
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
------ back to Story :
Di sisi lain. Melun, Perancis. Kediaman Darwin Flame.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Aku menemukanmu," ucap Arjuna, berdiri tegak dengan kedua tangan ia masukkan dalam saku celana, menatap Tessa tajam.
"Apa maumu?" tanya Tessa gugup.
Kediaman Darwin telah dipenuhi oleh anak buah Arjuna dengan senapan terarah ke segala sudut ruangan.
Anak buah Tessa tergeletak tak sadarkan diri, terkena dampak gas bius yang menyeruak di seluruh ruangan. Bahkan, keledai King D ikut pingsan di taman.
Pion Diego, satu-satunya dari kubu Tessa yang masih berdiri dan mengarahkan pistolnya ke Arjuna, melindungi Tessa dari segala jenis serangan.
"Kau tak senang melihatku? Kukira kau menyukaiku? Eh, mencintaiku?" tanya Arjuna dengan gaya cueknya.
Tessa diam tak menjawab. Ia terlihat bingung dalam bersikap.
"Bisa kita bicara berdua saja? Aku merasa ... tidak nyaman," jawab Tessa gugup melihat sekeliling karena kalah jumlah.
"Hem. Entahlah. Aku hanya ingin pengakuanmu di dengar oleh orang-orangku. Tujuanku datang kemari untuk menanyakan ajakanku menikah. Jika kau bersedia, kita bisa lanjutkan di ruangan yang lebih privasi. Jika tidak, aku akan pergi," jawab Arjuna dengan wajah dingin.
Tessa menelan ludah.
"Kau sungguh-sungguh ingin menikah denganku? Kenapa?" tanya Tessa mulai serius.
"Kau, mencuri ciuman pertamaku saat di Mansion Ramos, Rusia. Itu, tak bisa dimaafkan," jawabnya tegas menunjuk Tessa dari tempatnya berdiri.
Sun mengedipkan mata. Ia merasa sedikit janggal dengan ucapan Tuan Mudanya, tapi memilih diam.
"Benarkah? Itukah ciuman pertamamu?" tanya Tessa seolah tak percaya. Arjuna mengangguk.
"Dua. Kau satu-satunya wanita yang sampai rela kudatangi dan kuajak menikah. Selain itu, kau dari golongan mafia. Aku tak bisa menikahi gadis dari kalangan sipil," jawab Arjuna sembari menunjukkan jari di tangan kanan membuat huruf V.
"Lalu ... bagaimana dengan Naomi? Kenapa kau tak menikahinya?" tanya Tessa menatap Arjuna tajam.
Praktis, semua orang dalam kubu Arjuna terkejut. Arjuna diam dengan sorot mata tajam menatap Tessa yang berdiri di hadapannya.
"Dia hanya asistenku. Dia hanya bodyguard-ku. Bagaikan langit dan bumi, kami takkan mungkin bersatu. Tinggal di dalamnya mungkin ya, tapi tidak untuk bersama. Status kami terlalu jauh. Ada dinding pembatas yang sangat tinggi dan aku akan tetap membiarkannya tetap berdiri. Aku tak ada niatan untuk merobohkannya," jawab Arjuna mantab.
Semua orang dalam kubu Arjuna saling melirik dengan senapan tetap diarahkan ke Tessa dan Diego.
"Jika Naomi tahu kau bicara seperti ini, dia pasti ...."
"Dia tahu. Oleh karena itu, ia tak lagi menjadi asisten atau bodyguard-ku. Dia sudah kembali pada ibuku, Vesper. Naomi bukan siapa-siapaku."
Tessa tersenyum dan berjalan perlahan mendekati Arjuna. Anak buah Arjuna semakin menyiagakan senapan, tapi Sun memastikan jika Tuan muda mereka akan baik-baik saja.
"Jika kau masih ingin menanyakan hal tentang Naomi, sebaiknya, aku pulang saja. Kau membuatku banyak bicara hari ini," tegas Arjuna menatap Tessa tajam yang kini berdiri di hadapannya dengan senyuman.
__ADS_1
"Jadi ... kau sudah menyingkirkannya? Apa kau melakukannya untukku? Jika ya, aku mau. Aku mau sekali menikah denganmu, Kim Arjuna," jawab Tessa merangkul leher anak kedua Vesper dan mengecup bibir calon suaminya lembut.
Arjuna terdiam dan membiarkan Tessa melakukannya. Entah kenapa, ia tak lagi gugup saat bicara dengannya. Ia merasa biasa saja, tak ada getaran aneh yang menggelitik hatinya seperti dulu.
Tessa melepaskan ciumannya dan menatap Arjuna lekat.
"Aku sudah menyerahkan diriku padamu. Apa tak ada yang ingin kau berikan padaku?" tanya Arjuna menaikkan salah satu alisnya.
"Aku milikmu, Arjuna," jawab Tessa dengan senyum menggoda.
"Hem. Itu sudah pasti. Hanya saja, ada hal penting yang aku butuhkan dari calon isteriku. Ini menyangkut kedudukanku sebagai anggota dewan 13 Demon Heads. Aku sangat berharap, kau bisa mendukung dan menjadi penyokongku," ucap Arjuna sembari mengelus pipi kiri Tessa dengan punggung jari tangannya.
"Apa itu?"
"Pasukan. Aku masih butuh pasukan untuk memenuhi kuota dari persyaratan menduduki kursi dewan. Kau ... tak ingin 'kan, jika calon suamimu menjadi mafia rendahan dan tak terpandang. Namamu juga akan buruk nantinya," jawab Arjuna yang kini menyisir rambut pirang Tessa dengan jemarinya.
Tessa terdiam. "Berapa?" tanya Tessa terlihat tegang.
"Semua yang kau punya."
Tessa terkejut dan memalingkan wajah. Arjuna menyipitkan mata, menatap Tessa tajam.
"Kau tak punya? Hem, dugaanku salah. Kau ternyata tak sekuat itu," jawab Arjuna ikut memalingkan wajah dan melepaskan tangannya dari kepala Tessa.
"Aku memilikinya. Aku punya. Akan kuberikan padamu. Namun, bisakah kau berjanji padaku, jika kau sungguh akan menikahiku? Kau selalu pergi begitu saja. Bahkan, aku tak bisa menebak jalan pikiranmu," jawab Tessa panik.
Arjuna tersenyum miring.
"Baiklah. Bagaimana jika kita barter? Bawa seluruh pasukanmu ke Grey House. Sebagai gantinya, kau ikut menemui ayahku, Han. Kita minta restu darinya. Oh, maaf, pasti direstui. Sekaligus, menentukan tanggal pernikahan kita. Aku ingin, kau berdiri di sampingku sebagai sekutu dan meyakinkan semua mafia dalam jajaran 13 Demon Heads jika No Face, sudah bergabung. Hem?"
Arjuna meraih dagu Tessa dan mengecup bibirnya lembut. Tessa tertegun dan pada akhirnya mengangguk. Senyum Arjuna terkembang.
"Kau. Segera perintahkan seluruh anak buah Tessa untuk berkumpul di sini. Aku tunggu awal bulan nanti. Sun yang akan membawa mereka ke Grey House. Lalu, aku akan mengajak Tessa ke Hong Kong, menemui ayahku. Perintahku, sudah cukup jelas, bukan?" tegas Arjuna menunjuk Pion Diego dan pria itu diam terlihat enggan.
"Lakukan, Diego. Please," ucap Tessa menoleh ke arahnya dan pada akhirnya, Diego mengangguk.
Arjuna merangkul pinggul Tessa dan membawanya masuk ke mansion Darwin yang kini terlihat sudah lebih bersih.
Tessa terlihat gugup saat berjalan berdampingan dengan Arjuna. Sun berdiri di hadapan Diego bersama para anak buah Arjuna lainnya.
Diego lalu menyalakan ponsel dan menghubungi seluruh anak buah Tessa untuk segera berkumpul di mansion peninggalan Darwin.
"Jadi ... aku beristirahat di mana, malam ini, Sayang?" tanya Arjuna berbisik di telinga calon isterinya.
Tessa tersenyum dan membuka sebuah pintu. Arjuna melihat kamar berkesan feminim di lantai dua tersebut.
Arjuna melihat ruangan-ruangan dalam kamar dengan cuek. Saat Arjuna membalik tubuhnya, ia terkejut ketika mendapati Tessa sudah menanggalkan pakaian dan membiarkan tubuhnya yang sintal dipandanginya. Arjuna mematung seketika.
"Sepertinya pesta pernikahan kita baru bisa dilaksanakan tahun depan, Sayang. Aku sudah tak sabar ingin hidup bersamamu," ucap Tessa berjalan perlahan mendekati Arjuna.
Jantung Arjuna berdebar. Biasanya, saat bersama Naomi, ia yang memintanya, tapi Tessa, dengan sendirinya memasrahkan diri. Arjuna tersenyum miring.
"Ya. Masih ada pernikahan Tobias, Zaid dan Jonathan. Namun, tak masalah bagiku jika kau ingin hidup bersamaku. Aku tak lagi kesepian," jawab Arjuna menatap Tessa dengan wajah sendu dan diam saja ketika jas hitamnya dilepaskan perlahan oleh calon isterinya.
Tessa mencium Arjuna dengan mata terpejam dan terlihat begitu bergairah. Arjuna terpancing. Ia segera melucuti pakaiannya di mana mendadak tubuhnya terasa panas bagai api yang membara.
Tessa ikut tak sabar. Ia melepaskan ciumannya dan menurunkan celana panjang Arjuna berikut kain yang menutupi kejantanannya.
__ADS_1
"Em," lirih Arjuna dengan mata terpejam saat Tessa sudah berlutut dan kini memanjakan miliknya di dalam mulut wanita pirang itu.
Arjuna merasakan gelanyar aneh di tubuhnya. Ini pertama kali junior-nya dijilati dan dimainkan dengan mulut oleh seorang wanita.
Pinggulnya bergerak dengan sendirinya seperti menyodok lubang kenikmatan saat bersama Naomi.
Arjuna spontan mencengkeram kepala Tessa hingga membuat seluruh ototnya mulai menegang.
"Hah, milikmu enak sekali, Juna. Aku ingin merasakannya di dalam sana," ucap Tessa melepaskan daging panjang yang telah basah karena mulut nakalnya dan kini kembali berdiri di hadapan sang kekasih.
Arjuna tak menjawab dan langsung merobohkan Tessa di atas ranjang. Arjuna merangkak dan memposisikan dirinya dengan gagah, siap menjebol benteng pertahanan Tessa.
Tessa menaikkan kedua kakinya di pundak Arjuna. Anak kedua Vesper cukup kaget karena tak pernah melakukan gaya ini sebelumnya.
SLUP!
Arjuna kembali terkejut. Miliknya bisa masuk dengan mudah tak seperti saat bercinta bersama Naomi yang terasa sulit dan sempit. Kening Arjuna berkerut.
"Dia ... sudah tak perawan. Dia pernah melakukannya dengan pria lain. Siapa? Berapa banyak?" tanya Arjuna dalam hati.
Namun, Tessa dengan cepat menggerakkan pinggulnya hingga pertanyaan Arjuna terlupakan dan tergantikan dengan kenikmatan saat Tessa mulai melakukan keahliannya.
Banyak gerakan baru yang tak Arjuna ketahui saat ia melakukannya bersama Naomi waktu itu.
Arjuna malah terdiam ketika melihat Tessa seperti begitu menikmati tiap sodokkannya bahkan merintih sampai matanya terpejam.
Arjuna bisa melihat jika Tessa begitu bergairah saat bercinta dengannya. Seringai Arjuna muncul.
Ia tak segan menggempur dan terus menyodokkan miliknya dengan kuat hingga tubuh Tessa menggelinjang hebat diselingi desahan kepuasan.
"Agh, Juna! Keluarkan di dalam saja. A-aku sangat ingin memiliki anak darimu," ucapnya terlihat tak kuasa menahan gejolak dalam dirinya.
Mata Arjuna menajam seketika. Ia terlihat ragu. Hingga akhirnya, Arjuna merasakan jika ada cairan mengalir mengenai kejantanannya.
Tessa lemas dengan peluh membasahi kulit putihnya. Arjuna yang belum keluar hanya diam melihat Tessa sudah lunglai tak bertenaga.
"Apa ... kau sudah keluar?" tanya Tessa menatap Arjuna dengan mata sayu.
"Hem," jawabnya bohong.
Tessa tersenyum dan duduk di atas ranjang. Ia mencium bibir Arjuna lembut dan tersenyum manis padanya.
"Calon anak kita nanti, pasti akan menjadi generasi penerus mafia yang tak tertandingi, Juna. Ia akan menjadi pemimpin dari kekuasaanmu dan kekuasaanku. Oh, aku tak sabar melihat calon anak kita menjadi penguasa," ucap Tessa dengan senyum merekah dan kembali berbaring dengan mata terpejam.
Sorot mata Arjuna menajam. Ia langsung berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Tessa tersenyum dan menyelimuti dirinya yang polos, siap untuk tidur.
"Anak? Menggantikanku? Mengambil posisiku? Jangan harap. Kekuasaan ini hanya akan menjadi milikku. Anak itu ... hanya pengganggu," ucapnya menatap wajahnya di cermin terlihat geram.
***
uhuy! tengkiyuw tipsnya~
selamat idul adha bagi yang merayakan.
lele padamu💋💋💋
__ADS_1