
Afro menikmati sarapan bersama kekasihnya di sebuah restoran Italia. Sandara terlihat tersipu malu karena ditatap oleh pria yang selama ini disukainya.
"Jujur, Dara. Sepertinya, kepergianmu dalam dekapan No Face memberikan dampak baik," ucap Afro memulai obrolan seraya menunggu sajian.
"Aku menjadi lebih cantik?" tanya Sandra terdengar ketus. Afro diam sejenak.
"Bukan. Kau terlihat tangguh dan lebih santai dalam bersikap. Namun kau masih sama. Polos, pendiam, cerdas, dan ... manis. Jujur, aku merindukan wajah lamamu, tapi ... perubahan dengan wajah baru ini terlihat lebih baik karena kau nampak seperti wanita dewasa. Kau lihat sendiri 'kan, aku sudah seperti Om-om. Aku sering mencukur jambangku agar tetap terlihat muda. Aku tak mau disebut seperti pria yang menikahi gadis remaja atau pedofil," ucap Afro yang mendadak berwajah kesal.
Sandara menatap Afro saksama yang memalingkan wajah menghadap ke jendela samping ia duduk.
Sebutan pedofil mengingatkan Sandara akan Mr. White. Perlahan, Sandara menggapai tangan pemuda itu hingga pandangan Afro kembali padanya.
"Apakah ... wajah baruku kini sudah sesuai dengan perilaku ku?" tanya Sandara sendu.
"Ya. Pas sekali. Oleh karena itu, aku tak lagi menganggapmu seperti gadis kecil. Kau seperti seorang gadis yang hampir seumuran denganku. Jujur, Dara. Semenjak kepergianmu, aku memikirkan banyak hal. Awalnya aku kesal dengan sikapmu, tapi ... aku merindukanmu. Perlahan, aku khawatir dengan keadaanmu mengingat aku juga pernah ditawan oleh No Face dan dijadikan budak mereka. Semakin lama, kau selalu datang di mimpi dan bayang-bayangku. Saat itu aku baru menyadari jika ... aku mencintaimu. Namun seperti yang kubilang, aku tak diizinkan mencarimu karena aku dalam pengawasan. Doug dan Red Ribbon sengaja ditempatkan di hidupku sebagai bentuk dari pengawasan dari ayahmu. Namun akhirnya, kita direstui. Ayahmu setuju dengan pernikahan kita, Dara. Apa kau senang?" tanya Afro balas memegang tangan Sandara erat seraya mengelus punggung tangannya lembut dengan ibu jarinya.
"Ya. Aku juga menunggu sangat lama untuk bisa menikah denganmu, Kak Afro," jawab Sandara tersenyum manis.
Afro mengecup punggung Sandara lembut dan membuat gadis cantik itu tersipu malu. Tak lama, hidangan datang. Keduanya menikmati sajian itu bersama.
Namun tiba-tiba, Biawak Cokelat mendekat seraya meletakkan sebuah tisu dengan tulisan dari pulpen. Pria itu melintas begitu saja di samping meja yang diduduki keduanya.
Sandara dan Afro langsung bertatapan tajam. Sandara melirik ke arah jendela samping mereka duduk. Afro segera membaca tisu tersebut, dan seketika ....
SWOOSH! PRANGG!!
"DARA!"
BLUARR!!
Sebuah luncuran misil ditembakkan dari sebuah mobil SUV hitam di luar restoran. Luncuran misil memecahkan kaca lalu meledak setelah menghantam dinding.
Ledakan besar terjadi dan gelombangnya mengenai para pengunjung di restoran tersebut.
Beruntung, Sandara tak terluka parah karena Afro berhasil menarik tangannya saat misil tersebut menerobos jendela yang tertangkap oleh matanya.
Afro mendekap Sandara, tapi tetap membuat keduanya terkena imbas serangan brutal tersebut.
Sandara dan Afro terlempar sampai keluar dari restoran karena dekat dengan dinding kaca. Keduanya menggelepar di trotoar. Afro berusaha untuk segera bangun, meski wajahnya terluka
"Dara, hah, kau tak apa?" tanya Afro menatap wajah tunangannya yang meringkuk di sampingnya. Saat Afro berusaha bangun untuk menolong Sandara yang merintih, tiba-tiba saja, BUAKK!!
"Agh!"
BRUKK!
"Hah?!" kejut Sandara saat ia melihat dada Afro di tendang oleh kaki seseorang.
Mata Sandara terbelalak melihat Afro kembali menggelepar di trotoar. Sandara langsung membalik tubuhnya. Gadis itu terkejut saat ia mengenali kostum yang dipakai oleh seorang laki-laki.
__ADS_1
"Yudhi?" panggil Sandara dengan kening berkerut. "Agh!" rintih Sandara saat tangannya ditarik paksa hingga membuat ia berdiri.
Pria berkostum itu memeluk Sandara erat dan membuat gadis itu kebingungan karena tak bisa bergerak. Namun, Sandara menyadari sebuah pergerakan ketika sebuah pistol di keluarkan dari balik jas kostumnya.
"NO!"
DOR!
"NO!" teriak Sandara lantang dan air mata langsung menggenangi mata indahnya saat sebuah peluru ditembakkan dan mengenai perut depan samping kanan pria yang akan menjadi calon suaminya.
Darah langsung merembes di balik sweater putih yang dikenakan putera dari mendiang Elios tersebut. Pria berkostum kembali membidik. Mata Sandara kembali melebar.
Dengan sigap, ia mendorong tubuh pria tersebut yang mendekapnya kuat. Pria itu terdorong, tapi letusan pistol kembali terdengar dan ternyata mengenai tubuh warga sipil yang melintas di tempat kejadian. Orang itu roboh di jalanan.
"Afro!" teriak Biawak Cokelat berlari ke arah Afro yang wajahnya sudah menegang dan darah terus merembes keluar dari lukanya.
DUAKK!! KRAKK!!
Napas Sandara tersengal saat ia berhasil memukul topeng yang dipakai pria tersebut dan membuatnya terbelah menjadi dua dengan kepalan tangan kanan meski kulitnya terluka.
"Aku melakukan banyak pengorbanan untukmu. Aku sudah dengar semuanya. Aku memasang penyadap di sepatumu. Kau akan menikah dengan Afro bukan? Kau kejam, Sandara," ucap Yudhi dengan luka terlihat di balik retakan topeng itu yang masih terpasang di wajahnya.
"Aku mencintainya," tegas Sandara berdiri tegap di hadapan pria itu.
Yudhi berlinang air mata. Ia mundur perlahan, tapi tiba-tiba ia berteriak lantang seperti meluapkan amarahnya. Ia berlari mendatangi Biawak Cokelat yang memapah Afro untuk membawanya pergi, tapi DUAKK!! BRUKK!
"ARGGHHH!"
DOR!
"YUDHI!" teriak Sandara lantang karena putera dari mendiang Siti Fatonah kembali menembakkan pelurunya dan mengenai punggung Cokelat hingga pria itu mengerang kesakitan.
Sandara segera mendatangi Yudhi dan menarik tubuhnya, tapi dengan sigap, tubuh Sandara ditangkap oleh para biarawati yang menjadi pasukan dari para kolektor.
Mulut Sandara dibungkam dan gadis itu pingsan seketika. Sandara dibopong dan dibawa masuk ke sebuah mobil dengan tergesa.
"YUDHI!" teriak Biawak Kuning yang berlari kencang ke arahnya dengan wajah dan tubuh penuh luka setelah ia berhasil lolos dari puing-puing bangunan yang menimbunnya.
Namun, pemuda itu kembali mengarahkan pistolnya dengan wajah bengis. DOR! DOR! DOR!
"YUDHI!" panggil seorang biarawati dengan penutup wajah yang sudah duduk di bangku tengah mobil.
Yudhi bergegas meninggalkan lokasi dan masuk ke dalam mobil. Dengan cepat, mobil tersebut pergi meninggalkan lokasi di mana suara sirine mobil polisi dan ambulance terdengar.
Beruntung, Biawak Kuning melihat serangan yang akan datang padanya. Pria itu segera menghindar di balik sebuah mobil yang terparkir. Hingga akhirnya, Yudhi kabur setelah melakukan perbuatan bengisnya.
Biawak Kuning segera berlari mendekati Cokelat dan Afro yang masih sadar, tapi pucat pasi.
Tak lama, beberapa mobil datang. Mereka segera mendekati Biawak Kuning dan membantu memapah Afro serta Cokelat yang terluka parah.
__ADS_1
BROOM!!
"Siapa yang melakukannya?" tanya Made—salah satu anggota Red Ribbon asal Bali—terlihat panik.
"Hah, Yudhi. Bocah sialan itu, entah kerasukan setan apa, dia menyerang kita. Sialnya, Sandara berhasil diambil olehnya," jawab Kuning seraya melucuti pakaian Cokelat untuk melihat luka tembak yang diderita kawannya.
"Dara diculik?" tanya Made melotot, dan Kuning mengangguk.
Segera, Nyoman yang duduk di samping sopir menghubungi Kai. Praktis, mata Kai terbelalak lebar seketika. Vesper yang sedang melakukan transfusi darah di kamarnya sengaja tak diberitahukan oleh Kai tentang kabar ini.
Ayah dari Sandara terlihat panik dan tergesa saat mengaktifkan GIGA. Ia melihat dari CCTV di sekitar tempat kejadian tentang aksi gila Yudhi kepada calon menantu dan puteri semata wayangnya.
"Arghhh! Yudhi!" teriak Kai lantang yang membuat sang Ratu membuka matanya seketika karena terkejut.
Black Armys wanita yang menunggu Vesper sebagai petugas medis ikut terkejut. Vesper meminta agar transfusi dihentikan dan perawat tersebut segera melakukannya. Kai didatangi oleh Eko yang telah tiba karena teriakannya.
"Ono opo, Nak Kai?" tanya Eko melotot terlihat panik.
"Argghhh! Ini semua salahmu!" jawabnya garang.
BUAKK!!
"EKO!" pekik Bonar —salah satu anggota Red Ribbon asal Medan—yang terkejut karena seniornya tersebut terkena pukulan tepat di salah satu pipinya hingga roboh di lantai.
"Kai! Apa yang kaulakukan?" tanya Vesper melotot karena melihat aksi gila suaminya.
"Dara diculik oleh Yudhi. Ia menembak Afro dan Cokelat di depan publik!" teriaknya marah hingga wajahnya memerah.
"Lacak dia!" perintah Vesper seraya mendekat.
"Dara tak menggunakan pelacak. Bagaimana kita—" jawab Kai marah, tapi kemudian terdiam saat melihat sang isteri mengoperasikan GIGA dengan cekatan.
"Aku memasang pelacak pada pakaian dan sepatunya. Oh, dapat! Mereka ada di dermaga," jawabnya serius. "Cepat! Susul Sandara, jangan sampai kehilangan jejaknya!" perintah Vesper membalik tubuhnya dan menatap semua orang yang berkumpul di ruangan tersebut.
Anggota Red Ribbon tersebut mengangguk dan segera pergi termasuk Eko yang memegangi pipinya karena pukulan Kai.
Pria botak itu menatap Kai tajam terlihat marah dalam diam. Eko pergi bersama kawan-kawannya. Kai memejamkan matanya sejenak terlihat bersalah karena memukul Eko.
"Pergilah ke rumah sakit untuk memastikan Afro dan lainnya selamat tak mendapat serangan lagi. Aku akan tetap di sini mengawasi pergerakan orang-orangku," pinta Vesper menatap suaminya saksama dan Kai mengangguk terlihat lesu.
Kai keluar dari ruang kerja dan diikuti oleh Black Armys menuju ke rumah sakit tempat Afro dirawat.
Vesper segera menuju ke Pusat Kendali di ruang bawah tanah untuk terus mengawasi pergerakan Sandara serta anak buahnya.
***
tengkiyuw tipsnya❤️ oia sekalian info disini, kwkwkw. bagi yang pengen punya novel cetak simulation boleh ya japri lele by dm instagram atau wa untuk pemesanan. bukunya ready bulan desember, tapi bs po dari sekarang dan pembayaran dilakukan paling lambat akhir bulan. tengkiyuw lele padamu😍
__ADS_1