
Petaka baru di sadari Lysa ketika ia membuka matanya pagi itu. Ia merasakan gelanyar aneh di tubuhnya saat ia merasakan sebuah tangan bertato memeluk perutnya yang tertutupi selimut.
Kening Lysa berkerut ketika ia mencoba untuk mengembalikan kesadaran di mana kepalanya masih terasa pusing dan tubuhnya lemas. Ia merasa ada hal aneh dalam dirinya, tapi ia tak tahu apa.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Hem, good morning," sapanya saat Lysa membalik tubuhnya yang memunggungi lelaki bertato yang memeluknya dari belakang.
Mata Lysa melebar. Ia melihat Tobias berbaring di sebelahnya dengan selimut yang sama. Jantung Lysa berdebar.
Saat ia akan menyingkirkan tangan Tobias di atas perutnya, ia terkejut ketika mendapati jari manisnya melingkar sebuah cincin yang tak dikenalinya.
"Aku juga punya. Milik kita sama, Sayang," ucap Tobias sembari menunjukkan jari manisnya yang memakai cincin seperti miliknya hanya saja ukurannya lebih besar.
"What? Apa yang terjadi?" tanya Lysa terlihat bingung sembari memijat kepalanya yang masih terasa pusing.
"Kita telah menikah, Sayang. Semalam. Para D saksinya. Kau tak percaya? Baiklah, akan kutunjukkan. Kau tipe wanita yang tak bisa diyakinkan tanpa sebuah bukti," jawab Tobias sembari mengambil sebuah remote berwarna hitam dan menyalakan televisi di ruangan itu.
Mata Lysa melebar ketika ia melihat dirinya mengenakan gaun pengantin dalam video itu.
Lysa makin terkejut saat menyadari jika ia mengenakan gaun pengantin yang sama berikut sepasang sepatu di kakinya seperti dalam rekaman video.
Lysa bangun perlahan dengan jantung berdebar kencang, menyaksikan video dirinya bersama Tobias entah kapan rekaman itu dilakukan.
"Aku mencintaimu, Lysa. Menikahlah denganku," ucap Tobias dalam video itu menatap wajahnya dengan senyum manis.
Lysa terkejut saat ia mengatakan bersedia menikah dengannya, terbaring di atas kasur dengan mata terpejam dan lelaki bertato itu berbaring miring di sampingnya.
Tobias lalu melingkarkan cincin di jemarinya, begitupula Lysa meski ia terlihat seperti orang linglung ketika melakukannya.
Para Pion bertepuk tangan merayakan pernikahan sederhana Lysa dan Tobias di kamar peninggalan Darwin Flame.
Lysa duduk bersama Tobias di atas kasur. Tobias mencium kening Lysa dan memeluknya erat. Lysa memejamkan mata seperti orang tertidur balas memeluk meski terlihat lesu.
Pion Dexter memotret keduanya yang mengenakan baju pengantin. Pion Damian ikut mendatangi sembari memberikan sebuah kertas yang harus mereka tanda tangani sebagai bukti jika keduanya telah sah menikah.
Lysa bahkan membubuhkan darahnya dengan cap jempol untuk membuktikan pernikahannya.
Mulut Lysa menganga lebar saat Tobias menciumnya mesra dan ia malah membalasnya dengan penuh gairah meski matanya terpejam.
"Ini tidak mungkin!" pekiknya marah dengan nafas tersengal.
"Tidak mungkin? Para Pion saksinya bahkan Javier. Mantan suamimu itu tak sanggup melihat pernikahan kita, jadi ... ia pergi. Pernikahan adalah sebuah janji, Lysa, sebuah keterikatan. Kau sekarang isteriku," tegas Tobias menunjuknya.
Lysa terlihat pusing. Matanya terpejam erat dengan kedua tangan mencengkeram rambutnya hingga berantakan.
Tobias menatap Lysa seksama yang malah menangis dan kini memeluk lututnya dengan wajah tertunduk.
"Kita akan membesarkan King D bersama, Lysa. Aku membalaskan sakit hatimu pada Sultan brengsek itu. Kau pasti sangat terharu akan kebaikan yang kulakukan padamu hingga kau menangis seperti ini. Ya, aku mengerti," ucap Tobias sembari membelai kepalanya lembut.
Lysa menampik tangannya dengan air mata tumpah begitu saja. Lysa tak dapat berkata apa-apa.
Yang dikatakan oleh Tobias kebalikan dari semua isi hatinya, tapi Lysa sudah terlalu letih untuk membantah.
Lysa memeluk bantal dan membenamkan wajahnya yang terendam air mata kesedihan. Tobias tersenyum dan kembali memeluk Lysa sembari menciumi pundaknya dengan lembut.
Lysa semakin menangis, tapi tenaganya seakan lenyap dari tubuhnya. Ia membiarkan Tobias menciuminya karena baginya bukti pernikahan itu sangat nyata untuknya.
"Kau sepertinya sangat menyukai gaun pengantin ini. Apa kau tak gerah? Aku bantu lepaskan ya," ucap Tobias menurunkan sleting di punggung wanita cantik itu perlahan.
Namun kali ini, Lysa memberontak. Ia segera bangun dan mendorong tubuh Tobias kuat hingga lelaki bertato itu terlentang di atas kasur.
__ADS_1
"Kau gila! Pernikahan ini pasti salah satu rencana licikmu saja! Aku mengenalmu, Tobias. Kau bukan lelaki baik dan kau sakit jiwa! Kau sangat jauh dari harapan dari sosok suami yang kuidamkan!"
PLAK!!
"Aggg."
"Kau ... berani menghinaku? Kau menjelek-jelekanku? Kau pikir, dengan mengatakan hal buruk tentangku, lantas aku akan melepaskanmu, hah? Tak akan! Selamanya, kau akan berada dalam cengkeramanku, Lysa! Berani kau pergi dariku atau bercerai denganku, jangan salahkan aku, jika satu persatu, orang yang kau sayangi akan mati, lalu ... tersisa kau, aku dan King D. Oke?" ucapnya yang diakhiri dengan senyuman sembari memegang kepala Lysa erat.
Lysa memejamkan mata kesedihan. Ia kembali tertekan.
Tobias mencium keningnya lembut dan tersenyum manis padanya, tapi Lysa memalingkan wajah, tak sanggup melihat wajah Tobias yang akan ia lihat untuk selamanya.
"Kau berantakan, Sayang. Ayo kumandikan," ucap Tobias lembut, tapi tidak bagi Lysa.
Tobias melepaskan paksa gaun pengantin yang dikenakan Lysa dan melemparkannya begitu saja.
Lysa menangis dan berusaha melawan berulang kali, tapi ... hatinya yang terlanjur letih karena kesedihan yang mendalam pada dirinya, membuatnya seakan tak bertenaga.
Tobias membopongnya paksa ke kamar mandi yang sudah tak terbungkus kain. Lysa masih menangis meski ia berusaha untuk menghentikan air mata sialan itu.
Lysa diam saja dengan wajah tertunduk saat Tobias memandikannya di bawah guyuran shower.
Tobias membersihkan tubuhnya, mencuci rambutnya bahkan menggosok giginya dengan senyum manis selalu ia pancarkan ketika mata Lysa mendarat di wajahnya.
"Aku baik 'kan? Aku bahkan memandikanmu tanpa kau minta. Aku suami yang perhatian," ucapnya menatap Lysa seksama dengan senyum terkembang.
Lysa memejamkan mata tak menjawab. Ia memalingkan wajah karena sikap Tobias sungguh sebuah tekanan besar di jiwanya.
"Hei! Aku suami yang baik 'kan? Jawab pertanyaanku!" teriaknya marah dengan tubuh basah kuyup tersiram air dari shower.
Lysa mengangguk dengan mulut terbungkam rapat. Tobias tersenyum lebar dan memegangi wajah Lysa erat.
Ia mencium bibir isterinya penuh gairah dan Lysa hanya bisa memejamkan mata menerima perlakuan paksa Tobias padanya.
Lysa hanya bisa mengangguk pelan. Baginya tak ada gunanya melawan Tobias sekarang. Hatinya begitu rapuh saat ini.
Ia hanya ingin menenangkan hati dan pikirannya sebelum bertemu orang-orang dalam jajarannya yang pasti sangat mencemaskan keadaannya.
"Ayo, kita sarapan. Aku memaksa para D memasak makanan untuk kita. Awas saja jika tak enak, aku sudah siapkan hukuman keji pada mereka semua," ucap Tobias kembali menunjukkan seringainya.
Lysa menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Ia sudah bisa menghentikan tangisannya. Keduanya keluar dari kamar mandi dan berpakaian.
Tobias menggandeng Lysa kemanapun ia melangkah, tak dilepaskan.
Pandangan Lysa kosong, pikirannya melayang jauh dari raganya entah kemana. Ia pasrah dengan yang Tobias akan lakukan padanya saat ini.
"Aku akan membalasmu, Toby. Lihat saja nanti," batin Lysa penuh kebencian.
Sedang di sisi lain.
Terlihat Jonathan sedang fokus dengan kesembuhan calon isterinya, Sierra. Gadis cantik itu menjalani beberapa pemeriksaan dengan alat-alat canggih yang bahkan belum pernah ia temui sebelumnya.
Kai terlihat serius dengan pengerjaan kaki robot penopang yang akan menjadi alat bantu bagi Sierra untuk berjalan nantinya.
Kai bahkan siap untuk menjadi orang pertama yang akan melakukan percobaan sebelum benda itu terpasang di kaki Sierra.
Kenangan kejahatannya pada mendiang Erik Benedict menghantuinya selama ini. Sebagai penebusan dosa, Kai tak ingin melakukan kecurangan itu lagi pada Sierra di mana Jonathan sangat mencintai kekasihnya dan menaruh harapan besar padanya.
Di negara yang berbeda, tim dari Sandara juga mulai mengawasi bar milik salah satu pemimpin No Face, Tessa Flame di Philadelphia, Amerika Serikat atas informasi dari Afro ketika di rumah persembunyian, Perancis.
Sandara terus menerima laporan dari para anggota Red Ribbon tanpa sepengetahuan orang-orang dalam jajaran Vesper.
__ADS_1
Red Ribbon tim penetral menyimpan rahasia rapat-rapat karena bagaimanapun, segala bentuk penyelidikan dan pengumpulan barang bukti, tak boleh melibatkan anggota dewan sampai Persidangan terjadi.
Di hari yang sama, Arjuna yang namanya makin populer di Indonesia karena dikatakan berhasil mengembangkan usaha pertanian, perkebunan dan perikanan milik Keluarga Herlambang, mulai disorot oleh banyak pihak.
Para pebisnis itu menilai jika Arjuna mampu membuktikan ucapannya kala itu jika ia akan berhasil.
Para pewaris mulai mengincar Arjuna untuk dijadikan calon menantu untuk para anak gadis mereka yang seumuran dengannya.
"Maksih, Bro, udah undang kita. Gak nyangka kau bisa sukses dengan pembuatan Arjuna's Adventure. Jika kau ingin mengembangkan lagi, aku punya sebidang tanah, yah ... lumayan lah sekitar 5000 meter di kota Semarang. Bisa kau buat dengan wisata petualangan seperti ini. Join, Bro, join. Gimana?" tanya Dewa, teman masa SMA-nya dulu ketika bersekolah di Yogyakarta.
"Ya, boleh. Coba bicarain sama Naomi aja. Dia yang handle semua," jawab Arjuna menunjuk Naomi yang sedang mengobrol dengan Gina, teman satu sekolahnya dulu, sama dengan Arjuna.
"Oh, Naomi setia ya, ngikut lu kemana aja. Oke," jawab Dewa sembari menepuk pundak Arjuna dan berjalan mendekati dua gadis cantik yang sedang mengobrol santai.
"Naomi, hai. Aku mau bahas bisnis. Juna bilang suruh ngomong sama kamu," ucap Dewa sembari merangkul pinggul kekasihnya.
"Oh, oke. Mari," ajak Naomi dengan senyum manis ke ruang kerja di taman edukasi petualangan milik Arjuna, di tanah Herlambang, Bantul, Yogyakarta, Indonesia.
Arjuna melirik Naomi di kejauhan yang terlihat makin dewasa dari hari ke hari. Tanpa disadari, senyum Arjuna merekah.
"Bos!"
"Eh! Apa sih, Bang? Bikin kaget aja," keluh Arjuna saat ia dikejutkan oleh Biawak Putih yang menepuk pundaknya.
"Rekrutan kita kurang diiikittt lagi. 100 doang, tapi di Jogja udah gak ada yang bisa kita ajak. Kayaknya, kita harus ke kota lain," jawab Biawak Hijau serius.
Arjuna menghembuskan nafas panjang sembari mengusap dahinya.
"Kita harus ke negara lain lebih tepatnya. Udah di data belom, mana aja yang belum kena jamah anggota dewan lain?" tanya Arjuna bertolak pinggang menatap dua bodyguard yang ia masukkan dalam daftar pelindung saat menjadi anggota dewan 13 Demon Heads.
"Amerika, Bos," jawab Biawak Putih mantab.
"Amrik? Kan udah ada Sia ya walaupun dia mengundurkan diri karena mimpinya bla ... bla ... gak masuk akal itulah. Yakin, Amrik masih bisa disusuri?" tanya Arjuna tak yakin.
"Hem. Sebenernya, kita bisa rekrut orang-orang yang membelot dari Jonathan, Bos. Kita berdua tahu dikit tentang The Circle. Anak buah No Face, rata-rata orang The Circle," ucap Biawak Putih berbisik.
"Maksudnya?" tanya Arjuna bingung.
"Oke kita flashback saat kesepuluh BIAWAK melakukan pengkhianatan. Inget 'kan?" tanya Biawak Putih memperjelas dan Arjuna mengangguk.
"Nah, saat kita pergi ke Amerika, ketika mengantarkan agent Cecil waktu itu untuk diamankan, kita sempat terperangkap di negara itu selama beberapa tahun hingga nama nyonya Vesper muncul," imbuh lelaki gondrong tersebut.
"Oke. Lalu?"
"Saat itulah, kami bertemu beberapa anggota The Circle. Oleh sebab itu, kami bisa bertemu dengan Tobias dan lainnya. Markas mereka dan embel-embelnya. Intinya, The Circle itu sebenarnya anggotanya ada banyak, hanya saja kalau kaya Black Armys, mereka ada levelnya. Kalau cuma 100 orang, kita rekrut level recehan aja. Buat menuhin persyaratan, Bos!" sahut Biawak Hijau semangat.
Mulut Arjuna menganga lebar. Ia mengangguk paham.
"Boleh. Segera jadwalkan dan petakan, kemana saja tujuan kita nanti. Lalu ... soal ini, jangan sampai bocor ke siapapun termasuk Naomi."
"He? Nom-nom gak boleh tahu? Kenapa?" tanya Biawak Hijau heran.
"Dia pasti tak akan setuju. Yang ada, dia malah menceramahi kita nantinya. Buat alibi sekalian biar Naomi gak curiga," bisik Arjuna sembari melirik Naomi yang masih terlihat serius di ruang kerja bersama Dewa dan Gina.
"Siap, Bos!" jawab dua Biawak dengan hormat.
***
Makasih tipsnya. Kwkwkw, keknya vaksin lele bukan sinopharm tapi sinogendeng wiro sableng.
__ADS_1
Dampaknya bukan mual, pusing, sakit kepala, tapi malah napsu ngetik sampai 3 eps dalam sehari. kwkwkwk bahaya ini. Kalian puas lele lemas. Wis wis, rehat dulu tar gendeng beneran.