
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
--------- back to Story :
Lysa menghabiskan waktunya di mansion milik Tobias dengan senyum merekah setiap harinya.
Ia merasa bahagia hidup bersama Tobias karena pria bertato itu tak menunjukkan sikap kejinya seperti dulu.
Tak terasa, ia sudah tiga hari di rumah megah tersebut meski terlihat kuno. Tobias yang selalu tidur di pagi hingga siang hari dan terjaga sampai matahari hampir menyingsing, membuat Lysa jarang sekali bisa bercengkerama dengan suami barunya itu.
Hari itu, Lysa mengajak pion Dakota untuk menemaninya ke supermarket bangunan untuk membeli perlengkapan untuk berkebun. Ia berencana untuk merapikan halaman belakang dekat kolam renang.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Kau harus cepat, Lysa. Tak aman bagi kita berada di luar," bisik Dakota dengan topi dan masker wajah sebagai penyamarannya. Lysa mengangguk.
Saat Dakota sedang mendorong troli dan melihat peralatan bertukang di rak yang berseberangan dengan Lysa, tanpa sepengetahuannya, Hakim mendekati Lysa yang sedang berjongkok untuk memilih pot.
"Nona Lysa," panggilnya berbisik.
Lysa menoleh dan betapa terkejutnya, Hakim ikut berjongkok di sampingnya dengan berpura-pura memilih alat bercocok tanam di rak dekat pot.
"Kau gila? Mengikutiku sampai sini?" pekik Lysa dengan suara tertahan dan menatap Hakim tajam sembari melepaskan salah satu tali masker di telinganya.
"Saya bisa membawamu pergi dari sini. Kita pulang," jawabnya tegas langsung memegang tangan Lysa erat.
"Pulang? Kemana? Javier? Hah, lupakan saja," jawabnya menebak dan langsung melepaskan cengkeramannya.
Hakim terkejut dan menatap Lysa tajam. Ia melirik dan melihat Dakota masih sibuk memilih alat pertukangan.
"Kami sudah menginformasikan keberadaanmu kepada nyonya Vesper. Mereka akan datang untuk membawamu pergi dari Tobias. Saya tahu, Anda tertekan selama ini. Sultan sudah menceritakan semua termasuk yang Tobias lakukan padamu," jawab Hakim tegas.
Kening Lysa berkerut. "Memang apa yang dia lakukan?"
"Dia memperkosamu di depan Sultan, Nona Lysa. Dia memberikan gas halusinasi padamu. Dan kini, otakmu juga sudah tercuci olehnya. Kau sekarang bisa berada dalam pelukannya karena kau lupa siapa dirimu sebenarnya," tegas Hakim berwajah serius.
Lysa tersenyum miring. "Aku sudah tersadar sepenuhnya, Hakim. Bahkan, kau tahu? Aku hamil. Aku mengandung anak dari Tobias. Jadi, katakan pada Sultan brengsek itu agar melupakanku untuk selama-lamanya. Aku tak lagi mencintainya. Mungkin benar jika Tobias memperkosaku dan aku sakit hati padanya, tapi aku menganggap ... itu balasan yang setimpal untuk Javier atas pengkhianatannya padaku. Sampaikan padanya, pergi dari hidupku jika masih ingin melihat King D," jawab Lysa dengan wajah datar.
Mata Hakim terbelalak lebar. Saat ia melirik, betapa terkejutnya, Dakota sudah tak ada di lorong rak tempat ia berdiri tadi.
KLEK!
Mata Lysa terbelalak seketika. Hakim mematung dan mengangkat kedua tangannya spontan saat ia merasakan sebuah moncong benda menekan tengkuknya.
"Pergi, sebelum kulubangi lehermu dengan penembak paku otomatis ini, Hakim. Sekarang ada yang menggunakan baterai. Jadi ... kau ingin mencoba alat terbaru ini? Jika ya, aku dengan senang hati mempraktekkannya," ucap Dakota tersenyum miring.
Hakim menelan ludah terlihat tegang.
"Hakim, pergilah. Kau tak perlu mati sia-sia di negara ini. Aku akan baik-baik saja dan terima kasih informasinya. Aku sangat menghargainya. Salam," ucap Lysa langsung berdiri dan menarik tangan Dakota agar menyingkirkan penembak itu dari tengkuk Hakim.
Dakota berjalan di samping Lysa dengan penembak paku dalam genggaman. Dakota menoleh ke arah Hakim yang masih berjongkok dengan posisi saat ia ditinggalkan.
Lysa menghembuskan nafas panjang sembari memainkan masker yang ia lepas. Dakota duduk di samping Lysa pada dudukan kemudi.
"Aku dengar semua yang kalian bicarakan. Jadi, kau sudah terbebas dari pengaruh obat itu? Kau sadar yang kau lakukan?" tanya Dakota menatap Lysa tajam.
"Aku sadar, Dakota. Aku merasa ... Tobias pantas diberikan kesempatan. Entahlah, aku hanya senang karena aku bisa hamil lagi. Aku tak masalah jika itu anak Tobias. Aku tak bisa memaafkan Javier. Dia menyakitiku terlalu dalam," jawab Lysa kembali berlinang air mata.
Dakota mengangguk pelan. Mereka mengurungkan niat untuk membeli perlengkapan bertukang dan berkebun di supermarket tersebut.
Sesampainya di mansion, Lysa meminta kepada Daido dan Dakota untuk memasang CCTV di sekitar rumah agar ia merasa aman meski sendirian. Dua Pion itupun menyanggupi dan segera mengerjakannya.
__ADS_1
Saat Lysa masuk ke kamar, ia terkejut karena Tobias tak ada di ranjang. Lysa bingung mencari keberadaan Tobias karena di kamar mandi dan ruang koleksi pakaian, sosoknya tak ditemukan.
Hingga Lysa menyadari ketika mendengar orang berbincang di teras. Lysa mendekati asal suara itu dan betapa terkejutnya, ketika ia mendapati ibunya bersama beberapa orang berada di sana terlihat serius dengan Tobias dan dua pion di belakang.
"Mama!" panggil Lysa dengan wajah berbinar langsung berlari mendekati Vesper.
Kepala semua orang menoleh. Mereka terkejut melihat Lysa berpenampilan lain dengan potongan rambut barunya.
Mulut Vesper sampai menganga karena anak perempuannya merelakan rambut panjang indahnya.
"Ehh, kau mau kemana, Sayang? Kenapa kau malah berlari ke sana bukan ke arahku? Apa kau tak melihat keberadaanku, hem?" tanya Tobias langsung menangkap pinggul Lysa dan memeluknya erat.
"Ah, bukan begitu, Toby. Aku ...," jawab Lysa bingung.
"Kau mengingatku?" tanya Vesper dengan senyum tipis muncul di wajahnya.
"Yes. Aku sudah ingat semuanya. Aku mengingat semuanya, Toby," jawab Lysa jujur sembari menatap Tobias seksama.
Mata Tobias terbelalak lebar. Ia terkejut, tapi juga heran karena Lysa masih memeluknya dan malah tersenyum manis padanya.
"Apa ada masalah, ketika aku memutuskan untuk belajar mencintaimu, Toby?" tanya Lysa tiba-tiba yang mengejutkan semua orang.
"Ha?" tanya Tobias malah bengong.
Lysa terkekeh. Ia memegang wajah Tobias dengan kedua tangannya dan mencium bibirnya lembut.
Vesper seperti terkena serangan jantung. Ia terhuyung dan nyaris roboh. Beruntung ia ditangkap oleh Kai yang berdiri di belakangnya.
"Lysa, apa kau sadar yang kau ucapkan dan lakukan? Jangan main-main," tegas Kai terlihat shock.
"Aku sadar, Papa Kai. Aku tak mencintai Javier. Dia masa laluku. Aku kini mencintai Tobias. Selain itu, aku hamil. Akhirnya aku mengandung, aku akan memiliki anak lagi," jawabnya dengan senyum terkembang.
BRUKK!
"Nona Lily!" pekik Drake dan Seif panik saat Vesper malah pingsan.
Vesper jatuh di lantai dan segera dibopong oleh Seif ke sofa. Kai merasa bersalah dan langsung berjalan tergesa mengikuti sang isteri yang tergolek lemas.
Kai terlihat panik saat mencoba untuk mengecek keadaan sang isteri karena suara benturan cukup keras terdengar.
"Aku saja yang periksa," ucap Daido bergegas mendatangi Vesper dengan kotak medis ia tenteng.
Semua orang panik seketika. Namun, saat Daido menempelkan stetoskop di dada sang Ratu, tiba-tiba saja Vesper membuka mata dan duduk. Semua orang kaget seketika.
"Benda dingin apa itu di dadaku?" tanya Vesper memegangi stetoskop yang tersangkut di belahan dadanya.
Daido bingung dalam bersikap. Vesper menarik stetoskop yang terlepas dari telinga Daido dan menatapnya kebingungan.
"Apa yang terjadi?" tanya Vesper bingung karena di kelilingi oleh banyak orang yang menatapnya keheranan.
"Ya Tuhan, kau membuatku hampir terkena serangan jantung, Sayang," ucap Kai langsung memeluk isterinya erat.
Vesper terlihat bingung, tapi membalas pelukan suami termudanya.
"Oh! Lysa! Toby! Kalian?" tunjuk Vesper di mana ia masih dipeluk oleh Kai.
Lysa dan Tobias mendekati Vesper dengan bergandengan tangan. Mata Vesper melotot saat melihat keduanya berwajah datar ketika berdiri di hadapannya.
"Itu bukan mimpi. Mereka sungguh telah menikah. Lihatlah cincin itu, Kai. Bahkan, apa tadi? Hamil? Kau hamil? Anak Toby?" tanya Vesper kebingungan.
Tobias tersenyum lebar sembari merangkul pinggul Lysa dan mencium pipinya dengan rakus.
Lysa memejamkan mata, ia masih belum terbiasa dengan sikap Tobias yang menggelikan untuknya.
Semua orang yang mengenal Lysa shock. Mereka diam mematung tak tahu harus berkomentar apa.
__ADS_1
Lysa perlahan mendekati Ibunya yang memijat dahinya terlihat lebih tertekan ketimbang dirinya yang menjalani hidup.
"Aku tak apa, Mah. Kenapa? Kau tak setuju?" tanya Lysa lembut memegang salah satu tangan Ibunya erat.
"Kau ... sungguh? Tobias? Apakah pernikahan itu legal?" tanya Vesper menekankan menatap Lysa tajam.
"Entahlah. Aku tak tahu bagaimana menyikapi hal ini. Mungkin, kau bisa memberikan nasehat pada anak angkatmu itu?" tanya Lysa terlihat pasrah.
Vesper menatap Tobias tajam dan lelaki bertato itu balas memandangi Vesper dengan wajah dingin.
"Kau mau bilang apa, Mom? Menceramahiku?"
"Hem. Kemari kau, banyak hal yang harus kita bicarakan," tegas Vesper mulai menunjukkan keseriusannya.
Suasana di ruang tamu itu hening seketika. Vesper duduk diapit Kai dan Lysa. Tobias duduk sendirian dengan Pion Daido dan Dakota berdiri di belakangnya. Sedang Seif dan Drake duduk di sofa menghadap majikan mereka.
"Aku tak mau ada tipu muslihat dalam pembicaraan kali ini, Toby," tegas Vesper sembari memangku cangkir teh di atas pahanya.
Tobias diam tak menjawab. Lysa menghembuskan nafas pelan dengan wajah tertunduk ikut bingung dalam bersikap dan memihak. Ia memilih diam menyimak.
"Apa yang kau rencanakan dengan Lysa di sisimu? Aku tahu, kau lelaki yang penuh perhitungan. Kau selalu memanfaatkan celah dari tiap kejadian. Berbohong padaku, aku tak segan menjadikan calon bayimu yatim, Toby."
Sontak, mata semua orang melebar mendengar penuturan Vesper yang berkesan mengancam, tapi Tobias malah terkekeh. Ia menggaruk dagunya dengan wajah gembira.
"Ancamanmu sungguh menggelitik hatiku, Mom. Aku tahu, kau serius dengan ucapanmu. Hanya saja kali ini, tak ada. Aku hanya ingin tetap hidup dan memiliki anak dari Lysa. Aku ... sudah lelah berpetualang, Mom," jawabnya santai.
"Hah! Jangan membuatku tertawa, Toby. Lelah? Apa pria sepertimu bisa merasakan lelah dari sebuah pertarungan? Jangan membual!" teriak Vesper dengan cangkir mulai bergetar, seperti ikut merasakan ketakutan akan pertikaian di siang hati itu.
"Terserah kau saja, percaya atau tidak. Di kepalaku tak ada rencana apapun untuk menyerang atau membunuh orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads," jawabnya sembari mengorek lubang telinga dengan salah satu kelingkingnya.
Daido memberikan selembar tisu dan Tobias menerimanya dengan senyum terkembang. Semua orang terlihat makin bingung menyikapi hal ini.
"Lalu ... di mana pionmu yang tersisa?" tanya Vesper sembari meletakkan cangkir di meja.
Tobias terdiam. Lysa ikut menatap Tobias tajam. Semua mata kini tertuju pada lelaki bertato yang gelisah akan sesuatu.
"Toby," panggil Vesper mulai menekan.
"Sebaiknya kau mulai waspada pada musuh lamamu yang belum tuntas kau lenyapkan, Mom," jawab Tobias dengan pandangan tertunduk terlihat malas.
"Musuh lama? The Circle? No Face?" tebak Kai. Tobias mengangguk. Orang-orang dalam jajaran Vesper terlihat serius seketika.
"Sierra sudah memutuskan untuk berpihak padaku. Tinggal Tessa dan Venelope yang belum kami ketahui kejelasannya," jawab Vesper menatap Tobias lekat.
"Hem, sebaiknya kau fokus pada mereka, Mom. Aku tak mau membocorkan apapun tentang dua wanita itu berikut jajarannya. Bagaimanapun, aku orang The Circle dan kalian 13 Demon Heads. Meski Jonathan sudah dinyatakan sah menjadi pemimpin The Circle, tapi maaf, aku belum mau mengakuinya termasuk Tessa, Venelope dan sisanya. Jadi ... aku tak akan memberikan informasi apapun padamu, Mom," jawab Tobias dengan dagu terangkat.
"Meski aku kini menjadi isterimu, Toby?" tanya Lysa terlihat sedih.
"Yes, Babe. Meski kau menjadi Ibu dari anakku, kau tetap tak bisa mengambil rahasia dariku," jawab Tobias menatap Lysa lekat.
"Sepertinya keputusanku untuk jatuh cinta padamu salah, Toby. Pernikahan itu tentang kepercayaan dan kau ... tak mempercayaiku untuk mengetahui rahasiamu. Kau ... sama saja dengan Javier," ucap Lysa terlihat sedih dan matanya berlinang.
Tobias terdiam saat Lysa berdiri dari sisi Vesper dengan wajah tertunduk.
"Kita pulang, Mah. Sebaiknya cepat bawa aku pergi sebelum cintaku pada Toby semakin berkembang. Kekecewaan ini belum seberapa dibanding Javier. Aku masih bisa mengatasinya," ucap Lysa sembari mengulurkan tangan kiri agar sang Ibu meraihnya.
Semua orang terkejut. Mata Tobias melebar saat Vesper meraih tangan anak perempuannya dengan senyum terkembang.
***
hore ada tips koin masuk😘
lele lagi gak bisa dubbing karena suara makin ngebass dan serangan bulan merah cukup menumbangkan akuh jdi gak bisa ngetips koin untuk diri sendiri. Ceileh gitu😅
tengkiyuw lele tetap padamu pokokmen😆
__ADS_1