Entah ini disebut apes atau berkah buatmu, Bang Sun," kekeh Jonathan dengan bayi Neil ia gendong di punggung seperti koala, sedang papa muda itu terlihat asyik menikmati hidangan di piring yang ia bawa.
"Sepertinya ... Bojan sangat mengharapkan mendapatkan keturunan darimu. Selamat," ucap Naomi dengan senyum kaku entah apa yang dipikirkannya.
Sun hanya mengangguk dengan senyum paksa, termasuk Sisca. Keduanya menyalami Arjuna dan Naomi yang tampak serasi.
Bayi Sig digendong oleh agent S dan bayi Loria digendong oleh Han. Terlihat, dua kakek perkasa itu menikmati momen indah bersama cucu mereka.
Jordan dan Sandara ikut hadir. Keduanya tampak serasi dengan pakaian berwarna putih berikut Amanda dan Jason yang ikut serta.
"Selamat untuk kalian berdua. Doakan kami merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang kalian rasakan," ucap Jordan seraya mengajak Arjuna bersalaman.
Jordan terkejut saat Arjuna menarik tubuhnya dan malah memeluknya. Sandara dan Naomi saling melirik, tapi kemudian keduanya tersenyum.
"Kau sudah lama tak bertemu Sig. Jangan sampai puteramu tak mengenali ayah kandungnya. Ayo!" ajak Arjuna merangkul pundak Jordan kuat.
Naomi dan Sandara menatap dua lelaki yang mereka cintai tampak bersahabat tak berselisih seperti dulu. Jordan terlihat gugup ketika S memberikan Sig padanya.
Arjuna mengenalkan pada Sig lagi jika Jordan adalah ayahnya. Hanya saja, Sig yang masih bayi belum memahami hal itu.
Jordan bisa memaklumi hal tersebut dan berterima kasih atas kebaikan hati Arjuna yang tetap memberikan ruang pada dirinya dalam kehidupan Sig kelak.
__ADS_1
"Jadi ... bagaimana perasaanmu sebagai calon ibu?" tanya Naomi yang kini memberanikan diri bertanya pada calon isteri mantan suaminya.
"Aku sangat bahagia. Akhirnya, aku merasa sempurna karena akan menjadi seorang Ibu. Malah, aku ingin mengandung lagi saat anak pertamaku ini lahir," jawab Sandara yang membuat Naomi langsung melebarkan mata.
"Kau ... akan melakukan inseminasi buatan lagi? Siapa calonnya kali ini?" tanya Naomi penasaran, tapi juga antusias.
"Raden. Putera dari Satria dan Tika," jawab Sandara tenang. Naomi mengangguk paham. "Kami penasaran dengan gen kalangan sipil biasa apakah akan sebagus benih dari Sun nanti atau tidak. Itu juga akan terlihat saat kami mendidik keduanya nanti."
Naomi kembali mengangguk meski ia jadi berpikir jika dua anak itu malah seperti percobaan bagi Jordan dan Sandara.
Naomi beruntung karena ia tak terlibat. Ia membayangkan kehororan di kemudian hari saat dua anak itu dalam asuhan Jordan dan Sandara, mengingat sikap keduanya memang lain dari manusia normal kebanyakan.
"Ya, good luck," ucap Naomi kaku, dan Sandara tersenyum tipis.
Sandara lalu beranjak mendekati calon suaminya lagi. Kali ini, Kai ikut bergabung meski ia terlihat letih, begitupula Jeremy.
Namun, mata Sandara beralih ke arah Han yang bergerak ke dua wanita cantik. Ketiganya tampak bicara serius di kejauhan.
"Bagaimana kesehatan mereka?" tanya Han di hadapan Rayya dan Roxxane yang ikut menjadi asisten bagi dua pria jenius itu.
"Ya, begitulah. Mereka masih gagal dalam menerapkan sistem otomatis pengawetan. Kai terlalu memaksakan diri. Ia sampai tak beristirahat. Kami tak bisa menasihatinya lagi karena ia keras kepala. Katanya, dia tak ingin membuat Vesper menunggu terlalu lama. Kasihan," jawab Rayya sedih, dan diangguki oleh Roxxane.
"Karena hal itu, Jeremy tak tega. Ia ikut lembur untuk menemani Kai bekerja," sahut Roxxane.
"Aku akan bicara pada papa," timpal Sandara yang ternyata mendengar pembicaraan itu.
Han dan dua isteri Jeremy terkejut ketika Sandara berjalan mendatangi sang ayah lalu mengajaknya pergi.
Han melihat Sandara meminta Kai duduk dan menawarkan beberapa hidangan untuk ayahnya. Han tersenyum tipis.
"Papa tak lapar, sungguh," jawab Kai menolak tawaran anak perempuannya.
"Jangan bohong. Aku bisa melihat kau kelelahan, Papa. Jangan seperti itu. Jangan memaksakan diri. Mama bisa memahami kerja kerasmu. Jika kau sampai sakit, pembuatan tabung malah akan terkendala dan proyek penting itu bisa terancam gagal karena kau adalah otak dibalik kesuksesan itu," ucap Sandara menasihati.
Kai diam menatap anak perempuannya lekat. Ia lalu tersenyum dan mengangguk.
"Ambilkan apapun yang menurutmu baik untuk Papa," ucap Kai pada akhirnya.
Sandara tersenyum dan segera mengambilkan beberapa makanan untuk Kai. Jonathan yang ikut mendengar penuturan dari Han mendekati Kai. Suami termuda Vesper menatap Jonathan lekat.
"Papa Kai piknik yuk. Inget gak? Dulu papa Kai janji ajak Nathan ke Swiss loh ke tempat pakde Satria. Sampai sekarang, belum kesampaian," ucap Jonathan yang membuat Kai terkejut.
"Oh ya? Kukira sudah," tanya Kai mengedipkan mata memastikan ingatan lamanya di mana Vesper masih hidup saat itu.
"Makanya. Ayo ke sana. Pikiran yang tenang, akan membuat pekerjaan lancar. Siapa tahu saat piknik nanti, papa Kai dapat ide brilian agar pembuatan tabung tak mengalami kendala lagi," jawab Jonathan antusias.
"Ya, pergilah, Papa. Jika boleh, kami juga ingin ikut serta," sahut Lysa dengan Fara dan King D berjalan mengapitnya.
Kai tersenyum lebar dan mengangguk. Satria, Tika dan Shinta yang datang ke pernikahan hari itu menyetujui hal tersebut.
"Wah! Pasti akan sangat seru dan ramai seperti dulu lagi, meski mama gak ada. Namun, kebersamaan kita harus ditunjukkan ke mama. Bukankah kita semua sudah berjanji tak bersedih lagi usai mama pergi. Jadi, wujudkan harapan terakhir mama dengan kebahagiaan kita!" seru Jonathan dan kali ini idenya disetujui semua orang.
"Bolehkah Swiss masuk dalam daftar honeymoon kami?" tanya Arjuna dengan Naomi berjalan di sampingnya.
"Tentu saja!" seru Satria menimpali.
Sandara tersenyum saat dirinya dipaksa ikut oleh orang-orang yang menyayanginya. Jordan mengangguk pelan, dan pada akhirnya Sandara akan ikut serta.
"Kita pergi ke Swiss!" seru Jonathan riang dan disambut tepuk tangan meriah.
***
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya jeng Yuki😍 puanjang nih epsnya. yg dari kemarin lupa wajah Sun, noh udh lele tongolin lagi. jangan nglunjak ya😆