
"Jojon awas!" teriak Eko panik karena melihat Miles membidik putera mendiang Erik Benedict tersebut menggunakan senapan laras panjang.
Namun, JLEB!
"Harghh! Arghh!" erang Miles ketika punggung tangan kirinya tertancap anak panah Lysa. Spontan, Miles menjatuhkan senjatanya.
"Hore!" seru Eko senang sampai mengangkat kedua tangannya. Afro serasa terkena serangan jantung yang membuatnya hampir pingsan.
Lysa datang tepat waktu ketika Miles akan membunuh adiknya. Jonathan terus berlari usai nyawanya terselamatkan.
Arjuna dengan sigap mendatangi Afro dan membantunya pergi dari gedung kematian itu. Sedang Lysa, mata dan tangannya fokus membidik Miles yang kini bersembunyi di balik pilar usai mendapatkan serangan darinya.
Tak lama, Sandara datang dengan tergesa mengikuti kakak perempuannya. Lysa dengan sigap bersembunyi di balik pilar karena mengejar Miles yang sudah melukai teman-temannya.
"Dara! Bantu Om Eko sini cepet!" pinta pria gundul itu memaksa saat melihat kehadiran puteri Kai tersebut.
"Tubuh Om Eko berat. Dara gak kuat. Maaf," jawabnya merasa bersalah.
"Alah hiyung. Ya wes, kamu bantu Lysa aja," ucapnya pasrah.
Sandara dengan sigap berlari ke balik pilar untuk membidik Miles.
"Eko harus idup! Eko gak rela dek Dewi jadi janda terus nikah lagi. Ora sudi!" gerutunya menyemangati diri seraya menyeret tubuhnya yang terus mengeluarkan darah dalam posisi merayap.
Arjuna dan Jonathan berhasil mengeluarkan dua orang dari kubu mereka yang terluka parah. Dengan sigap, Souta muncul seakan sudah tahu posisi dari orang-orang Vesper tersebut.
"Kau siapa?" tanya Arjuna langsung menghentikan langkah begitupula Jonathan ketika mendapati sosok remaja pria.
"Mm, aa ... Japan?" ucapnya gugup.
Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.
"Ya! Jawab Arjuna cepat.
"Souta. Cucu dari Takeshi. Aku yang dikirim oleh Vesper-sama," jawabnya cepat.
"Sotil! Help!" teriak Eko yang berhasil keluar dengan susah payah karena tak ada yang membantunya.
"Oh!" pekik Souta langsung berlari mendekati Eko dan membantunya berdiri. Jonathan dan lainnya panik karena suara tembakan dan dentuman bom tak henti-hentinya bersahut-sahutan. "Ikut aku!" ajaknya yang ternyata kuat menggendong Eko di punggung.
Jonathan dan Arjuna mengikuti Souta yang berlari pelan mendekati sebuah pohon. Ternyata, ada sebuah palka yang ditutup oleh semak. Souta menurunkan Eko dan mengetuk pintu besi itu.
NGEKK!
"Eh?!" pekik Jonathan kaget saat melihat Yu Jie muncul dengan wajah datarnya.
"Aku serahkan padamu, Yu Jie-san," pinta Souta.
Yu Jie mengangguk seraya keluar dari pintu besi itu membawa kotak medis. Souta pergi meninggalkan sekumpulan orang itu entah ke mana dengan cepat.
Arjuna menurunkan Afro dengan hati-hati yang ia gendong di punggungnya ke samping pohon. Jonathan juga melakukan hal serupa kepada kekasihnya.
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.
"Aku akan merawat mereka. Kalian bantulah yang lain," pinta Yu Jie seraya membuka perlengkapan medis. Jonathan dan Arjuna mengangguk.
"Semangat! Anak-anak durhaka! Jangan mati dulu. Eko mau liat kalian sungkem sama mbak Vesper," ucap Eko yang membuat langkah lari Arjuna dan Jonathan terhenti seketika, tapi kemudian keduanya kembali berlari.
Afro terkekeh karena seniornya itu masih bisa menghujat dalam kondisi kritis.
"Jangan sampai Eko mati atau Eko bakal gentayangin kamu seumur idup, Yu," ucap Eko seraya menahan sakit saat ia memutuskan untuk merebahkan diri di atas rumput.
"Brisik!" pekik Yu Jie kesal.
Di tempat Sandara dan Lysa berada.
Dua bersaudari itu mengincar Miles. Sandara melihat darah menetes di lantai yang diyakini adalah darah pria itu. Sandara melihat sekitar dan mendapatkan peluang.
Lysa melirik Sandara yang memberikannya kode untuk membidik besi pegangan pada tangga dekat Miles bersembunyi. Lysa mengangguk pelan dan mengganti anak panahnya dengan jenis bom.
__ADS_1
Lysa menarik anak panahnya ke sasaran yang diminta Sandara, dan gadis cantik itu bersiap dengan senapan pelontar granat yang ukurannya cukup besar.
Seketika, SHOOT! BLUARRR!!
Benar saja, Miles keluar dari balik pilar. Sandara dengan sigap menembakkan Rainbow Gas tanpa bom di sisi kanan Miles akan kabur.
Miles terkejut dan segera berlari menghindar ke sisi kiri, tapi Sandara seperti sudah membaca gerakan itu.
SHOOT! DUK! BUZZZ!
Kepulan asap warna hijau menyeruak di sekitar pilar tempat Miles menyembunyikan diri. Sandara meletakkan senjata besar itu dan menggantinya dengan belati dan pedang Silent Blue. Lysa tetap fokus membidik dengan busur dan anak panahnya.
Saat keduanya berjalan mengendap mendekati persembunyian Miles, tiba-tiba ....
"Hargghh!"
Praktis, mata Lysa dan Sandara melebar. Miles menjadi beringas secara tiba-tiba. Sandara dan Lysa langsung melangkah mundur dengan cepat karena merasa jika sikap Miles tak wajar.
"Dara! Kak Lysa!" panggil Jonathan lantang.
"No, no! Berbalik!" teriak Lysa panik seraya berlari kencang ke arah dua adik lelakinya.
Mata Arjuna dan Jonathan melotot saat melihat Miles seperti terkena dampak dari serum Monster.
"Run!" teriak Arjuna lantang yang kembali berlari mendatangi pintu saat mereka masuk tadi, tapi tiba-tiba ....
"Waaa!" teriak Jonathan panik ketika segerombolan orang masuk ke dalam dan mereka adalah para polisi karena menggunakan seragam.
Namun, mereka juga sama halnya dengan Miles, seperti terkena serum Monster.
"Hahahahaha!" tawa Miles tiba-tiba yang menghentikan laju larinya.
Langkah Jonathan dan lainnya terhenti karena pintu gedung ditutup dari luar entah oleh siapa pelakunya, tapi para polisi yang diyakini petugas setempat itu telah memasuki ruangan.
"Hem, kalian terjebak. Dasar bodoh. Kalian pantas mati di tempat ini. Nikmatilah penderitaan kalian. Sampai jumpa," ucap Miles yang ternyata berpura-pura terkena serum Monster.
Ia menunjukkan benda hitam pipih seukuran remote mobil itu pada empat anak Vesper yang dilanda kepanikan karena para polisi tersebut tiba-tiba menjadi beringas. Orang-orang itu berlari ke arah mereka.
PIP!
Tiba-tiba saja, BLUARR!!
"AWAS!" teriak Lysa panik ketika atap di atas mereka meledak dan puing-puingnya runtuh mengenai para polisi tersebut.
"Kalian akan disalahkan atas kematian para aparat negara. Coba saja untuk kabur, aku menunggu di luar," ucap Miles tersenyum lebar dan terus menekan tombol dari remote-nya tersebut seraya melangkah mundur.
Satu per satu, atap-atap itu meledak hingga terlihat langit malam yang luas. Sandara dan lainnya berusaha keras menghindari hujan puing begitupula para polisi yang berusaha untuk menangkap mereka seolah tak takut jika terkena runtuhan dari puing-puing itu.
Suara gemuruh dari dalam gedung hingga getarannya dirasakan oleh tim yang berada di sekitar bangunan tersebut.
Mata Afro, Cassie, Eko dan Yu Jie melebar. Mereka panik karena empat anak Vesper berada di dalam gedung itu dan tak terlihat berhasil keluar.
"Hah, Jonathan," panggil Cassie cemas dan berusaha berdiri, tapi ditahan oleh Yu Jie.
Ketika Eko dan lainnya ikut bangkit, tiba-tiba saja ....
"Hai," sapa Banu yang muncul dengan senyum lebar. Praktis, mata Eko dan lainnya melotot. "Sakit ya? Banu bantu biar cepet sampai akhirat. Gak usah terima kasih. Banu suka rela kok nolongnya. Bye," ucapnya santai seraya melemparkan dua granat Rainbow Gas dengan bom ke arah kumpulan orang-orang yang sekarat itu.
"Banu!" teriak Eko lantang, tapi Banu malah berlari kencang seraya tertawa riang.
BLUARRR!! KRAKKK!! BRUSHH!!
"ARGHHH!" erang keempat orang itu saat granat tersebut mengenai sebuah pohon yang meneduhkan mereka dan tumbang dengan keras menghantam.
"Yu Jie! Serum penawar!" teriak Afro yang mulai terkena dampak dan mengerang kesakitan. Ditambah, ia tak bisa bergerak karena tertimpa batang pohon dan daun-daunnya.
Cassie mulai batuk-batuk, begitupula Eko dan Yu Jie. Teman Lysa semasa sekolah di China dulu berusaha untuk mengambil kotak obat miliknya, tapi ternyata kotak itu hancur berikut isinya terkena batang pohon yang menimpanya.
"Asuuuu! Sekarat gini, Eko malah lupa kalimat syahadat. Uhuk, uhuk!" teriak Eko yang merasa tubuhnya terbakar dan tak bisa bergerak akibat tertindih dahan pohon.
__ADS_1
Tiba-tiba saja, muncul seseorang dengan pakaian gagak mendatangi orang-orang Vesper yang telah terkena dampak.
Orang itu mengeluarkan serum dari balik sepatu robotnya dan menyuntik mereka satu per satu, tapi kemudian pergi lagi.
Entah apa yang terjadi. Cassie, Afro, Yu Jie dan Eko tak sadarkan diri usai terkena suntikan tersebut.
Tubuh mereka berempat tertimpa dahan pohon yang tertutupi dedaunan di tengah peperangan yang melanda wilayah tersebut.
Di tempat Sandara dan tiga anak Vesper lainnya.
Miles berhasil melarikan diri usai meruntuhkan atap gedung dan menimbun orang-orang yang berada di dalamnya.
"Harghhh!" erang para polisi yang sudah terkena dampak serum Monster. Mereka berusaha membebaskan diri dari puing yang menimpa tubuh.
Sandara, Lysa, Arjuna dan Jonathan terkena imbas dari ledakan itu. Tubuh anak-anak Vesper dipenuhi luka-luka karena seberapa gesit menghindar, tetap tak bisa kabur dari tempat yang telah mengurung mereka tersebut.
"Aghh! Dara! Kak Lysa! Kak Juna!" teriak Jonathan saat salah satu kakinya terjepit dinding beton yang menghimpit.
"Agh, hah," rintih Lysa saat kedua tangannya tergencet oleh puing batu dalam posisi tengkurap. Lysa berusaha untuk bangun, tapi sulit karena posisinya yang tak menguntungkan. "Juna! Juna!" panggil Lysa melihat sekitar di mana ia yakin jika adiknya itu berada di sampingnya tadi saat berusaha untuk kabur.
"Kak Lysa!" panggil Sandara saat perutnya tertindih batang kayu besar sebagai penopang fondasi atap gedung tersebut.
Sandara tergeletak dalam posisi terlentang. Ia berusaha keras untuk mengangkat batang kayu itu, tapi tak sanggup karena ukurannya yang besar.
"Waaa!" teriak Jonathan panik saat melihat salah satu polisi berhasil membebaskan diri dari reruntuhan dan kini mengincarnya. "AAA! Siaal! Siaal!" teriaknya panik dan terus berusaha menarik kakinya yang tersangkut.
Jonathan terus mendorong puing besar tersebut, tapi tak memberikan dampak perubahan apapun.
Saat polisi tersebut berlari mendatangi Jonathan karena jarak yang paling dekat, tiba-tiba saja, busur panah Lysa diambil oleh orang berpakaian hitam yang mengenakan kostum gagak.
Lysa yang tak bisa bergerak terkejut saat orang itu dengan sigap mengarahkan busur panahnya kepada polisi yang terus berlari ke arahnya sembari menginjak puing-puing penghalang jalan.
SHOOT! JLEB! BRUKK!
Jonathan terkejut ketika sosok itu melompati satu per satu puing-puing besar dengan lincah. Ia menggunakan anak panah Lysa untuk membunuh para polisi yang terjebak dalam reruntuhan.
Sandara dan lainnya yang melihat sosok itu dibuat bingung ketika orang itu tiba-tiba saja pergi meninggalkan mereka melalui sebuah jendela yang ternyata bisa dibuka.
"Siapa dia? Dan ... kenapa tak menolong kita? Kita masih terjebak! Hei! Kembali!" teriak Jonathan lantang karena sosok tak dikenal itu tak menuntaskan bantuannya.
"Agh! Kita terperangkap. Aku tak bisa bergerak!" teriak Sandara yang merasa energinya telah habis karena terhimpit.
"Juna! Kau di mana?!" panggil Lysa panik karena tak mendapati adik lelakinya.
Jonathan yang merasa paling beruntung berusaha untuk berdiri untuk melihat sekitar meski salah satu kakinya masih terjepit.
"Oh! Aku melihatnya!" teriak Jonathan dengan mata terbelalak lebar ketika mendapati Arjuna tergeletak dengan sebuah besi menusuk bahu kanannya. "Kak Juna!" teriak Jonathan di tengah ruangan besar yang mulai gelap dan terasa mencekam.
"Kenapa Arjuna diam saja?" tanya Lysa kebingungan.
"Trauma!" sahut Sandara yang kini berusaha meraih belati dan juga pedangnya di mana posisi benda itu berada jauh dari tempatnya tergeletak.
"Trauma?" tanya Jonathan berkerut kening karena Arjuna masih sadar, tapi terlihat seperti orang mengalami sesak napas.
"Ingat kejadian saat ia terperangkap dalam gedung yang diledakkan Tobias hingga membuat tubuhnya tertusuk besi? Ia merasakan hal itu kembali," jawab Sandara yang bersusah payah mengambil belatinya karena dirasa jaraknya paling dekat.
"Juna! Kau akan baik-baik saja. Kami akan menolongmu!" teriak Lysa berusaha keras menarik tangannya, tapi hal itu malah membuat punggung tangannya lecet karena terkikis. Lysa menahan sakit hingga tubuhnya gemetaran.
"Hah, kita akan mati di sini. Mungkin ... ini hukuman kita karena durhaka sama mama," ucap Jonathan yang kembali duduk dengan lesu.
Lysa, Sandara dan Arjuna hanya bisa diam. Mereka terlihat begitu menyesal karena merasa ucapan Jonathan adalah benar.
"Ya. Kita pantas mati," ucap Lysa lirih dengan tetesan air mata penuh penyesalan.
***
uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu❤️ btw tips koinnya sekarat gaes. ada yg mau sedekah lagi kah😆 #ngarep
__ADS_1