
Gaes. Sepertinya novel The Red Lips gak lele ikutin lomba karena jebule alur cerita ditentuin sama pihak MT. Disini lele berpikir, kalau disetir, ibaratnya semua yg ikut lomba Anak Genius alur cerita hampir sama. Ini kaya ngajarin plagiat dan gak ada keragaman dalam bercerita.
Maaf, lele itu idealis jadi gak mau kalo kisah yg udah ada di otak lele diacak-acak sama orang. Itu bikin gaya penulisan lele jadi berubah. Jadi kemungkinan The Red Lips akan release tahun depan usai novel Simulation dan 4YoungMobster tamat atau bisa jadi akan lele publish di GudNopel.
Alasan lele merasa nyaman di GdNovel adalah gak ada sistem review. Jadi naskah bisa langsung naik saat itu juga. Selain itu, ada editor yang bener-bener nilai kualitas karya layak atau gak dikontrak. Jadi karya plagiat di sana itu minim banget.
Dan ... sebagai gantinya lele mau publish novel King D di MT, tapi publish tahun depan. itu aja infonya, tengkiyuw❤️ jangan lupa vote vocer di SIMULATION dulu ya.
----- back to Story :
Peluru yang bersangkar di bahu Sandara berhasil di keluarkan. Namun demikian, kondisi Sandara tetap memburuk. Gadis kecil itu kehilangan banyak darah, dan stok di tempat tersebut tidak mencukupi.
Pria bertopeng biru membawa Sandara pergi menggunakan helikopter. Selang infus tertancap di lengannya agar gadis kecil tersebut tetap bisa bertahan sampai ke tempat tujuan.
Malam itu, Sandara tiba di sebuah Pulau yang masih dalam deretan Kepulauan Karibia. Helikopter mendarat di sebuah rumah di dekat pantai dan hutan tropis.
Dokter yang telah ditugaskan, telah siap menyambut pasiennya yang sedang kritis tersebut. Sandara segera dipindahkan ke sebuah kamar yang nantinya akan di tempati olehnya selama tinggal di sana.
"Amankan sekitar. Pastikan, orang-orang 13 Demon Heads tak menemukan lokasi kita. Siapkan jebakan, kamera pengawas, dan pasang Pemancar Fatamorgana," tegasnya memerintah, dan para anak buah pria bertopeng biru itu mengangguk paham.
Sandara kini mendapat perhatian ekstra atas aksinya yang berhasil membuat salah satu pemimpin No Face tewas—Mr. White.
Pria bertopeng biru menatap Sandara seksama yang tak sadarkan diri saat menjalani proses transfusi darah.
"Venelope dan Mr. White bodoh. Mereka tidak tahu jika Sandara adalah aset paling berharga dalam jajaran Vesper. Wanita pirang itu dengan mudahnya menyerahkan Sandara padaku. Hem, jangan pikir, aku akan mengembalikan gadis cantik ini pada kalian. Jangan harap," ucap pria itu dengan suara liciknya menggunakan bahasa Indonesia.
Keesokan harinya, gadis cantik itu mulai membuka mata meski masih terlihat lesu. Sandara melirik ke kanan ke kiri karena merasa tubuhnya lunglai tak bertenaga.
"Good morning," sapa seorang pria dengan topeng berwarna biru dan senyum lebar, meski malah terlihat menyeramkan untuk Sandara. Wajah Sandara tegang seketika. "Jangan takut. Aku tak melakukan apapun padamu. Kau bahkan tak dibelenggu dengan benda apapun. Kau bebas di sini, asal ... aku tetap hidup."
"Kau siapa? Kau memakai bahasa Indonesia," tanya Sandara.
"Aku? Aku manusia, sama sepertimu. Kenapa bahasa Indonesia? Karena aku menguasai bahasa tersebut. Ada yang ingin kau tanyakan selain diriku? Misal ... kau berada di mana? Kenapa kau bisa berada di sini, dan ... semacamnya?" tanya orang itu santai, berdiri di samping ranjang Sandara.
Kening gadis cantik itu berkerut. Ia merasa aneh dengan pria di sampingnya yang terlihat seperti bukan ancaman untuknya.
"Bisakah ... aku mencari tahu sendiri, dari pertanyaan-pertanyaanku?" tanya Sandara lirih.
Pria itu diam untuk sejenak. "Ya, tentu saja."
Sandara terkejut. Pria itu bahkan memperbolehkannya.
__ADS_1
Sandara melihat tangannya masih tertusuk jarum infus. Pria itu tak membantunya dan hanya berdiri mengawasi gerak-gerik Sandara yang lemah gemulai seperti seorang puteri raja.
Namun, Sandara malah merasa ngeri dengan sikap pria itu. Sosok itu malah berjongkok dan menopang dagunya dengan kepalan tangan kanan. Seakan dirinya adalah sebuah tontonan yang menarik.
"Rasanya sungguh menyenangkan, ada gadis cantik di tempat ini. Semoga kau betah, Sandara," ucapnya yang bisa dibayangkan jika pria itu mengatakannya dengan senyuman.
Sandara diam tak berkomentar. Gadis cantik itu menurunkan kedua kakinya perlahan usai melepas jarum infus dan menggulung selang tersebut agar cairan itu tak menetes.
"Kau cukup hebat dalam menggunakan alat medis. Kau sepertinya pernah belajar ilmu keperawatan. Hem, biar kutebak. Apakah Jeremy yang mengajarkannya?"
Sandara tertegun. Ia merasa pria di depannya ini seperti tahu tentang dirinya. Sandara waspada seketika, meski wajahnya tetap datar tak ada ekspresi di sana.
"Ayo, jalan-jalan. Udara sejuk, pepohonan rindang, dan langit cerah. Bisakah semua hal itu diartikan dengan kebebasan?" tanya pria itu dan Sandara mengangguk pelan.
Pria itu berjalan di depannya dengan langkah pelan. Sandara mengikutinya di belakang. Silau matahari membuat mata Sandara menyipit, tapi yang dikatakan pria itu ada benarnya.
Sandara merasakan kebebasan untuk sesaat ketika ia melihat pemandangan indah di depannya.
"Aku ingin memberitahukan beberapa hal padamu," ucap pria itu seraya mengajak Sandara berjalan di sampingnya. Sandara menurut. "Seluruh tempat ini terpasang kamera CCTV untuk mengawasi pergerakan sekitar. Ada beberapa ladang ranjau tanpa papan pemberitahuan untuk mencegah penyusup," jawabnya santai sembari memasukkan kedua tangan ke saku depan hoodie-nya. Sandara melirik pria itu dengan tatapan aneh. "Lalu, banyak jebakan di beberapa titik agar tahanan sepertimu tak kabur meninggalkan Pulau. Lalu ... apalagi ya?" ucapnya menghentikan langkah seraya mendongak seperti orang berpikir.
"Kenapa kau memberitahukan semua hal ini padaku?" tanya Sandara ikut berhenti melangkah dan menatap pria tak dikenalnya itu seksama.
"Kenapa? Kau tidak suka ya? Ya sudah, aku tak bicara lagi. Aku hanya ingin memastikan kau tak terbunuh di tempat ini saja karena banyaknya perangkap yang ada di sekitar tempat ini," jawabnya memandang Sandara dari balik topengnya.
Pria itu terdiam saat Sandara kembali berjalan dan kini menuju ke pantai. Pria itu mengikutinya.
Tak ada penjaga di sekitar tempat tersebut. Sandara merasa jika tempat itu seperti sebuah kebebasan untuknya.
"Sandara, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya pria bertopeng itu berdiri di belakangnya.
"Hem. Tentang apa?" tanyanya menoleh dan membuat rambutnya terhempas angin laut yang berhembus cukup kencang pagi itu.
"Jika suatu saat kau ingin membunuhku, bisakah ... kau beritahu padaku sebelumnya, kau ingin membunuhku dengan cara apa? Maksudku ... jangan mendadak seperti yang kau lakukan pada Mr. White."
Sandara terbengong. Ia merasa pria di depannya ini sungguh aneh. Sandara tak menjawab dan memilih untuk duduk di atas pantai memainkan butiran pasir dalam genggamannya.
Pria itu mengikuti Sandara dengan duduk di sebelahnya. Ia melipat kedua lututnya seraya menoleh seperti memandangi wajah Sandara yang tak menunjukkan ekspresi apapun ketika bermain dengan pasir-pasir itu.
Tiba-tiba, BRUKK!!
"Agh! Lepaskan!" rintih Sandara, ketika pria itu menyerangnya dari samping, hingga Sandara terlentang di atas pasir.
__ADS_1
Kedua tangannya dicengkeram kuat dan tubuhnya ditindiih oleh pria bertopeng itu. Sandara berusaha memberontak, tapi usahanya sia-sia.
Sedang pria itu, hanya diam saja dengan cengkeraman kuat dipergelangan tangan Sandara.
"Kau mau apa?!" teriak Sandara marah yang tak bisa membebaskan diri karena pinggulnya di duduki.
"Mau apa? Tak ada. Aku hanya penasaran saja," jawabnya santai seraya berdiri dan memasukkan tangannya kembali ke dalam saku depan hoodie.
Nafas Sandara menderu. Ia membersihkan rambutnya yang kotor terkena pasir pantai berikut bajunya. Pria itu berdiri diam menatap gerak-gerik Sandara di balik topengnya.
"Sudah cukup melihat sekitar. Ayo, masuk ke dalam. Mandi, sarapan, dan ganti bajumu," ucap pria itu seraya berjalan mendekat, tapi Sandara langsung melangkah mundur terlihat takut.
Sandara berjalan tergesa ke dalam hutan mengikuti jalan setapak tempat ia melangkah tadi tanpa alas kaki.
Pria itu berjalan santai mengikuti di belakangnya, hingga mereka tiba di rumah dengan nuansa putih kediaman tersebut.
"Aku menunggu di sini jika kau sudah selesai mandi. Aku Tuan rumah yang baik. Aku akan mengajakmu berkeliling rumah ini," ucapnya ramah saat Sandara kembali masuk ke ruangan tadi dengan tergesa.
CEKLEK!
"Orang aneh. Apa maunya? Tipe orang seperti itu malah membuatku was-was," guman Sandara saat menutup pintu lalu menguncinya dari dalam.
Sandara menarik nafas dalam seraya melihat sekitar tempat barunya. Sudah beberapa kali ia harus beradaptasi karena ia diboyong ke sana kemari oleh orang-orang No Face, di mana Sandara belum menemukan alasan utama kenapa dia begitu diinginkan oleh mereka.
Sandara mengamati sekitar. Ia baru menyadari jika peralatan medis di kamarnya sudah tidak ada.
Gadis cantik itu melangkah perlahan dan mendapati kamar mandi yang masih dalam satu ruangan, hanya terpisah dengan sebuah pintu layaknya kamar hotel.
Ada sebuah sofa untuk tamu dan meja kerja tanpa set komputer di sana. Sebuah ruangan minimalis hampir mirip dengan kamarnya di Seoul, hanya saja di dominasi warna abu-abu dan putih.
'Aku akan dikurung di sini sampai berapa lama? Siapa lagi orang itu? Meski ia terlihat ramah, tapi aku harus berhati-hati.'
Sandara menghembuskan nafas panjang saat jendela di depan ranjangnya tak bisa dibuka, sengaja di buat permanen tanpa kunci.
Sandara memilih untuk mandi seperti perkataan pria bertopeng misterius, meski sebuah perban menempel di bahunya karena luka tembak yang dideritanya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE (www.pufikhomes.com)
__ADS_1
tengkiyuw tipsnya. lele padamu😘 brankas kosong cuy. kwkw😆