4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Tentang Cassie


__ADS_3

Dua sejoli yang kini sedang menjalin asmara itu sungguh menarik perhatian para mafia yang masih singgah di Black Castle, dan belum kembali ke negaranya karena sosok Cassie yang sedang hangat diperbincangkan.


Cassie yang menyukai gaun pengantin, membuat Jonathan memborong semua gaun pernikahan yang ada di Inggris demi pujaan hatinya.


Setiap hari bagaikan pesta pernikahan di Black Castle karena Cassie bagai puteri raja, meski Jonathan memakai pakaian ala kadarnya sesuai dengan mood-nya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Jadi ... kau akan mencari Sandara untuk kami? Oh, terima kasih, Cassie sayang. Kau sungguh baik hati," ucap Vesper dengan senyum terkembang.


Tiba-tiba, Cassie menunjuk pintu ruang rapat. Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut karena gerakan tersebut.


"Aku tahu kalian di sana. Masuk! Atau aku tak segan memotong telinga kalian jika sampai tertangkap. Aku hitung sampai tiga! Satu!"


Mata semua orang terbelalak. Mereka tak tahu siapa yang Cassie maksud.


"Dua!"


CEKLEK!


Praktis, kepala semua orang menoleh. Mata Cassie menajam. Ia langsung berdiri seraya mengangkat gaun pengantin yang dipakainya. Jonathan dan semua orang dibuat kebingungan.


"Kami menyerah," ucap Pion Daido menunjukkan diri dan diikuti oleh Pion lainnya masuk ke ruang meeting.


Vesper dan semua orang terkejut, karena Cassie menyadari jika ada orang lain yang menguping di balik pintu.


Hanya saja, karena para Pion sudah dianggap sekutu, Vesper dan jajarannya tak menganggap mereka pengkhianat.


"Kami berada di kubu 13 Demon Heads. Kami tak memihak Venelope dan lainnya lagi," tegas Pion Dakota menjelaskan.


"Di mana dia?" tanya Cassie seraya berjalan dengan langkah cepat dan tegap menuju ke arah para Pion tersebut.


Para lelaki itu terlihat panik karena sorot mata Cassie hanya tertuju pada mereka. Vesper dan lainnya masih duduk di kursi, tak melakukan apapun karena penasaran dengan tindakan Cassie selanjutnya.


"Si-siapa?" tanya Pion Diego panik, masih mengangkat kedua tangan ke atas.


"To-bi-as," jawabnya bengis.


"Di rumah Darwin bersama isterinya, Lysa," jawab Pion Damian cepat.


"Jangan kira karena aku tak bersenjata, aku tak bisa membunuh kalian. Salah besar."


SWING! DUAKK!


"Agh!" rintih Pion Dexter saat tiba-tiba Cassie menarik buku yang digunakan oleh Eiji untuk mencatat, dan melemparkannya ke arah salah satu Pion tersebut, tepat mengenai wajahnya.


Para Pion panik dan segera berpencar ke segala sudut ruangan. Cassie langsung menghentikan langkah dan melirik tajam ke semua Pion yang menjaga jarak dengannya.


"Oh, sepertinya ini akan sangat seru. Jantungku berdebar-debar," ucap Vesper senang.


"Mama?" ucap Jonathan heran karena bingung dengan keadaan ini.

__ADS_1


Para bodyguard Vesper dan para mafia yang ikut dalam rapat besar itu memilih duduk diam tak ikut campur, meski wajah tegang terlihat jelas.


"Beb! Aduh, kamu kenapa sih kok jadi galak gitu? Duduk sini," panggil Jonathan beranjak dari kursinya dan mendatangi Cassie dengan cepat.


"Singkirkan mereka, termasuk Click and Clack. Aku tak mau mereka ada di sini," tegasnya.


"What? Kenapa?" tanya Jonathan bingung.


"Mereka di sini, aku pergi. Aku di sini, mereka pergi. Pilih," tekannya menatap Jonathan tajam.


"Kalian semua pergi! Cepat!" teriak Jonathan langsung mengusir para pria itu. Click and Clack yang menunggu di luar ruang rapat ikut terkena imbas. Para pria itu di usir dan dikurung di penjara bawah tanah Black Castle seperti tahanan. "Udah tuh, udah diamanin. Jangan ngamuk ya, duduk yuk," ajak Jonathan seraya menarik tangan Cassie kembali ke kursinya.


Namun, gadis itu malah duduk di pangkuan Jonathan. Pemuda itu terlihat kaget. Ia sampai tak bisa melihat orang-orang karena tertutup punggung kekasihnya.


Vesper dan para mafia lainnya mengedipkan mata, ikut bingung dengan kondisi ini.


"Aku bekerja sendiri. Masa tugasku satu tahun. Aku akan memberikan laporan berkala. Kalian tak perlu membalas pesanku nanti," tegasnya menjelaskan.


"Nathan udah siapin satu pasukan khusus buat kamu, Beb. Buat lindungin kamu," sambung Jonathan dengan kepala melongok ke samping lengan kiri kekasihnya.


"Maksudmu ... aku melindungi mereka?"


"He?"


"Saat kau di Greenland di serang serigala Venelope, siapa yang menyelamatkanmu?"


"Kamu," jawab Jonathan lugu.


"Saat di Angola ruang bawah tanah. Siapa yang menyelamatkanmu dari serangan manusia buatan Venelope?"


"Jika pasukanmu bersamaku, mereka diserang dan terluka, aku tak peduli. Mereka mati, aku tak peduli. Mereka tertinggal, aku tak peduli. Namun, jika kau yang pergi bersamaku, aku tak akan membiarkanmu diserang, terluka, mati, atau tertinggal, karena aku melindungimu," ucapnya menatap Jonathan tajam.


"O ... ke," jawabnya kembali menyembunyikan dirinya di balik punggung sang kekasih seraya memeluk perut ratanya erat.


"Wow. Dia dominan," bisik Kai ke telinga sang isteri, dan Vesper mengangguk setuju. "Berikan laporanmu langsung padaku," pinta Kai.


"Tidak mau," tolaknya.


"Aku Ayah Sandara, dan aku berhak tahu keadaan anakku!" tegasnya melotot.


"Kau bukan Tuanku. Jonathan majikanku, bukan kau, Kai Adipura."


"Jika tak mengingat luka di kepalaku, ingin rasanya aku merobek wajahnya, Sayang," ucap Kai tersulut emosi.


Vesper tersenyum lalu mencium bibir Kai sekilas. Tiba-tiba, Cassie melakukan hal yang sama kepada Jonathan. Pemuda itu terkejut karena tak tahu apapun.


"Hei!" pekik Vesper kesal.


"Dia kekasihku. Berciuman masuk dalam salah satu misiku. Sehari aku harus mencium Jonathan sebanyak 100 kali. Hari ini, aku baru melakukan 14 kali. Aku masih memiliki hutang 86 ciuman padanya," ucapnya dengan wajah datar.


"Sabar ... sabar, jomblo sabar," ucap Bayu mengelus dadanya dengan mata terpejam.

__ADS_1


Para mafia terlihat pusing dengan perilaku aneh Cassie karena tak seanggun cara berpakaiannya.


Jonathan melongok dan melihat wajah para orang dewasa itu seperti tak menyukai tingkah laku kekasihnya yang terkesan tak beretika.


"Beb, rapatnya udah selesai kok. Kamu udah kasih banyak penjelasan ke mereka. Tunggu Nathan di kamar ya," ucap Jonathan dengan senyuman. Cassie mengangguk seraya beranjak dari pangkuan sang kekasih.


Julia dan Merry Red Skull mengawal Cassie kembali ke kamar. Cassie dijaga ketat selama di Black Castle.


Bahkan, semua pintu rahasia yang berhasil ditemukan telah diamankan dan kini terpantau oleh sistem persenjataan Vesper Industries.


Vesper menatap anak ketiganya tajam dari tempatnya duduk. Jonathan terlihat gugup seraya membenarkan dudukkannya.


"Nathan minta maaf kalo Cassie gak sopan. Nathan juga gak tau kenapa Cassie sikapnya gitu, tapi ... Nathan yakin kok bisa ngerubah sikapnya nanti. Mohon dimaklumi ya," ucapnya seraya membungkuk tiap berbicara.


"Ya. Ajarkan dia sopan santun, Jonathan. Entah apa yang The Circle ajarkan padanya hingga dia bar-bar seperti itu," sahut Jamal yang ternyata ikut kesal akan sikap Cassie.


"Maaf, jika aku angkat bicara. Aku bisa sedikit menjelaskan jika diperkenankan," sahut Tessa seraya mengangkat tangannya.


"Silakan," ucap Vesper mengizinkan.


"Dia memang di program seperti itu. Aku melihat pelatihannya sejak ia berumur 13 tahun. Dia dilatih oleh Smiley awalnya. Jika kalian melihat para Pion yang tangguh, Smiley-lah guru mereka, termasuk Tobias," ucap Tessa menjelaskan.


"Hem, lalu?" sahut Rohan ikut penasaran.


"Dia tak diajarkan sopan santun dan beretika layaknya para puteri No Face. Bahkan ... ia ...," ucapnya terputus.


"Apa?" tanya Jonathan menatap Tessa seksama.


"Dia seperti hewan peliharaan," jawabnya tertunduk.


"Apa maksudnya?" sahut Arjuna menimpali.


Tessa menarik nafas dalam, dan kini menatap Vesper serta Amanda seksama. Dua wanita dewasa itu menyadari jika Tessa memperhatikan mereka.


"Ingat bagaimana rasanya kalung penyetrum The Circle saat terpasang di leher kalian?" Vesper dan Manda mengangguk. "Cassie sudah memakainya sejak umur 13 tahun untuk mengendalikan tingkah lakunya." Semua orang terlihat terkejut. Jonathan mematung seketika. "Aku dengar yang kalian ucapkan jika Cassie tak bisa tersenyum. Please, jangan minta ia tersenyum. Itu ... menyakiti hatinya dan senyum baginya adalah ... kematian."


"Ha? Sebenarnya apa yang ingin kaukatakan? Ucapanmu sungguh membingungkan," tanya Arjuna makin terfokus memandang isterinya.


"Jika sampai Cassie tersenyum, itu sama saja kau meminta kematian padanya. Kenapa kau begitu bodoh, Kim Arjuna! Kau sungguh tidak peka!" teriak Tessa marah, dan Arjuna terkejut karena dibentak oleh isterinya di depan semua orang.


"Kau memakiku?"


Tessa terdiam seketika dan memalingkan wajah dengan mata terpejam. Mata Arjuna melotot menatap Tessa tajam terlihat begitu marah, hingga wajahnya memerah meski ia diam.


"Aku rasa maksud dari ucapan Tessa adalah, agar kita berhati-hati pada Cassie. Kita tak mengenal tabiatnya, sedang Tessa dan orang-orang The Circle sudah. Tessa memberikan kita peringatan, Arjuna. Apa benar begitu, Tessa?" tanya Afro mencoba menengahi.


Tessa mengangguk dengan mata berkaca, seperti merasa bersalah karena sudah berteriak kepada suaminya.


Tessa memegang tangan Arjuna yang tersembunyi di bawah meja, tapi Arjuna langsung menariknya dan meletakkan di atas meja. Tessa tertunduk terlihat sedih. Suasana canggung seketika.


***

__ADS_1


tengkiyuw tipsnya. lele padamuā¤



__ADS_2