
Akhirnya, hari yang dinantikan oleh keluarga pengantin tiba. Kediaman Amanda di Napoli ramai seketika.
Para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads datang, termasuk Agent M dan S yang menjadi pembimbing Naomi selama di bawah didikan mereka. Gadis asal Jepang itu menjadi salah satu Black Armys lulusan terbaik usia muda.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Kalian berdua tampak serasi sekali. Kau sangat tampan, Jordan. Walaupun kau lebih muda dari Naomi, tapi kulihat kau sudah seperti pria dewasa dengan pemikiran bijak tak seperti dulu," ucap Vesper seraya menjabat tangan pengantin pria.
"Ya, aku berubah banyak karena wanita cantik di sampingku ini, Nyonya Vesper. Terima kasih," jawabnya dengan senyum tipis.
Kai ikut menyalami sepasang suami isteri tersebut berikut Han. Kai mengambil dua gelas wine saat pelayan melewatinya. Hanya saja, terlihat jelas Han seperti canggung akan sesuatu.
"Aku selaku ayah Kim Arjuna minta maaf, jika selama kau ikut dengan puteraku, dia bersikap menyebalkan, atau mungkin menyakiti hatimu."
Naomi tersenyum tipis. "Anda tak perlu meminta maaf, Tuan Han. Apapun yang Tuan Muda lakukan, itu sudah menjadi keputusannya."
"Kim Arjuna," tegas Jordan.
"Hem?" tanya Naomi mengedipkan mata menatap suaminya terlihat bingung.
"Kau tak perlu memanggilnya tuan muda lagi. Panggil dia Kim Arjuna, kalau perlu Junet, seperti yang lainnya. Kau kini sudah sederajat dengannya. Dia Vice President, begitupula denganmu. Bahkan kau seribu kali lebih hebat dengannya. Kau lulusan cumlaude universitas jurusan bisnis management, sedang dia tidak. Dari segi kepintaran, Kim Arjuna jauh di bawahmu, termasuk pola pikirnya yang dangkal."
Mata Han terbelalak, termasuk orang-orang yang mendengar ucapan frontal Jordan.
"Hahaha, hahahahaha!" tawa Kai meledak tiba-tiba. Ia terlihat begitu senang setelah Jordan blak-blakan mengutarakan pemikirannya. Han melotot Kai tajam. "Rasanya menyakitkan jika mendengar penilaian dari orang lain, tapi ... itu benar, Kim Han Bong. Anakmu memang seperti itu. Sayang, Arjuna tak ada di sini," ucap Kai tersenyum miring.
"Oh, kata siapa, Kai sayang? Dia sudah di sini. Hem, jantan juga anak keduaku itu," timpal Vesper dengan senyum tersudut.
Suasana canggung seketika. Kim Arjuna datang bersama Tessa berdampingan berpakaian serasi.
"Hem, selamat," ucap Arjuna santai dengan tatapan seperti merendahkan Jordan tak menyalaminya.
"Selamat karena aku lebih unggul darimu? Aku lulus Camp Militer dengan predikat terbaik di usia muda. Aku bahkan menikah di usia remaja. Dan aku, menikahi seorang wanita yang diabaikan oleh seorang lelaki pengecut,
egois, dan munafik dengan perasaannya. Aku ... lebih hebat darimu dari segala hal, Kim Arjuna. Bahkan aku lebih kaya," tegas Jordan dengan tatapan tajam mengintimidasi disertai ucapan menohok.
Nafas Arjuna menderu. Terlihat, Han ikut tersulut emosi. Vesper, Tessa, dan Naomi terlihat bingung dalam bersikap.
"Hohoho, Nathan bisa merasakan kobaran api dan kilatan petir dari mata kalian berdua," imbuh Jonathan seraya mendekat.
__ADS_1
"Ya ampun. Masalah baru datang," keluh Vesper memalingkan wajah.
"Hem, pacar baru? Sudah melupakan Cassie?" sahut Arjuna melirik sadis saudaranya.
Namun, Jonathan tak tersinggung. Gadis cantik yang kini berjalan di sampingnya seraya merangkul lengan anak ketiga Vesper tersebut, terlihat biasa saja menanggapi ucapan Arjuna.
"Yang sopan dong, Kak. Dia ini puteri dari Tuan Bojan. Kenalin, Jessica. Panggilannya, Sisca," ucap Jonathan mengenalkan kekasih barunya.
"Hai, Kim Arjuna. Hai, Tessa," sapa Sisca mengajak berjabat tangan, tapi Arjuna enggan menjabat. Hanya Tessa yang menerima jabat tangan itu. "Oh, dia sombong sekali, Nathan. Pantas saja, banyak anggota dewan meragukan kepemimpinan Kim Arjuna," ucap Sisca mencibir.
"Hahahaha!" Kai kembali tertawa terbahak. Entah kenapa ia terlihat begitu bahagia hari itu dengan dua gelas wine di kedua tangan telah kosong.
"Oh, pantas saja. Ayo, Kai sayang. Kita sebaiknya menikmati hidangan pesta. Di sini terlalu panas," ajak Vesper seraya mengambil dua gelas kosong di tangan suami termudanya dan menyerahkan ke pelayan yang melewatinya.
Kai tersenyum lebar sembari melambaikan tangan kepada orang-orang yang masih berkumpul di sekitar Jordan.
Jonathan terkekeh. "Papa Kai kalo mabok lucu banget," ucapnya saat melihat Kai tersenyum dan tertawa ketika diajak mengobrol oleh siapapun. "Eh, Ayah Han masih di sini?" tanya Jonathan menunjuknya, tapi Han melirik sadis. "Apa sih? Ya udah, kita pergi aja, Yang. Orang-orang ini gak jelas," ajak Jonathan dan Sisca mengangguk setuju.
"Mm, terima kasih atas kedatangan kalian. Mm, kalian bebas memilih meja manapun. Silakan," ucap Naomi sungkan, tapi Arjuna dan Jordan masih bertatapan tajam.
Tessa dan Naomi saling melirik. "Oh gaunmu cantik sekali. Biar kutebak, Beny yang membuatnya?" tanya Tessa berbasa-basi.
"Yes. Jordan yang merancangnya. Kau percaya itu? Oh, apa kau ingin mengincipi kue pernikahan kami? Jordan juga yang memilihnya," jawab Naomi dengan senyum terkembang.
"Hei!" panggil Arjuna karena malah ditinggal oleh sang isteri.
Tessa tak menggubris panggilan sang suami dan asyik mengobrol dengan Naomi. Jordan tersenyum sinis.
"Apa kau tak bosan berkelahi denganku? Aku saja jenuh. Nikmati pestanya, jika tak suka, pergi saja. Tak ada yang memaksamu berada di sini dalam waktu lama. Namun, melihat isterimu cocok dengan isteriku, sebaiknya kau bertahan. Sampai jumpa," ucap Jordan meninggalkan dua tamu yang masih memandanginya tajam.
"Dasar keparat sialan. Benar-benar menjengkelkan seperti Antony Boleslav," geram Han.
"Kau benar, Ayah. Mulutnya tajam sekali. Aku dihina tepat di depan semua orang!" gerutu Arjuna mendengkus keras.
"Dia tadi mengatakan apa? Lebih kaya darimu?" tanya Han melirik anaknya tajam, dan Arjuna mengangguk membenarkan. "Dan kau diam saja?" Arjuna menggeleng. "Tunjukkan dan buktikan bahwa kau lebih unggul darinya. Cepat punya anak, jika perlu, tiga sekaligus," sambung Han yang membuat mulut Arjuna menganga lebar.
"Ti-tiga?" tanya Arjuna tergagap, dan Han mengangguk mantap. Sang ayah menepuk pundak Arjuna mantap lalu pergi meninggalkannya yang sedang dirundung kebingungan.
__ADS_1
Acara di hari yang menjelang malam itu berlangsung meriah. Para tamu yang telah disediakan kamar khusus untuk menginap dan menikmati pesta di malam hari, kembali memenuhi halaman belakang kediaman Amanda.
Dekorasi cantik dengan jamuan makan malam sudah disediakan. Para anggota dewan didampingi para isteri dan suami, duduk di sebuah meja panjang ditemani oleh sepasang pengantin yang berbahagia di malam bercahaya bulan. Kesan romantis dan hangat begitu terasa di sana.
Nuansa merah muda, hitam dan putih mendominasi dekorasi pernikahan pada hari itu. Arjuna memilih duduk di bangku paling ujung masih memasang wajah masam.
Hingga acara makan malam formal berakhir, para tamu tetap terlihat antusias mengikuti pesta dengan berdansa.
Mata Arjuna tak bisa lepas dari sosok Naomi yang tampil begitu memukau dengan gaun berbeda malam itu berkesan santai, tapi tetap anggun.
'Di mana anak mereka berdua? Hah, dasar orang tua tak bertanggungjawab. Mereka asik berpesta dan meninggalkan anak-anak mereka di rumah dengan pengasuh. Hem, keputusanku sudah tepat dengan meninggalkan Naomi dan memilih Tessa. Naomi bukan ibu yang baik. Dia pasti akan menelantarkan anakku nantinya. Ia sudah dibutakan dengan harta berlimpah yang Jordan berikan padanya. Dasar matre, tak jauh beda dengan mama dan semua wanita lainnya,' ucap Arjuna yang hati dan pikirannya diliputi kebencian.
Hingga tiba-tiba, seorang anak perempuan berlari mendatangi Arjuna sembari membawa keranjang. Pandangan Arjuna teralih ke sosok anak kecil itu.
BRUKK!
"Ihik," tangisnya tiba-tiba. Arjuna dengan sigap langsung beranjak dari dudukkannya dan membantu anak itu berdiri.
"Oh, kau tak apa? Aduh, lecet ya? Gak papa, nanti sembuh kok," ucap Arjuna seraya membersihkan lutut anak kecil itu yang kotor terkena rumput.
"Eh, you?"
Arjuna menaikkan pandangan seketika. Ia ikut kaget ketika mendapati sosok wanita yang dikenalinya dan sudah lama tak bertemu.
"Hiks, Mommy," ucap anak kecil itu mendatangi sang Ibu dan minta digendong olehnya.
"Mommy?" tanya Arjuna bingung ketika Sia mengangkat anak perempuannya sembari menepuk punggungnya lembut.
"Hai, Arjuna. Lama tak bertemu. Ya, ini anak perempuanku, Irina Tolya. Dan si kecil jagoanku sedang digendong oleh paman Arthur di sana," ucapnya seraya menunjuk si bayi lelaki yang kini sedang dikerubungi oleh banyak orang karena gemas dengan pipinya yang gembul. Arjuna melongo. "Sayangnya, William tak bisa ikut. Kau tahu 'kan, ini ... pernikahan berisi para mafia. Rohan sengaja membuatnya sibuk di bengkel," jawab Sia dengan senyum menawan.
Praktis, mulut Arjuna mengangga lebar mendengar pengakuan Sia.
***
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
__ADS_1
Uhuy tnx tips koinnya. lele padamu😍 Lepti udah sehat, semoga gak ngambek dan rusak lagi ya. Amin🙏