
Kediaman Amanda, Napoli, Italia.
Suara gemuruh langit malam dari ledakan kembang api, menggema sampai ke kamar tempat Naomi dan Jordan yang masih tertidur lelap.
SWOSH! BLUARRR!
Seketika, mata Naomi dan Jordan melebar karena suara ledakan besar tersebut. Dua petarung itu dengan sigap duduk dan menarik pistol dari celah kasur yang berdempetan dengan sandaran.
CEKLEK!
"Wow! Hei, wow! Bayu ini Bayu!" pekik Bayu terkejut dan spontan mengangkat kedua tangan ke atas begitu membuka pintu kamar.
Naomi dan Jordan reflek mengarahkan moncong pistol ke tubuh Bayu. Namun seketika, keduanya menurunkan pistol tersebut seraya menghembuskan nafas. Bayu bernafas lega meski wajahnya masih pucat karena nyaris tertembak.
"Maaf, Om Bayu," ucap Naomi sembari mengusap dahinya yang berkeringat.
Jordan beranjak dari kasur dengan pistol masih dalam genggaman. Remaja tampan itu melongok keluar jendela untuk memastikan keadaan.
"Eh? Apakah itu suara kembang api?" tanya Naomi yang masih duduk di atas kasur dengan wajah lugunya. Bayu dan Jordan mengangguk bersamaan. "Oh! Kita terlambat, Jordan! Kita tertinggal melihat pertunjukan kembang api, aduh."
"Eh! Malah mau nonton kembang api. Ada yang lebih gawat ini," sahut Bayu cepat.
"Ada apa?" tanya Jordan langsung mendatangi Bayu.
"Black Castle diserang oleh Mr. White dan No Face. Mr. Robert tewas. Tujuan penyerangan untuk mengambil peninggalan Lucifer Flame dalam bunker."
"Apa ada korban?" tanya Jordan serius.
"Yes. Sandara. Dia diculik."
"What?!" pekik Naomi dan Jordan terkejut.
"Tuan Wilson sedang dijemput oleh Silhouette. Kalian berdua diminta ke Black Castle oleh nyonya Vesper. Anggota dewan lain sedang melakukan telekonference bahas serangan ini," ucap Bayu menambahkan.
Jordan dan Naomi mengangguk paham. Mereka segera mempersiapkan diri. Mix and Match tetap diminta untuk menjaga Perusahaan karena dikhawatirkan akan ada serangan.
Di tengah hiruk-pikuk pesta tahun baru yang dirayakan hampir seluruh kota di dunia, orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads dibuat waspada karena serangan dari Mr. White dan pasukannya.
Black Castle. Teleconference dilakukan tanpa Arjuna.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Kenapa Arjuna tak diikutsertakan? Bagaimanapun, dia adalah anggota dewan," tegas Han.
"Serangan ini dilakukan oleh Mr. White, Tuan Han. Apa kau lupa jika Kim Arjuna akan menikahi Tessa? Sayangnya kau tak datang di pesta pernikahan Lysa-Tobias. Kau akan lihat, kubu mana yang ia pilih. Arjuna, kini bergabung dengan Mr. White, Smiley dan Venelope," jawab Vesper menunjukkan wajah garangnya.
__ADS_1
Han terkejut atas informasi yang isterinya sampaikan. Han terdiam seketika.
"Imbas dari serangan ini. Kita kehilangan Tuan Robert dan juga anakku, Sandara," sahut Kai dengan wajah serupa sang isteri.
Semua orang yang tergabung dalam teleconference dibuat diam.
"Lalu kenapa aku disangkutpautkan dengan rapat membosankan ini? Aku bukan orang 13 Demon Heads," tanya Tobias terlihat kesal yang berdiri di belakang isterinya dengan bertelanjang dada.
"Sinyal Sandara menghilang ketika meninggalkan Inggris. Aku tahu kau pria yang memiliki prinsip, Tobias. Hanya saja, No Face yang memulai perang dan ini, tak bisa dibiarkan. Katakan, di mana Sandara," tanya Kai menatapnya tajam.
Tobias memasang wajah masam terlihat enggan untuk membagi informasi. Vesper melirik Lysa dan wanita cantik itu meminta waktu sebentar untuk bicara dengan suaminya.
Lysa menonaktifkan suara lalu membalik tubuhnya. Ia memegang pinggul suaminya dan mengajaknya bicara.
Para anggota dewan melirik Javier yang memalingkan pandangan. Terlihat, wajah para dewan ikut tertekan sepertinya.
"Tobias meminta. Jika kalian berhasil menemukan Sandara dan membunuh Mr. White, ia ingin seluruh aset pria berambut putih itu menjadi miliknya," ucap Lysa saat wajahnya sudah kembali menghadap layar dan suaranya terdengar.
"Oke," jawab para anggota dewan terlihat tak mempermasalahkan hal itu.
Tobias tersenyum menyeringai, kening Vesper berkerut.
"Wait. Aset Mr. White mengenai apa saja?" tanyanya tiba-tiba.
"Kau terlambat menanyakannya, Mom. Semua anggota dewan telah setuju."
Lelaki bertato itu berdecak. Lysa melirik suaminya yang bertolak pinggang terlihat kesal.
"Italia, Kroasia, Isalandia dan Spanyol, akan menjadi milikku. Artinya, seluruh aset yang kalian miliki di wilayahku, akan masuk dalam kekuasaanku. Ada pajak yang harus kalian bayar. Menolak, keluar dari wilayahku."
"What?!" pekik para anggota dewan terkejut.
"Kalian pikir, selama ini kalian sudah menguasai seluruh wilayah di dunia, hem? Dasar bodoh. Perusahaan Elios selama ini berada dalam genggaman Mr. White. Elios adalah orang The Circle. Oleh karena itu, aset tersebut tak ia masukkan dalam dokumen Sekretariat 13 Demon Heads. Elios orang yang pintar, dia mengantisipasi semua hal buruk yang mungkin akan terjadi, terutama ketika Afro harus menggantikan posisinya. Sebab itu, Afro tak dilibatkan. Elios adalah korban dari kekuasaan Mr. White. Seharusnya yang kalian penggal adalah kepala Mr. White, bukan pria malang itu," ucap Tobias tersenyum licik.
Mata semua anggota dewan terbelalak mendengar pengakuan Tobias bahkan Lysa.
"What? Ayahku ... ayahku merelakan dirinya agar aku tak diambil oleh The Circle? Apakah itu maksudmu, Tobias?" tanya Afro yang mendadak muncul di belakang Kai dan mengejutkan semua orang.
Tobias mengangguk dengan kedua tangan menyilang di depan dada. "Ayahmu tahu jika ia hanya dijadikan boneka oleh Mr. White. Ia tetap memasukkanmu dalam jajaran 13 Demon Heads karena ia percaya kau akan aman jika bersama mereka. Namun siapa sangka, nasib buruk tetap mengikutimu, Nak. Namun, aku cukup kagum. Kau bisa kembali ke dalam jajaran dan tak memihak Arjuna."
"Apa maksudmu memihak Arjuna?" sahut Han cepat.
"Kalian pikir, Afro bisa sampai menunjukkan dirinya karena siapa? Ya, Arjuna, Tessa dan Sandara mengajaknya bergabung untuk meruntuhkan kekuasaan. Ya, kekuasaan 13 Demon Heads. Mengakulah, jika yang kusampaikan ini benar, Afro," ucap Tobias tersenyum miring pada anak Elios tersebut.
Mata Vesper dan semua anggota Dewan terkunci padanya. Kening Afro berkerut dan ia mengangguk membenarkan. Kembali, semua orang terkejut, tapi tidak dengan Tobias.
__ADS_1
"Jadi, apa kau tahu, Afro. Kenapa Mr. White membidik Sandara dan bukan dirimu lagi?" tanya Tobias menatapnya tajam.
"Ya. Sandara kini pemilik Perusahaan Farmasi Elios. Aku menyerahkan aset itu padanya karena aku mempercayainya," jawabnya terlihat begitu terpuruk hingga tak bisa mengangkat wajah.
Tobias berjoget terlihat begitu senang, sedang semua orang dibuat shock mendengarnya.
"Aku ucapkan selamat padamu, Tuan Han. Kau membuat anak kesayanganmu menjadi bagian dari No Face begitupula Sandara, hehehehe," kekehnya tersenyum lebar.
Kai dan Han dibuat mematung dengan mata melotot. Nafas kedua pria itu menderu saat menyadari petaka yang menimpa anak semata wayang mereka.
Namun, Vesper malah terkekeh dan berujung dengan tawa menggelegar. Semua orang terkejut bahkan Tobias.
"Oh ... kalian tahu? Baru kali ini aku merasa menjadi manusia tidak berguna. Begitu bodoh dan berotak dangkal karena semua manipulatif yang terjadi. Hem, oke, aku paham sekarang. Yah, terima kasih, Toby. Kau sudah menyadarkanku," ucapnya dengan senyum terkembang dan pria bertato itu terlihat santai menyikapi pujian tersebut.
"Katakan apa yang kau pikirkan, Vesper!" tegas Bojan.
"Aku? Aku tak akan melakukan apapun. Aku akan diam dan menunggu."
"What? Menunggu apa? Apa yang sebenarnya ingin Anda sampaikan?!" pekik Yusuke terlihat frustasi.
"Menunggu semua dendam dan kebencian terkumpul, lalu ... datang padaku. Ya, aku tak mau terlibat. Semua sudah terlambat. Aku gagal. Aku tak bisa memimpin kalian lagi. Carilah ketua baru untuk duduk di kursi Ketua Dewan," jawab Vesper terlihat sedih dalam senyumannya.
"Jangan gila, Vesper! Kenapa kau bisa mengatakan hal konyol seperti ini? Kau ingin lari dari tugasmu sebagai Ketua Dewan, ha?" tegas Martin.
"Kenapa aku? Kenapa harus aku yang memikirkan dan melakukan semuanya?! Kenapa harus Black Armys dan anak buahku yang maju bertempur, hah? Kenapa bukan kalian yang bertarung dan mengerahkan anak buah milik kalian? Kenapa harus aku dan jajaranku yang dikorbankan? Kalian yang pengecut, bukan aku!" tegas Vesper lantang meluapkan semua perasaannya dalam wujud kemarahan.
"Finally. Ibuku meledak. Jujur, kalian memang keterlaluan padanya selama ini, Tuan-tuan. Kalian tak membiarkan Ibuku untuk beristirahat menikmati masa tuanya. Kalian terus menyeretnya dengan mendudukkan ia sebagai ketua dewan seolah tak ada yang bisa menggantikannya," sahut Tobias bertolak pinggang dan santai menjelaskan.
"Kau pikir siapa yang bisa menggantikannya, Tobias?" tanya Rohan tegas.
Semua orang tertegun saat Tobias menunjuk dirinya dengan senyum terkembang.
"Aku. Hanya saja, aku tak bisa duduk di kursi ketua dewan karena aku orang The Circle. Sampai matipun akan seperti itu. Namun, kalian beruntung karena aku memihak kalian. Berterimakasihlah pada Ibu dan isteriku. Tanpa dua wanita itu, aku sudah melenyapkan kalian satu persatu, hehe," kekehnya.
"Kau sungguh menggelikan, Tobias. Melenyapakan kami. Kau bisa apa?" kekeh Javier.
Tobias tersenyum miring. "Kau tahu, Sultan? Apakah hal paling utama yang membuatmu masih bisa bertahan hidup?"
Semua orang terdiam terlihat memikirkan ucapan pria bertato itu.
"Uang."
Semua orang terkejut saat Jordan tersambung teleconference. Jordan menyalami semua orang dalam video tersebut saat ia masih dalam penerbangan menuju Inggris.
***
__ADS_1
adeh maap telat up baru kelar dg kerjaan real life. baiklah. tengkiyuw tipsnya. trims udah menunggu. lele padamu😍