
------ back to Story :
"Ya. Dia calon isteriku, Afro," tegas Arjuna.
Mata Afro melotot. Ia terdiam dan melirik Sun yang terlihat seperti tak ingin ikut campur.
"Apa Naomi tahu?"
Arjuna mendesah pelan dan mengangguk. Afro mengusap mulutnya. Kini ia paham kenapa Arjuna bisa mengatakan hal buruk tentang Naomi. Afro menatap sahabatnya yang terlihat murung.
"Juna. Meskipun aku laki-laki sama sepertimu, tapi aku bisa merasakan kekecewaan dalam diri Naomi. Jadi menurutku, sangat wajar jika dia pergi darimu. Kau menyakiti hatinya meski kau mengatakan mencintainya," tegas Afro, tapi mengejutkan Arjuna.
"Apa maksudmu?"
"Naomi sekarang bersama Jordan 'kan? Boleh kutanya? Apa kau cemburu saat melihatnya bersama musuhmu itu?"
Arjuna mengangguk.
"Itulah yang Naomi rasakan ketika berada di posisimu saat ini. Kau menikahi orang lain, tapi ingin dia tetap berada di sisimu? Sama saja kau menduakannya! Kau gila! Kau menyakiti hatinya, Juna. Kau memintanya untuk berpura-pura dengan menutup mata dan telinga seolah semua itu hanya mimpi? Ada apa denganmu? Hal sepele seperti ini tak bisa kau pahami," tanya Afro menatap Arjuna tajam hingga keningnya berkerut. Sun tersenyum tipis.
"Maksudmu ... Naomi cemburu? Dia tak suka melihatku bersama Tessa?"
"Yes! Itu sudah pasti. Anggaplah aku bersama wanita lain dan Sandara melihatnya. Kau pikir, Sandara tak sedih? Apa dia tak menangis? Dia pasti kecewa dan terpuruk, Arjuna. Itu adalah hal sepele, tapi sungguh sensitif ketika seseorang yang kau cintai malah mengkhianatimu. Kau menghancurkan hati, kepercayaan dan cintanya!" tegas Afro menggebu.
"Ah ... aku mengerti. Naomi cemburu karena aku memilih Tessa ketimbang dirinya. Ia melampiaskannya dengan menjadi kekasih Jordan. Ia berharap Jordan bisa menggantikan posisiku. Hem, itu tak akan mungkin terjadi. Naomi hanya mencintaiku dan selamanya akan begitu. Jika seperti ini, biarkan saja. Aku berbaik hati pada Jordan untuk merasakan cinta palsu dari Naomi. Begitupula aku, akan kubiarkan Tessa merasa jika aku mencintainya, padahal ... aku hanya memanfaatkannya. Tessa bukan tipeku dan dia, hanya penyokongku," jawab Arjuna dengan senyum liciknya.
Mata Afro melebar. Ia terlihat shock mendengar penuturan dari kawan lamanya yang telah berubah baik fisik ataupun mental.
Sun terdiam, meski terlihat jelas ia seperti kesal mendengar penuturan Tuan Mudanya. Afro melirik Sun yang memejamkan mata, terlihat seperti berusaha menenangkan diri.
"Aku ... entahlah, Juna. Kenapa kau malah menyikapinya begini? Memang, apa yang kau inginkan dari ini semua?" tanya Afro terlihat keheranan menatap kawannya seksama.
"Kekuasaan, apalagi. Aku ingin menunjukkan kepada semua orang jika aku ini calon pemimpin untuk generasi mafia selanjutnya. Tentu saja, menggantikan ibuku, Vesper. Dia sudah tua, biarkan dia menikmati masa pensiun dengan mengurus cucu-cucunya nanti. Dan kau, akan lolos dari eksekusi Jordan ketika mimpiku terwujud, Afro. Bersabarlah, karena itu sebentar lagi," ucap Arjuna dengan senyum merekah.
Afro mematung. Pandangannya tak menentu saat Arjuna mengatakan ambisinya. Ia bahkan sampai tak menyadari ketika ada tamu lain datang ke kediamannya.
Sun melirik Afro yang terlihat seperti orang tertekan dan hilang arah.
"Entah kenapa, aku memilih duduk di kursi eksekusi itu dan membiarkan Jordan memenggal kepalaku. Ini tidak benar ... semua ini tidak benar," ucapnya lirih, tapi didengar jelas oleh Sun yang berdiri di samping sofa di mana Arjuna telah beranjak untuk menyambut tamu tersebut.
"Halo, Afro. Long time no see," sapa Tessa dengan senyum menawan dan kini berdiri di belakang sofa.
"Hai, Tessa," jawab Afro memunggunginya bahkan tak menoleh sama sekali.
Tessa terlihat bingung karena kedatangannya seperti tak disambut. Afro langsung berdiri dan kembali terkejut saat mendapati Sandara sudah berada di dalam rumahnya di samping Arjuna.
Afro terdiam menatap tiga orang yang dikenalnya sedang menatapnya seksama di kejauhan. Afro menarik nafas dalam dan memalingkan pandangan.
"Buatlah diri kalian nyaman. Aku siapkan makan malam," ucap Afro berpaling dan meninggalkan para tamunya.
Sandara langsung bergegas mengejar Afro ke dapur. Sedang Tessa dan Arjuna berkeliling rumah melihat sekitar. Sun memilih untuk mendatangi dapur entah apa yang ia rencanakan.
"Kak Afro," panggil Dara terlihat gugup saat mendekati Afro yang sibuk mengambil persediaan bahan mentah dari lemari es.
__ADS_1
"Kau yang memberitahukan pada mereka di mana rumahku?" tanya Afro tak memandang Sandara sedikitpun dan suaranya terdengar ketus.
"Aku hanya berusaha menolongmu," jawabnya gugup.
BRAKK!
"Aku percaya padamu, Dara. Aku sengaja menetap di sini dan hanya kau yang boleh mengunjungiku kemari," jawab Afro kesal seraya meletakkan keranjang sayurnya dengan kasar ke atas meja memasak.
Sandara terlihat takut akan sikap Afro yang terlihat marah padanya saat menata sayur-sayuran itu di atas meja.
"Kak Juna khawatir padamu. Ia mencemaskanmu, seperti aku," jawab Sandara terlihat sedih.
Afro menoleh dan menatap Sandara tajam. "Kau kasihan pada kehidupanku yang bagimu terlihat menyedihkan ini? Aku memilih kesendirianku karena aku tahu di mana salahku. Namun yang kau lakukan, kau membuat masalah baru, Dara. Aku sudah mendengar semuanya dari Arjuna. Dan biar kutebak, kau pasti membuat kesepakatan dengan Arjuna demi aku, iya kan?" tanya Afro mengunci pandangannya pada sosok gadis Asia yang terlihat takut pada dirinya itu. Sandara mengangguk.
Afro mengusap mulutnya dan berpaling. Sandara terlihat sedih saat melihat Afro seperti menyalahkan akan keputusannya ini. Afro meletakkan sayuran-sayuran itu dengan kasar di atas meja seperti melampiaskan kekesalannya.
"Harghh!!"
Sandara terperanjat saat Afro melemparkan sebuah kentang ke dinding di depannya berikut sayuran lainnya hingga semua bahan mentah itu berserakan di lantai dapur.
Sandara ketakutan ketika Afro mengamuk dan menendangi semua benda yang bisa dijangkau oleh kaki serta tangannya.
Sun segera masuk dan diikuti oleh Arjuna serta Tessa ke dalam dapur. Mereka terkejut melihat Afro sampai merusak perabotan.
"Afro," panggil Arjuna bingung, berusaha mendekatinya, tapi seketika, Afro menunjuknya dengan wajah bengis dan meminta sahabat lamanya itu menjaga jarak dengannya.
Arjuna menghentikan langkah saat Afro berjalan dengan nafas menderu menatap Sandara tajam. Sandara gemetaran saat Afro menatapnya seksama dengan mata melotot.
"Apa kau sudah bercermin, Dara? Kau terlihat seperti tante-tante dengan make-up tebalmu. Kau pikir, berapa umurmu? Jangan menjadi orang lain hanya karena aku. Yang kau lakukan, hanya membuatku kecewa padamu," ucapnya menusuk. Sandara meneteskan air mata dalam diamnya. "Kenapa? Menyesal sudah mencintai lelaki sepertiku? Baguslah, kini kau tahu aku pria seperti apa. Pikirkan baik-baik jika ingin menjadi isteriku. Sekarang kondisinya berubah, bukan aku yang pantas untukmu, tapi ... apa kau pantas untukku?"
Tessa mendekati Sandara dan terlihat bingung dalam bersikap. Arjuna mengejar Afro yang mengambil mantel tebal seperti akan pergi dari rumahnya.
"Afro! Stop! Kau mau ke mana?!" tanya Arjuna dengan langkah cepat.
Namun, Afro tak menjawab. Arjuna merasa diabaikan. Ia berlari kencang dan berhasil menarik mantel hingga tubuh Afro tertarik ke belakang.
Afro segera berbalik dan melepaskan cengkeraman kuat Arjuna, tapi gerakan itu malah membuat perkelahian diantara dua lelaki itu.
Afro meluncurkan pukulan tangan kiri saat tangan kanannya melepaskan cengkeraman Arjuna di tangannya.
BUAKK!
"Agh!" Arjuna terkejut karena tak menyangka jika Afro malah memukulnya wajahnya.
Perkelahian tak terhindarkan. Afro terus meluncurkan serangannya baik pukulan ataupun tendangan ke tubuh kawan lamanya itu. Arjuna berhasil menangkis dan menghindari serangan Afro di tubuhnya dengan sigap.
Hingga tiba-tiba, Arjuna terkejut saat Afro malah memeluknya dengan sangat erat ketika pukulan tangan kanannya hampir mengenai wajahnya. Sun yang awalnya was-was ikut bingung dengan hal ini.
"Aku tidak tahu apa kesepakatanmu dengan Sandara hingga aku ikut terlibat di dalamnya. Namun, kau mengecewakanku, Sobat. Kau bukan Arjuna yang kukenal dulu. Aku merasa, jalan pikiran kita sudah tak sama lagi. Semoga kau beruntung dengan tujuanmu untuk menjadi penguasa dan pemimpin, tapi maaf ... aku tak akan berdiri di sampingmu ketika hal itu terjadi. Aku pergi," ucapnya pelan saat memeluk Arjuna erat.
"What?"
CLEB! BRUKK!
"Tuan Muda!" teriak Sun lantang, tapi seketika ....
__ADS_1
CLEB!
"JUNA!" teriak Tessa saat datang bersama Sandara karena mendengar keributan.
Afro menatap Sandara dan Tessa di kejauhan yang terlihat kaget karena ia menembak Arjuna serta Sun dengan peluru bius hingga keduanya tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
"Sampai jumpa, Sandara," ucap Afro pelan dan KLIK! BUZZ!
Afro membuka sebuah jendela dan menutupnya dari luar. Sandara dan Tessa panik saat gas putih menyeruak di dalam rumah. Keduanya batuk-batuk dan tak lama pingsan setelah terkena dampak dari gas itu.
Afro segera masuk ke dalam hutan di belakang rumahnya dengan cepat saat ia menyadari jika banyak bodyguard di luar rumahnya.
Afro berhasil kabur dan naik ke sebuah motor dengan tas ransel besar terikat di dudukan belakang beserta helm.
Afro segera mengenakannya dan mengeluarkan remote yang ia gunakan untuk mengeluarkan gas bius dari atap rumahnya.
Afro menatap remote itu dengan wajah sendu dan terlihat ragu ketika akan menekan sebuah tombol. Namun, KLIK! BLUARRR!!
Ledakan hebat terjadi di rumah yang melindunginya selama ini. Afro memasukkan kembali remote itu setelah melihat orang-orang yang mengawasi sekitar berlari masuk ke rumahnya.
Afro melaju motornya kencang meninggalkan daerah itu dengan sorot mata tajam, terlihat fokus dengan tujuannya.
Hingga Afro bertemu jalan raya besar dan sebuah kamera CCTV pada traffic light.
Afro meminggirkan motornya di sebuah mini market yang memiliki CCTV dan melepaskan helm-nya.
Ia sengaja menunjukkan wajahnya pada kamera CCTV selama satu menit dan kembali memakai helm. Afro melaju motornya membelah aspal entah menuju ke mana.
Black Castle. Inggris.
"Lily! Nona Lily!" teriak Kai lantang berlari di koridor Kastil megah itu menuju ke kamar isterinya yang sedang melakukan transfusi darah.
"Ya, ada apa, Kai? Jangan bilang Kastil di serang," tanyanya lesu, berbaring di atas ranjang.
"Afro. Dia terlihat di Perancis. GIGA sedang mengikuti pergerakannya dan sepertinya, ia menuju ke dermaga," jawab Kai dengan nafas tersengal.
Vesper terlihat serius dalam diamnya. Semua orang yang berada di kamar Vesper ikut tegang menunggu jawaban dari sang Ratu.
"Sayang?" panggil Kai karena isterinya diam saja.
"Aku paling benci jika tebakanku benar. Jemput dia sebelum Jordan yang menemukannya. Cepat, Kai," jawab Vesper dengan wajah sendu.
Kai mengangguk dan segera menghubungi petugas sembari berlari menuju ke Pusat Kendali. Vesper memejamkan mata terlihat tertekan.
Sherly, isteri Ivan Benedict yang kini menjadi tenaga medis, menatap mantan rivalnya dulu penuh selidik dalam diam.
***
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
Tengkiyuw tipsnya. lele padamu💋💋💋
__ADS_1