
Lysa, Tobias, King D dan Obama Otong menetap di Melun, Perancis, kediaman Darwin Flame.
Tobias dulunya adalah Pion dari Darwin, tapi setelah kematian para D karena serangan gabungan dan serempak dari jajaran 13 Demon Heads kala itu, membuat 8 Mens musnah.
Tobias mengklaim dirinya sebagai pemimpin baru dalam jajaran The Circle dan memilih pion baru untuk menggantikan posisinya.
Pion Darwin, menjadi salah satu dari 8 Pion 8 Mens bentukan Tobias meski sekarang tersisa 7 orang saja.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Obama Otong akan baik-baik saja, Paman Eko. Jangan khawatir. Sebaiknya kau fokus pada si kecil Jubaedah. Kasian tante Dewi, pasti kerepotan ngurus si kecil," ucap Lysa sembari menggandeng King D di tangan kiri dan Otong di tangan kanan.
"Iya sih. Maap loh, Neng Lysa. Dirimu malah jadi kaya bebi sitter. Bocah gemblung emang gak ada sopan-sopannya kok. Sampai sekarang dia memposisikan dirinya jadi bodyguard si King D. Yo wes lah, tar kalo Bapak sama ibumu kangen, disuruh pulang harus pulang loh ya. Jangan nakal, jangan ngrepotin," ucap Eko menunjuk anaknya.
"Otong udah gede, Bapak. Otong mau sekolah di sini sama King D nanti. Otong pengen belajar bahasa Perancis. Kata Bapak 'kan Otong kudu jadi Presiden. Jadi orang penting itu kudu pinter," jawabnya semangat balas menunjuk ayahnya.
Semua orang yang mendengar terkekeh. Eko terharu dan memeluk anaknya erat. King D malah ikut memeluk Eko dan pria gundul itu balas memeluknya sembari mencubit pipinya gemas.
"Ya wes. Bapak pulang dulu ke Pemalang. Jaga diri ya, Otong. Bapak padamu," ucap Eko melambaikan tangan dengan wajah sedih dan linangan air mata.
Lysa terkekeh karena tak pernah melihat Eko menangis sebelumnya. Hatinya sebagai seorang ayah meski hidup dalam dunia hitam, tak bisa menutupi kasih sayangnya kepada anak lelakinya.
Obama Otong melambaikan tangan saat orang-orang dalam jajaran Vesper pamit pulang termasuk sang Ratu dan Kai.
Hanya saja, tak seperti biasanya, Sandara ingin berada di Paris. Ia mengatakan ingin melihat perkembangan bisnisnya pada butik dan salon miliknya itu. Vesper dan Kai pun mengizinkan. Mereka mempercayakan Red Ribbon untuk melindunginya.
Sandara Style, Boutique and Salon.
"Mau pergi kemana? Yakin kita gak perlu ikut? Bagaimana kalau Neng Dara kenapa-napa? Kita gak pernah tahu bahaya mengancam di luar loh," ucap Tukiman Red Ribbon.
"Aku akan baik-baik saja. Aku akan dijaga oleh anak buah kak Juna. Ada hal penting yang harus kulakukan dengannya. Oia, perihal ini, jangan informasikan ke mama atau papa. Ini salah satu bentuk dariku untuk mencari keberadaan kak Afro dan mengumpulkan bukti untuk menghindarkan dia dari hukuman mati Jordan," ucap Sandara terlihat sedih.
Kesepuluh anggota Red Ribbon dari Tim Penetral Pengadilan 13 Demon Heads mengangguk pelan.
"Aku akan menugaskan lima dari kalian untuk mengawasi perusahaan Elios yang berada di Italia. Kini, kepengurusan dan kepemimpinan perusahaan itu ada di tangan kak Naomi dan Jordan. Jujur, aku sangat kecewa dan sakit hati karena papa malah menugaskan mereka untuk menjalankannya meski aku tahu maksudnya baik, tapi ... tetap saja. Jordan tak pernah akur dengan Afro dan aku sangat mencemaskan ketika perusahaan itu dikelola olehnya," sambung Sandara mengungkapkan kekhawatirannya.
Para pria dewasa yang duduk mengelilingi Sandara saling melirik dalam diam, tapi mereka mengerti maksud dari perkataan anak dari Kai tersebut.
"Ya udah. Tim A akan pergi ke Italia. Jika perlu, kami akan minta ditugaskan di sana sama nyonya Vesper. Segarang-garangnya ibumu, dia baik hati kok. Dia pasti sadar ketika nempatin Jordan di sana. Pikir positif aja, Dara. Sumanto bisa lihat kalau nyonya Vesper sayang kok sama Afro. Buktinya, dia amanin semua aset Elios saat lelang," sahut Sumanto menengahi.
__ADS_1
Sandara diam tak berkomentar. Ia langsung berdiri dan pamit pergi karena mobil jemputan dari anak buah Arjuna sudah menunggunya di luar butik.
Tim B dari Tim Penetral menunggu di Butik selama Sandara pergi. Mereka menyamar sebagai satpam dan petugas kebersihan di tempat tersebut.
Mobil yang membawa Sandara melaju kencang menuju ke kediaman Afro. Senyum Sandara terpancar, ia terlihat senang akan sesuatu.
TOTOTOTOK! TOK! TOK!
Suara ketukan khas yang biasa Sandara lakukan sebagai kode jika ia yang datang.
CEKLEK!
Afro membuka pintu dengan senyum terkembang, tapi seketika, ia mematung dan senyumannya sirna. Matanya membulat penuh saat mendapati sosok lain di hadapannya.
"Halo, Afro. Kau ... terlihat ... kurus," sapa Arjuna menatap kawan lamanya dari kepala sampai ke kaki yang mengenakan pakaian lusuh saat menemuinya.
GRAB!
Arjuna membalas pelukan Afro erat. Dua pria itu terlihat begitu saling merindukan setelah bertahun-tahun tak pernah bertemu sejak kejadian terakhir di Arizona dan masa-masa sulit sebelumnya.
Sun terdiam ketika melihat dua orang itu saling berpelukan dengan mata berlinang bahkan tak ada obrolan layaknya tamu berkunjung.
Sun memberikan kode kepada anak buah Tuannya untuk mengamankan area sekitar dan merekapun berpencar.
Arjuna mengangguk cepat dan segera masuk ke dalam diikuti oleh Sun yang menutup pintu. Arjuna terpaku seketika saat melihat kediaman Afro jauh dikatakan dari layak.
Perabotan usang meski terlihat sudah dibersihkan, tapi kesan tua dan klasik bagai museum begitu terasa. Udara pengap menyelimuti ruangan dengan jendela dan pintu-pintu kayu tertutup rapat.
"Duduklah, Juna," ucap Afro mempersilakan kawan lamanya dengan membersihkan sebuah sofa panjang menggunakan kemucing.
Arjuna kembali mematung melihat Afro seperti gembel bahkan pesuruh di rumahnya sendiri. Arjuna tertunduk dalam diam dengan kening berkerut. Sun melihat perubahan ekspresi dari Tuannya yang mengamati gerak-gerik Afro di hadapannya.
"Buatlah dirimu nyaman di rumahku yang sederhana ini. Ya ... karena memang begitulah keadaannya. Sederhana," jawabnya dengan senyuman dan kemucing dalam genggaman.
GRAB!
Afro terkejut saat tangannya ditarik oleh Arjuna hingga membuat dirinya duduk di sebelah sahabat lamanya itu. Afro melihat Arjuna menatapnya tajam dengan nafas menderu. Afro terlihat bingung.
"Ikutlah denganku, Afro. Kau tak layak hidup seperti ini. Kau takut pada Jordan? Jangan takut, aku akan melindungimu. Aku tak mau kau tinggal di sini lagi dengan segala keterbatasan ini," ucap Arjuna mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
Afro tersenyum dan melihat tangannya masih dipegang kuat oleh kawan karibnya.
"Kau sungguh kuat, Arjuna. Lihatlah dirimu. Oh! Kau punya tato baru? Wow, keren," ucapnya dengan senyum makin terkembang.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Aku serius, Afro!" teriaknya yang mengejutkan Afro dan Sun.
Afro masih menunjukkan senyumnya. "Entahlah, Juna. Aku tak yakin. Dunia luar sangat berbahaya untukku. Jujur, aku sangat takut dengan Pengadilan 13 Demon Heads. Aku belum mau mati, Juna," ucapnya menunjukkan kesedihan dan ketakutan di matanya.
"Oleh karena itu, ikut denganku. Selama kau bersamaku, Jordan tak akan mengusikmu. Dia sedang disibukkan mengurus perusahaan farmasi ayahmu di Italia bersama Naomi," ucapnya serius.
Mata Afro melebar. "What? Kenapa Jordan yang mengurusnya? Kenapa bukan Sandara?" tanya Afro terlihat marah dengan informasi Arjuna barusan.
"Begitulah. Kai yang melakukannya entah apa maksudnya. Ibuku bahkan menjodohkan Naomi dengan Jordan. Mereka sengaja melakukannya dan berhasil membuatku semakin membenci Jordan," jawab Arjuna menekankan.
"What?"
"Hem. Padahal Naomi tahu jika aku mencintainya, tapi ia malah pergi dariku. Kini, ia menjadi kekasih Jordan. Naomi sungguh mengecewakanku, Afro. Dia membalas cintaku dengan cara licik seperti ini," ucap Arjuna terlihat begitu sedih dan kecewa.
Afro terdiam. Sun menarik nafas dalam dan masih berdiri di samping Tuan Mudanya. Ingin rasanya ia menjelaskan semuanya pada Afro, tapi ia tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan. Sun memilih diam meski jiwanya tertekan akan kesalahpahaman ini.
"Lalu? Dia siapa?" tanya Afro melirik Sun yang berdiri dengan kaku.
"Oh, Sun. Pengganti Naomi," jawab Arjuna malas.
Sun membungkuk dan Afro balas mengangguk pelan sebagai salam hormat.
"Aku akan urus kepergianmu dari sini. Kau pernah ke Belize sebelumnya?" tanya Arjuna tiba-tiba.
"Belize? Ya, tapi itu ...," jawab Afro menggantung.
"Tessa? Ya, aku tahu. Dia yang menyarankan kau tinggal di sana nantinya. Kau tak bisa kembali ke rumahmu. Ada keluarga Drake yang menempatinya. Mereka juga mengurus usaha keramik milik ayahmu selama ini," sahut Arjuna.
"Wait, what? Kau ... sudah bertemu Tessa?" tanya Afro terlihat kaget.
"Ya. Dia calon isteriku, Afro."
Mata Afro melotot. Ia terdiam dan melirik Sun yang terlihat seperti tak ingin ikut campur.
***
__ADS_1
makasih ya tipsnya. lele padamu. muach muach💋💋💋 happy weekend~