
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
Han terlihat bingung dalam bersikap. Tiba-tiba, Pion Diego mendekati Han dan praktis kedatangan lelaki berkulit hitam itu mengejutkannya.
"Kau di sini?" tanya Han melotot tajam pada Pion Tobias tersebut.
Diego mengangguk dan tak lama, muncul Drake dan Buffalo. Han terlihat bingung, tapi ia yakin ada sebuah rahasia besar yang akan diungkapkan oleh salah satu Pion D tersebut.
"Katakan padaku," tegas Han.
"Tessa bergabung dengan Venelope, Mr. White dan Smiley untuk menghancurkan Tobias serta Sierra. Ayah anak itu sudah dianggap sebagai pengkhianat dan tak diakui dalam kelompok The Circle bentukan mereka. Aku tahu hal ini saat Arjuna dan timnya membius anak buah Tessa di kediaman Darwin. Saat mereka sadar, aku menanyakan alasan Tessa berada di Italy. Aku baru mengatakan hal ini pada Tobias, para pion, Yu Jie, Sierra, Vesper dan Anda, Tuan Han. Jadi, kau tahu, kenapa alasan Vesper begitu marah padamu?" tanya Diego yang praktis membuat mata Han terbelalak lebar.
"Apa Arjuna tahu hal ini?" tanya Han panik seketika.
"Apa Arjuna mau mendengarkan peringatan Anda? Ibunya saja ditentang olehnya. Coba saja, tapi saranku, bersiaplah menerima pertentangan dari anakmu. Entah apa yang Tessa dan Arjuna sepakati bersama, tapi yang jelas, perselisihan akan terjadi dalam jajaranmu dan jajaranku, Tuan Han," jawab Diego dengan wajah datar.
Han memejamkan mata. Ia tak menyangka jika Tessa membelot dari kekuasaan Jonathan. Ia terlihat begitu bersalah dan menyesal karena dialah yang meminta Arjuna untuk menikahi Tessa.
"Aku bisa memahami perasaan nyonya Vesper sebagai seorang ibu. Dia memiliki empat anak dan keempatnya, harus saling bertikai hanya karena sebuah kekuasaan. Hati ibu mana yang tak sedih apalagi jika nanti harus melihat anaknya saling membunuh," tegas Buffalo yang membuat mata Han terbelalak seketika.
"Apa yang akan kau lakukan, Han?" tanya Drake menatap Han tajam.
"Aku harus memperingatkan yang lain," jawabnya mantab.
"Itu berbahaya," sahut Buffalo.
"Kenapa, Fal?" tanya Han heran.
"Saranku, biarkan saja kita berpura-pura tak tahu tentang pembelotan ini. Jonathan masih terluka. Sierra sedang berduka. Yang terpenting, Tobias dan para pion menyadari ancaman ini berikut orang-orang yang nyonya Vesper percayai untuk bertindak. Masalah utamanya adalah kau. Kau berpihak pada siapa, Han?" tanya Buffalo tegas.
Han tertegun. Ia merasa terpojok karena Buffalo, Diego dan Drake menatapnya curiga. Han terlihat bingung, tapi pada akhirnya, ia menentukan pilihannya.
"Aku akan mengikuti isteriku. Namun, aku akan tetap mengawasi Arjuna dari balik bayangan. Seperti yang pernah aku lakukan dulu pada Lily. Aku ingin memastikan jika anakku baik-baik saja," jawab Han bertolak pinggang.
Buffalo, Drake dan Diego pamit undur diri dari hadapan Han. Han mendongakkan kepalanya, menatap langit malam di udara dingin bersalju negara China.
Suami tertua Vesper tersebut berjalan dengan lunglai menuju ke Pondok tempat isterinya berada. Han menatap Vesper yang terlihat di balik jendela lantai atas berwajah sendu. Terlihat jelas kesedihan di paras ayunya.
"Aku membuat kesalahan lagi. Aku bukan hanya menyakiti perasaan isteriku, tapi juga menempatkan Arjuna dalam bahaya. Ya Tuhan, kenapa aku sungguh bodoh," ucapnya kecewa pada diri sendiri.
Han berdiri diam menatap di kejauhan ketika sang isteri menutup jendela kamar dan membuat sosoknya tak terlihat.
Han berdiri dengan wajah tertunduk entah apa yang dipikirkannya. Han lalu berpaling dan pergi menjauh dari Pondok menuju ke ruang tamu, tempat ia menyambut Tessa tadi.
Han merebahkan dirinya di sofa. Orang-orang yang melihat Han seperti terpuruk, menutup wajah dengan tangan kirinya, hanya bisa diam tak berani bertanya apalagi mendekatinya.
Oman, Istana kediaman Javier.
"Kau sudah dengar kabar jika Lysa akan mengadakan pesta pernikahan dengan Tobias di Perancis? Kediaman Darwin Flame?" tanya seorang pria yang berdiri di kejauhan, terlihat samar karena cahaya gelap menutupi sosoknya.
"Ya, dan aku tak diundang. Aku juga tak mau datang," jawab Javier tertunduk terlihat sedih.
"Aku akan datang," jawabnya mantab.
"Lalu ... apa yang akan kau lakukan? Membunuhnya? Di depan Lysa dan orang-orang dari jajaran The Circle?" tanya Javier tersenyum mengejek.
"Aku tak mau melakukannya sendiri. Aku mengajakmu. Apa kau ... bersedia bergabung denganku, untuk melenyapkan pria keji itu?"
Javier tertegun. Matanya melebar seketika. Ia terlihat ragu dalam menjawab.
"Kau takut, Sultan? Hem, aku salah menilaimu. Kau diam saja saat isterimu direnggut dari hidupmu. Bahkan King D tak berada di pangkuanmu. Jika aku jadi kau, akan kubunuh Tobias. Jika Lysa tak bisa mencintaimu lagi, buatlah Lysa merasakan kepedihan akan arti sebuah kehilangan. Ia menikahi orang yang salah dan ia harus sadar hal itu," ucap pria itu terdengar begitu membenci Tobias meski wajahnya tak begitu terlihat.
__ADS_1
"Ya, kau benar. Jika aku tak bisa memiliki Lysa, siapapun tak boleh menjadi pendampingnya. Akan kubuat Lysa dan King D kembali padaku. Sepertinya, Lysa suka cara kasar. Dia suka ditindas dan dipaksa, seperti yang Tobias lakukan padanya. Baiklah jika begitu, aku juga bisa menjadi pria berhati dingin seperti yang ia inginkan," jawab Javier dengan seringainya.
Pria itu juga menunjukkan senyuman yang sama. Pembicaraan dua pria tersebut tak diketahui oleh siapapun bahkan Habib, Hakim dan Sauqi.
Pria itu pergi melewati pintu rahasia yang terhubung ke kamar pribadi Sultan. Ia meninggalkan Istana Sultan setelah selesai bicara penting padanya.
Kediaman Amanda, Napoli, Italy.
Tiga hari setelah kejadian di Camp Militer China.
"Nyonya Manda, ehem," panggil Bayu yang mendatanginya ke ruang kendali.
Amanda menatap Bayu seksama yang terlihat gugup akan sesuatu.
"Kau kenapa? Gerak-gerikmu seperti orang menahan kencing," ledek Amanda tersenyum geli.
"Eh ...," keluhnya langsung berwajah malas. Amanda terkekeh.
"Ingin menyampaikan sesuatu? Tentang apa?" tanya Amanda heran.
"Jordan dan Naomi. Apa ... kau tak menyadari perubahan sikap anakmu? Nyonya Vesper saja tahu," tanya Bayu sambil meringis.
Mata Amanda terbelalak seketika. Ia langsung berdiri dan keluar dari ruang kendali menuju ke kamar Vesper berada.
"Vesper!" panggil Amanda langsung membuka pintu begitu saja.
"Agh! Hiss! Kau membuat kutekku blepotan!" pekiknya kesal.
Amanda memutar bola mata dan masuk ke kamar sahabatnya dengan santai. Bayu melongok dan Amanda mempersilakan masuk. Bayu menutup pintu terlihat sungkan.
"Soal Jordan dan Naomi. Ada apa dengan mereka? Apakah ... Jordan melakukan ancaman? Atau ... dia melakukan hal buruk pada gadis Jepang itu?" tanya Amanda panik.
Vesper mengedipkan mata terlihat bingung.
"Dia sungguh tak tahu, Bayu," ucap Vesper menunjuk Amanda dengan wajah malasnya. Bayu tersenyum.
Vesper lalu mengajak sahabatnya itu keluar kamar menuju ke ruang makan. Amanda bingung karena Vesper memintanya agar tak berisik.
"Kenapa kita mengendap seperti ini? Apa ... kita memata-matai?" tanya Manda berbisik, berdiri di belakang sahabatnya di balik dinding.
"Matamu rabun ya? Kau tak lihat? Jordan tersenyum! Dan ia hanya menunjukkan senyumannya saat bicara dengan Naomi," jawab Vesper dengan mata berbinar.
Amanda terkejut dan kini semangat untuk mengintip dengan jarak yang lebih dekat. Vesper mengikuti sahabatnya yang bersembunyi di balik meja penyimpanan peralatan memasak.
"Oh! Kau benar, Vesper. Aku tak pernah melihat hal ini sebelumnya bahkan saat Jordan bersama Sandara. Apakah ....?"
Vesper menunjukkan senyum merekah dan mengangguk cepat begitupula Bayu.
"Sungguh? Apa sudah berpacaran?" tanya Manda memastikan.
"Sepertinya belum, Nyonya. Saya menyadari ketika Naomi datang menyelamatkan Jordan saat kejadian waktu itu. Saya mengamati gerak-gerik Jordan yang selalu mengekor kemanapun Naomi pergi. Hanya saja, Naomi tidak peka. Itu karena Jordan juga selalu membahas misi dengannya," jawab Bayu semangat.
Amanda mengangguk paham dengan mulut menganga, sedang Vesper menyipitkan mata.
"Jangan bilang kau tak setuju," tanya Vesper langsung memasang wajah dingin.
"Kau gila? Naomi cantik, pintar dan tangguh. Suatu keajaiban Jordan bisa menyukai perempuan lain selain Sandara. Aku akan merestuinya," jawabnya semangat.
"Meskipun ... Naomi hanya pesuruh?" tanya Vesper menaikkan salah satu alis terlihat tak percaya.
__ADS_1
"Kau kejam sekali berkata demikian. Jika kau bertanya pada Antony, mungkin dia akan menolaknya, tapi aku sebagai Ibunya, tidak demikian. Naomi lebih dari seorang pesuruh. Nasibnya saja yang tak bagus karena lahir dari rahim seorang pel*cur, tapi ... lihatlah dia. Naomi begitu manis dan sigap. Oh, aku sangat berharap Jordan bisa memacarinya," jawab Amanda sudah berandai-andai.
Seringai Vesper terpancar, tapi Manda tak melihatnya. Bayu merinding seketika.
"Bagaimana jika kita jadi mak comblang? Anakku si Juna yang bodoh itu melepaskan Naomi demi Tessa. Sungguh, dia sangat mirip dengan Kak Han. Aku jadi kesal sendiri jika mengingatnya," gerutu Vesper memanyunkan bibir.
"Lalu ... di mana suamimu itu?" tanya Manda heran.
"Dia sepertinya merasa bersalah padaku. Dia tak berani menemuiku. Hehe, biarkan saja, biar tau rasa," jawab Vesper dengan gaya tengilnya.
Amanda dan Bayu memasang wajah malas seketika.
"Aku setuju. Jadi ... misi kita kali ini adalah ... menjodohkan Naomi dengan Jordan, begitu? Oh, aku sudah tak sabar. Kau juga ikut 'kan Bayu?" tanya Manda dengan senyum terkembang.
"Saya? Ah, bagaimana ya?" jawabnya bingung.
"Ikut saja. Jika kita berhasil, kau akan kuberikan bonus mobil, bagaimana?" rayu Amanda.
"Siap, Mam!" jawab Bayu langsung hormat dengan mantab.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Woah!" praktis, Trio Mak Comblang itu kaget seketika saat Jordan tiba-tiba muncul dengan wajah datar ciri khasnya, menatap mereka tajam.
Namun, Vesper langsung menarik tangan Jordan hingga remaja tampan itu ikut berjongkok. Jordan bingung.
"Apa Naomi masih ada di sana?" tanya Vesper berbisik.
"Tidak. Dia menemui Yu Jie untuk memeriksa perkembangan kesembuhan di lehernya. Kenapa?" tanya Jordan dengan wajah datar.
"Jordan, jujur pada Mommy. Apa kau menyukai Naomi?" tanya Manda memegang pundak anak lelakinya, dan praktis, Jordan langsung melotot.
Pertama kalinya, Vesper, Manda dan Bayu melihat ekspresi gugup dari remaja psikopat itu.
"Oh, dia memang menyukainya, Manda!" pekik Vesper terlihat begitu gembira dengan teriakan tertahan.
Jordan tak bisa menjawab. Ia kaku seketika.
"Mommy mendukungmu, Nak. Kejar dia sampai dapat. Kami akan membantumu. Semangat!" ucap Manda terlihat begitu gembira.
Jordan diam membeku tak tahu harus berkata apa menanggapi antusiasme tiga orang dewasa di depannya, tapi pada akhirnya ....
"O-oke. A-aku akan memacarinya."
"AAAAAAA!" lengking Amanda dan Vesper terlihat begitu gembira.
Bayu sampai menutup telinga karena jeritan mematikan dari dua Nyonya besar yang berjongkok mengapitnya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy tengkiyuw tipsnya. Lele padamu😘
Makin banyak tipsnya, makin panjang epsnya~
Oia ini gak ada yg vote vocer kah? Ranknya parah buset masa 300😵 vocer kalian kemana??
__ADS_1