4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Menyelidiki Satu Persatu


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris-Spanyol. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Arjuna menyiagakan pedang Silent Blue miliknya. Sinar laser warna biru terang menyilaukan mata langsung menjadi sorotan para musuh di depannya. Namun, para musuh itu bukan manusia, melainkan binatang.


"Hah. Benar-benar. Jika populasi hewan sampai terancam punah, Venelope penyebab utamanya," ungkap Arjuna saat melihat sekumpulan tikus hitam liar, dan diyakini olehnya telah terkena dampak dari serum monster.


Arjuna melihat para sandera yang menjaga pulau itu sudah menjadi santapan hewan buas tersebut.


Para pria malang itu mengerang kesakitan karena tubuh mereka tercabik oleh hewan-hewan pengerat yang mengerubungi, hingga sosok mereka tak terlihat kecuali suara rintihan kematian.


"Bakar mereka!" perintah Arjuna tegas sembari mengayunkan pedang laser saat berjalan dengan langkah pelan mendekati para sandera yang menggelepar dengan darah berceceran di tanah. "Kupercepat kematianmu."


KRASS!!


GLUNDUNG ....


"Citt! Citt! Citt!"


KRAKKK!!


Arjuna yang memakai sepatu magnet, menginjak tikus-tikus yang berusaha naik dari kakinya.


Samuel dan lainnya terlihat panik. Mereka berteriak saat menggunakan alat penyembur api untuk membakar para tikus yang berusaha menyerang mereka.


"Tak usah berteriak! Kalian berisik sekali!" seru Arjuna lantang saat ia menebas kepala para sandera agar mereka juga berhenti merintih.


Orang-orang itu langsung membungkam mulutnya rapat, dan kembali membakar para tikus yang kini berlari menjauh dari mereka.


"Junet! Kita temuin sebuah pintu tempat keluarnya para tikus ini. Ada di sebuah bangunan! Mereka sepertinya sengaja dikurung dan sekarang dilepaskan untuk menyerang kita!" teriak Biawak Hijau dari sambungan radio.


"Ledakkan! Jangan bikin repot," jawab Arjuna mulai kesal karena beberapa tikus berhasil memanjat jas anti pelurunya. "Hargghhh! Mahluk sialan. Sepertinya Tora tak mengajari kalian sopan santun!" gerutu Arjuna yang terpaksa melepaskan jasnya dan mengurung para tikus itu di balik kain hitam tersebut.


KRAK! KRAKK!!


"Citt! Citt!" rintih para tikus saat Arjuna menginjak mereka dengan wajah bengis.


BLUARRR!!


Suara ledakan besar meruntuhkan sebuah bangunan hingga kepulan asap membumbung tinggi disertai kobaran api yang dahsyat.


"Sial. Polisi pasti akan datang ke tempat ini, tapi ... biar saja. Jika mereka bertanya, katakan kita sedang membasmi hama tikus. Kalian mengerti?" tegas Arjuna dari sambungan earphone.


"Yes, Bos!"


"Cepat selesaikan sebelum polisi datang. Gunakan semua Rainbow Gas tanpa bom. Jangan buat keributan yang lebih menghebohkan," perintahnya lagi.


Segera, mantan anak buah Andreas melemparkan Rainbow Gas ke seluruh tempat.

__ADS_1


Segera, orang-orang yang sudah dibekali masker gas khusus menggunakannya. Gas menyeruak dan dengan cepat terhirup oleh para binatang pengerat itu.


Samuel dan lainnya mempercepat proses pembasmian dengan membakar para tikus meski beberapa dari mereka kabur.


Suasana kacau balau. Bau gosong dan anyir dari mayat yang sudah tewas menyeruak di sekitar tempat tersebut.


Miguel dan lainnya mual karena melihat darah berceceran dan beberapa anggota tubuh berserakan di sekitar kawasan.


"Tuan Muda. Mereka tewas," ucap Sun saat mendapati anak buah Andreas meninggal karena serangan para tikus liar. Arjuna diam menatap para pria malang itu.


"Berkumpul!" perintah Arjuna. Orang-orang yang selamat, meski beberapa dari mereka terluka mulai merapat. "Setelah pasukanku datang, kita akan mendatangi satu persatu tempat yang diyakini oleh dua Biawak tempat Ungu sering berkunjung. Aku melihat dari kejadian ini, Ungu sepertinya menggunakan aset milik keluarga pak Sutejo. Aku cukup yakin, Ungu bekerjasama dengan pecahan The Circle di bawah naungan Venelope. Oleh karena itu, kita harus segera tuntaskan, dan rebut semua tempat itu. Kalian mengerti?!" tegas Arjuna lantang.


"Yes, Sir!" jawab semua orang di lapangan.


Arjuna segera meninggalkan kawasan dengan yacht milik Andreas bersama Biawak Putih, Sun, Ringgo, Samuel, Miguel, dan Jose.


Sedang Biawak Hijau, Tulio, Simon, Greco, dan Max tetap berada di sana menunggu pasukan Bala Kurawa Arjuna tiba.


Tim Biawak Hijau akan menyusul ke lokasi selanjutnya setelah urusan mereka di Puerto Rico selesai.


Sun segera memberikan laporan tentang penyerangan tersebut kepada Vesper. Kali ini, untuk mengantisipasi hilangnya berkas dalam jajaran, Vesper menyimpannya dalam database GIGA DARA.


Monica yang ditugaskan untuk melacak pergerakan di Puerto Rico di sekitar kawasan tempat Sandara disekap dulu, mencoba melakukan penelusuran kegiatan di sekitar tempat tersebut dari pantauan CCTV terdekat yang bisa diretas GIGA DARA.


Sayangnya, Mr. White cukup lincah dan cerdik, sehingga pergerakan mereka selama di Puerto Rico, baik kedatangan atau perginya mereka meninggalkan pulau, tidak terdeteksi.


Han hanya tersenyum tipis melihat isterinya menghembuskan nafas berat berulang kali mencoba menenangkan diri.


Arjuna seperti tidak ingin membuang waktu. Ia teringat untuk menghubungi Afro terkait temuannya pada jam weker tersebut. Sun dan semua orang di kapal memilih diam untuk menyimak.


"Afro!" teriak Arjuna lantang begitu sambungan telepon diterima.


"Kenapa kau tiba-tiba berteriak? Apa kau marah padaku? Semoga alasanmu bagus," jawab Afro ketus.


"Kau mengatakan hal-hal buruk pada adikku, Sandara. Apa kau yang mengatakan jika akan berusaha menyukainya itu hanya tipuan? Agar Sandara berada di pihakmu dan menjadi penolongmu saat di Pengadilan nanti, hem?"


"Otakmu bermasalah lagi, Arjuna. Aku tak tahu apa yang kau katakan," jawab Afro geram.


"Aku mendengar dari mesin yang terpasang dalam weker Sandara disekap. Itu adalah suaramu. Kau memberikan pekerjaan sulit pada adikku, dan kau menambahnya dengan ujaran kebencian. Apa No Face mencuci otakmu, hah?!"


"Kau yang bodoh! Hal seperti itu saja kau percaya! Dari ucapanmu, kau seakan meragukanku yang telah menjadi kawanmu selama belasan tahun. Kau lebih percaya kepada sebuah benda yang tidak jelas asal usulnya ketimbang sahabatmu sendiri! Jangan menghubungiku jika hanya mengatakan hal-hal tak berguna seperti ini lagi. Otakmu seharusnya dicuci. Tessa dan kesombonganmu sudah meracuni jiwamu hingga kau tak bisa membedakan mana yang benar dan tipuan. Sampai jumpa."


KLEK! TUT ... TUT ... TUT ....


Arjuna tertegun. Ia memandangi layar ponselnya dengan jantung berdebar dan wajah pucat.


Ia tak menyangka jika Afro bisa mengatakan hal menusuk seperti itu. Arjuna terdiam dan berjalan seperti orang linglung kembali ke kamarnya.

__ADS_1


"Eh?" kejut Sun saat lengannya disenggol dengan sikut kanan Biawak Putih yang berdiri di sampingnya.


"Si Junet sekali-kali emang kudu di slepet kok, biar otaknya gak konslet. Udah watak kali ya? Dia ini tempramen dan moodian. Kirain begitu cuma berlaku buat cewek kalo lagi mens, jebule si Junet juga bisa," bisik pria berambut gondrong tersebut dan Sun terkekeh mengangguk setuju akan hal itu.


Di kamar Arjuna, Yacht Andreas.


"Afro sok tahu. Aku selama ini selalu berpikir jernih dalam membuat keputusan. Hanya beberapa hal saja yang meleset dan salah dugaan," gumannya kesal dan mondar-mandir di lantai kamar. "Agh! Menyebalkan!" gerutu Arjuna yang pada akhirnya memilih untuk tidur dan tak berpikir, meski ucapan Afro teriang-iang di kepala yang seakan mengatakan ia bodoh.


Di Puerto Rico.


Dugaan Arjuna benar, jika tempat itu di datangi oleh polisi setempat.


Biawak Hijau dan anak buahnya mengaku jika mereka adalah orang yang disuruh oleh pemilik tempat untuk melakukan renovasi.


Mereka mengatakan, saat timnya melakukan pembongkaran, orang-orangnya yang tewas menemukan sarang tikus, dan malah berakibat fatal dengan menjadi korban keganasan hewan pengerat tersebut.


Berita itupun menjadi heboh dan menggemparkan Puerto Rico. Media meliput, dan tempat itu menjadi sorotan. Para mafia dalam jajaran Vesper tersenyum sinis saat melihat tayangan tersebut.


"Hem, aku yakin, Venelope dan lainnya pasti akan sangat geram karena tempat mereka kini ditandai," ucap Han sembari mengajak sang isteri bersulang wine.


"Tempat itu pasti akan dijual sangat murah. Yah, beruntungnya para anggota Dewan jika berhasil memenangkan pelelangan itu," jawab Vesper menyambut ajakan bersulang suami tertuanya, meski wine milik Han ia yang meminum.


Han yang masih mengkonsumsi obat selama masa penyembuhan, hanya bisa membayangkan, betapa nikmatnya wine tersebut ketika mengalir di tenggorokannya. Han menelan ludah.


Di tempat Venelopa dan lainnya berada.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


BRAKKK!!


"Sialan! Mereka benar-benar keterlaluan! Kita tak bisa menggunakan tempat itu lagi," teriak Venelope marah besar sampai menggebrak meja.


"Jangan terpancing. Mereka sengaja melakukannya," sahut Smiley dari tempatnya duduk.


"Apakah persiapan sudah bisa dijalankan? Aku benar-benar tidak sabar," tanya Venelope melotot tajam ke arah pria tua itu.


"Ya. Sesuai jadwal. Kau nikmati saja pertunjukannya dan tak usah terlibat. Biarkan pasukanmu yang bergerak," jawab Smiley dengan senyum tipis, dan pada akhirnya, Venelope kembali tenang.


Mr. White, Tessa, pemimpin The Mask, Ungu, dan empat pria lainnya yang memakai topeng mengangguk pelan.


Mereka telah siap untuk melakukan gempuran dahsyat sebagai bentuk balas dendam kepada orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads.


***


uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu^^ jangan lupa intip SIMULATION ya. alhamdulilah lele bisa up rutin meskipun sehari cuma 1 eps. kwkwkw. mayan buat bacaan tambahan nak.


__ADS_1


__ADS_2