4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Lima Isteri*


__ADS_3

Bantu ramaikan novel SIMULATION yak. Boom like aja dulu kaya yang lain, bacanya ntar. Atau favoritin dulu biar bisa tau kapan updatenya. Lumayan kalau buat marathon di saat gabut ya kan. Kwkw. Tengkiyuw yg udah kasih tips sejak kemarin. Lele padamu💋💋💋


------- back to Story :


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


Di sisi lain, tim dari Arjuna. Mereka mendatangi satu persatu hunian yang disinyalir tempat Ungu genit berada.


Namun sepertinya, pria itu mengetahui jika dirinya sedang diburu. Tempat-tempat tersebut kosong seperti ditinggalkan dalam keadaan tergesa. Beberapa barang masih berada di tempatnya.


Mereka bicara bahasa Spanyol. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Kang, minta Bala Kurawa-ku untuk menjaga tempat ini. Juna yakin, jika orang-orang itu akan kembali lagi kemari," ucap Arjuna melihat kondisi rumah tersebut.


"Siap, Bos!" jawab Biawak Putih segera menghubungi Zulfa—Sylph— yang kini bertanggungjawab di Camp Militer khusus mengurusi Bala Kurawa yang ditahan di sana. "Udah, Jun. Nanti mereka akan kirimkan 15 orang jaga di tempat ini," sambung Biawak Putih dengan ponsel dalam genggaman. Arjuna mengangguk paham.


"Eh, tapi aneh loh. Terus ke mana ini, keluarga dari isteri keempat Pak Sutejo? Mereka ngungsi ke mana ya?" tanya Biawak Hijau sembari mengambil sebuah bingkai foto yang berisi potret keluarga mendiang ibu Markonah.


"Maksudnya?" tanya Arjuna seraya mendekat dan ikut melihat foto itu sekilas.


"Jadi gini. Ijo dan Putih berasumsi jika Ungu genit datengin semua kediaman isteri-isteri dari pak Sutejo. Bapak itu isterinya 5. Eko pernah cerita, kalau dulu bapak pernah nawarin ibumu jadi isteri kelimanya, tapi ditolak."


"What?!" pekik Arjuna langsung melotot.


"Untung gak diterima ya to. Coba kalo nikah beneran. Kamu gak bakalan brojol di dunia dedemit ini, Junet. Bersyukurlah ibumu masih waras, gak terlena sama kekayaan pak Tejo, gak kaya isteri-isteri dia lainnya. Udah tau dimadu, tapi tetep aja diembat. Dasar mata duitan itu ibu-ibu," jawab Biawak Hijau malah ngedumel.


Arjuna terkesikap dengan ucapan lelaki bertubuh besar di hadapannya yang tak pernah tahu kisah itu.


Entah kenapa, ia merasa lega karena ibunya tak menikahi mafia asal Indonesia yang rajin berpoligami itu.


"Apa mereka ditawan? Dijadikan sandera oleh Ungu? Biasanya, di film-film seperti itu 'kan? Penjahat menyekap para sandera untuk mendapatkan jaminan dengan nilai tinggi," sahut Jose menimpali dengan alat translator selalu terpasang di telinganya.


"Wah, bener juga. Bisa jadi itu," sahut Hijau setuju dengan mantap.

__ADS_1


"Oke, Kang. Coba, kalian petakan semua tempat dari kelima isteri pak Tejo. Juna harus tahu. Selama ini, Juna ikut aja ke mana kalian berdua ajak pergi. Namun, sudah waktunya kita berbagi informasi," ucap Arjuna tegas menatap dua Biawak di depannya. Dua pria itu akhirnya mengangguk mantab.


Sebuah peta dunia di bentangkan. Samuel dan lainnya yang ikut dalam kelompok Arjuna untuk menjalankan misi, ikut mengamati lembaran kertas sebesar meja itu.



"Kemarin, kita ada di Puerto Rico. Rumah yang kita datangi itu, adalah salah satu usaha yang dimiliki oleh isteri ketiga bapak yang dikasih ke anaknya, warisan. Namanya, ibu Juleha Mangkrak. Cuman, ibu sudah meninggal gak lama setelah kematian bapak usai kejadian Wonosari kala itu," tegas Biawak Putih menujuk pulau tersebut.


Arjuna dan lainnya mengangguk paham.


"Nah, tempat kita sekarang berada di sini, Suriname," sahut Biawak Hijau menunjuk peta tersebut. "Tempat ini milik Ibu Parinten, isteri kedua bapak".


"Oke, lainnya?" tanya Arjuna menatap dua pria itu bergantian dengan seksama.


"Panama, isteri pertama pak Sutejo, namanya bu Ajeng Maharani. Lalu isteri keempat bu Markonah Widuri yang ada di Peru."


"Lalu, isteri kelima?" tanya Miguel menyahut.


"Sudah meninggal. Siti Fatonah, ibu dari Yudhi yang sekarang ditawan oleh Ungu bersama dengan Ahmed," sahut Biawak Putih cepat.


"Mereka ada di Timur Tengah. Semua keluarga pak Sutejo sengaja tersebar di seluruh dunia agar tak mudah dilacak oleh para penjahat yang mengincar mereka. Ahmed aja di Turki, belum yang lainnya," sahut Hijau menjelaskan.


Arjuna memijat kepalanya. Ia merasa dituntut untuk berkeliling dunia, sedang waktu terus mendesaknya.


Semua orang menatap Arjuna dengan iba, mereka bisa merasakan tekanan yang diterimanya.


"Atau kita pecah saja kelompok kita?" sahut Tulio menimpali.


"Berbahaya. Mereka ini bukan orang-orang sembarangan. Musuh kita kali ini, sudah mengenali gaya bertempur kita, bahkan menggunakan produk ciptaan kami. Jika tak waspada, kalian bisa langsung tewas sejak menginjak wilayah mereka," sahut Sun tegas. Samuel dan anak buahnya yang menyadari jika kemampuan bertempur serta bertarung mereka di bawah standar langsung pucat. "Haruskah kita libatkan para senior, Tuan Muda?"


"Jangan. Aku tak mau menambah masalah. Aku ... ingin bicara dengan ibuku. Bisakah kau sambungkan, Kang?" jawab Arjuna berwajah sendu.


Semua orang diam saling melirik. Namun pada akhirnya, Biawak Putih mengangguk. Arjuna ingin diberikan waktu privasi dengan menghubungi sang ibu di kamarnya.


Entah kenapa, semua orang ikut tegang, ketika Arjuna menutup pintu kamarnya rapat di dalam yacht. Mereka bahkan menguping.

__ADS_1


"Huff, oke, oke. Kamu bisa, Juna. Cuma telepon doang," ucapnya menyemangati diri sembari melompat-lompat kecil seperti pemanasan.


"Hehe, Junet deg-degan," sahut Hijau, dan semua orang terkekeh tanpa suara. Mereka kembali menempelkan telinga di pintu.


"Agh, tapi ... ish, gimana nih? Gengsi lah. Pasti mama nanti malah ceramahin Juna, atau malah dia pasang wajah sedih dan bikin Juna makin ngerasa bersalah. Mama 'kan pinter banget mendramatisasi keadaan. Aduh, kenapa ribet gini sih?" keluhnya yang sibuk mondar-mandir dan tak jadi menelepon.


"Hehe, Junet galau," kekeh Biawak Putih dan semua orang makin gemas karenanya.


"Agh, telepon ayah saja!"


"Yaahhh," para pendengar langsung kecewa. Mereka membubarkan diri dan tak tertarik lagi untuk menguping.


Arjuna menarik nafas dalam. Kali ini terlihat siap melakukan video call dari ponsel Biawak Putih.


Arjuna merapikan dirinya. Menyisir rambutnya yang gondrong dengan jemarinya, dan menutupi tatonya yang semakin banyak dengan meluruskan gulungan di kedua lengan kemeja. Arjuna berdehem agar suaranya lancar ketika bicara.


"Kau?"


Arjuna tersentak. Wajah Ayahnya yang terbalut perban sebagian, rambutnya dicukur habis, membuat Arjuna langsung mematung dengan mata membulat penuh. Han menatap wajah anak lelakinya tajam tanpa berkedip.


"A-Ayah," panggilnya lirih.


Han diam, tapi hal itu malah membuat Arjuna gugup dan pandangannya tak menentu. Han menoleh ke samping seperti melakukan sesuatu. Arjuna mencuri pandang sesekali terlihat kikuk.


"Ada apa?" tanya Han bersuara serak.


"Hem? Aku tak mendengarmu, Ayah," jawab Arjuna mendekat seraya memaksimalkan volume suara pada ponsel Biawak.


"Aku tak bisa bicara kencang. Tenggorokanku terbakar, paru-paruku cidera. Sepertinya, hidupku tak lama lagi," jawabnya berwajah sedih.


Jantung Arjuna berdebar kencang seketika. Ia terlihat takut kehilangan sang Ayah tercinta.


***


tengkiyuw tipsnya. lele padamu💋💋💋

__ADS_1



__ADS_2