
Di tempat Venelope berada.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Apakah sudah terlacak, nomor siapa yang Dara kirimkan?" tanya Venelope menatap pria bertopeng gagak tajam.
"Tidak, Nona. Nomor ponsel itu bukan milik warga sipil. Namun, kami yakin jika itu adalah alamat email. Alamat email itu dibuat seperti sebuah nomor ponsel. Sayangnya pesan yang dikirim oleh Sandara berhasil ia hapus sebelum kami sempat membacanya. Kami khawatir jika Sandara mengirimkan ke jajarannya."
BRAK!
"Sial! Selain itu, dia mengirim dengan kode khusus. Kita tak tahu isi pesan itu. Aku sempat melihat kombinasi angka dan huruf beberapa detik sebelum statusnya terkirim. Ingin sekali aku mengiris jarinya satu persatu," geram Venelope yang tak lagi memakai topeng.
"Anda ingin kami mengambilnya dari tangan Neon?"
Venelope diam sejenak seraya menyenderkan punggung ke kursi kerjanya. "Biarkan saja. Aku sedang fokus dengan serangan berikutnya. Aku ingin Sandara melihat orang-orang dalam jajarannya tewas satu persatu," jawabnya tersenyum licik.
"Yes, Miss," jawab pria itu dengan anggukan.
Singapura. Gedung Kedutaan Besar Indonesia.
Terlihat suasana meriah di Ballroom gedung tersebut. Duta Besar Indonesia menikmati persembahan tarian dari para siswa dan siswi yang diboyong oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Riset untuk mengikuti lomba di salah satu negara di Asia Tenggara tersebut.
Risky yang ikut serta sebagai pemandu para murid saat berkunjung ke Singapura, terlihat sibuk di ruang kerja yang disediakan oleh Kedutaan karena padatnya jadwal di negara Patung Singa tersebut.
"Ya Allah. Mataku berkunang-kunang," keluhnya seraya memijat kedua matanya yang terpejam karena terlalu lama melihat layar laptop.
Hingga akhirnya, pemuda tampan itu menghentikan pekerjaannya saat melihat jam dinding menunjukkan pukul 11 siang.
Ia beranjak dan membuka koper untuk mengambil pakaian formal karena sebentar lagi acara jamuan makan siang.
Namun, pandangannya teralih ketika melihat sebuah lampu menyala dengan kedipan merah di balik kantong sleting dalam kopernya. Risky membuka sleting dan mendapati ponsel khusus yang ia simpan di sana.
"Oh?" pekiknya kaget saat mengaktifkan ponsel itu dengan sandi khusus. Hingga akhirnya, matanya terbelalak. "Ini tidak mungkin!" pekik pemuda tampan itu saat membaca sebuah pesan dengan sandi khusus bertuliskan 19.1.14.4.1.18.1 yang berarti—Sandara.
Risky segera menghubungi seseorang dengan tergesa. Ia tak bisa menutupi kepanikannya.
"Ya?"
"Tasya! Sandara mengirimkan pesan peringatan. Katanya, organisasi bernama No Face pecahan The Circle berencana untuk mengadu-domba negara kita dengan negara tetangga. Ini gawat! Kita harus melaporkan hal ini pada Komandan!" ucapnya panik.
"Yang benar? Ah, sayangnya Komandan Wibowo sudah pensiun. Dia tak bisa menindaklanjuti ancaman ini. Bagaimana jika diteruskan saja ke Menteri Pertahanan?"
"Kau yakin? Lalu ... jika beliau menanyakan siapa Sandara, keterlibatan No Face, The Circle, dan 13 Demon Heads bagaimana? Kalau kita ikut terseret? Keluarga Herlambang? Agh, ini akan pelik!" sahutnya merasa terdesak.
Tasya diam sejenak. "Tahan dulu. Jangan gegabah. Sebaiknya, jangan libatkan Pemerintah. Data kita tak lengkap. Bagaimana jika kita datangi mereka?" tawar Tasya mengutarakan pemikiran.
"Mereka? Kau yakin?" tanya Risky ragu.
"Punya ide lain?"
"Em, nanti aku hubungi lagi. Jangan bocorkan informasi ini. Oke?" pintanya gelisah.
"Ya. Percaya padaku. Rahasia ini aman bahkan sampai aku mati," jawab Tasya berjanji.
Usai menutup panggilan, Risky yang tak tenang, meneruskan pesan dalam sandi khusus itu kepada pemimpin terdahulunya sebelum pensiun.
__ADS_1
Ternyata, Risky mendapatkan respon cepat dan tak terduga. Namun, jawaban pria tua itu terdengar sama dengan Tasya.
"Meski aku sudah tak menjabat, tapi aku masih bisa membicarakan hal ini kepada pejabat yang bertugas. Namun, kalian selidiki kebenaran pesan Sandara kepada jajaran Vesper. Jika benar, aku akan langsung menemui Menteri," jawab mantan Kombes Pol Sugiyono tegas.
"Siap, Pak!" jawab Risky mantap.
Risky kembali menghubungi Tasya dan meminta wanita cantik itu untuk mendatangi keluarga Herlambang karena ia tak bisa kembali ke Indonesia hari ini sebab masih memiliki tugas di Singapura.
Di kediaman Herlambang keesokan harinya.
Satria, Tika, dan Shinta menunjukkan wajah garang saat menemui tamu tak diinginkan di ruang tamu. Tasya terlihat gelisah dan kikuk karena di tatap tajam oleh tiga orang itu.
"Oke. Kami percaya padamu. Ini rahasia besar yang kami tutupi rapat bahkan dari management Sandara di Seoul," tegas Shinta. Tasya mengangguk.
"Sandara hilang. Ia diculik sudah beberapa bulan oleh kelompok No Face. Jika benar yang Sandara katakan dalam pesan tersebut, setidaknya kami lega karena keponakan kami baik-baik saja. Tapi, apakah kau tahu di mana Sandara berada? Bisakah kau melacak dari mana sinyal tersebut dikirimkan?" tanya Tika terlihat cemas.
"Sayangnya tidak. Pesan itu sudah dikirimkan beberapa hari yang lalu. Risky tak mengetahuinya karena ia sedang bertugas di lapangan. Saat ia mencoba melacak asal kiriman itu untuk memastikan kebenarannya, jaringan itu tak ditemukan, seperti sengaja diputus. Namun, menurut pengalaman kami. Jika sandera bisa sampai mengirimkan pesan, ia pasti mendapatkan peluang. Hanya saja yang aku khawatirkan, biasanya ia mendapat resiko besar jika ketahuan. Kalaupun sinyal itu bisa kami lacak, dia pasti sudah tak ada di sana. No Face pasti sudah memindahkannya," jawab Tasya serius.
Shinta dan Tika lemas seketika. Satria mencoba menenangkan dua wanita yang duduk mengapitnya.
"Aku akan informasikan hal ini pada jajaran Vesper. Semoga, orang-orangnya bisa menemukan keberadaan Sandara. Setidaknya kami tahu, jika Sandara masih hidup," ucap Satria tenang dan semua wanita di ruangan itu mengangguk setuju.
"Dara diculik sama teroriis? Apa jangan-jangan, itu penjahat yang dikejar sama Jonathan waktu itu ya? Wah, ini gawat, tapi hebat. Sampai ada kasus culik menculik segala. Dan diem-diem, tante, mama sama ayah temenan dengan polisi? Ini keren. Raden mau terlibat, tapi ... gimana caranya ya?" gumannya yang menguping di balik dinding ruang tamu.
Raden segera meninggalkan ruangan dan berjalan tergesa menuju ke halaman belakang rumah yang sepi tak ada orang. Raden mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.
"Ya, hallo? Tumben telpon. Kangen ya?"
"Kak Nathan! Ini Raden!" jawabnya riang.
"Iya udah tau. Nathan simpen nomor kamu. Ada apa? Cepet ya, Nathan lagi fitting baju pernikahan nih."
"Ha? Yang bener? Kamu tau dari mana? Jangan pake boong ya?!"
"Serius. Ada cewek namanya Tasya, dia ngakunya dari kepolisian Yogyakarta. Dia bilang temennya si Risky, dapet pesan dengan sandi khusus dari Sandara. Katanya, No Face mau ngadu domba Indonesia sama negara tetangga. Bahaya ini, Kak! Bisa menimbulkan perang Dunia Ketiga!" jawabnya panik.
"Risky? Tasya? Oh, dua polisi itu 'kah? Oke, Raden. Makasih infonya. Akan Nathan sampaikan ke mama Vesper. Dengan ini, Nathan angkat kamu jadi mata-mata di bawah naungan Nathan. Hadiahnya nyusul. Kalau ada info lagi, kabarin Nathan ya," sahutnya semangat.
"Siap, Kak Nathan!" jawabnya riang. Senyum Raden merekah. Ia merasa hebat seketika. Namun, saat berbalik, "Huwah!"
"Dasar ember. Ternyata kamu nguping ya? Nakal," geram Shinta yang memergoki keponakannya menelepon Jonathan.
Raden meringis dan merintih kesakitan saat Shinta menjewer kuping remaja itu. Raden tak berani memberontak karena saat Shinta marah sungguh mengerikan, dan tak main-main dengan ancamannya.
Jonathan segera menginformasikan hal tersebut kepada Vesper. Tentu saja, hal baik ini disambut oleh kedua orang tua Sandara yang mencemaskan keadaannya.
"Temui Risky. Minta penjelasan detail darinya, dan ambil ponsel yang Sandara kirim padanya. Cepat!" perintah Kai tegas kepada orang-orang Red Ribbon dalam sambungan video call.
Red Ribbon yang merasa bertanggung jawab atas hilangnya pemimpin mereka segera melaksanakan perintah dari Kai.
GIGA DARA menemukan lokasi Risky. Sosok pria itu masuk salah satu daftar golongan level S kategori Informan Pemerintah Bukan Ancaman.
Di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.
Tugas Risky sebagai pemandu selama di Singapura telah usai. Para siswa dan siswi tersebut dijemput oleh masing-masing keluarga mereka yang telah menunggu dengan rasa bangga.
Risky melambaikan tangan dengan senyuman. Ia bernafas lega karena tugas penting dari negara telah ia tunaikan dengan sukses.
__ADS_1
Saat Risky menunggu jemputan mobil dari Kementerian karena ia masih harus memberikan laporan kepada Divisi yang bertugas, tiba-tiba ....
"Eh?!" pekiknya kaget saat ia dirangkul oleh seseorang yang memasang wajah garang di sampingnya. Risky menelan ludah terlihat pucat.
"Nurut, atau kalau gak, kamu bakal ketemu sama nyonya Vesper di neraka," ucap pria itu seraya memakai kacamata hitam. Risky mengangguk. Ia tahu siapa orang-orang yang menyamar layaknya warga sipil di area penjemputan itu.
Sebuah mobil warna hitam datang dengan beberapa orang sudah berada di dalam. Risky duduk dan dikepung oleh para pria yang menatapnya tajam.
BROOM!!
Mobil van meninggalkan area penjemputan dan melaju meninggalkan kawasan Bandara.
"Mana ponsel yang berisi pesan dari Sandara?" tanya seorang pria yang duduk di sebelah kanannya seraya menengadahkan tangan meminta ponsel itu.
Risky terlihat gugup. Ia membuka tas kerjanya dan memberikan ponsel tersebut kepada pria tak dikenalnya.
Salah satu anggota Red Ribbon tersebut membuka menu dan mendapati pesan Sandara di dalamnya.
Ia meneruskan pesan itu ke nomor khusus. Risky mengintip karena penasaran ke mana pesan itu diteruskan.
"Apa lirik-lirik? Matamu jelalatan," lirik anggota Red Ribbon itu garang.
Risky akhirnya diam dan duduk dengan manis. Pandangannya fokus ke depan. Ia seakan tak peduli ponselnya akan diapakan.
Tak lama, sebuah dering ponsel berbunyi. Pria yang duduk di sebelah kiri Risky menerima panggilan telepon itu.
"Ya, Mas Kai," jawabnya sopan.
"Kai?" guman Risky mengulang, tapi ia dipelototi oleh pria di sebelah kiri. Risky kembali diam. Ia tertekan dengan hal ini.
"Oke, oke. Siap, Mas Kai," jawab pria itu seraya memutus panggilan telepon.
Tiba-tiba, CITTT!
"Eh?" Risky kaget karena mobil itu tiba-tiba berhenti di pinggir jalan.
"Keluar."
"Ha?!"
"Keluar! Budek ya? Ponsel ini kami sita untuk selama-lama-lamanya," ucap pria yang duduk di sebelah kanan Risky.
Pemuda itu kebingungan saat ia didorong keluar dengan paksa. Kopernya ikut diturunkan berikut tas kerjanya.
"Naik taxi aja. Makasih infonya. Babay," sapa pria di balik jendela mobil seraya melambaikan tangan dengan senyum terkembang.
BROOM!!
Risky terbengong. Ia diturunkan begitu saja di pinggir jalan. Pemuda tampan itu menoleh ke kiri dan ke kanan seperti anak hilang. Namun, akhirnya ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Maaf, Pak, mengganggu. Hanya ingin melanjutkan kabar saja. Sepertinya, masalah ini ditangani oleh para mafia dalam jajaran Vesper. Kita ... tak perlu meneruskan ke Menteri," ucap Risky seraya menggaruk kepala. "Ah, oke, oke."
Risky menutup panggilan telepon dengan hembusan nafas panjang. Ia kembali menghubungi sopir dari Kementerian untuk menjemputnya.
***
ILUSTRASI
__ADS_1
SOURCE : GOOGLE (bipa.kemdikbud.go.id)