
Para mafia senior menghela napas panjang karena mulai memikirkan nasib orang-orang dalam jajarannya.
"See? Setelah Vesper meninggal, kita baru menyadari semua maksud dari perluasan bisnisnya," ucap Amanda dan diangguki semua orang yang baru memahami hal tersebut.
"Jangankan kalian. Aku saja terkejut saat ia tiba-tiba menghubungiku dengan nomor milik isteri Tora. Saat ia memberikan rincian aset, ingin rasanya aku gantung diri. Namun, mengingat ia sedang sakit dan suasana dalam jajaran kacau, kuterima tugas berat itu sebagai ucapan terima kasih karena selama aku terlibat dengannya, militer tak pernah menyentuhku apalagi The Circle dan penjahat lainnya. Ucapan terima kasihku sudah kubalas dengan menyelesaikan pengurusan aset ini," sahut Beny.
"Kau beruntung, Beny," sahut Javier dan pria itu mengangguk pelan.
"Kau melakukan tugas berat ini sendirian. Yah, walaupun dibantu oleh beberapa orang. Kami kagum padamu," sahut Yusuke ikut memuji dan pria itu tampak tersipu malu, tapi membuat geli mantan anak buah pak Sutejo karena sikap Beny yang seperti wanita.
"Ah, Sultan. Vesper memberikan map hitam ini dengan namamu. Sebenarnya, tak ada warisan yang ia berikan padamu karena kekayaanmu sudah melimpah. Hanya saja, dia sangat berharap agar kau tetap bisa menjaga silaturahmi dengan Lysa berikut dua anakmu. Vesper tahu kau akan menikah dengan wanita bernama Fatimah. Namun pastikan, kehadiran Fatimah memang diterima oleh dua anakmu, bukan hanya salah satu dari mereka. Penolakan dari salah satunya, akan berakibat hubungan keluargamu buruk. Itu sama saja, kau mengulang kesalahan yang sama hingga kau harus bercerai dengan Lysa kala itu karena tekanan dari Tobias," ucap Beny seraya membaca catatan dari Vesper untuk anak angkatnya.
Javier mengangguk paham meski terlihat gugup. Lysa diam saja tak berkomentar dan menundukkan wajah.
"Namun, Vesper menulis. Hubungan dengan para Kolektor harus tetap terjalin. Karena Ahmed sudah tiada dan ia tak mengizinkan Eko berikut jajarannya menjual organ ilegal lagi, kau diminta untuk mengisi kursi Ahmed. Para kolektor setuju. Dan kini, keputusan ada di tanganmu. Bagaimana?" tanya Beny seraya menyerahkan map itu padanya.
"Aku ... tergabung dalam kelompok Kolektor? Begitu maksudmu?" tanya Javier memastikan dan Beny mengangguk.
"Ambil aja, Mas Sultan. Sebenarnya, kursi Sudan juga kosong, tapi sepertinya akan diisi oleh orang lain," sahut Biawak Kuning menjelaskan.
Javier mengangguk. Ia menyatakan siap dan menandatangani lembar peresmian dirinya yang ikut tergabung dalam kelompok organisasi ilegal tersebut.
"Sebenarnya kursi kosong itu untukku," sahut Bojan dari Serbia yang membuat para mafia menoleh ke arahnya.
"Woo, diem-diem daftar," sahut Biawak Cokelat dan Bojan tersipu malu menahan senyum.
Orang-orang yang ditugaskan oleh Vesper kala itu ikut tersenyum. Sandara diam saja karena hal itu memberikan kenangan buruk dengan kelompok tersebut, tapi akhirnya ia berucap.
"Aku masih menyimpan cincin Sudan. Sepertinya, kau akan membutuhkan cincin itu, Sultan," ucap Sandara yang mengejutkan semua orang.
"Simpan saja. Cincin itu sebagai bukti kepemilikan perorangan yang tak bisa diserahkan kepada orang lain seperti medali dewan. Anggap saja pengingat akan pengalaman hidupmu, Sandara," tegas Lucy.
Sandara yang baru mengetahui hal itu mengangguk pelan.
"Oke. Map merah maroon terakhir untuk Buffalo dan Drake. Vesper memberikan rumahnya di Pemalang pada kalian berdua. Ia juga memberikan uang senilai 3 miliar untuk kalian sekeluarga. Jika ingin memiliki usaha lain dipersilakan, tapi kalian juga sudah mendapatkan pemasukan tambahan dari pabrik garmen," ucap Beny seraya memberikan map tersebut.
"Terima kasih atas kerja kerasmu, Beny," ucap Drake seraya menerima map itu lalu diberikan kepada sang isteri. Buffalo membuka isinya dan terlihat senyumnya merekah.
"Bentol. Itu map tinggal warna emas loh. Lha itu, orang-orang Flame belom semua. Click and Clack gak dapet aset kah?" tanya Eko yang ternyata mengamati sisa dari tumpukan map.
"Oh, soal mereka. Sierra yang akan mengurusnya. Selain itu, Click and Clack mengaku akan mengabdi pada Jonathan. Itupun jika anak manja itu mau menerima mereka berdua," jawab Beny santai, tapi membuat kaget Jonathan.
"Ha? Ciyus? Kalian mau balik lagi sama Nathan? Kalian gak marah? Gak dendam?" tanya Jonathan menatap dua mantan algojo Madan saksama.
"Hanya kami yang bisa mengatasi kebodohan dan kecerobohanmu, Jonathan. Sierra mempercayakan kami berdua untuk menjagamu, termasuk Vesper," ucap Click yang membuat Jonathan terharu.
"Lihatlah. Dia sungguh cengeng," ledek Clack, tapi Jonathan langsung cemberut.
"Selain itu, Jonathan. Vesper meminta kau mengembalikan hak dari Martin atas Blue Mansion Colombia. Vesper merasa jika Martin lebih mampu mengelolanya ketimbang kau," ucap Beny yang membuat Jonathan terkejut termasuk Martin. "Kau tak memiliki pengalaman dalam bisnis ganja termasuk bertani. Sektor itu tak cocok untukmu. Bijaksanalah, jangan rakus," tegas pria nyentrik itu seraya menunjukkan sebuah catatan dari buku warna hitamnya atas perintah Vesper.
Jonathan melirik Martin dan ia mengangguk. "Hem, Nathan juga ngerasa demikian. Maaf ya, Om Martin. Nathan jahat waktu itu sama Om," ucapnya sedih.
"Sebenarnya, aku pernah mengatakan ini saat di markas Dewan Sekretariat Italia. Ada ibumu, Amanda dan kau sendiri juga ikut hadir. Kaulupa?" tanya Martin yang membuat Jonathan malah mengedipkan mata.
"Oh! Yang waktu kita malah cek-cok perang mulut gegara bahas limpahan kerjaan dan aset dari pakde Charles dan Erik itu ya?" sahut Eko dan Martin langsung menunjuk Eko dengan mantap.
"Ha? Yang mana? Nathan umur berapa?" tanya Jonathan bingung.
"Lupa meski doi. Kalau gak salah waktu itu Martin bilang, katanya aset dari Erik yang dikelola sama dia bakal dikasih ke Jojon pas doi udah umur 25 tahun. Itu pun Jojon yang nentuin bakal diterima atau dikasihin ke Martin. Termasuk kursi anggota dewan punya pakde Charles. Gitu bukan ya?" tanya Eko mengingat-ingat kejadian bertahun-tahun silam.
"Daya ingatmu bagus juga, Eko," sahut Martin dengan senyuman.
"Saranku. Biarkan aset itu untuk Martin, Jonathan. Martin juga keluargamu meski bukan keturunan Benedict. Ia sudah mengelolanya sejak ikut dengan mendiang ayahmu, Erik Benedict. Bahkan sebelum kaulahir. Dia sudah paham betul bagaimana mengelola bisnis itu," sahut Ivan dengan gerakan isyarat.
"Ya. Aku juga sempat bekerja di sana bersama nona Lily saat ia menjadi agent dulu. Ia bahkan menyelamatkan kakakku Yohanes dan kawan-kawannya. Ia juga tak membunuh ayahku Carloz padahal dia penjahat. Tempat itu memiliki sejuta kenangan untuk kami. Jauh, sebelum kau ada, Jonathan," sahut Lucy.
__ADS_1
Jonathan merasa ditekan, tapi ia mengangguk paham.
"Kau yang bilang sendiri repot mengurus usaha-usahamu di seluruh dunia. Pertanggungjawabkan ucapanmu, Jonathan," tegas Click.
"Iya, iya! Kenapa Nathan dikeroyok sih?" sahutnya sewot. "Kan Nathan tadi udah bilang 'iya' dan 'minta maaf'. Nathan kan cuma lupa kejadian di Italia itu, malah disalahin sih?" ucapnya sebal dan langsung cemberut.
"Sungguh? Kau suka rela menyerahkannya padaku? Tak ada niatan untuk merampasnya lagi? Mungkin harus menembakku sampai mati?" sindir Martin.
"Om Martin gitu ...," ucap Jonathan memonyongkan bibir.
"Aku hanya ingin memastikan janjimu, Jonathan. Kau laki-laki. Sudah sepantasnya kau membuktikan dan menepati tiap kata yang terlontar dari mulutmu," tegasnya.
"Iya. Nathan akan kembaliin. Yang diomongin mama ada benernya. Nathan gak paham perganjaan. Nathan juga gak pake begituan. Ngrokok tu pahit dan bikin mulut bau. Tar Sierra sama Cassie ogah cium Nathan lagi," ucapnya yang membuat para mafia terkejut.
"Aku anggap dia bersedia menyerahkan aset Blue Mansion Colombia berikut ladang ganja, pabrik dan pesawat pribadi Erik Benedict padamu Martin," tegas Beny dan diangguki seluruh mafia termasuk Jonathan sendiri.
Beny merasa lega. Ia memberikan tanda check list pada lembar di buku catatannya atas permintaan Vesper.
"Mas Ben. Kita nasibnya gimana?" tanya Made Red Ribbon merasa kelompoknya dilupakan.
"Ah, soal kalian," sahut Beny langsung mengambil map warna emas yang sedari tadi dicurigai oleh para mafia karena penasaran milik siapa.
Praktis, wajah semua orang tampak tegang karena rasa ingin tahu, kepada siapa empat map emas tersebut diberikan.
"Oh! Namaku?" sahut Lysa karena tertulis namanya dengan tinta hitam pada sampul.
"Sepertinya ucapan para anggota Red Ribbon benar. Kau memiliki Resort di Alice Spring, Australia. Selama ini, Red Ribbon dan Black Armys yang mengurusnya. Tanah itu dulunya milik Komandan Zeno dan diberikan padamu karena berhasil menyelesaikan misi emas bertuan. Ingat hal itu?" tanya Beny seraya menaikkan salah satu alis. Empat anak Vesper mengangguk pelan. "Vesper meminta padamu agar tetap mempekerjakan para Red Ribbon di sana. Biarkan mereka tinggal di hotelmu meski ia tetap memberikan pesangon senilai 1 miliar untuk masing-masing dari mereka. Apa kau keberatan, Lysa?" tanya Beny menatap anak pertama Vesper lekat.
Pandangan Lysa kini tertuju pada sekelompok pria itu yang tampak gugup dengan nasib mereka.
"Tentu saja. Tanpa mereka, tempat itu hanya sebuah bangunan tanpa menghasilkan uang. Aku sangat berharap, kalian semua mau bekerja lagi untukku. Maaf, jika aku sampai melupakan keberadaan kalian. Aku sangat menyesal," ucap Lysa sedih.
"Hore! Kita kerja lagi!" seru Toras gembira meski dampak dari gas halusinasi yang diberikan Sandara kala itu masih membuat beberapa ingatannya pudar.
"Makasih, Neng Lysa," ucap beberapa dari mereka dan Lysa mengangguk pelan dengan senyuman.
Wanita cantik itu menerima map emas dan melihat isinya. Ia baru ingat jika Tobias memiliki hunian di Cuba dan Newfoundland and Labrador.
Serta rumah pondok yang sempat ia tinggali di musim dingin saat akan melahirkan King D bersama para Pion D.
Sebuah supermarket seperti yang diberitahukan Shinta juga diberikan untuknya oleh sang ibu.
Lysa tak menyangka jika banyak aset yang harus ia kelola dan itu tak sebanding dengan jumlah milik sang ibu yang lebih banyak darinya. Lysa langsung memegangi kepalanya terlihat pusing.
"Jangan lupa janjimu pada mendiang Tora. Kau harus mengayomi keluarganya. Tiga isteri Tora dan tujuh anaknya," sahut Beny, dan Lysa mengangguk paham.
"Kita ikhlas kalau kamu pusing ngurus aset-aset itu, Lysa. Mau dikasih cuma-cuma ke kita dengan senang hati akan diterima," ucap Hadi The Kamvret menyahut. Kening Lysa langsung berkerut.
"Mata duitan," sahut Bayu, tapi Hadi malah meringis.
"Tidak, Om Hadi. Kali ini ... Lysa harus bertanggungjawab untuk mengelolanya. Mungkin akan sulit, tapi Lysa yakin bisa melakukannya karena dikelilingi oleh orang-orang yang siap membantu. Apakah ... aku benar?" tanya Lysa menatap semua orang, dan para mafia itu mengangguk pelan termasuk Javier.
Tiba-tiba, Arjuna mengangkat tangan. Semua orang langsung menatap pemuda itu lekat.
"Maaf menyela. Hanya saja, bagaimana jika keluarga Tora tetap berada di Kastil Hashirama? Tempat itu sangat besar untuk kuhuni sendiri. Jadi lebih baik, biarkan mereka menetap di sana. Namun, untuk biaya hidup dan keperluan lainnya, kau yang bertanggungjawab, Kak Lysa," ucap Arjuna menunjuk kakak perempuannya dengan senyuman.
"Kami setuju," sahut Rui mewakili dua saudarinya.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih," ucap Lysa menatap Arjuna dengan senyuman, dan pria bertato itu balas tersenyum.
"Kenapa gak dari dulu-dulu akurnya? Heran," sahut Bonar Red Ribbon dan diangguki mafia lainnya.
"Kim Arjuna," panggil Beny yang membuat kaget putera tunggal Han tersebut. Beny memberikan map emas padanya dan Arjuna segera menerimanya. Ia terlihat kaget ketika ada banyak berkas di dalamnya. "Tessa memberikan asetnya padamu. Seperti rumah di Belize, lalu ... tanah di Guatemala, dan sisanya aku lupa. Namun semua ada dalam map itu," imbuh Beny.
Arjuna tersenyum kecil terlihat sedih, tapi ia mengangguk pelan.
__ADS_1
"Di sini mama menulis jika meminta kepada para SLYPH untuk tetap tinggal di Camp Militer. Ya, aku setuju dengan hal ini. Mama juga memberikan masing-masing dari kalian 1 miliar bagi yang belum berkeluarga," ucap Arjuna seraya melihat para wanita SYLPH yang masih lajang.
"He? Masih ada yang jomblo kah?" sahut Biawak Cokelat yang membuat Biawak Kuning dan Putih ikut melirik ke arah kumpulan wanita perkasa itu.
"Apa lihat-lihat? Kucongkel mata kalian baru tahu rasa," sahut Safa garang.
"Galak. Cari yang lain aja," sahut Biawak Putih dan dua kawan lainnya mengangguk setuju dengan wajah pucat.
Verda dan teman-temannya yang sudah menikah terkekeh pelan.
"Oh iya, aku jadi ingat. Ini untukmu, Dara. Vesper juga meminta kepadamu agar Yu Jie, Hadi dan Bayu tetap bekerja di perusahaan Farmasi Elios. Selama kau tak ada, mereka yang susah payah mempertahankan perusahaan itu," ucap Beny seraya membacakan catatan kecil dari Vesper untuk anak terakhirnya.
Bayu dan Hadi saling berpandangan terlihat gugup. Sandara tersenyum dan mengangguk.
"Tentu saja. Aku sangat tertolong dengan adanya mereka," jawab Sandara yang membuat dua pria itu lega. "Di sini mama juga menulis agar membiarkan Agent K dan O tinggal di Markas bersama para Black Armys yang bekerja di dua tempat usaha tersebut. Rasanya, aku tak keberatan dari pada tempat itu kosong," ucap Sandara seraya melihat dua agent Colombia tersebut.
"Terima kasih, Dara. Kami rasa, keputusanmu itu tepat. Kami sudah terbiasa tinggal di markas," sahut O dan diangguki K yang sepemikiran dengan kawannya. Sandara terlihat lega.
"Mungkin ... aku akan menetap di Italia. Aku akan mencari rumah di sana," sambung Sandara.
"Kaubisa tinggal di rumah dinas yang pernah kutunjukkan padamu. Bagaimanapun, aku masih memiliki saham di tempat ayahku itu," sahut Afro yang membuat Sandara terkejut.
"Ia, Dar. Gak usah cari rumah. Walaupun rumah itu kecil, tapi kita kumpul jadi satu kaya keluarga. Kamu gak bakal kesepian lagi karena ada Om Bayu, Yu Jie, dan Hadi berikut isteri-isteri kami," sahut Hadi yang membuat Sandara diam sejenak seperti berpikir.
"Terima kasih atas kesempatannya. Aku ... terima," jawab Sandara yang membuat semua orang tersenyum.
"Papa bisa berkunjung sewaktu-waktu jika kau mengizinkan," sahut Kai. Puteri tunggal dari lelaki tampan itu mengangguk cepat.
"Papa tinggal bersama Dara akan lebih baik. Dara ... kesepian," ucapnya terlihat sedih.
Kai mengangguk pelan, tapi hal itu membuat Afro langsung tertunduk murung seperti memikirkan sesuatu.
"Dan hal lain yang perlu kalian ingat. Beberapa tanah milik Flame ataupun keturunan Sutejo, ada yang tak bisa kuurus karena sudah diklaim oleh pemerintah. Militer dianggap tempat-tempat itu sebagai sarang teroriss seperti Mauritania, hanggar milik Miles di Perancis, tanah Sutejo di Wonosari, markas milik Mr. Smoke, dan banyak lainnya," ucap Beny menegaskan.
"Ya, kami tak menyalahkanmu akan hal itu. Yang kaulakukan sudah lebih dari cukup karena memberikannya secara merata pada kami, Beny," ucap Jeremy dan dibalas senyuman oleh pria nyentrik itu.
"Om Ben. Itu map emas sisa satu punya Nathan 'kah?" tanya Jonathan melirik.
"Ah ya, aku hampir lupa. Itu semua adalah aset milikmu yang sempat dirampas oleh Miles, tapi berhasil diamankan oleh Cassie serta Click and Clack ketika kausibuk berurusan dengan para polisi dari Amsterdam," ucap Beny yang meminta kepada asistennya untuk memberikan pada Jonathan.
Jonathan tampak terkejut, tapi ia mengucapkan terima kasih.
"Kau beruntung, Jonathan. Kau disayangi oleh banyak orang. Jagalah mereka dengan segenap kemampuanmu. Jangan mengecewakan kami lagi," ucap Ivan dan Jonathan mengangguk mantap.
"Jika kau berbuat gila lagi, Vesper dan Sierra mengizinkan kami untuk menghukummu," tegas Click, tapi membuat pemuda itu menelan ludah.
"Well, sudah semua. Seharusnya selesai. Semoga Vesper tak melupakan seseorang dalam jajarannya yang belum dilibatkan," ucap Beny terlihat lega, tapi juga cemas karena map warisan sudah habis.
Namun, Jonathan menunjuk buku milik Beny di mana ada tulisan yang belum diberikan tanda check list di sana. Kening Beny berkerut dan melihat tulisan itu saksama.
"Ah, hampir lupa. Ini ... catatan dari Vesper untuk para fans-nya," ucap Beny yang membuat para mafia mengerutkan wajah terlihat bingung. "Sebenarnya lebih tepat jika disebut desakan dari para LAP."
"LAP? Apa tuh?" tanya Jonathan bingung.
"Lele Aku Padamu. Semacam sebutan untuk para pecinta karya penulis online bernama Lelevil Lelesan yang terkadang membuat para pembaca ingin menggorengnya. Jadi, akan kubacakan bagi kalian semua di alam sana," ucap Beny tampak tertekan.
"Wow! Dimensi lain gitu?" tanya Liben Red Ribbon bergidik ngeri seraya melihat sekitar. Beny mengangguk dengan senyum melengkung ke atas.
"Halo para pembaca LAP sekalian. Bisa dikatakan apa yang ditulis oleh Lele masuk dalam pikiranku. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena kalian semua sudah mengikuti kisah hidupku bersama orang-orang yang kusayangi. Tanpa kalian, Vesper tak berarti. Aku minta maaf jika tak ada warisan untuk kalian selain kenangan dari ceritaku. Kekayaan terbesar adalah diri kalian yang bersedia meluangkan waktu, uang, dan juga perasaan untuk menikmati karya yang Lele sajikan. Besar harapanku untuk kalian agar selalu mengenangku dan juga kami semua para tokoh dalam novel. Untuk Lele, aku padamu. Vesper."
Praktis, baik para tokoh dalam novel ataupun para pembaca dibuat diam untuk sepersekian detik saat menelaah tiap kata yang tertulis menjadi kalimat.
***
kwkwkw dah tu😆 itu semua wasiat buat mbk Vesper untuk kalian semua para LAP dan orang-orang terkasihnya.
__ADS_1
akhirnya wasiat mbk Vesper abis. ya owoh pegel uyy😩 nah eps setelah ini masuk kategori penutupan nasib empat anak Vesper setelah ditinggal simbok. tapi upnya besok aja. panas pantat berikut mataku. makasih tipsnya. lele padamu😘