4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Untuk 4 Anakku


__ADS_3

Lysa terlihat gugup saat di ruangan besar itu hanya ada mereka berdua. Javier terlihat serius ketika mengajukan pertanyaannya.


"Apakah kau bisa menjadi seperti Lysa-ku yang dulu? Lysa yang kukenal saat pertama kali kita berjumpa di Afganistan dan kurayakan ulang tahun untukmu?" tanya Javier menatap mantan isterinya lekat.


"Aku ... aku tak bisa menjanjikan apapun, Javier. Aku ... ingin menata ulang hidupku agar tak lagi mengecewakan orang-orang yang tulus menyayangiku. Aku ... aku tak melarangmu jika ingin menikahi Fatimah. Itu hakmu untuk memilih kebahagiaan. Hanya saja, jika King D dan Fara memang ingin tinggal bersamaku, tolong izinkan. Aku hanya ingin menghabiskan sisa hidup bersama anak-anakku. Dan aku tak berkeinginan untuk menikah lagi. Aku rasa ... sudah cukup. Aku takut membuat kesalahan lagi," jawab Lysa dengan pandangan tertunduk dan mata berlinang.


Javier memandangi wajah Lysa saksama. Ia diam saja tak berkomentar apapun. Lysa menarik napas dalam dan tersenyum saat menaikkan pandangan.


"Aku minta maaf atas sikapku. Walaupun ... kau jugalah alasan kenapa aku bisa berubah. Namun, aku tak menyalahkanmu. Kita hanya manusia. Semua hal buruk yang terjadi pada kita karena ... tak bijak dalam menanggapinya. Semoga ... kau bahagia bersama Fatimah. Aku pernah bertemu dengannya, dan sepertinya ... dia menyayangi anak kita. Bagiku ... itu yang terpenting," ucap Lysa lalu membungkuk sedikit dan beranjak dari hadapan Sultan.


Javier masih berdiri mematung dan membiarkan Lysa pergi dari hadapannya. Sang Sultan memejamkan mata sejenak terlihat tertekan dengan perasaannya. Namun, ia sepertinya sudah membuat keputusan.


"Mimi!" panggil King D saat mendapati ibunya keluar dari ruangan terlihat sedih, tapi senyum Lysa langsung merekah menyambut pelukan puteranya.


"Mimi. D mau tinggal dengan Mimi. Jika Mimi akan hidup di Jerman, D tak masalah. Ke mana pun Mimi pergi, D akan ikut. D tak mau Mimi sendirian lagi," ucap King D yang membuat air mata Lysa menetes.


"Terima kasih, D. Hanya itu yang Mimi harapkan darimu dan Fara. Maafkan Mimi sudah mengabaikan keberadaan kalian. Mimi sangat menyayangi kalian berdua," ucap Lysa seraya menyambut pelukan Fara yang ikut datang menghampirinya.


"Jadi ... kalian rujuk?" tanya Dewi penasaran.


Lysa tersenyum dengan gelengan kepala. "Meski demikian, Javier tetap ayah dari dua anakku, Tante Dewi. Walaupun ... Fara puteri dari Tobias. Hanya saja, Fara tetap membutuhkan sosok ayah dan kurasa, Javier tak keberatan dengan hal itu," jawab Lysa kembali tegar seraya menghapus air matanya ketika berdiri.


"Kamu sudah berubah, Lysa. Tante bangga sama kamu. Setelah ini, pulang ke Jogja yuk. Kita tinggal sama-sama lagi. Di Jogja, King D dan Fara ada temennya. Kalau di Jerman, mereka gak punya temen. Selain itu, ada satu hal yang harus kamu tahu. Ibumu Liana, mewariskan aset Supermarket Nusantara yang ada di Yogyakarta untuk kamu kelola. Selama ini, Tante Shinta yang mengurusnya. Hanya saja, Tante sendiri sudah kerepotan mengurus pertanian Herlambang, termasuk tante Tika. Jadi, terima ya," ucap Shinta yang membuat Lysa terkejut.


"Sungguh? Mama ... memberikan supermarket itu padaku?" tanya Lysa terheran-heran. Shinta dan Tika mengangguk membenarkan.


Lysa kembali berlinang air mata. Ia tak pernah tahu hal itu. Hatinya kembali sedih dan perasaan sesal menyelimuti jiwanya lagi. Namun, melihat King D dan Fara menatapnya lekat, Lysa kembali tegar untuk dua anaknya.


"Kalian ... ingin tinggal di Jerman atau Jogja?" tanya Lysa menatap dua anaknya saksama.


"Jogja!" seru King D dan Fara serempak.


Lysa mengangguk setuju. Shinta, Tika dan Satria tampak senang. Lysa meminta kepada keluarganya untuk menjaga dua anaknya.


Ia diminta oleh Amanda untuk berbicara serius mengenai kelanjutan bisnis dan keinginannya untuk menata hidup kembali.


Akhirnya, Lysa mengajak para pion untuk duduk bersama. Lysa mempercayakan perusahaan Marlena untuk dikelola para lelaki tangguh tersebut. Tentu saja hal ini mengejutkan para pion D yang notabene dulunya dari kelompok musuh.


Ruang rapat Camp Militer, China.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


"Sungguh? Kau percaya pada kami?" tanya Pion Dexter terheran-heran.


"Ya. Selama aku tak ada, kalian melakukannya dengan baik. Aku tetap akan berkunjung ke perusahaan tiap bulan untuk mengecek performa secara langsung sekaligus rapat rutin bulanan. Sisanya, kita bisa melakukan teleconference dan komunikasi jarak jauh. Teknologi sudah canggih, tak perlu datang ke kantor, aku bisa mengawasi pekerjaan para karyawanku di rumah. Hanya saja untuk di lapangan, aku tetap butuh orang-orang handal dan kalianlah yang kupercayai," tegas Lysa yang membuat para pion terkejut.


"Kami ... bisa tinggal di apartemen Marlena?" tanya Pion Darwin memastikan.

__ADS_1


Lysa tersenyum. "Ya. Rumah itu, rumah kalian juga. Pastikan kalian tak menghancurkannya. Atau aku tak sungkan menuntut kalian semua. Aku masih bisa menyerahkan kalian pada militer pemerintah. Bagaimanapun, kalian dulunya adalah penjahat," tegas Lysa yang membuat para pria itu tampak serius seketika.


"Oke. Kita diancam sekaligus ... mendapatkan kesempatan. Aku terima," ucap Pion Damian, dan diangguki oleh para pion lainnya dengan senyuman.


"Terima kasih," ucap Lysa seraya menjabat tangan para pria tampan itu satu per satu.


"Dan, aku sudah menyiapkan identitas kalian. Setelah diselidiki olehku dibantu GIGA, aku berhasil mendapatkan data diri kalian di masa lalu. Jadi ... silakan ambil kartu legal kalian meskipun kuyakin, kalian tak ingat masa lalu sebelum bergabung dengan The Circle. Selain itu, sepertinya kalian juga tak bisa kembali pada keluarga karena hidup kalian yang sudah berubah drastis. Setidaknya, nama asli kalian menunjukkan siapa jati diri sebenarnya," ucap Eiji yang duduk di sebelah Lysa seraya memberikan identitas kependudukan kepada para Pion tersebut.


Praktis, mata para Pion melebar. Mereka tampak terkejut saat Eiji memberikan kartu itu satu per satu.


"Namaku ... Benjamin Lazo? Jadi ... yang dikatakan oleh Tobias saat itu benar? Jika aku berasal dari Italia?" tanya Pion Dakota dengan mata berlinang dan tangan gemetaran saat memegang identitas miliknya.


"Aku ingat. Saat itu Tobias dan nyonya Vesper mabuk di kediaman Sierra, Melun, Prancis. Ada Tora dan Eko juga, termasuk Sierra. Waktu itu, Tobias menceritakan tentang kami. Namun kami pikir, itu hanya karangan Toby saja. Siapa sangka, jika semua hal itu benar," sahut Pion Diego yang membuat para lelaki itu tampak sedih.


"Ya. Pembicaraan kalian kala itu direkam. Sebenarnya, nona Lily memintaku untuk mencari tahu latar belakang kalian. Namun, saat itu keadaan sedang kacau dan pekerjaanku banyak. Lalu, aku kembali teringat saat Kai membicarakan hal itu padaku beberapa waktu lalu. Jadi, kusempatkan untuk mencari tahu. Siapa sangka, data kalian ternyata disimpan dalam GIGA IGOR. Setelah berhasil kuretas, kami tahu siapa kalian sebenarnya. Selamat," ucap Eiji yang membuat para pion berlinang air mata.


"Terima kasih, Eiji. Terima kasih semua," ucap Pion Darion haru dan diangguki semua orang.


"Lagi-lagi ... mama melakukannya. Dia memikirkan orang lain padahal dia tahu, jika kalian adalah musuhnya. Sampai kapanpun, aku tak bisa sepertinya meski aku anak kandungnya. Tampaknya, istilah, like mother like daughter tak sepenuhnya benar. Aku tak mewarisi apapun dari ibuku," ucap Lysa tertunduk sedih.


Semua orang diam. Tiba-tiba, Amanda menepuk pundak puteri pertama Vesper lembut. Lysa menaikkan pandangan dan menatap Amanda saksama.


"Kau tak ingat jika Vesper pernah berkata? 'Sampai kapanpun, tak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa sepertiku. Hanya aku yang bisa melakukannya'. Itu berarti, tak harus kau sebagai anak kandungnya, aku pun tak akan pernah bisa menyamainya. Vesper ... spesial," ucap Amanda.


Lysa mengangguk dengan mata berlinang membenarkan ucapan Amanda yang dirasa tepat adanya.


"Jadi ... jeng Manda siap untuk kasih tau ke anak-anak mbak Vesper? Kalau yes, Eko usir para pion D," ucap Eko mantap, tapi membuat para pria tangguh itu berkerut kening.


"Kalian. Hus! Get out! Ganti giliran. Kasian yang udah antri di depan," tegas Eko mengusir dengan telunjuknya.


Para pion tak ingin cari ribut dan langsung beranjak meninggalkan ruangan. Eko merasa perintahnya seperti Vesper saat berkuasa dulu. Sekali ucap, semua orang minggat.


Tak lama, Jonathan, Sandara dan Arjuna memasuki ruangan. Tiga anak itu tampak bingung terlebih saat Han dan Kai juga ikut serta.


Para bodyguard Vesper ikut duduk karena dilibatkan. Orang-orang itu seperti tak tahu dengan apa yang akan terjadi. Mereka saling memandang termasuk Lysa yang menatap Eko dan Amanda lekat.


"Jangan katakan jika Vesper menyimpan rahasia lagi dari kami berdua," tegas Han sudah curiga.


"Instingmu sangat bagus, Mas Han," jawab Eko mantap.


"Tentang apa? Kenapa ada nyonya Manda segala?" tanya Arjuna bingung.


"Inget kejadian ... pas di Kastil Borka saat kalian makan bersama? Yang tau-tau mbak Vesper pergi karena Eko samperin?" tanya Eko, tapi orang-orang itu menggeleng. Wajah Eko berubah masam seketika. "Daya ingat kalian sangat payah, Kisanak, Nisanak. Jadi, percuma kayaknya kalo Eko kudu flash back bertahun-tahun silam," sahutnya sebal.


"Yee, ngambek. Coba yang detail," sahut Jonathan ikut sebal.


"Yang ibumu diculik sama Tobil pertama kali. Mas Han ikut ilang gegara ngejar mbak Vesper dan malah nyangkut di pulau Rønne, Denmark. Kalau lupa yo wes. Gak usah dibahas. Bikin sebel aja," sahut Eko malah ngedumel.

__ADS_1


"Ahhh," jawab semua orang dengan mulut menganga dan kepala mengangguk saat mengingat kejadian itu. Eko langsung memonyongkan bibirnya.


"Lalu?" tanya Sandara penasaran.


"Mbak Vesper ninggalin wangsit buat kalian berempat. Eko sendiri yang nulisnya. Kalau gak salah, waktu itu mbak Vesper umur 42 taun apa ya? Masih sehat, galak, cantik, seksi, dan—"


"Ehem!" dehem Kai dan Han bersamaan yang terlihat jengkel pada bodyguard asal Indonesia itu.


"Cemburu loh. Eko memuji majikan gak ada yang salah. Tadi mau ngomong apa jadi lupa to. Kalian ini loh, merusak konsentrasi!" seru Eko sebal.


Empat anak Vesper menahan senyum termasuk Amanda dan para bodyguard Vesper lainnya.


"Nah inget lagi. Hanya saja, saat Eko mau kirim ke tempat jeng Manda, jebule doi lagi diculik sama para Mens berikut keluarganya. Jangan bilang lupa lagi. Gegara itu, kita pada bingung keluarga Boleslav ilang ke mana. Kalian berempat yang nylametin keluarga Boleslav termasuk Jordan dan Jason. Malah mbak Vesper dan jeng Manda tarung di ring waktu itu lalu Biawak muncul kembali," ucap Eko menjelaskan.


Orang-orang mengangguk dan terlihat serius seketika saat teringat kejadian silam.


"Hehe, jeng Manda," kekeh Jonathan.


"Mama ... menuliskan surat? Begitu?" tanya Lysa memastikan.


"Yes. Ibumu ini walaupun hidup di zaman now, tapi masih demen surat-suratan kaya zaman kompeni. Ya wes. Berhubung jeng Manda gak bisa baca tulisan Eko, biar den baguse Eko saja yang membacakan," ucapnya seraya menunjukkan amplop yang dimaksud.


Namun, Kai dengan sigap merebutnya. Eko terkejut karena Kai yang akan membacakan.


"Jangan ambil tugas maha dahsyat Eko dong, Nak Kai!" seru Eko langsung melotot.


"Jika kau yang membacakannya, tak ada yang bisa konsenterasi. Ini penting, Eko. Kau diamlah," tegas Kai, dan Eko akhirnya mengangguk pasrah.


Namun, saat Kai membukanya, ia terkejut melihat isi tulisan itu. Ada lima lembar kertas dalam amplop tersebut dan Kai membuka salah satunya. Eko tersenyum penuh kemenangan saat ia tahu jika Kai tak bisa membacanya.


Kai memberikan surat itu pada Sandara dengan wajah sebal, dan gadis itu menerimanya dengan tersenyum tipis.


"Gayamu mau baca. Yakin bisa? Sandi rumput itu!" ucap Eko bangga dan semua terkejut melihatnya.


"Aku bisa. Ada gunanya juga aku diculik oleh Mr. White saat itu," sahut Sandara pelan dengan wajah datarnya. Semua orang terlihat serius.


For my four dear children, Lysa, Arjuna, Jonathan and Liu.


Ini peninggalan Ibu untuk kalian. Jaga aset-aset ini dengan baik dan kembangkan. Buat menjadi lebih kuat dari yang Ibu lakukan sekarang. Ukir sejarah nama kalian sendiri dalam aset yang akan Ibu serahkan.


Ibu mempercayakan semua aset-aset ini pada kalian. Keunikan kalian akan menjadi ciri khas dalam dunia mafia. Jangan saling berebut. Yang Ibu berikan sudah disesuaikan dengan kemampuan kalian.


Oke, dari yang pertama. Untuk Lysa.


Semua orang tampak tegang terutama saat nama anak pertama Vesper disebut. Mata semua orang kini tertuju pada Lysa. Sandara kembali serius membaca.


***

__ADS_1



uhuy tengkiyuw tipsnya😍lele padamu💋brankas koin sekarat gaes. ada yang mau sedekah lagi? tanggung nih mau tamat. entah up jam berapa tapi disetor jam2.30 pagi. kwkwkw😆


__ADS_2