4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Norwegia*


__ADS_3


Di tengah udara dingin bulan November musim gugur, Smiley mengajak Jonathan keluar untuk mengunjungi salah satu penjara di negara yang Jonathan kenali, Norwegia.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Smiley mengaktifkan sebuah aplikasi translator agar bisa berbicara dengan Jonathan yang sering menggunakan bahasa Indonesia non-baku, padahal pemuda itu mampu menguasai beberapa bahasa, tapi enggan melakukannya dengan alasan tak masuk akal.


"Kau pernah ke sini sebelumnya?" tanya Smiley yang duduk di sebelah Jonathan dengan ponsel di dekatkan ke arahnya.


"Ehem. Mancing sama papa Kai abis berkunjung ke Swiss rumah pakde Satria," jawab Jonathan santai seraya melihat keluar jendela di mana kalung pemenggal telah ia lepas dan dijadikan salah satu senjata yang dimasukkan dalam tas ransel.


Smiley melirik Jonathan dan menatapnya lekat seperti memikirkan sesuatu. "Kau bisa kabur kapanpun kau mau. Aku bisa melihatnya. Kenapa tak kaulakukan?" tanya Smiley heran.


"Lagi males aja, pengen suasana baru," jawabnya terlihat asyik menikmati pemandangan di mana mereka mengendarai sebuah mobil menyusuri pinggiran laut. "Smiley."


"Hem?" jawabnya masih menatap Jonathan lekat padahal pemuda itu tak memandangnya sama sekali sejak masuk ke mobil.


"Kenapa kalian gak jera? Masih mau apa lagi? Sudah Nathan bilang, usaha kalian buat jatuhin 13 Demon Heads gak akan berhasil. Kalau kalian ngotot, kalian malah akan hancur. 8 Mens udah mati, Tobias beralih pihak, termasuk para Pion bahkan Click and Clack. Kalau Sierra kala itu gak terkena gas halusinasi, dia pasti udah jadi isteri Nathan dan kita berdua hidup bahagia. Tessa bahkan nikah sama kak Juna. Pasukan kalian juga udah jadi milik Nathan dan kak Lysa. Kalian udah gak punya apa-apa. Gak usah main gengsi harga diri segala, gak guna di mata Nathan. Bagi Nathan, kalian itu udah sejarah," ucapnya seraya menoleh ke arah Smiley.


Namun, BUAKK!


"Ugh!" rintih Jonathan saat perutnya mendapatkan pukulan kuat dari kepalan tangan kanan Smiley.


Pria itu menunjukkan wajah datar saat melakukannya, dan kembali tenang seraya merapikan jasnya. Jonathan memegangi perutnya yang sakit hingga wajahnya berkerut.


"Aku tak peduli dengan yang kaukatakan. Intinya sekarang, kau, tahananku. Kita memiliki kesepakatan, dan sekarang. Waktunya kau bekerja. Ambilah," ucap Smiley seraya memberikan sebuah teropong di mana mereka telah tiba di sebuah kawasan dengan kawat berduri membentang sebagai pagar pembatas sebuah bangunan.


Jonathan menahan sakit saat menerima teropong itu. Jonathan mengintai di balik jendela untuk melihat sekitar.


"Nathan jadi inget. Tahanan di Pulau Bastøy lebih enak hidupnya daripada Nathan dalam cengkeraman kalian. Nathan milih dipindahin ke Bastøy aja daripada harus jadi tahanan No Face."


DUAKK!!


"Agh!" rintih Jonathan saat kepala belakangnya didorong dan wajahnya dibenturkan ke kaca jendela mobil hingga teropong di tangan Jonathan jatuh.


Smiley masih menunjukkan wajah datar dan kembali merapikan jasnya yang mulai kusut karena aksi kekerasan yang ia berikan pada Jonathan.


"Kau tahu, Jonathan. Kau banyak bicara, dan hal itu membuatku kesal. Diam, dan fokuslah pada pekerjaanmu. Kau tak mau memberikan pasukanmu 'kan, jadi ... berikan kami pasukan baru dari para tahanan itu," ucap Smiley seraya mengambil teropong yang jatuh di karpet mobil dekat kaki Jonathan.


Tiba-tiba, DUAKK! BUKK! BUKK! BUKK!


KLEK! CEKREK!

__ADS_1


"Hem, Smiley. Nathan udah nebak kalau kamu emang tipe orang yang gampang banget main kasar," ucap Jonathan dengan pistol dalam genggaman tangan kanan dan kiri.


Jonathan menempelkan moncong senjata api tersebut di kepala Smiley dan juga sopir.


Smiley meraba kalung besi di lehernya, dan seketika, "Arrrghhh!!"


Jonathan tersenyum miring saat Smiley mengerang terkena sengatan listrik akibat memegang benda tersebut.


Mata pria tua itu melotot lebar dan tubuhnya bergetar. Nafas pria itu tersengal dan terlihat shock dengan yang ia alami.


"Good nite."


DUAKK! BRUKK!


DOR! BRUKK!


Jonathan melihat sekitar untuk memastikan keadaan karena suara letusan dari pistolnya cukup nyaring terdengar.


Ia menarik tubuh sopir dan menggesernya ke dudukkan samping. Jonathan keluar dari mobil dan kini duduk di bangku kemudi.


Pemuda itu mengemudikan mobil sambil bersiul dengan mata sibuk melihat sekitar entah apa yang direncanakan.


Sopir No Face tersebut tewas dan Smiley tak sadarkan diri di bangku belakang usai Jonathan memukul kepalanya.


Di saat Smiley lengah, dengan sigap, Jonathan mengambil kalung pemenggal dan memasangkannya ke leher pria tua itu.


Ketika Smiley dan sopir sadar akan gerakan gesit Jonathan, semua telah terlambat. Jonathan berhasil mengambil pistol di tasnya dan kini ia todongkan ke dua orang No Face di mobil itu. Saat itulah, aksi selanjutnya terjadi.


Pemuda itu membawa mobil tersebut menuju ke sebuah kota dan memarkirkan kendaraan tersebut di pinggir trotoar. Jonathan keluar dengan santai menggendong tas ranselnya menuju ke sebuah toko.



Ternyata, pemuda yang membiarkan jambang dan kumisnya tumbuh agar terlihat keren dan macho layaknya pria dewasa, mampu menarik perhatian para gadis-gadis yang melintas di dekatnya saat Jonathan telah selesai dengan urusannya di tempat tersebut.


Sebelum di culik, ia juga menggunakan minyak penyubur agar brewoknya tumbuh lebih cepat supaya terlihat garang. Ditambah tato yang kini dimilikinya, penampilan Jonathan sudah seperti seorang mafia.


Jonathan kembali ke mobil dan duduk di bangku sopir seperti sedia kala. "Oke," ucapnya senang seraya mengaktifkan sebuah ponsel. Terlihat, pemuda itu seperti menghubungi seseorang.


"Hallo?"


"Mama!"


"Jonathan?" tanya Vesper terdengar kaget karena anaknya yang diculik malah meneleponnya dengan suara riang gembira.

__ADS_1


"Mah, Nathan ada di Norwey. Nathan ke pos darurat dan berhasil bikin Smiley pingsan sama bunuh sopirnya. Nathan tinggal Smiley di pos atau bunuh aja? Takutnya si Yudhi mau nyiksa dia gitu," tanya Jonathan seraya melirik sopir yang telah tewas sedang dipindahkan oleh anak buahnya dan dibawa masuk ke sebuah toko.


"Mm, wait. Mama kunci sinyalmu dulu," pinta Vesper.


Jonathan mengangguk seraya merapikan penampilannya.


"Oke. Mm, bisakah kau membuka jendela kaca mobilmu. Mama ingin memastikan jika itu sungguh kau, Sayang," pinta Vesper.


"Sure, Mom," jawab Jonathan seraya membuka kaca jendelanya dan melambaikan tangan.


Di tempat Vesper berada.


"Heh, pasti Smiley dan lainnya menyesal telah menculikmu. Puteramu sungguh anak yang selalu beruntung, Erik. Syukurlah kau baik-baik saja," ucap Vesper dengan senyuman saat mendapati anak ketiganya tersenyum lebar ke arah CCTV dari sebuah kamera pengawas di mini market sebelah mobil Jonathan.


"Oke. Jadi ... apa yang Smiley atau No Face inginkan darimu?" tanya Vesper mulai melakukan perekaman dengan GIGA.


"Banyak, Mah. Nathan sampai bikin banyak kesepakatan. Hanya saja, biarian aja dulu. Nathan pengen tahu rencana jahat Sierra. Untung banget Nathan gak jadi nikahin dia. Sierra gak waras. Nathan gak bisa bayangin kalo punya anak dari dia, kaya apa itu anak Nathan nanti sifatnya. Hih, serem, amit-amit," ucapnya bergidik ngeri membayangkan.


Vesper hanya terkekeh dan memilih tak berkomentar. "Oke, Nathan, fokus. Katakan pada Mama apa yang kau dapatkan selama ditahan oleh No Face. Jangan buang waktumu," ucap Vesper mengingatkan.


Jonathan malah menjulurkan lidah dan pada akhirnya mengutarakan semua yang ia ketahui selama disekap oleh No Face. Vesper mendengarkan dengan seksama, wajahnya serius seketika.


"Anak buah? Hem, berikan saja, tapi ... jangan dari para tahanan. Mama akan beri pancingan. Kita akan lakukan sebuah drama. Kau siap?"


"Hohoho, siap, Mah. Kayaknya seru. Apa tuh?" tanya Jonathan penasaran.


Jonathan mendengarkan dengan seksama apa yang Vesper instruksikan padanya. Jonathan serius menyimak bahkan tak menyela.


"Bagaimana?"


"Oke. Siap! Ya udah, gitu dulu ya. Nathan mau balik dulu. Kasian, Cassie sendirian. Bye, Mama. Muach," ucapnya senang lalu memberikan ponsel itu ke salah satu anak buahnya yang menyamar sebagai petugas mini market dari bisnis legal Kai di negara tersebut.


"Bagaimana, Bos?" tanya pria tersebut seraya menerima ponsel.


"Nanti mama bakal kasih instruksi. Ya udah, Nathan pergi dulu ya. Pesenan Nathan udah ditaruh bagasi belom?" tanyanya melirik ke dudukan tengah di mana banyak barang belanjaan telah dimasukkan oleh anak buah Jonathan di samping Smiley yang tak sadarkan diri. "Oh, udah. Nathan sampai gak nyadar. Oke, makasih ya," ucapnya dengan senyuman lalu pergi mengendarai mobil tersebut meninggalkan mini market milik Kai.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


Uhuy tengkiyuw tipsnya❤️Lele padamu💋brankas koin kosong gaes😆

__ADS_1



__ADS_2