
Mereka bicara dalam bahasa Inggis.
"No! Stop! Kau tak boleh pergi dari sini! Kau tak ingat? Aku akan memotong kakimu jika berani pergi dariku!" teriak Tobias marah dengan suara menggelegar di ruangan besar tersebut.
"Potong saja. Mereka tetap bisa membawaku pergi dari sini," jawab Lysa menatap Tobias dengan wajah dingin.
Nafas Tobias menderu. Ia mengepalkan kedua tangan terlihat begitu marah hingga seluruh otot wajahnya menegang.
"FVCK! FVCK! Arghhh!!"
PRANG!! BRANGG!!
Semua orang tersentak seketika. Tobias meluapkan amarahnya dengan memecahkan set teko dan cangkir di atas meja tamu berikut meja kaca yang ia lemparkan hingga terbalik. Benda-benda itu berserakan di lantai.
Jantung semua orang sampai berdebar karena melihat sikap Tobias yang tempramental. Vesper masih memegang tangan anak perempuannya erat yang mulai gemetaran dan terasa dingin. Vesper tersenyum.
Vesper tahu jika Lysa ketakutan akan sikap Tobias yang kasar terutama saat meluapkan kekesalannya. Tobias masih mengamuk dan merusak barang-barang di sekitarnya.
"Kita pergi sekarang, Nyonya," bisik Seif, tapi Vesper menggeleng.
Vesper menarik tangan Lysa dan memintanya untuk duduk kembali. Lysa menurut meski terlihat ia tegang karena Tobias tak berhenti mengumpat dan terus merusak barang-barang hingga ruang tamu tersebut seperti diterjang angin topan.
"Kai," panggil Vesper lembut menyentuh paha suami termudanya dan Kai mengangguk.
SHOOT! CLEB!
"Agh! Shit! Siapa yang menembakku dengan peluru bius, hah?!" pekik Tobias saat menyadari belakang pahanya terkena jarum dan langsung mencabutnya.
Dua Pion tertegun dan tak menyadari gerakan yang tiba-tiba itu karena fokus menyaksikan luapan amarah Tobias kepada benda-benda yang tak bersalah.
BRUKK!
Tobias ambruk meski ia masih sadar. Ia tergeletak di lantai dengan nafas mulai tenang dan pandangan menatap langit-langit ruangan.
Vesper berdiri perlahan dan mendekatinya. Dua Pion terlihat waspada, tapi entah kenapa, mereka tak ada niatan untuk mengeluarkan pistol apalagi menodongkan senjata ke tubuh sang Ratu.
"Masih ingin mengamuk?" tanya Vesper berjongkok di samping tubuh anak angkatnya dan menatapnya lekat.
"Aku belum puas," jawabnya geram. Vesper mengangguk.
Ia lalu memberikan kode pada Seif dan Drake untuk mengangkat lelaki bertato itu. Lysa dan dua Pion panik ketika Drake dan Seif malah melemparkan Tobias ke kolam renang.
BYURRR!!
"TOBY!" teriak Pion Daido saat Tobias tenggelam ke kolam renang.
__ADS_1
"Mah!" pekik Lysa panik.
Vesper diam saja termasuk Kai, Drake dan Seif. Daido dan Dakota langsung menceburkan diri ke kolam. Mereka membawa Tobias naik ke atas permukaan dengan mendorongnya dari dalam kolam.
Lysa langsung dengan sigap membantu menarik Tobias ke pinggir kolam hingga bajunya ikut basah kuyup. Lysa berjongkok di samping suaminya dan memandanginya lekat.
"Hah, hah ... dasar wanita gila!" pekik Tobias kesal saat ia dibaringkan miring dengan mata melotot.
DUAKK!! BYURRR!
"Mah!" teriak Lysa karena Vesper malah menendang perut Tobias kuat hingga lelaki itu kembali tercebur ke kolam.
Beruntung, dua Pion masih berada di sana sehingga mereka bisa menolong Tuannya lagi. Namun kali ini, Tobias dinaikkan ke pinggir kolam yang letaknya berseberangan dengan tempat Vesper berdiri.
Nafas Tobias tersengal. Ia kembali direbahkan dalam posisi miring. Ia menatap Vesper dengan sorot mata tajam.
"Masih ingin menyumpahiku? Aku tetap bisa menembakmu dari seberang sini. Toby," ucap Vesper dengan wajah datar sembari mengeluarkan pistol Vesper dalam genggaman tangan kirinya.
Tobias terdiam. Pandangannya tertunduk seperti pasrah akan kondisinya . Lysa menatap Ibunya seksama yang kini memegang tangannya erat.
"Hati Lysa sudah pernah disakiti oleh Javier, Toby. Jika kau hanya ingin melakukan kesalahan yang sama seperti Javier, sebaiknya ... kau relakan kepergian Lysa untuk selamanya. Ancamanmu tak berlaku untukku. Dulu, aku sengaja melepaskanmu karena aku teringat akan ayahmu, Joel Ramos. Sosokmu mengingatkanku padanya. Hanya saja, Joel dulu bersikap kejam pada Lysa, asal kau tahu. Aku tak ingin hal itu terjadi pada anakku lagi. Jika kau bersikap seperti Joel ketika hidup bersama Lysa, kau tak akan kuizinkan, meski kau sangat mencintainya. Caramu mencintai anakku salah," ucap Vesper menatap Tobias tajam yang kini balas menatapnya di seberang kolam.
"Tak ada gunanya kau mencintai Tobias yang hanya mementingkan egonya. Hidupmu hanya akan menderita jika tetap bersamanya. Kau lihat sendiri bagaimana Joel dulu hidup bersamaku. Kau ingat?" tanya Vesper menatap Lysa yang berdiri di sampingnya dengan wajah sendu.
Lysa mengangguk pelan. "Ya. Aku ingat saat Joel malah bercinta dengan wanita lain padahal ia sudah menikah denganmu, Mah. Ia juga memaksaku melakukan pekerjaan kasar dan ilegal. Kau benar, Tobias seperti Joel. Aku tak melihatnya dengan jelas. Padahal sudah sangat terasa jika Toby tak segan menyiksaku hingga pen-pen terpasang di tulangku. Dia tak mencintaiku, dia hanya terobsesi padaku," jawab Lysa dengan air mata berlinang siap untuk menetes.
"LYSA! STOP! ITU BUKAN OBSESI! AKU MEMANG MENCINTAIMU! STOP!" teriaknya lantang di mana tubuhnya tak bisa digerakkan, hanya suara dan kepalanya saja yang tetap berfungsi dengan semestinya.
Namun, Lysa dan Vesper tetap melangkah pergi.
"ARRGHHH!! ANGKAT AKU, CEPAT! BAWA AKU PADA LYSA!" teriak Tobias dengan tubuh sudah basah kuyup.
Dua Pion segera membopong tubuh Tobias, berjalan dengan langkah cepat untuk menyusul Vesper dan lainnya yang sudah sampai di ruang tamu.
"LYSA, STOP!" teriak Tobias.
BRUKK!!
"Agh!" rintih Tobias saat tubuhnya jatuh karena dua Pion tergelincir akibat lantai yang licin terkena tetesan air di tubuhnya yang basah.
Tobias mengerang karena terkena pecahan kaca akibat perbuatannya tadi yang merusak barang-barang.
"Sialan! Agh! Aku paling benci jika tak berdaya seperti ini. Kaca sialan!" pekiknya marah saat tubuhnya mulai berdarah karena terkena tusukan serpihan kaca.
Lysa menghentikan langkah seketika. Vesper menoleh saat Lysa menahan tangannya. Vesper menatap Lysa lekat dan kini membuat Ibu anak itu saling berpandangan.
__ADS_1
"Meski Joel kejam padamu, apakah kau mencintainya, Mah? Apakah kau memaafkan sikap buruknya?" tanya Lysa terlihat sedih. Vesper tersenyum.
"Ya. Aku sudah tahu sejak awal jika Joel memang menyimpang. Aku tahu jika watak buruknya yang main perempuan dan tempramental tak mungkin bisa hilang darinya. Aku tahu konsekuensinya saat aku memilih tetap bertahan dengannya. Aku yang memilih penderitaanku sendiri, Lysa," jawab Vesper sembari memegang wajah anaknya dengan senyum tipis terlihat sedih.
Lysa meneteskan air mata. Ia memegang tangan halus sang ibu di wajahnya yang tergenang air mata.
"Apa aku bodoh jika mengikuti jejakmu?" tanya Lysa menangis.
"Ya, tentu saja. Namun kebodohan itu yang membuat kau bisa memahami kesulitan yang dihadapi pasanganmu, Lysa. Tobias membutuhkanmu. Walaupun wataknya tak bisa diubah, setidaknya ... dengan hadirnya dirimu, sikap buruknya bisa diredam," jawab Vesper terlihat menahan air matanya.
Lysa mengangguk mengerti. Ia menghapus air matanya dan terlihat mencoba untuk menenangkan diri.
Lysa menoleh dan melihat Tobias berdarah sembari terus merayap di atas lantai mencoba mendatanginya meski mengerang terus-menerus.
Dua pion menyingkirkan pecahan-pecahan itu dengan sepatu mereka agar majikannya bisa terus bergerak di mana efek obat dari Kai mulai hilang.
"Kau milikku, Lysa. Aku tak mengizinkanmu pergi. Kau harus tetap disisiku," ucapnya dengan wajah bengis dan terus merayap dengan kedua tangannya.
Lysa tersenyum tipis entah apa yang dipikirkan. Vesper, Kai, Drake dan Seif terdiam saat melihat Lysa berjalan perlahan mendekati suami psikopatnya itu.
Tobias menatap Lysa tajam saat sang isteri bejongkok di hadapannya dan CUP!
Mata Tobias melebar ketika Lysa mencium keningnya dan tersenyum manis.
"Aku pasti akan menderita ketika hidup bersamamu, Toby. Namun, aku berharap. Kau bisa mengganti penderitaan itu dengan kebahagiaan," ucap Lysa menatap Tobias dengan wajah sendu.
Tobias memegang kedua pergelangan kaki Lysa dan mendekatkan wajahnya ke kaki sang isteri.
Lysa terdiam saat Tobias berusaha untuk mendekapnya. Semua orang yang melihat hanya bisa berdiri dalam diam.
"Aku sungguh mencintaimu, Lysa. Itu bukan obsesi. Jangan pergi," ucapnya dengan wajah tertutupi oleh kaki sang isteri seperti tak mengizinkan semua orang untuk melihat kesedihannya.
Lysa tersenyum dan meletakkan pantatnya perlahan. Ia melepaskan tangan Tobias di kedua kakinya dan memegang tangannya erat.
Tobias menaikkan pandangan dan terdiam saat melihat Lysa menciumi jemarinya dengan kecupan lembut.
"Aku juga mencintaimu, Toby. Entah sejak kapan, tapi ... aku juga ingin tetap bersamamu," ucapnya lirih.
Tobias merayap dan kini meletakkan kepalanya ke pangkuan sang isteri. Ia memeluk perut Lysa erat dan menenggelamkan wajahnya di sana. Lysa mengelus kepala Tobias yang basah dengan senyum terkembang.
Kai memeluk Vesper dan mengecup keningnya lembut. Vesper tersenyum dan membalas pelukan Kai yang terasa hangat di tubuhnya. Seif dan Drake saling memandang tak bicara apapun.
Dua Pion ikut diam melihat Tuan besarnya yang berlumuran darah, memeluk isterinya yang duduk di lantai terlihat begitu sabar menghadapi keegoisan suami psikopatnya itu.
***
__ADS_1
uhuy tengkiyuw tips koinnya. lele padamu😘