
Entah sudah berapa lama Arjuna tertidur, pemuda itu akhirnya bangun dan merasakan kepalanya pusing.
Ia membuka matanya yang terasa begitu lelah dan malas untuk mengintip sekelilingnya. Namun, aroma kopi nikmat dan suara orang berbincang, membuat Arjuna langsung duduk dan melotot.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Eh, Den Baguse Junet udah bangun. Good morning," sapa Biawak Hijau yang duduk di depannya bersama Biawak Putih, Samuel, Jose dan Miguel.
Arjuna mengedipkan mata dan pandangannya memindai sekitar. Ia mulai menyadari keberadaannya.
"Apa kapal berlayar? Kita mau ke mana?" tanya Arjuna bingung seraya menoleh ke arah jendela dan melihat lautan.
"Lah, katanya mau ke Meksiko. Jadi gak? Kalo gak jadi, Ijo lempar kamu dari kapal. Ijo dan lainnya tetep pergi ke sana. Ijo butuh piknik," jawabnya santai sembari meletakkan cangkir kopi dan kini mencomot sebuah makanan yang Arjuna kenali.
"Eh, itukan pisang rebus dan ubi. Kalian dapat dari mana?" tanya Arjuna menunjuk piring berisi dua makanan tersebut.
"Ijo bawa dong. Ini bekal wajib selama menjalankan misi. Ternyata nyari kamu lebih cepet dari itungan kita. Ijo bawa pisang mentah dari Indonesia, sampai sini pas banget mateng. Si ubi juga, nyaris keluar tunas. Makanya, Ijo langsung rebus sebelum berubah jadi pohon lagi. Kamu mesti pengen, ya to?" tanya Biawak Hijau sembari menyodorkan ubi rebus ke arahnya.
Arjuna menelan ludah. Makanan sederhana yang selalu ia makan bersama dengan keluarga Herlambang ketika di Yogyakarta, membuatnya merindukan masa-masa saat ia tinggal di kota itu.
Arjuna berjalan mendekat dan mengambil ubi madu pemberian Biawak Hijau yang masih terasa panas. Orang-orang diam melihat Arjuna yang hanya memandangi ubi itu dengan wajah sedih.
"Teringat sesuatu?" tanya Samuel dan Arjuna tersenyum tipis.
"Pasti ... aku membuat tante Shinta dan Tika repot karena kepergianku. Seharusnya, aku berada di Yogyakarta untuk melanjutkan pengembangan Arjuna's Adventure di beberapa kota besar di Indonesia. Aku mengatakan pada semua penduduk Indonesia jika aku sangat layak disebut sebagai pebisnis muda. Namun, lihatlah, sekarang aku malah berada di sini. Aku meninggalkan tugas karena ambisiku untuk menjadi penguasa. Bahkan, Naomi yang selalu menyelesaikan semua urusan perusahaan. Seharusnya, Naomi bosnya, bukan aku," ucapnya berdiri terlihat sedih.
Semua orang ikut terdiam dan menatap Arjuna lekat.
"Kita udah denger dari orang-orang ini tentang rencanamu ke Meksiko. Ijo udah telpon nyonya Vesper dan beliau udah hubungi Lucy serta Yohanes," ucapnya yang membuat Arjuna menaikkan pandangan seketika.
"Oh ya? Lalu?"
"Tadi Ijo sama Putih udah melakukan teleconference saat kamu bobok cantik. Bahkan si Carloz, bapaknya Lucy-Yohanes ikut serta. Semenjak insiden dengan No Face si Tessa beberapa tahun silam, tempat itu memang ditinggalkan. Carloz dan semua pegawai yang selamat pada ngungsi ke Colombia. Mereka kerja sama Martin di pabrik punya mendiang Erik," jawab Biawak Hijau menjelaskan.
__ADS_1
"Setelah mendapat kabar ini, Carloz segera terbang ke Meksiko untuk memastikan berita yang kau katakan. Selama ini, ibumu memang tak mengurusnya karena bisnis itu sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Lucy. Kamu tahu 'kan ceritanya, saat Lucy merawat dan menjaganya selama bertugas di Colombia dulu?" tanya Biawak Putih dan Arjuna mengangguk.
Semua orang mendengarkan dengan serius. Mereka menggunakan alat translator di salah satu telinga pemberian dua BIAWAK.
"Ibumu emang baik banget. Sebelum pabrik itu ditinggalkan, uang dari keuntungan bisnis narkoba dan ganja, tak pernah ia pakai untuk keperluan pribadi. Lucy ngaku, uang-uang itu digunakan untuk membiayayai kebutuhan para Black Armys level M yang tidak bisa dikirim untuk bertempur. Makan dan gaji, itu sampai bermilyar-milyar loh tiap bulannya. Bayangin itu kalau masuk ke kocek ibumu, Vesper masuk dalam daftar orang terkaya di dunia. Namun lihat, ibumu milih dianggap mati sama semua orang. Kai dan Han ngaku jadi duda serta single parents, biar orang-orang dalam jajaran Vesper gak kena ciduk kepolisian," sambung Biawak Hijau menggebu.
Arjuna tertunduk dengan pandangan tak menentu. Mata semua orang terfokus pada Arjuna yang semakin erat memegang ubinya.
"Dan kamu, Junet. Teganya kamu bikin ibumu yang udah tua, sakit, berjuang idup demi orang-orang di sekitarnya dengan menambah penderitaannya lagi. Sikapmu itu nyakitin ibumu tau gak. Nyakitin Naomi juga. Kamu bikin dua perempuan yang sayang banget sama kamu sedih. Dan sekarang, bapakmu si Han. Gara-gara cari kamu, sekarang Han luka parah. Tubuhnya kebakar, organ dalemnya rusak terutama paru-paru. Sampai sekarang masih di rumah sakit ditemeni sama ibumu. Lha kamu anaknya, malah blingsatan sibuk cari masalah di luar," tegas Biawak Putih menunjuknya dengan intonasi penuh penekanan dan mendikte.
Arjuna langsung berlinang air mata. Ia terlihat begitu sedih dan bersalah, tapi tak bisa berkata apapun.
"Tora dan One juga kena imbas. Mereka berdua terluka parah. Ditambah, Sandara ilang dan belom ketemu sampai sekarang karena digondol sama dedemit Mr. White," ucap Biawak Putih makin memojokkan.
"Sekarang, kita mau tanya sama kamu. Jujur. Kamu mau ngapain setelah kita kasih tau semua hal ini?" tanya Biawak Hijau menatapnya tajam dengan kedua tangan memegangi lutut.
Semua orang terdiam menunggu jawaban pria Asia di hadapan mereka yang terlihat gugup dalam berucap.
"Home. Bawa Juna pulang, Om. Juna mau ketemu mama dan ayah," jawabnya yang pada akhirnya meneteskan air mata.
Biawak Putih mendatangi Arjuna dan memeluknya. Semua orang terlihat begitu lega. Samuel mengangguk dan ikut terharu karena Arjuna mau membuka pikiran serta hatinya.
"Oke, kita pulang, tapi ... setelah dari Meksiko. Kita harus pastikan dulu siapa orang-orang yang mengakuisisi tempat itu. Ditambah, menurut informasi dari Samuel, orang-orang itu bisa berbahasa Indonesia. Kita gak punya petunjuk apapun. Oleh karena itu, kita tim yang paling dekat dengan lokasi. Jadi, kita yang ditugaskan. Kamu gak keberatan 'kan, mampir dulu sebelum pulang?" tanya Biawak Putih seraya merangkul pundak Arjuna dan menatapnya lekat.
"Ya. Tak masalah. Juna, ikut aja," jawabnya menurut.
Arjuna terlihat malu saat Biawak Hijau menghapus air matanya dan mengelus kepalanya. Arjuna terkekeh karena ia seperti anak kecil di hadapan dua BIAWAK itu.
Biawak Hijau bahkan mengupas sebuah pisang rebus untuknya, tapi seperti memberi makan seekor monyet. Arjuna hanya bisa tertawa geli karena ia merasa, ialah monyetnya dan dua BIAWAK adalah pawangnya.
"Monyet nakal sekarang makan pisang. Habiskan, kalo gak, tak jejelin ke mulutmu," ucap Biawak Hijau mengancam dan Arjuna mengangguk dengan senyuman.
Dua yacht berlayar menuju Meksiko. Yacht yang dibawa oleh dua BIAWAK ditumpangi oleh mantan anak buah Andreas.
__ADS_1
Mereka singgah ke beberapa dermaga kecil selama melewati beberapa kota di pinggiran pantai untuk menyuplai barang-barang yang dibutuhkan selama misi berlangsung.
"Junet, jujur. Kita penasaran sama kinerja dari bom kaleng buatanmu dan senapan pakumu itu. Kalau nanti amunisi dari senjata sungguhan kita habis, pakai punyamu ya. Lumayan buat bikin lecet mereka dan menjerit, hehe," kekeh Biawak Hijau, tapi berkesan sindiran bagi Arjuna.
"Besok kita sampai. Carloz akan menemui kita di titik yang akan ia informasikan begitu tiba di lokasi," ucap Miguel menyampaikan dari ponsel dalam genggaman.
"Oke. Wah, udah lama kita gak tempur bareng, Junet. Sayang, anggota kita kurang satu. Si cantik Naomi gak ikut serta. Dia beringas kalo lagi tarung," ucap Biawak Hijau sembari mengamati senapan kayu buatan Arjuna dan timnya.
Arjuna diam dan terlihat gugup saat akan mengatakan sesuatu. "Mm, Om. Tau kabar terbaru Naomi gak?"
"Katanya sih, Jordan mau nikahin dia."
"Apa?!" teriak Arjuna yang mengejutkan semua penghuni kapal.
"Serius. Kalau di agama Islam ya semacam, nikah siri gitu kali ya. Soalnya 'kan Jordan belum cukup umur. Nah tapi, nyonya Manda udah kebelet pengen punya cucu. Katanya sih, kalau gak salah, Maret nanti apa ya nikahnya?" jawab Biawak Hijau terlihat berpikir serius mengingat-ingat.
Arjuna lemas seketika. Ia langsung duduk dengan nafas tersengal dan pandangan tak menentu. Samuel dan lainnya yang tahu jika Arjuna mencintai gadis bernama Naomi, ikut iba.
"Heh, semprul! Itu yang nikah Zaid sama Yena, bukan Naomi sama Jordan," sahut Biawak Putih melotot.
"He? Salah ya?" ucapnya yang balik bertanya. Arjuna dan semua orang terlihat bingung.
"Om! Yang bener dong," ucapnya marah dengan mata melotot.
"Haha, habis banyak kabar jadinya simpang siyur. Maap-maap. Iya, Zaid sama Yena yang nikah bulan Maret. Tapi, beneran kok, nyonya Manda udah restui. Ya, Ijo sih tinggal nunggu undangannya. Jordan 'kan kaya, Ijo numpang makan dan kasih selamat. Sekalian minta souvernir mewah. Tannpa kasih hadiah, gak bikin mereka jatuh miskin. Hehe," jawabnya malah cengengesan.
Arjuna memegangi dadanya. Jantungnya serasa mau meledak saat mengetahui Naomi akan menikah dengan Jordan sebulan lagi, meski ternyata, informasi tersebut tidak benar.
Semua orang menahan senyum saat melihat Arjuna menghembuskan nafas panjang terlihat lega.
***
makasih tipsnya. happy weekend. lele padamu^^
__ADS_1