
kwkwk belum up dan dicariin ternyata. maaf kerjaan padat gila. ini aja remek badan ekeh. btw karena gak ada tips tambahan, jadi hari ini 1 eps ya. lele mau up novel lain aja. trims sudah menunggu dan tengkiyuw alra shid koinnya, lele padamu❤️
------ back to Story :
Jonathan semakin merapatkan telinganya ke pintu kamar Click and Clack. Jantung Jonathan berdebar. Ia penasaran kepada siapa dua bodyguard-nya bicara.
Hingga tiba-tiba, ia menyadari jika orang yang diajak bicara adalah seorang perempuan, dan Jonathan tak mengenali suara siapa itu.
CEKLEK!
"Oh!" kejut Click dan Clack saat mendapati Jonathan membuka pintu kamar dengan mata melotot melihat mereka berdua berbicara pada sosok yang ia kenali.
"You?!"
CLEB! CLEB! BRUK! BRUK!
Mata Jonathan semakin melebar, ketika sosok putih berjubah dan memakai topeng menembakkan peluru bius mengenai leher dua pria berkepala gundul, hingga mereka jatuh tak sadarkan diri di lantai.
"Hei! Stop!" teriak Jonathan menunjuknya dengan mata melotot.
Sosok itu segera berpaling dan berlari dengan cepat menuju ke jendela. Namun, saat ia memanjat dan siap melompat, GRAB! BRUKK!
"Ugh!" rintih perempuan itu saat pinggulnya ditarik kuat oleh Jonathan hingga ia malah jatuh terlentang dengan Jonathan berdiri di sampingnya melotot tajam.
Namun, perempuan itu tak menyerah. Ia bergulung ke samping dengan cepat, bahkan Jonathan sampai kaget karena reflek orang itu seperti seorang ninja, tapi berpakaian serba putih.
"Eh?!" pekik Jonathan kaget dan kembali mengejar saat sosok itu berlari kencang keluar dari kamar.
Dengan sigap, Jonathan menempelkan telunjuk kanan ke layar jam tangan sambil berlari.
KLEK! KLEK! KLEK!
Perempuan itu terkejut, saat tiba-tiba muncul barikade yang menutup lorong dari tiap persimpangan jalan pada dinding koridor berupa pagar besi.
Sosok itu bingung dan melihat ke segala arah untuk mencari tempat kabur.
"Jangan pikir bisa kabur, hah! Black Castle udah gak kuno kaya dulu lagi!" teriaknya lantang saat perempuan itu berdiri di sebuah pintu karena tak bisa kabur ke manapun.
Tapi, tiba-tiba, BRAKKK!!
"Woi! Jangan dirusak! Ish, bar-bar!" teriaknya marah karena perempuan itu menendang sebuah pintu berulang kali hingga jebol.
Jonathan geram dan kembali berlari mengejarnya karena perempuan itu masuk ke dalam kamar tersebut. Namun, semua jendela telah tertutup rapat dan memiliki jeruji besi.
Jonathan tersenyum penuh kemenangan seraya berlari kencang ke arah sosok itu, tapi tiba-tiba, BUKK!!
"Aggg!" rintih Jonathan yang terhuyung ke belakang karena hidungnya dipukul kuat oleh sosok itu dengan kepalan tangan kanan. "Wah, kasar!" teriaknya marah sembari memegangi hidungnya yang sakit dan berdarah.
Sosok itu melihat jam tangan Jonathan dan kini malah mendatanginya. Jonathan kaget saat tangannya yang memakai jam tangan berusaha dilepaskan dengan kasar oleh perempuan itu.
"Eh, gak boleh! Ih, maksa!" tegurnya memberontak lalu mendorong kuat dada perempuan itu. Namun seketika, baik Jonathan atau sosok itu terdiam. Keduanya saling berhadapan dan bertatapan tajam. "Ma-maaf, gak sengaja," ucapnya meringis seraya memegangi jam tangannya kuat.
Namun, perempuan itu kembali mendatanginya untuk merebut jam tersebut. Jonathan kali ini lebih serius. Ia menangkap tangan wanita itu lalu membalik tubuhnya dengan cepat. Akan tetapi, gerakan Jonathan terbaca.
BRUKK!!
"Agh!" rintih Jonathan saat ia malah jatuh telengkup dan tertindih tubuh wanita itu.
Perempuan tersebut bersikeras melepaskan jam tangan Jonathan. Namun, pemuda itu melihat peluang. Ia menarik jubah putih wanita tersebut kuat hingga lawannya jatuh ke samping. Jonathan menyeringai.
Namun lagi-lagi, tekniknya terbaca. Wanita itu berdiri seraya memegangi jubahnya kuat.
Jonathan ikut berdiri dengan cepat, tapi tiba-tiba, wanita itu malah berlari memutarinya. Jonathan terlilit jubah seperti bayi di bedong. Jonathan tak bisa bergerak karena terhimpit.
__ADS_1
"Eh, mau apa?!" pekiknya panik saat sosok itu mengeluarkan pisau lipat di hadapannya.
SREETTT!!!
"Aggg!" teriak Jonathan dengan mata terpejam, tapi ia baru menyadari jika ternyata perempuan itu memotong jubah tersebut.
Mata Jonathan melotot. Ia melihat perempuan itu berjongkok dan memasukkan tangannya ke dalam celah kain yang menjadikan Jonathan seperti kepompong.
"Haha, hahahaha!" tawa Jonathan yang malah merasa geli karena seperti digelitiki.
Jonathan roboh dan malah bergulung-gulung di lantai. Tangan wanita itu tersangkut di dalam kain dan ikut bergulung.
"Ahhh ...."
Perempuan itu terkejut saat mendengar suara tawa Jonathan digantikan dengan suara rintihan kenikmatan.
Sosok itu bingung saat ia merasakan jika tangannya seperti menyentuh benda lain yang terasa padat dalam genggamannya.
"Itu ... aduh, itu bukan tangan Nathan. Tapi, jangan lepasin. Rasanya enak," pintanya dengan wajah berkerut dalam posisi tengkurap.
"What?"
"Ini, lepasin dulu. Aduh, Nathan gak bisa napas, nanti Nathan mati gimana?"
Sosok itu kembali mengeluarkan pisau lipat dengan tangan yang lain. Ia yang ikut terlentang di lantai dengan tangan kanan tersangkut di dalam kain, akhirnya nekat merobek kain itu untuk membebaskan Jonathan.
"Hah ... lega. Aduh," rintihnya, tapi dengan helaan nafas panjang dan perempuan itu menarik tangannya.
Perempuan yang mengenakan pakaian serba putih itu diam saja saat Jonathan merangkak mundur ke atas tubuhnya dengan cepat.
"Nathan yakin kamu bukan orang jahat. Kamu udah nolong Nathan beberapa kali," ucapnya. Namun, sosok itu diam saja tak menjawab. "Kamu siapa?" tanyanya seraya memandangi topeng putih yang menutupi sosoknya.
Perlahan, tangan kanan Jonathan menyentuh topeng itu. Sosok tersebut tak bergerak, ketika Jonathan berhasil menangkap topeng miliknya dan mengangkatnya. Jonathan terlihat gugup dengan rasa penasaran yang tinggi.
"No Face? The Circle?" tanya Jonathan memastikan.
"Keduanya."
"Nama?"
Gadis itu diam sejenak memasang wajah datar, meski Jonathan bisa melihat jika lawan bicaranya tegang.
"Casandra."
"Sandra?"
Gadis itu menggeleng. "Cassie." Jonathan ber-Oh. Keduanya saling memandang untuk beberapa saat. Jonathan malah mematung dengan topeng dalam genggamannya.
"Kenapa kemari?"
"Di mana Sierra?"
Wajah Jonathan langsung berubah dingin seketika. Ia menyingkirkan tubuhnya dan duduk di lantai terlihat kesal akan sesuatu. Gadis bernama Cassie ikut duduk dan menatapnya seksama.
"Apa yang tak kuketahui?"
Jonathan menoleh ke arahnya dan menatap gadis itu tajam. "Kamu tanya, Nathan jawab. Nathan tanya, kamu jawab. Deal?" ajaknya seraya menyodorkan tangan untuk kesepakatan. Gadis itu meraihnya dan menyambut jabat tangan itu. "Ladies first."
"Di mana Sierra?"
"Entahlah. Aku tak ada niatan untuk melacaknya," jawabnya dengan wajah tertunduk. "Kau. Kenapa menolongku? Kau 'kan orang The Circle, musuh 13 Demon Heads."
"Aku beralih pihak."
"He? Maksudnya?"
__ADS_1
"Jangan curang. Giliranku," tegasnya dan Jonathan baru sadar jika ia menyerobot antrian. "Cari Sierra."
"Eh, itu permintaan bukan pertanyaan. Gak sekolah ya?"
"Aku hanya sekolah sampai sekolah dasar, setelah itu menjalankan misi sampai sekarang."
"Eh, Nathan gak tanya soal sekolah, tapi ... gak papa, anggap aja informasi tambahan," sahutnya yang merasa dicurangi, padahal sebenarnya ia tak sadar jika jawabannya mengandung pertanyaan.
"Kenapa kau tak jadi menikahi Sierra? Aku lihat karangan bunga di bawah, Arjuna dan Tessa yang akan menikah besok," tanya gadis itu dengan wajah datar.
Jonathan menghembuskan nafas panjang. "Ia ... sudah berubah. Dia bukan Sierra-ku yang dulu. Nathan gak jadi nikah dengan dia. Sierra juga gak cinta sama Nathan. Semuanya sudah selesai," jawabnya terlihat sedih.
"Ha?"
"Kok ha? Iya emang gitu kok. Udahlah, jangan bahas Sierra lagi, bikin dongkol tau gak. Oia, kok, kamu bisa bahasa Indonesia?" tanya Jonathan bingung.
"Aku diprogram untuk menjalankan misi. Aku menguasai 10 bahasa, salah satunya Indonesia."
Jonathan terlihat kagum. Ia mendekatkan tubuhnya dan menatap gadis yang baru dikenalnya seksama dengan mata berbinar. Gadis itu menatap Jonathan dengan wajah datar entah apa yang dipikirkannya.
"Bagaimana caraku pergi dari sini?"
"Mm, gimana ya? Boleh aja sih, tapi ... tadi 'kan katamu, kau beralih pihak. Jadi sekarang, kamu berpihak sama Nathan 'kan?" Gadis itu mengangguk. "Kenapa masih cari Sierra? Gak usah. Anggap aja udah jadi bangkai orangnya."
"Ha?"
"Ha mulu. Ngomong sama kamu kaya ngomong sama Jordan. Itu wajah gak bisa liatin ekspresi lain apa. Datar kaya tembok, untung cantik."
Gadis itu diam saja mengedipkan mata.
"Smile," pinta Jonathan dengan senyum terkembang.
"Aku tersenyum."
Kening Jonathan berkerut. "Kayaknya kamu harus sekolah kepribadian deh, Cassie. Kamu bener-bener gak ngerti cara berekspresi. Jangan-jangan, idupmu datar kaya jalan tol," ucap Jonathan yang membuat Cassie mengedipkan mata. "Nathan punya banyak pertanyaan buat kamu, jadi ... kamu gak boleh pergi," jawabnya dengan senyum penuh maksud.
Tiba-tiba, Cassie langsung berdiri dengan jam tangan Jonathan sudah berada dalam genggamannya. Jonathan kaget, ia tak sadar kapan benda itu diambil dari dirinya.
"Hei! Ish, licik banget!" geramnya seraya berdiri.
Jonathan kembali berlari mengejar perempuan tersebut. Cassie mencoba mengoperasikan jam tangan itu, tapi ternyata tak berhasil.
Cassie tak tahu, jika jam tangan tersebut hanya bisa digunakan oleh Jonathan karena hanya sidik jarinya yang terekam di sana.
GRAB!
Cassie terkejut, saat Jonathan memegang pundaknya. Gadis itu menarik tangan Jonathan dan BRAAKKK!!
"Agh!" rintih Jonathan saat ia dibanting dengan gaya Judo dan tubuhnya menghantam pintu kamarnya hingga jebol.
Cassie mendatangi dan menarik telunjuknya. Jonathan mengerang melawan kekuatan gadis tersebut yang ternyata cukup tangguh. Jonathan tak mau kalah.
KRAUKK!
"Agh!" rintih Cassie saat tangannya digigit oleh Jonathan.
Dengan sigap, Jonathan merebut jam tangan dalam genggaman gadis itu, tapi Cassie kembali melakukan perlawanan.
Keduanya roboh di lantai dan bergulung-gulung saling berebut jam, hingga akhirnya Cassie duduk di atas pinggul Jonathan.
Sayangnya, Jonathan malah merasakan gelanyar aneh ketika Cassie melakukan perlawanan di atas tubuhnya.
"Emph, aduh," rintihnya seraya memeluk Cassie erat yang roboh dan terkurung dalam dekapan serta kuncian kakinya.
Gadis berambut pirang kuncir kuda itu tak bisa berkutik. Matanya terbelalak saat Jonathan malah menciumi lehernya dan menyodokkan miliknya meski masih terbungkus kain.
__ADS_1