4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
DJIBOUTI*


__ADS_3


Sandara duduk di bangku dengan hidangan lezat di depannya. Sebenarnya, pemandangan di ruang makan itu nampak harmonis layaknya sebuah keluarga kecil di mana terlihat seorang gadis cantik dan juga pemuda tampan layaknya pasangan muda.


Sayangnya, apa yang dirasakan oleh gadis berwajah Asia itu tak seperti yang digambarkan.


"Aku berubah pikiran. Aku ingin kembali pada ibuku," tegas Sandara, tapi Jibran berpura-pura seperti tak mendengarnya. Mata Sandara makin menyorot pria berambut abu-abu tersebut. "Ibuku akan datang kemari dan membawaku pergi. Jadi ... aku akan menunggu," sambung Sandara tetap terlihat tenang lalu menyendok salad sayur di mangkoknya.


Jibran mulai menaikkan pandangan. "Vesper datang kemari? Hem, aku rasa tak mungkin. Tak ada satupun orang yang tahu keberadaan ru—"


"Mr. Jib! Vesper here!" pekik salah seorang penjaga berkulit hitam langsung masuk ke ruang makan terlihat panik.


Sandara tersenyum miring, dan Jibran terkejut bukan main bahkan matanya sampai melotot. Dengan sigap, pria itu beranjak dari kursi empuknya.


Sandara bertahan di bangkunya, tapi Jibran mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menarik Sandara dari tempat duduknya.


"Agh! Lepaskan!" teriak Sandara lantang yang sengaja menyerukan suaranya. "Emph!" erangnya tertahan karena Jibran membungkam mulut Sandara kuat.


Saat Jibran membawa paksa Sandara keluar dari ruang makan, tiba-tiba ....


DOR!


Praktis, semua orang menghentikan aktifitas. Orang-orang di sekitar tempat itu terkejut ketika mendapati Vesper masuk ke ruang makan diikuti ketujuh bodyguard-nya yang telah memasang wajah garang.


Vesper menembakkan pelurunya ke atap dan melubangi langit-langit ruangan.


"Jibran," panggil Vesper menunjukkan wajah dingin dan berhenti di hadapannya masih menjaga jarak.


Jibran terlihat pucat. Ia kebingungan, tapi tetap mempertahankan Sandara dalam dekapannya. Vesper mengulurkan tangan kanannya dengan sorot mata tajam membidik pria tampan itu. Sandara terlihat berusaha untuk tegar, meski ia didekap kuat oleh anak dari Sudan tersebut.


"Aku akan menikahinya," ucap Jibran yang pada akhirnya berani menatap Vesper.


"Kau siapa? Apakah Sandara mencintaimu? Kenapa kau mau menikahinya?" tanya Vesper penuh selidik dengan tangan kanan masih terulur menunggu sang anak menyambutnya.


"Ya, aku mencintainya. Janin di perut Sandara adalah anakku," tegasnya.


DOR! BRUKK!


Mata Jibran melotot begitupula semua orang di ruangan itu. Eko mengelus dadanya berusaha untuk tetap tenang saat majikannya menembak salah satu orang Sudan dan menewaskannya.


"Kita baru bertemu, dan kau sudah mengatakan satu kebohongan," ucap Vesper sinis dengan pandangan teralih.


Semua orang di ruangan tampak tegang. Tiba-tiba, muncul seseorang dari balik pintu di sisi lain ruang makan tersebut. Mata Vesper teralih akan kedatangannya, tapi terlihat mengenalinya.


"Maaf, jika kita harus bertemu dengan cara seperti ini, Nyonya Vesper," sapa Khafi Sudan seraya mendekat dengan beberapa pria di belakangnya.


"Jelaskan," pinta Vesper, tapi tangan kanannya yang terulur bergerak perlahan.


Khafi menatap anaknya seperti memberikan kode agar melepaskan Sandara. Jibran terlihat enggan, tapi ia melakukannya meski terlihat terpaksa.


Sandara langsung berlari ke arah Ibunya dan memeluknya erat. Vesper mencium kening anaknya lembut yang terlihat ketakutan.


Buffalo dengan sigap meraih Sandara dan menjaganya dengan beberapa bodyguard Vesper melindunginya.


"Aku tak bisa memiliki anak. Aku membutuhkan bayi itu. Selain itu, Sandara juga tak menginginkannya," ucap Jibran tiba-tiba yang mengejutkan semua orang. Khafi terdiam memalingkan wajah.


"Dia mandul apa gimana, Mbak Vesper? Impoten gitu? Kasian amat. Ganteng-ganteng mlempem," bisik Eko. Vesper hanya menaikkan kedua alisnya terlihat malas tak mau menanggapi.


"Sudan, Jibran, sepertinya kita perlu bicara. Dara, kau juga harus terlibat. Room, please," pinta Vesper dengan wajah dingin.


Sudan mengangguk paham. Ia mengajak Vesper dan anak buahnya menuju ke lantai dua ruang kerjanya.

__ADS_1


James dan lainnya terlihat waspada dengan sekitar. Sedang Eko dan Tora terlihat santai bahkan tak sungkan memegang pajangan yang menarik perhatian mereka.


"Kalian tunggu saja di luar. 15 menit aku tak muncul, hancurkan rumah ini dan pastikan anak buah Sudan mati," tegas Vesper sebelum masuk ke ruangan.


"Yes, Mam!" jawab seluruh bodyguard Vesper mantap. Sudan terlihat gugup, begitupula Jibran dan orang-orangnya.


Eko dan Tora malah sibuk berkeliling rumah saat majikan mereka berbicara serius di ruang kerja milik Sudan.


Ternyata, dua orang itu menuju ke ruang makan. Mereka duduk dengan nyaman seraya menikmati sajian yang sudah terhidang di meja.



"Mwakannya cepet, Tora-kwun. 15 menit dowang waktu kita," ucap Eko dengan mulut penuh makanan.


"Hem!" jawab Tora mantap dengan anggukan lalu mengambil paha ayam kalkun yang dipanggang dan dibumbu lezat.


Sedang orang-orang Sudan yang berjaga di ruang makan terlihat tegang dengan kedatangan dua tamu tak dikenal yang menyenangkan diri mereka sendiri itu.


Hingga akhirnya, 15 menit itu berakhir. Buffalo dan lainnya menatap duo gundul keheranan yang berlari dengan tergesa ke arah mereka.


"Ada apa? Kalian dari mana?" tanya Buffalo curiga.


"Hah?" jawab Eko dengan napas tersengah.


"Oggg."


Praktis, sendawa Tora menunjukkan jika mereka menyempatkan diri makan. Wajah masam langsung ditunjukkan oleh bodyguard Vesper lainnya.


"Makan itu penting demi menjaga stamina," ucap Eko membela diri.


"Tanpa kami? Wow, kalian sungguh setia kawan," sahut Seif kesal. Tora dan Eko meringis tak enak hati.


"Tar kita berdua ceritain gimana rasanya. Gak usah ngambek," jawabnya santai, tapi membuat kawan-kawannya makin kesal.


Praktis, semua kepala langsung tertuju ke arah pintu ruang kerja Sudan yang terbuka. Terlihat, dua pria berambut serupa menunjukkan wajah tegang, tapi Vesper tersenyum lebar.


Rasa penasaran makin menyelimuti hati para bodyguard Vesper tentang kesepakatan baru tersebut.


"Kita pulang," ucap Vesper tenang seraya merangkul pundak Sandara.


"Dara ikut dengan kita 'kan?" tanya Drake memastikan dan Vesper mengangguk pelan.


Ternyata, Jibran ikut dengan rombongan itu. Tentu saja, hal itu membuat para bodyguard Vesper kebingungan.


"Dia akan ikut kita pulang?" tanya James memastikan.


"Ya," jawab Vesper santai seraya mengelus lembut rambut anak perempuannya. Sandara diam tak menunjukkan ekspresi apapun.


Sebuah mobil dipersiapkan di mana Vesper akan duduk di sana bersama Sandara dan Jibran.


Para bodyguard Vesper mengikuti mobil di depannya sampai ke bandara termasuk mobil dibarisan terakhir yang mengangkut Sudan.


Pria berambut putih panjang itu melambaikan tangan saat anak lelakinya pergi bersama rombongan Vesper menggunakan pesawat pribadi sang Ratu.


Di dalam pesawat, semua mata bodyguard Vesper tertuju pada pria berambut silver penuh tanda tanya. Vesper menghabiskan waktunya bersama anak gadisnya di kamar pesawat selama penerbangan.


"Apakah kak Afro akan menerimaku, Ma?" tanya Sandara sedih.


"Kita akan lihat nanti, Sayang. Ketulusan cinta seseorang akan diketahui saat terjadi hal buruk pada salah satu pasangannya. Mama hanya meminta, kau siapkan mentalmu untuk mengetahui jawabannya," jawab Vesper lembut seraya mengelus rambut hitam panjang anaknya.


Vesper sengaja tak memberitahukan orang-orang tentang kepulangannya membawa Sandara termasuk Jibran yang ikut serta. Vesper membawa timnya langsung ke Italia menuju kediaman Afro.

__ADS_1


Mereka tiba keesokan harinya.


Sandara terlihat gugup dan pucat saat mobil yang menjemput rombongan mereka di bandara beranggotakan Red Ribbon. Tiga buah mobil MPV hitam melaju dengan kecepatan sedang ke kediaman Afro.


Doug yang sudah diinformasikan oleh Vesper telah bersiap di kediaman mendiang Elios.


Pemuda itu terlihat sibuk di ruang kerjanya di mana Doug masih tak mengizinkannya pergi ke kantor, meski pria tampan itu selalu menanyakan kabar Sandara setiap harinya.


Kini, pertanyaan yang selalu membuat hatinya cemas akan segera terjawab.


"Apakah ada tamu?" guman Afro saat ia mendengar suara mesin mobil memasuki halaman rumahnya. Afro segera beranjak dan mengintip di jendela.


Seketika, mata pemuda itu membulat penuh saat mendapati rombongan Vesper tiba bahkan ada sosok pria tak dikenalnya ikut dalam kelompok tersebut.


Afro bergegas keluar dari ruang kerja menuruni tangga seraya memegangi perutnya yang masih terasa nyeri.


"Dara?" panggil Afro menghentikan langkah di tangga terakhir saat ia mendapati gadis yang dicintainya muncul di hadapannya dengan mata berkaca. Afro tersenyum lebar. Ia segera berlari dan mengabaikan lukanya ke arah Sandara.


"Kak Afro," ucap Sandara langsung memeluknya erat.


"Oh, syukurlah. Kau baik-baik saja? Apa kauterluka?" tanya Afro langsung melepaskan pelukan dan memegangi kedua lengan Sandara erat. Gadis itu menggeleng pelan terlihat sedih.


"Sandara hamil."


Kembali, Afro dibuat terkejut, apalagi yang mengatakan hal itu dari pria yang tak ia kenal. Afro menatap lelaki itu tajam yang terlihat bangga dengan penuturannya barusan. Sandara menundukkan wajah saat Afro menatapnya.


"Apakah yang dia katakan benar? Kau hamil?" tanya Afro berkerut kening. Terlihat jelas kekecewaan di matanya. Sandara mengangguk pelan karena memang begitulah faktanya.


Afro terlihat shock. Ia melangkah mundur dan langsung membalik tubuhnya. Semua orang terdiam. Memang inilah yang mereka ingin ketahui dengan membawa Sandara dan Jibran ke rumahnya.


"Diakah pria yang menghamilimu?" tanya Afro menunjuk Jibran saat ia membalik tubuhnya terlihat marah.


"Sayangnya bukan. Yudhi yang menghamilinya. Diperkosa, lebih tepatnya. Itu ... menurut pengakuan para HURI," jawab Jibran menjelaskan.


"Kau diperkosa Yudhi? Tapi menurut berita ... Yudhi tewas," jawab Afro terlihat bingung. "Apa kau yang membunuhnya?" tanya Afro menatap Sandara tajam. Sandara mengangguk.


Praktis, mata seluruh bodyguard Vesper melebar, termasuk Eko. Pria berkepala gundul itu terlihat terkejut.


"Yu-Yudhi wasalam karena kamu yang bunuh? Gitu?" tanya Eko langsung mendatangi Sandara dan melotot padanya. Sandara mengangguk terlihat sedih.


Semua orang dibuat shock akan kebenaran dari hal yang baru mereka ketahui.


"Dia menyetubuhiku berkali-kali. Aku diikat dan dibiarkan begitu saja di kamar bahkan tak diberikan pakaian. Aku selalu diawasi bahkan saat ke kamar mandi. Lelaki keparat itu memang harus mati. Aku tak menginginkan bayi ini. Aku ingin membunuhnya, tapi ... Sudan memberikan penawaran padaku," jawab Sandara pada akhirnya. Semua orang terdiam dengan hal mengejutkan ini.


"Kesepakatan apa?" tanya Afro bertolak pinggang menatap Sandara tajam.


"Sudan menginginkan bayi ini untuk anaknya, Jibran. Lelaki di sampingku ini bernama Jibran Sudan, anak dari Khafi Sudan, salah satu Kolektor perdagangan organ ilegal di seluruh dunia," jawabnya seraya menunjuk Jibran.


Pria tampan berambut silver itu membungkuk dengan telapak tangan kanan menyilang di dada kirinya disertai senyuman. Afro makin menatap pria itu tajam.


"Jibran ... tak bisa memberikan keturunan dan aku tak mau tahu alasannya. Aku menerima kesepakatan itu dengan jaminan, semua orang The Cirlce dan No Face dimusnahkan kecuali kau," jawab Sandara gugup dengan mata berlinang.


"What?!" pekik Afro, Red Ribbon dan para bodyguard Vesper lantang.


Doug ikut terkejut, tapi tak memekik. Pria itu hanya melebarkan mata terlihat kaget dan tetap diam dari tempatnya berdiri.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



uhuy tengkiyuw tipsnya❤️menunggu sogokan utk dobel eps. kalau mau ... kalo gak ya gpp😁


__ADS_2