4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Bagi-bagi Warisan. LAP gak usah ngiri ya~


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Semua orang tampak serius mendengarkan saat Sandara membacakan lembar pertama dari total 5 buah kertas itu.


"Untuk Lysa, puteri pertamaku. Kau sebagai kakak, sangat Ibu harapkan bisa menjadi teladan bagi adik-adikmu dan sudah sewajarnya mendapatkan banyak warisan dariku. Namun, harus dipahami jika kau juga memiliki saudara dan saudari. Jadi, berbesar hatilah atas pembagian yang akan kuberikan pada mereka nantinya," ucap Sandara.


Lysa mengangguk dengan senyuman. Sandara melanjutkan membaca surat peninggalan sang ibu.


"Sayangnya, Ibu khawatir jika ayahmu Satria tak bisa memberikanmu banyak karena ia kini sudah memiliki keluarga. Jadi, jangan mengusik hidupnya. Apa yang Ibu berikan padamu seharusnya sudah lebih dari cukup. Selain itu, nyonya Rose mempercayakan seluruh asetnya di Jerman padamu berupa apartemen Marlena, perusahaan elektronik dan juga pesawat pribadi miliknya. Ingat, jangan pernah menjual aset-aset itu. Jaga dengan baik dan kembangkan," ucap Sandara seraya melirik kakak pertamanya.


"Padahal ... nenek Rose adalah orang lain dalam hidupku, tapi ... ia mempercayakan hartanya padaku," ucap Lysa tertunduk sedih teringat akan kenangannya bersama mantan sniper tersebut.


"Ya, kau benar. Kau wanita yang sangat beruntung, Lysa. Dia percaya pada ibumu sampai akhirnya, ibumu mempercayakan aset itu padamu. Mungkin, kau nantinya juga akan memberikan pada Fara atau King D. Itu hakmu untuk menentukannya kelak. Itulah tugas orang tua, untuk memikirkan nasib dan masa depan anak-anaknya," ucap Kai menasihati.


Lysa meneteskan air mata haru. Ia mengangguk cepat karena mulai bisa memahami hal tersebut.


Ia kini menjadi seorang Ibu. Ia akan melakukan hal yang sama untuk dua anaknya. Sandara lalu mengambil lembar kedua dari isi surat wasiat tersebut.


"Selanjutnya untuk puteraku Kim Arjuna. Kau beruntung karena memiliki ayah yang peduli padamu. Aku pernah membicarakan hal ini padanya. Namun, yang kuberikan padamu adalah hartaku, bukan hartanya. Jika suatu saat nanti kau juga mendapatkan dari ayahmu, tolong jaga dengan baik pemberian kami. Oleh karena itu, kupercayakan Kastil Hashirama di Jepang untuk kaujaga termasuk Camp Militer di China."


Praktis, mata Arjuna melebar karena tak pernah menyangka hal itu. Semua orang yang mendengar tampak terkejut termasuk Lysa karena ia selama ini juga mengincar Camp Militer.


"Dua bangunan itu, adalah bukti sejarah dari ayahku, dan sekaligus kakekmu. Jangan pernah menyerahkannya pada pihak manapun selain keturunanmu dan darah dagingmu untuk terus menjaganya. Aku bisa mengandalkanmu 'kan?" sambung Sandara dan Arjuna mengangguk dengan senyuman seolah sang ibu ada di depannya.


"Lysa. Aku rasa kaubisa memahami hal ini. Aku menilai Camp Militer lebih tepat jika kuserahkan pada Arjuna. Kau tahu wataknya. Dia suka berpetualang dan olah raga fisik. Sedang kau, sudah saatnya untuk memikirkan masa depan dan keluargamu ketika menikah nanti. Kita sebagai wanita ada masanya untuk berhenti menjadi petarung dan menjadi seorang ibu untuk membimbing anak-anaknya. Jujur, aku sangat berharap cucuku kelak tak perlu terlibat dalam dunia mafia. Kau tahu risikonya dan jangan sampai kau menyesal karena melibatkan mereka. Lindungi mereka dengan menjadi warga sipil, seperti impianku ketika semua petaka ini berakhir," ucap Sandara.


Lysa dan Arjuna mengangguk paham. Mereka yang mulai bisa memahami watak dari sang ibu, terlihat bisa menerima semua keputusannya tanpa rasa iri. Sandara lalu membuka lembar ketiga dan kembali membacakan.


"Kemudian puteraku yang ketiga, Jonathan Benedict. Kau anak yang sangat beruntung, Jonathan. Kau lahir di keluarga bangsawan. Bahkan kau dijuluki The Golden Boy. Kau mendapatkan banyak warisan dari kakek Charles, ayahmu Erik Benedict dan juga diriku. Meski demikian, jangan terbuai. Semakin banyak kekayaan yang kaumiliki dan seiring semakin besarnya kekuasaan yang kaugenggam, semakin berat tanggungjawab yang kauemban. Itulah, risiko dari sebuah kemewahan. Black Castle, menjadi milikmu. Termasuk pesawat pribadi dan kargo milik kakek Charles serta seluruh saham berikut tempat usaha yang dimilikinya. Jaga warisan itu dengan baik dan tinggalah di sana. Itu sudah menjadi tugasmu," ucap Sandara dan Jonathan mengangguk dengan mantap karena ia sudah mengetahui hal tersebut.


Sandara lalu membuka lembar keempat. Ia terlihat gugup karena surat itu ditujukan untuknya.


Sandara melirik ke arah orang-orang yang tampak tenang menunggu ia membacakan surat dari Vesper.


"Yang terakhir, untuk puteriku yang manis, Sandara Liu. Aku harap ketiga kakakmu bisa memahami hal ini. Yang kuberikan padamu adalah aset-aset yang kumiliki selama ini. Berbeda dengan milik Lysa, Arjuna dan Jonathan di mana mereka mendapat limpahan dari para pendahulu yang percaya padaku untuk dijaga. Untukmu, aset ini adalah perjuanganku selama hidup. Kurasa, kaupantas memilikinya. Jika kau nanti juga mendapatkan aset dari ayahmu Kai, tolong lindungi dan pertahankan. Jangan biarkan siapapun merebutnya, itu milikmu. Oleh karena itu, kuberikan Kastil Borka di Rusia padamu."


Praktis, tulisan Vesper membuat kaget anak terakhir dari Vesper tersebut. Kastil megah dan menyimpan sejuta kenangan tersebut diberikan kepada anak terakhirnya.


Lysa, Arjuna dan Jonathan saling memandang, tapi anehnya, tiga orang itu malah bertepuk tangan seperti memberi selamat.


"Kaupantas mendapatkannya, Dara," ucap Lysa, dan gadis itu terlihat gugup saat akan melanjutkan membaca.


"Mungkin kami iri, tapi ... itu hakmu. Kami sudah memiliki rumah yang tak kalah keren dengan kastil Borka ini," sahut Jonathan, dan diangguki oleh dua saudara lainnya.


"Jangan takut, bacalah," ucap Arjuna dan Sandara mengangguk pelan.


"Selain itu, Resort di pulau Jeju Korea Selatan yang selama ini dikelola oleh manager Park juga akan menjadi milikmu. Termasuk pesawat pribadi milikku. Semoga yang kuberikan ini cukup untuk keberlangsungan hidupmu kelak. Terimalah dan kembangkan. Ibu sangat menyayangi kalian," ucap Sandara terlihat sedih, tapi ia mengangguk seperti menyanggupi hal tersebut.


"Tunggu dulu. Ada beberapa tempat yang sepertinya belum dicantumkan oleh nona Lily. Bagaimana dengan Grey House? Rumah pemberian Satria di Seoul? Mansion Joel? Belum markas-markas di berbagai tempat termasuk pos darurat yang ia bangun berikut usahanya?" tanya Kai heran.


"Ini surat dibuat sebelum beberapa aset itu ada, Nak Kai. Nah, setelah itu, mbak Vesper ternyata nulis wasiat lagi, tapi sepertinya gak melalui Eko ataupun jeng Manda. Ini nih, yang bikin kita bingung. Masalahnya, siapa orang yang dia percaya buat kasih tau peninggalan dari aset-aset itu," sahut Eko yang membuat semua orang saling memandang.


"Oh! Masih ada surat terakhir," ucap Sandara karena ada lembar terakhir dari tumpukan kertas itu. Semua orang tampak serius. Sandara kembali membacakan.


"Ibu hanya ingin mengatakan, betapa Ibu menyayangi kalian. Mungkin ... Ibu memang seorang penjahat seperti yang dikatakan oleh orang-orang. Namun ketahuilah, betapa kejam dan kejinya diriku, semua kulakukan untuk melindungi kalian. Jika penderitaan tak datang padaku, tak mungkin karena lahir. Dibalik kesengsaraanku dalam menjalankan kehidupan, tumbuhlah kebahagiaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya yakni dengan memiliki kalian. Dari semua kekayaan yang kumiliki, kalianlah harta terbesar untukku dan akan kujaga sampai akhir hidupku. Salam sayang dari ibumu, Liana, Lily dan Vesper."


Praktis, tulisan terakhir Vesper membuat mata semua orang berlinang. Sandara memeluk kertas itu erat di depan dadanya.


Amanda langsung menghapus air matanya yang menetes dan menarik napas dalam kembali tegar.


"Aku ... aku juga sudah mempersiapkan wasiat untuk tiga anakku. Yang dilakukan oleh Vesper dan para pendahulu membuatku bersiaga karena ... aku takut jika nyawaku melayang saat terjadi hal buruk menimpaku. Kini aku mengerti. Itulah yang dirasakan oleh seorang Ibu sekaligus orang tua untuk anak-anaknya. Kalian ... pasti juga akan melakukan hal yang sama suatu saat nanti," ucap Amanda menatap anak-anak Vesper bergantian.


"Ya. Aku ... aku juga ingin sekali memiliki anak. Hanya saja ... entahlah. Aku bahkan tak tahu siapa yang harus kucintai dan mencintaiku," ucap Sandara terlihat sedih.


Lysa yang duduk di sebelah adiknya dengan sigap memegang punggung tangan Sandara. Gadis cantik itu menatap kakaknya lekat yang tersenyum padanya.


"Kau tak perlu mencarinya. Cinta itu akan datang dengan sendirinya, Dara. Hanya saja, saat cinta itu datang apakah kausiap menerimanya atau tidak. Pengalaman buruk sudah kaurasakan. Seharusnya, kau akan bisa memilih dengan bijak," ucap Lysa. Sandara tersenyum dengan anggukan.


Saat semua orang tampak serius, tiba-tiba saja pintu ruang rapat dibuka. Praktis, kepala semua orang menoleh seketika.


"Halo," sapa Beny.


"Eh! Kamu 'kan yang tukang bikin baju mbak Vesper. Bener 'kan?" tanya Eko menunjuk, dan Beny mengangguk membenarkan.


Beny tersenyum seraya berjalan dengan gemulai mendatangi sekumpulan orang-orang itu, tapi ternyata diikuti oleh banyak orang dari jajaran Vesper termasuk para agent Colombia, Biawak, One, Red Ribbon, The Kamvret, dan lainnya.


"Ada apa ini?" tanya Han bingung.


"Entahlah. Kami diminta untuk masuk oleh Beny," jawab Lucy yang membuat semua orang saling berpandangan.


Sebuah rak bertingkat yang bisa didorong kini berada di samping pria bergaya nyentrik tersebut. Beny mengenakan sepatu berhak seraya menyilangkan kaki.


Orang-orang tampak geli melihatnya, tapi ditahan takut Beny tersinggung. Kursi ruang rapat penuh karena diisi oleh orang-orang dalam jajaran Vesper.


Beny mengambil sebuah map warna hitam di rak paling atas dengan nama One tertulis di sana.


"Oh! Itu namaku," seru One menunjuk dan Beny hanya menjawab dengan gerakan isyarat sebuah telunjuk di depan bibirnya.


Entah kenapa para pria malah merinding dengan gaya gemulai pria cantik seperti Atid itu.

__ADS_1


"Ehem. Baiklah, aku tak mau mengulang karena ini sangat banyak. Jadi, dengarkan baik-baik. Vesper mempercayakan padaku untuk mengurus semuanya sejak ia mulai sakit. Aku mengerahkan segala kemampuanku untuk bisa menyelesaikan tepat waktu. Sepertinya, aku mampu merampungkannya seperti yang diharapakan Vesper. Semoga, dia tenang di alam sana," ucap Beny yang membuat semua orang terkejut.


"Dia ... menunjukmu?" tanya Han memastikan dan Beny mengangguk dengan senyum menawan.


"Oke. One. Vesper menganggap kau sudah seperti kakak kandungnya meskipun hubungan kalian tak terlalu akrab. Meski demikian, ia sangat berterima kasih karena kau pernah datang untuk menolongnya saat di Afganistan termasuk peperangan yang lain. Ia tahu, kau tak mendapatkan warisan dari Kang Dae Gi. Oleh karena itu, Vesper menyerahkan Grey House untukmu dan Verda. Jaga dengan baik," tegas Beny seraya memberikan sebuah map pada pria Asia itu.


Praktis, mata One melotot termasuk yang lainnya.


"Grey House untukku?" tanyanya memastikan.


"Yes. Awalnya dia ingin memberikanmu Kastil Hashirama. Namun, melihat kau bisa merawat Grey House dengan baik, termasuk mengayomi para Black Armys berikut Barracuda, ia berubah pikiran. Sudah, jangan banyak bertanya. Masih banyak yang harus kubacakan. Semua surat itu sudah ada dalam map, lengkap dengan perizinan dan lain-lainnya," jawab Beny dengan gerakan jemari lentik saat ia menunjuk map warna hitam tersebut.


One yang kebingungan hanya bisa membungkuk sebagai ucapan terima kasih meski gugup.


"Selanjutnya, hem. Oh, James," ucap Beny seraya membuka sebuah map. James terkejut dan tampak tegang karena namanya disebut. "Kau mendapatkan rumah Vesper yang berada di Seoul, Korea Selatan. Ia memberikan rumah itu sebagai tempat tinggalmu bersama dengan Zurna dan puteramu. Ini, terimalah," tegasnya seraya memberikan sebuah map warna merah maroon padanya.


James tampak gugup, terlebih ada sebuah surat di sana. Beny meminta James membacanya dengan alasan ia tak bisa karena menggunakan bahasa Indonesia. James tampak serius saat dirinya ditatap oleh orang banyak.


"Halo, James. Maaf, aku hanya bisa memberikan rumah ini untukmu. Namun, semua kendaraan yang berada di garasi termasuk motor pertamaku, akan menjadi milikmu. Aku juga memberikanmu uang tabungan senilai 3 miliar rupiah atas jasamu selama bekerja padaku selama ini. Maaf jika jumlahnya sedikit karena kau harus berbagi dengan yang lain," ucap James yang membuat mata semua orang melotot.


"Kita dikasih pesangon sama nyonya Vesper?" tanya Biawak Cokelat tertegun.


"Bisa jadi. Sabar, sabar, jangan napsu. Tunggu giliran," ucap Eko menenangkan, tapi terlihat jelas wajah semua orang tak sabar.


James melanjutkan membaca dengan jantung berdebar.


"Tolong katakan pada Lysa dan Sandara anakku. Rumah yang berada di Seoul harus mereka relakan karena bangunan itu kuberikan pada James dan Zurna sebagai bentuk pengabdian mereka padaku. Seharusnya, kalian cukup bijak dan berbesar hati untuk memberikan rumah itu pada mereka," ucap James lalu menatap Lysa dan Sandara lekat terlihat gugup.


Lysa dan Sandara terdiam. Keduanya saling berpandangan dan pada akhirnya tersenyum.


"Kau pantas mendapatkannya, Paman James. Selama ini, kau merawat rumah itu dengan baik saat kami tak ada," ucap Sandara dengan senyuman.


"Sungguh? Kalian tak apa?" tanya James dengan mata terbelalak dan dua perempuan cantik itu mengangguk. James membungkam mulutnya dengan satu tangan. Ia memegang map itu erat terlihat begitu bahagia. "Terima kasih, Nona Lily," ucap James terharu.


"Kurasa, kau juga tetap harus bekerja untuk kelangsungan hidup keluargamu, James. Klinik kecantikanku di Gangnam membutuhkanmu dan Zurna untuk dikelola. Atid dan Albino memutuskan untuk melanjutkan usaha mereka di Thailand serta Rusia. Kau ... menerima tawaranku 'kan?" tanya Han dengan senyuman.


James tampak begitu bahagia. Ia mengangguk dengan cepat dengan mata berlinang. Semua orang bertepuk tangan memberikan selamat.


Beny lalu mengambil map dengan warna merah maroon seperti James. Kali ini, para bodyguard Vesper yakin jika salah satu nama mereka akan disebut. Ternyata, dugaan mereka benar.


***



uhuy tengkiyuw tipsnya😍 maap lama upnya. asetnya mbak Vesper banyak gile uyy ampe puyeng eke datanya biar gak keselip. kwkwkw😆


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Semua orang tampak serius mendengarkan saat Sandara membacakan lembar pertama dari total 5 buah kertas itu.


"Untuk Lysa, puteri pertamaku. Kau sebagai kakak, sangat Ibu harapkan bisa menjadi teladan bagi adik-adikmu dan sudah sewajarnya mendapatkan banyak warisan dariku. Namun, harus dipahami jika kau juga memiliki saudara dan saudari. Jadi, berbesar hatilah atas pembagian yang akan kuberikan pada mereka nantinya," ucap Sandara.


Lysa mengangguk dengan senyuman. Sandara melanjutkan membaca surat peninggalan sang ibu.


"Sayangnya, Ibu khawatir jika ayahmu Satria tak bisa memberikanmu banyak karena ia kini sudah memiliki keluarga. Jadi, jangan mengusik hidupnya. Apa yang Ibu berikan padamu seharusnya sudah lebih dari cukup. Selain itu, nyonya Rose mempercayakan seluruh asetnya di Jerman padamu berupa apartemen Marlena, perusahaan elektronik dan juga pesawat pribadi miliknya. Ingat, jangan pernah menjual aset-aset itu. Jaga dengan baik dan kembangkan," ucap Sandara seraya melirik kakak pertamanya.


"Padahal ... nenek Rose adalah orang lain dalam hidupku, tapi ... ia mempercayakan hartanya padaku," ucap Lysa tertunduk sedih teringat akan kenangannya bersama mantan sniper tersebut.


"Ya, kau benar. Kau wanita yang sangat beruntung, Lysa. Dia percaya pada ibumu sampai akhirnya, ibumu mempercayakan aset itu padamu. Mungkin, kau nantinya juga akan memberikan pada Fara atau King D. Itu hakmu untuk menentukannya kelak. Itulah tugas orang tua, untuk memikirkan nasib dan masa depan anak-anaknya," ucap Kai menasihati.


Lysa meneteskan air mata haru. Ia mengangguk cepat karena mulai bisa memahami hal tersebut.


Ia kini menjadi seorang Ibu. Ia akan melakukan hal yang sama untuk dua anaknya. Sandara lalu mengambil lembar kedua dari isi surat wasiat tersebut.


"Selanjutnya untuk puteraku Kim Arjuna. Kau beruntung karena memiliki ayah yang peduli padamu. Aku pernah membicarakan hal ini padanya. Namun, yang kuberikan padamu adalah hartaku, bukan hartanya. Jika suatu saat nanti kau juga mendapatkan dari ayahmu, tolong jaga dengan baik pemberian kami. Oleh karena itu, kupercayakan Kastil Hashirama di Jepang untuk kaujaga termasuk Camp Militer di China."


Praktis, mata Arjuna melebar karena tak pernah menyangka hal itu. Semua orang yang mendengar tampak terkejut termasuk Lysa karena ia selama ini juga mengincar Camp Militer.


"Dua bangunan itu, adalah bukti sejarah dari ayahku, dan sekaligus kakekmu. Jangan pernah menyerahkannya pada pihak manapun selain keturunanmu dan darah dagingmu untuk terus menjaganya. Aku bisa mengandalkanmu 'kan?" sambung Sandara dan Arjuna mengangguk dengan senyuman seolah sang ibu ada di depannya.


"Lysa. Aku rasa kaubisa memahami hal ini. Aku menilai Camp Militer lebih tepat jika kuserahkan pada Arjuna. Kau tahu wataknya. Dia suka berpetualang dan olah raga fisik. Sedang kau, sudah saatnya untuk memikirkan masa depan dan keluargamu ketika menikah nanti. Kita sebagai wanita ada masanya untuk berhenti menjadi petarung dan menjadi seorang ibu untuk membimbing anak-anaknya. Jujur, aku sangat berharap cucuku kelak tak perlu terlibat dalam dunia mafia. Kau tahu risikonya dan jangan sampai kau menyesal karena melibatkan mereka. Lindungi mereka dengan menjadi warga sipil, seperti impianku ketika semua petaka ini berakhir," ucap Sandara.


Lysa dan Arjuna mengangguk paham. Mereka yang mulai bisa memahami watak dari sang ibu, terlihat bisa menerima semua keputusannya tanpa rasa iri. Sandara lalu membuka lembar ketiga dan kembali membacakan.


"Kemudian puteraku yang ketiga, Jonathan Benedict. Kau anak yang sangat beruntung, Jonathan. Kau lahir di keluarga bangsawan. Bahkan kau dijuluki The Golden Boy. Kau mendapatkan banyak warisan dari kakek Charles, ayahmu Erik Benedict dan juga diriku. Meski demikian, jangan terbuai. Semakin banyak kekayaan yang kaumiliki dan seiring semakin besarnya kekuasaan yang kaugenggam, semakin berat tanggungjawab yang kauemban. Itulah, risiko dari sebuah kemewahan. Black Castle, menjadi milikmu. Termasuk pesawat pribadi dan kargo milik kakek Charles serta seluruh saham berikut tempat usaha yang dimilikinya. Jaga warisan itu dengan baik dan tinggalah di sana. Itu sudah menjadi tugasmu," ucap Sandara dan Jonathan mengangguk dengan mantap karena ia sudah mengetahui hal tersebut.


Sandara lalu membuka lembar keempat. Ia terlihat gugup karena surat itu ditujukan untuknya.


Sandara melirik ke arah orang-orang yang tampak tenang menunggu ia membacakan surat dari Vesper.


"Yang terakhir, untuk puteriku yang manis, Sandara Liu. Aku harap ketiga kakakmu bisa memahami hal ini. Yang kuberikan padamu adalah aset-aset yang kumiliki selama ini. Berbeda dengan milik Lysa, Arjuna dan Jonathan di mana mereka mendapat limpahan dari para pendahulu yang percaya padaku untuk dijaga. Untukmu, aset ini adalah perjuanganku selama hidup. Kurasa, kaupantas memilikinya. Jika kau nanti juga mendapatkan aset dari ayahmu Kai, tolong lindungi dan pertahankan. Jangan biarkan siapapun merebutnya, itu milikmu. Oleh karena itu, kuberikan Kastil Borka di Rusia padamu."


Praktis, tulisan Vesper membuat kaget anak terakhir dari Vesper tersebut. Kastil megah dan menyimpan sejuta kenangan tersebut diberikan kepada anak terakhirnya.


Lysa, Arjuna dan Jonathan saling memandang, tapi anehnya, tiga orang itu malah bertepuk tangan seperti memberi selamat.


"Kaupantas mendapatkannya, Dara," ucap Lysa, dan gadis itu terlihat gugup saat akan melanjutkan membaca.


"Mungkin kami iri, tapi ... itu hakmu. Kami sudah memiliki rumah yang tak kalah keren dengan kastil Borka ini," sahut Jonathan, dan diangguki oleh dua saudara lainnya.

__ADS_1


"Jangan takut, bacalah," ucap Arjuna dan Sandara mengangguk pelan.


"Selain itu, Resort di pulau Jeju Korea Selatan yang selama ini dikelola oleh manager Park juga akan menjadi milikmu. Termasuk pesawat pribadi milikku. Semoga yang kuberikan ini cukup untuk keberlangsungan hidupmu kelak. Terimalah dan kembangkan. Ibu sangat menyayangi kalian," ucap Sandara terlihat sedih, tapi ia mengangguk seperti menyanggupi hal tersebut.


"Tunggu dulu. Ada beberapa tempat yang sepertinya belum dicantumkan oleh nona Lily. Bagaimana dengan Grey House? Rumah pemberian Satria di Seoul? Mansion Joel? Belum markas-markas di berbagai tempat termasuk pos darurat yang ia bangun berikut usahanya?" tanya Kai heran.


"Ini surat dibuat sebelum beberapa aset itu ada, Nak Kai. Nah, setelah itu, mbak Vesper ternyata nulis wasiat lagi, tapi sepertinya gak melalui Eko ataupun jeng Manda. Ini nih, yang bikin kita bingung. Masalahnya, siapa orang yang dia percaya buat kasih tau peninggalan dari aset-aset itu," sahut Eko yang membuat semua orang saling memandang.


"Oh! Masih ada surat terakhir," ucap Sandara karena ada lembar terakhir dari tumpukan kertas itu. Semua orang tampak serius. Sandara kembali membacakan.


"Ibu hanya ingin mengatakan, betapa Ibu menyayangi kalian. Mungkin ... Ibu memang seorang penjahat seperti yang dikatakan oleh orang-orang. Namun ketahuilah, betapa kejam dan kejinya diriku, semua kulakukan untuk melindungi kalian. Jika penderitaan tak datang padaku, tak mungkin karena lahir. Dibalik kesengsaraanku dalam menjalankan kehidupan, tumbuhlah kebahagiaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya yakni dengan memiliki kalian. Dari semua kekayaan yang kumiliki, kalianlah harta terbesar untukku dan akan kujaga sampai akhir hidupku. Salam sayang dari ibumu, Liana, Lily dan Vesper."


Praktis, tulisan terakhir Vesper membuat mata semua orang berlinang. Sandara memeluk kertas itu erat di depan dadanya.


Amanda langsung menghapus air matanya yang menetes dan menarik napas dalam kembali tegar.


"Aku ... aku juga sudah mempersiapkan wasiat untuk tiga anakku. Yang dilakukan oleh Vesper dan para pendahulu membuatku bersiaga karena ... aku takut jika nyawaku melayang saat terjadi hal buruk menimpaku. Kini aku mengerti. Itulah yang dirasakan oleh seorang Ibu sekaligus orang tua untuk anak-anaknya. Kalian ... pasti juga akan melakukan hal yang sama suatu saat nanti," ucap Amanda menatap anak-anak Vesper bergantian.


"Ya. Aku ... aku juga ingin sekali memiliki anak. Hanya saja ... entahlah. Aku bahkan tak tahu siapa yang harus kucintai dan mencintaiku," ucap Sandara terlihat sedih.


Lysa yang duduk di sebelah adiknya dengan sigap memegang punggung tangan Sandara. Gadis cantik itu menatap kakaknya lekat yang tersenyum padanya.


"Kau tak perlu mencarinya. Cinta itu akan datang dengan sendirinya, Dara. Hanya saja, saat cinta itu datang apakah kausiap menerimanya atau tidak. Pengalaman buruk sudah kaurasakan. Seharusnya, kau akan bisa memilih dengan bijak," ucap Lysa. Sandara tersenyum dengan anggukan.


Saat semua orang tampak serius, tiba-tiba saja pintu ruang rapat dibuka. Praktis, kepala semua orang menoleh seketika.


"Halo," sapa Beny.


"Eh! Kamu 'kan yang tukang bikin baju mbak Vesper. Bener 'kan?" tanya Eko menunjuk, dan Beny mengangguk membenarkan.


Beny tersenyum seraya berjalan dengan gemulai mendatangi sekumpulan orang-orang itu, tapi ternyata diikuti oleh banyak orang dari jajaran Vesper termasuk para agent Colombia, Biawak, One, Red Ribbon, The Kamvret, dan lainnya.


"Ada apa ini?" tanya Han bingung.


"Entahlah. Kami diminta untuk masuk oleh Beny," jawab Lucy yang membuat semua orang saling berpandangan.


Sebuah rak bertingkat yang bisa didorong kini berada di samping pria bergaya nyentrik tersebut. Beny mengenakan sepatu berhak seraya menyilangkan kaki.


Orang-orang tampak geli melihatnya, tapi ditahan takut Beny tersinggung. Kursi ruang rapat penuh karena diisi oleh orang-orang dalam jajaran Vesper.


Beny mengambil sebuah map warna hitam di rak paling atas dengan nama One tertulis di sana.


"Oh! Itu namaku," seru One menunjuk dan Beny hanya menjawab dengan gerakan isyarat sebuah telunjuk di depan bibirnya.


Entah kenapa para pria malah merinding dengan gaya gemulai pria cantik seperti Atid itu.


"Ehem. Baiklah, aku tak mau mengulang karena ini sangat banyak. Jadi, dengarkan baik-baik. Vesper mempercayakan padaku untuk mengurus semuanya sejak ia mulai sakit. Aku mengerahkan segala kemampuanku untuk bisa menyelesaikan tepat waktu. Sepertinya, aku mampu merampungkannya seperti yang diharapakan Vesper. Semoga, dia tenang di alam sana," ucap Beny yang membuat semua orang terkejut.


"Dia ... menunjukmu?" tanya Han memastikan dan Beny mengangguk dengan senyum menawan.


"Oke. One. Vesper menganggap kau sudah seperti kakak kandungnya meskipun hubungan kalian tak terlalu akrab. Meski demikian, ia sangat berterima kasih karena kau pernah datang untuk menolongnya saat di Afganistan termasuk peperangan yang lain. Ia tahu, kau tak mendapatkan warisan dari Kang Dae Gi. Oleh karena itu, Vesper menyerahkan Grey House untukmu dan Verda. Jaga dengan baik," tegas Beny seraya memberikan sebuah map pada pria Asia itu.


Praktis, mata One melotot termasuk yang lainnya.


"Grey House untukku?" tanyanya memastikan.


"Yes. Awalnya dia ingin memberikanmu Kastil Hashirama. Namun, melihat kau bisa merawat Grey House dengan baik, termasuk mengayomi para Black Armys berikut Barracuda, ia berubah pikiran. Sudah, jangan banyak bertanya. Masih banyak yang harus kubacakan. Semua surat itu sudah ada dalam map, lengkap dengan perizinan dan lain-lainnya," jawab Beny dengan gerakan jemari lentik saat ia menunjuk map warna hitam tersebut.


One yang kebingungan hanya bisa membungkuk sebagai ucapan terima kasih meski gugup.


"Selanjutnya, hem. Oh, James," ucap Beny seraya membuka sebuah map. James terkejut dan tampak tegang karena namanya disebut. "Kau mendapatkan rumah Vesper yang berada di Seoul, Korea Selatan. Ia memberikan rumah itu sebagai tempat tinggalmu bersama dengan Zurna dan puteramu. Ini, terimalah," tegasnya seraya memberikan sebuah map warna merah maroon padanya.


James tampak gugup, terlebih ada sebuah surat di sana. Beny meminta James membacanya dengan alasan ia tak bisa karena menggunakan bahasa Indonesia. James tampak serius saat dirinya ditatap oleh orang banyak.


"Halo, James. Maaf, aku hanya bisa memberikan rumah ini untukmu. Namun, semua kendaraan yang berada di garasi termasuk motor pertamaku, akan menjadi milikmu. Aku juga memberikanmu uang tabungan senilai 3 miliar rupiah atas jasamu selama bekerja padaku selama ini. Maaf jika jumlahnya sedikit karena kau harus berbagi dengan yang lain," ucap James yang membuat mata semua orang melotot.


"Kita dikasih pesangon sama nyonya Vesper?" tanya Biawak Cokelat tertegun.


"Bisa jadi. Sabar, sabar, jangan napsu. Tunggu giliran," ucap Eko menenangkan, tapi terlihat jelas wajah semua orang tak sabar.


James melanjutkan membaca dengan jantung berdebar.


"Tolong katakan pada Lysa dan Sandara anakku. Rumah yang berada di Seoul harus mereka relakan karena bangunan itu kuberikan pada James dan Zurna sebagai bentuk pengabdian mereka padaku. Seharusnya, kalian cukup bijak dan berbesar hati untuk memberikan rumah itu pada mereka," ucap James lalu menatap Lysa dan Sandara lekat terlihat gugup.


Lysa dan Sandara terdiam. Keduanya saling berpandangan dan pada akhirnya tersenyum.


"Kau pantas mendapatkannya, Paman James. Selama ini, kau merawat rumah itu dengan baik saat kami tak ada," ucap Sandara dengan senyuman.


"Sungguh? Kalian tak apa?" tanya James dengan mata terbelalak dan dua perempuan cantik itu mengangguk. James membungkam mulutnya dengan satu tangan. Ia memegang map itu erat terlihat begitu bahagia. "Terima kasih, Nona Lily," ucap James terharu.


"Kurasa, kau juga tetap harus bekerja untuk kelangsungan hidup keluargamu, James. Klinik kecantikanku di Gangnam membutuhkanmu dan Zurna untuk dikelola. Atid dan Albino memutuskan untuk melanjutkan usaha mereka di Thailand serta Rusia. Kau ... menerima tawaranku 'kan?" tanya Han dengan senyuman.


James tampak begitu bahagia. Ia mengangguk dengan cepat dengan mata berlinang. Semua orang bertepuk tangan memberikan selamat.


Beny lalu mengambil map dengan warna merah maroon seperti James. Kali ini, para bodyguard Vesper yakin jika salah satu nama mereka akan disebut. Ternyata, dugaan mereka benar.


***


__ADS_1


uhuy tengkiyuw tipsnya😍 maap lama upnya. asetnya mbak Vesper banyak gile uyy ampe puyeng eke datanya biar gak keselip. kwkwkw😆


__ADS_2