4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Hukuman*


__ADS_3

Sandara terlihat ketakutan saat dua pria berwajah garang itu mendekatinya dengan langkah gusar. Sandara melangkah mundur hingga punggungnya terpepet tembok.


Mereka bicara dalam bahasa Spanyol.


"Agh!" rintih Sandara, saat rambut panjangnya dijambak oleh pria berkulit cokelat, mengenakan kaos berwarna hitam.


"Kau tak mengirimkan tugas, Nona Muda. Kau tahu, apa hukumanmu? Hem, sepertinya tidak. Kalau begitu, kau akan mengingatnya dan berharap, tak pernah mangkir dari tugas itu lagi," ucap pria tersebut menatapnya tajam hingga Sandara bisa merasakan nafas menderu dari sosok di hadapannya. "Bawa dia!" ucap pria berambut hitam tersebut, mendorong Sandara hingga gadis cantik itu menangis karena diperlakukan kasar.


Sandara ditarik paksa keluar dari Pondok. Ia dibawa ke dalam hutan yang gelap oleh dua pria menyeramkan itu. Sandara menangis karena tekanan yang diterimanya dan tubuhnya sakit karena dicengkeram paksa.


KLANGG!! BRUKK!!


"Agh!" rintih Sandara lagi saat ia dimasukkan dalam sebuah kurungan besi.


Sandara ketakutan ketika kurungan itu melayang di udara karena ditarik oleh sebuah katrol. Sandara bisa melihat pucuk dari rimbunan pepohonan di bawahnya.


Sandara ketakutan dan berpegangan kuat pada jeruji besi saat kotak yang mengurungnya itu di arahkan ke sebuah tebing dengan lautan terhampar luas dalam pandangannya.


Sandara semakin panik, tapi ia menyadari satu hal. Sandara menarik nafas dalam dan seketika, BYURRR!!


Sandara menahan nafas ketika jeruji besi itu ditenggelamkan ke dalam lautan. Sandara panik dan berusaha untuk keluar dari jeruji tersebut, tapi usahanya sia-sia.


Gembok pada jeruji itu sangat kuat. Sandara berusaha menahan nafas selama mungkin saat tubuhnya direndam dan mulai mengurangi pergerakan agar oksigen di paru-parunya tak cepat habis.


Tubuh Sandara seperti terhempas ketika jeruji itu ditarik ke atas. Nafas Sandara tersengal, ia batuk-batuk dan tergolek di lantai besi.


Namun, Sandara bisa merasakan kebebasan saat ia berada di atas permukaan laut. Ia melihat di kejauhan banyak lampu berkedip seperti sebuah kota dengan jarak ratusan kilometer dari tempatnya berada.


BYURRR!! BLUB! BLUB!


Jeruji besi kembali di tenggelamkan. Sandara kembali panik. Ia berusaha mengambang di dalam jeruji. Saat ia mencoba memikirkan rencana baru untuk kabur, matanya menangkap seekor ikan besar berenang ke arahnya.


Mata Sandara melebar seketika. Seekor hiu yang ukurannya dua kali dari tubuhnya mengelilingi jeruji besi yang melindunginya.

__ADS_1



Sandara ketakutan. Hiu itu terus berputar mengitari jeruji dan tak segan menyenggol kurungan hingga besi tersebut bergoyang.


Sandara serasa ingin menangis, tapi air matanya sudah terhapus oleh limpahan air laut yang mengelilinginya.


Sandara memejamkan matanya rapat dengan kedua tangan saling menggenggam di depan dada karena tak bisa menghilangkan ketakutannya.


Hingga Sandara kembali merasakan jika kurungannya ditarik ke atas. Sandara langsung berpegangan kuat pada atap kurungan.


Wajahnya menghadap ke langit. Sandara bernafas lega meski tubuhnya gemetaran dan ia melihat sirip atas hiu masih berada di sekitar kurungan dan mengelilinginya.


"Please," pinta Sandara memohon dengan tangisan, menatap orang-orang yang melihatnya dari atas tebing dengan sebuah alat katrol besar di pinggiran.


"Jangan main-main, Nona Kecil. Kau bukan tamu istimewa di sini. Berhenti berlagak dan kerjakan tugasmu jika ingin selamat. Lain kali, pintu kurungan akan kami buka. Kau bisa bersalaman dengan mulut hiu sebagai tanda peresmian kematianmu," ucap pria berkaos hijau tua.


Sandara menangis dengan anggukan tanda ia mengerti peringatan itu. Kurungan Sandara ditarik ke atas. Sandara roboh dan berjongkok di dalam kurungan dengan tubuh gemetaran dan basah kuyup.


Sandara dilepaskan dari kurungan hukuman dan dibiarkan berjalan tanpa pengawal menjaganya.


Sandara berusaha menghapus air mata dan menghentikan isak tangisnya. Ia masuk ke rumah dengan tetesan air membasahi lantai.


Gadis berwajah Asia itu langsung masuk ke kamar mandi dan duduk di toilet. Sandara menangis di sana dan terlihat begitu tertekan.


"Tak mungkin bisa kabur, hiks. Sudah takdirku untuk berada di tempat ini sampai akhir hidupku. Mama ... papa ... hiks, kak Nathan, kak Lysa, kak Juna ... hiks ... kak Afro, Jordan, mommy Manda, hiks ... aku tidak akan pernah bertemu kalian lagi untuk selama-lamanya ... hiks, aku akan mati di sini," ucapnya dengan tangisan menyayat hati dengan air mata terus membanjiri wajah cantiknya.


Cukup lama Sandara berada di kamar mandi. Gadis remaja itu terlarut dalam kesedihan. Ia membiarkan dirinya diguyur oleh tetesan shower air hangat.


Sandara keluar dari kamar mandi dan berjalan dengan lesu menaiki tangga. Ia mengambil satu-satunya jenis pakaian di dalam almari tersebut dan mengenakannya.


Sandara masih membungkus rambutnya yang basah dengan handuk saat ia membaringkan tubuhnya di kasur.


"Ini sudah takdirku. Takdir kejam yang harus kujalani sampai akhir hidupku," ucapnya lirih dengan mata sembab karena terlalu banyak menangis. Perlahan, Sandara memejamkan mata dan tertidur.

__ADS_1


Di sisi lain. Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Hem, dia sudah putus asa dan pasrah dengan jalan hidup yang telah kurancang. Kau harus mengakui kehebatanku, Venelope," ucap Mr. White yang duduk menghadap sebuah tablet, melihat pergerakan Sandara melalui kamera pengawas yang dilengkapi penyadap suara dari salah satu sudut almari yang tertutupi ukiran.


"Ya. Usahamu boleh juga. Pilihanmu tepat dengan memilih Sandara. Selanjutnya, aku serahkan padamu. Aku tak mau terlibat dengan gadis cengeng itu. Aku ingin fokus pada si induk dari petaka dalam jajaran kita, Vesper. Ia harus dimusnahkan, sisanya ... hanya kedipan mata saja untuk melenyapkan," jawab Venelope seraya meletakkan topeng di atas meja lalu menyulut sebatang rokok dalam apitan jemarinya.


Mr. White pamit keluar dari ruangan tersebut. Tessa yang masih berada di ruangan dengan Smiley, hanya bisa diam karena tugas untuk mereka berdua baru akan disampaikan oleh ketua baru No Face.


"Bagaimana dengan kami?" tanya Smiley yang duduk bersebelahan dengan Tessa.


Venelope yang duduk memunggungi mereka berdua, tetap terlihat santai saat menyilangkan kaki dengan anggun. Ia mempertontonkan kedua kakinya yang mulus dalam kegelapan.



"Vesper dan jajarannya sedang memburu kita. Biarlah kita menjadi pengecut kali ini. Aku tak ingin ada korban lagi dari orang-orang kita. Kirimkan 'Predator' untuk mengusik orang-orang dalam jajaran Dewan, bukan dari jajaran Vesper," jawab Venelope mulai menghisap rokoknya.


"Siapa targetmu?" tanya Tessa.


"Semuanya. Biarkan mereka merasakan ketegangan dari serangan hewan peliharaanku, hehehe," kekeh Venelope yang wajahnya tak terlihat dan membuat para lawan bicaranya semakin penasaran.


Smiley dan Tessa mengangguk paham. Mereka berdua membagi tugas untuk target penyerangan.


Venelope menyetujui pilihan dan rencana mereka. Dua orang itu keluar dari ruangan dan membiarkan wanita berambut pirang yang digulung ke belakang, berada di dalam sendirian.


"Sebentar lagi ... sebentar lagi, Mama. Dendammu kepada Vesper dan orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads akan terwujud melaluiku," ucap Venelope sembari menggeser layar tablet di hadapannya dengan telunjuk kiri dan muncul wajah Anita, mantan kekasih mendiang Erik Benedict dulu.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE dan PINTEREST


uhuy tengkiyuw tipsnya. kwkw karena cuma 1 yang vote jadi panjang naskah menyesuaikan ya. ditunggu tips lainnya, brankas kosong uyy. lele padamu^^

__ADS_1



__ADS_2